Masuk“Ini dimana, sih? Kerajaan jawa? Orang-orang terus aja ngelihatin aku, nurut-nurut doang. Ih, sumpah, nggak nyaman banget!” Ia mendengus, langkahnya semakin cepat.
Wajah Alea tampak gelisah. Begitu menapaki lorong panjang, pandangannya segera tertuju pada para perempuan yang berlalu-lalang. Mereka semua mengenakan kebaya dan jarik, rambut tersanggul rapi, langkahnya tertata anggun. Setiap berpapasan dengan Alea, mereka menunduk sopan, namun tak jarang dari mereka berbisik-bisik. Alea tertegun, kedua matanya membesar. “Apa semua ini? Kenapa semua orang pakai kebaya? Aku... aku lagi mimpi, kan? Aku mimpi syuting drama kolosal, kan?” gumamnya panik. Dadanya berdebar, jari-jarinya mencengkeram kain yang ia kenakan. Semakin ia melangkah, semakin banyak orang yang menunduk hormat padanya. Rasa takut mulai merayap, seolah ia terjebak dalam dunia asing. Di belakangnya, beberapa dayang mengekor dengan setia. Mereka menjaga jarak, namun tetap mengikutinya ke mana pun ia pergi. Alea menoleh sekilas, lalu menggerutu dengan nada kesal. “Kenapa, sih, kalian ngikutin terus? Aku mau jalan sendiri! Jangan kayak bayangan gitu dong!” omelnya. Dayang-dayang itu saling pandang, tapi tetap bungkam, hanya menunduk. Rasa risih membuat Alea mempercepat langkah, hampir berlari kecil. Ia berkeliling melewati taman dalam, lorong-lorong dengan ukiran kayu, hingga akhirnya sampai di halaman kecil yang lebih sepi. Napasnya mulai terengah, pikirannya masih penuh kegamangan. Tiba-tiba, dari arah berlawanan, tampak seorang perempuan berwibawa berjalan didampingi dua dayang senior. Busana kebaya lengkapnya tampak elegan, rambut tersanggul tinggi dengan hiasan bunga melati, wajahnya lembut namun menyiratkan kharisma. Alea berhenti mendadak. Perempuan itu juga tertegun. Para dayang di belakang Alea langsung menunduk memberi hormat. Dan dayang muda tadi berkata kepada Alea, “Gusti Rara... dia adalah Gusti Nyai Mas Semangkin, ibu Raden Rangga. Beri hormat padanya, Gusti.” Ujar dayang tersebut dengan hati-hati. “Hah?! Ibunya Raden Rangga?! Raden?! Maksudnya apa, sih?! Mereka lagi akting apa gimana?” ucap Alea kesal dalam hati. Mata Nyai Mas Semangkin membesar begitu melihat Alea. “Rara Nawang?” ucapnya pelan, tercengang. “Hah? Rara Nawang? Siapa Rara Nawang?” sahut Alea, bingung. Nyai Mas Semangkin tersentak kaget mendengar jawabannya. Alea berdiri kikuk, pakaiannya berantakan, rambutnya tidak tersisir rapi, jelas jauh dari penampilan seorang putri bangsawan. Nyai Mas Semangkin mengangkat alis, antara bingung dan kaget. “Apa yang sedang kau lakukan di sini? Mengapa penampilanmu demikian tidak teratur?” “Cantik juga ini orang,” batin Alea yang sempat melongo kagum begitu melihat sosok Nyai Mas Semangkin. Alea terkesiap lalu menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Dalam hati ia hanya bisa berteriak, “Tolong! Ini semua Cuma mimpi kan? Aku ingin segera banguuuuun! Siapapun tolong bangunkan aku dari mimpi aneh ini!” batin Alea menjerit sambil menepuk-nepuk pipinya berkali-kali. “Rara! Mengapa kau menampar wajahmu sendiri?” “Ah! Eemmm... anu... saya... eh... kulo... aduh! Gimana cara ngomongnya?!” Gumam Alea gusar. Ia merasakan gerogi, bingung, sekaligus takut berhadapan dengan Gusti Nyai. Sementara Nyai Mas Semangkin sampai menganga dibuatnya. Dalam sekejap ia langsung memarahi para Dayang Putri Nawang. “Apa yang terjadi?! Mengapa Gusti Raden Rara menjadi seperti ini?!” “Ampun, Gusti Nyai. Kami semua tidak mengetahui apa yang terjadi pada Gusti Rara. Saat terbangun, Gusti Rara bertingkah seperti bukan dirinya,” ucap dayang senior. Tatapan Nyai Mas Semangkin tampak kaget. Melihat penampilan dan cara bicaranya, memang seperti bukan Putri Nawang yang biasanya. Gusti Nyai pun perlahan mendekati Nawang. Akan tetapi, Nawang atau sebenarnya saat ini adalah Alea, sontak memundurkan langkah sambil mengarahkan telapak tangannya ke depan, memberi isyarat agar tidak mendekatinya. Perilakunya ini langsung membuat Gusti Nyai dan semua dayang disana terkejut bukan main. “Rara Nawang?” Ucap Nyai Mas Semangkin, kaget dan bingung. “Jangan mendekat! Tolong jangan sentuh aku dulu!” Napas Alea terengah-engah. Matanya lalu kembali memandang ke sekelilingnya, menatap para dayang, dan Nyai Mas Semangkin. Jujur saja, saat ini ia sedang panik bukan main. Lalu ia meraba-raba ke dirinya sendiri. Melihat pakaian yang dikenakan, model rambut hitam panjang yang terurai berantakan, dan tiba-tiba saja ia menjambak rambutnya sendiri membuat para dayang dan Nyai Mas Semangkin ternganga untuk yang kesekian kalinya. Mereka semua bersuara, “Gusti Rara!” Karena panik Putri Nawang melukai dirinya sendiri. “Ah! Kenapa sakit banget?! Bukannya ini Cuma rambut palsu? Kenapa kayak rambut asli? Sebenarnya apa yang terjadi sama aku?! Siapapun tolong jelasin! Bagaimana aku bisa ada di sini dan siapa aku sebenarnya? Kenapa kalian semua manggil aku dengan sebutan Gusti Rara? Rara Nawang? Aku bukan Nawang. Namaku Alea Prameswari. Aku anak SMA yang tinggal di Jakarta. Lalu kalian semua siapa? Kenapa terus-terusan akting, sih? Dimana sutradaranya? Dimana letak kamera tersembunyi itu, hah? Aku harus cari kamera itu! Jangan-jangan Ini prank, kan? Pasti kalian nyulik aku, kan? Apa ini ulah Rania?” Cerocos Alea sembari mencari-cari letak kamera yang ia kira disembunyikan itu. Nyai Mas Semangkin dan para dayang hanya bisa diam dengan perasaan kaget sekaligus sedih melihat tingkah Putri Nawang yang kini raganya telah dirasuki Alea. Dan tiba-tiba saja Alea berhenti bertingkah konyol. Matanya terbelalak dan tubuhnya menegang saat teringat sesuatu. Dadanya berdesir dan keringat dingin mulai bercucuran dipelipisnya. Ia baru ingat, terakhir kali ia berada di Gedhong Larangan Museum Candra Nawa di Yogyakarta. Ia memakai cincin keramat yang katanya adalah milik seorang putri bangsawan, calon istri Raden Wiraguna yang meninggal sebelum waktunya. Iya! Alea ingat semua. Ia sadar apa yang terjadi kepadanya setelah ia memakai cincin itu. Cincin tidak mau lepas, suara gamelan itu, suara tangisan, bangunan keraton megah, seorang putri memakai busana keraton indah dan kilasan-kilasan masa lalu yang bukan miliknya langsung berputar-putar di kepalanya. Lalu perkataan misterius bundanya di malam sebelum keberangkatannya ke Yogya, perkataan pria paruh baya di Gedhong Larangan, perkataan Alharhumah Neneknya saat ia masih kecil, semuanya sangat terhubung. Semakin ia ingat, kepalanya semakin berdenyut. Dadanya pun terasa sesak dan napasnya mulai tak beraturan. Alea memegangi kepalanya yang terasa berputar-putar. Suara Nyai Mas Semangkin dan para dayang yang panik terdengar samar. Alea... yang kini ada di dalam tubuh Putri Nawang, tidak bisa menahan diri. “Nggak... nggak mungkin... ini nggak mungkin...” Alea tiba-tiba menghampiri dan memegangi erat tangan Nyai Mas Semangkin lalu membual. Nyai Semangkin hanya diam dan tercengang melihat gelagat anehnya. “Nggak mungkin aku kelempar ke masa lalu dan masuk ke raga putri bangsawan ini. Ini pasti mimpi, kan? A-aku mimpi, kan? Katakan kalau aku Cuma mimpi dan sebentar lagi bangun. Cincin itu... cincin keramat itu pasti yang bikin aku mimpi buruk. Tolong katakan kalau ini mimpi. Aku bukan Nawang. Aku Alea, gadis biasa dari abad 21. Ini... Cuma syuting drama kolosal? Benar, kan?” Para dayang semakin khawatir melihat kondisi Putri Nawang. Beberapa dari mereka menangis salah satunya dayang pertama yang mengetahui Putri Nawang sadar dan mulai bersikap aneh. Nyai Mas Semangkin menarik napas panjang dan berusaha menenangkan dirinya. Ia lalu mengulum senyum lebarnya dengan anggun kepada Putri Nawang, menyentuh wajah Putri itu dan mengatakan sesuatu dengan tenang dan penuh wibawa. “Rara Nawang...”“Apa yang terjadi padamu dan Raden Wiraguna, Nawang? Mengapa kalian muncul dalam pikiranku? Namun... tubuh ini juga bukan milikku. Lalu, ingatan itu... sebenarnya milikku atau milik Nawang?” hati Alea bergumam. Suasana Pendopo Pawiyatan masih tenggelam dalam keheningan. Para murid duduk bersila, mata terpejam, mengikuti wejangan Ki Jayengkara. Cahaya matahari mulai menembus, menimpa wajah Nawang yang tampak damai, meski sesekali jemarinya bergetar halus. “Belajarlah mengenali suara hatimu sendiri…” suara Ki Jayengkara mengalun pelan. “Karena di sanalah tempat semesta berbisik.” Namun tanpa sepengetahuan siapa pun di dalam pendopo, di luar halaman rombongan Panembahan Senopati baru saja lewat. Langkah mereka berhenti begitu suara lembut Ki Jayengkara terdengar sampai ke jalan batu yang membelah taman. Panembahan menoleh ke arah pendopo, memicingkan mata. “Pawiyatan?” gumamnya. Ki Juru Martani yang berjalan di sampingnya ikut menunduk hormat. “Benar, Kanjeng. Hari ini gilir
“Anak-anakku,” suaranya dalam namun lembut, “dalam jagad manusia, yang paling sukar dikalahkan bukan musuh di medan perang, melainkan nafsu dalam diri sendiri.” Semua murid menunduk. Suasana seketika hening. Ki Jayengkara melanjutkan, “Banyak yang belajar menulis aksara, membaca kitab, menembang tembang. Namun sedikit yang mau belajar mengenal dirinya sendiri. Padahal, tanpa mengenal diri, ilmu lain akan kehilangan maknanya.” Alea memperhatikan dengan saksama, merasa kata-kata itu seperti menampar pelan. “Kenal diri sendiri…” gumamnya pelan, seolah kata itu punya bobot lain untuknya yang sedang terjebak di tubuh orang lain. Ki Jayengkara lalu mengambil kendi kecil di depannya, menuangkan air ke mangkuk tanah liat. “Air ini,” katanya, “bening karena diam. Jika kau goyangkan, ia menjadi keruh. Begitulah batin manusia. Siapa yang hatinya tak tenang, maka takkan mampu melihat kebenaran.” Alea terpaku. Sekilas, wajahnya memantul di permukaan air dalam kendi kecil itu, yang s
Pendopo Pawiyatan terletak di luar Keputren, di sisi barat taman keraton. Bangunannya besar, terbuka di keempat sisinya, dengan tiang-tiang jati tinggi menjulang dan lantai batu hitam berkilat. Di dalamnya, sudah terdengar suara gamelan disetem pelan dan beberapa putri duduk bersila, masing-masing ditemani dayang mereka. Alea menelan ludah. "Jadi ini… kayak kelas seni-nya kerajaan, ya?" Kenanga mengangguk. “Benar, Gusti. Di sinilah para putri dan bangsawan muda berlatih kehalusan tutur dan gerak. Kadang Panembahan pun datang diam-diam untuk melihat hasil didikan para guru.” “Wah… tekanan banget itu.” Alea berbisik, tapi tetap melangkah masuk. Begitu sampai di sana, beberapa kepala menoleh. Beberapa putri berbisik pelan, mungkin membicarakan penampilan Nawang yang sempat dikabarkan sakit. Di antara mereka, ada satu sosok yang menonjol, wajahnya teduh, senyumnya lembut tapi auranya kuat. Raden Ajeng Pembayun. Busananya putih gading dengan selendang merah muda di bahu, sed
Hatinya tiba-tiba bergetar. Ada sesuatu yang terasa ganjil, seolah potongan puzzle masa lalu mulai menyatu di kepalanya. Ia menatap ke arah taman dalam yang mulai tersinari mentari. Cahaya keemasan menyentuh dedaunan basah, tapi pikirannya melayang jauh. “Raden Rangga…” gumamnya lirih, hampir tak terdengar. “Bukankah… dia yang akhirnya—” Suara itu terhenti di tenggorokan. Napasnya tertahan. Dalam ingatannya, kilasan sejarah yang pernah ia baca di buku muncul seperti bayangan kabur. Raden Rangga, putra Panembahan Senopati, cerdas, gagah, sakti dan berbakat. Tapi juga, terlalu berani menentang takdir. Ia pernah diyakini akan menjadi penerus tahta. Adipati Anom Mataram sebelum akhirnya keadaan berubah. Panembahan memilih Raden Mas Jolang. Dan Rangga… merasa dikhianati. Alea menatap kosong ke tanah, jantungnya berdetak pelan namun berat. Dalam benaknya, adegan-adegan dari catatan sejarah muncul bagai film yang tak ingin ia tonton. Pemberontakan Raden Rangga. Pertumpaha
Dengan langkah kaku, Alea mendekat. Di hadapannya berdiri sosok perempuan berwibawa, Nyai Mas Semangkin yang masih dalam balutan busana sederhana untuk beribadah, namun aura mereka jauh lebih berat dari siapapun yang pernah Alea temui. Sang Nyai menatapnya lembut, senyumnya samar. “Rara Nawang… kau tampak lelah. Namun kau tetap hadir bersama kami pagi ini. Itu pertanda baik.” Alea, masih kikuk, menunduk dalam-dalam. “I-iya… maksud saya… nggih, Gusti Nyai.” Nyai Mas Semangkin menatap lembut, tapi di balik sorot matanya terselip sesuatu yang sulit ditebak. Sebelum Alea sempat merespons lebih lanjut, langkah halus terdengar dari belakang. Para dayang langsung menunduk serempak. Suara lembut tapi berwibawa terdengar, “Pagi yang sejuk, bukan begitu, Semangkin?” Alea menelan ludah. Kanjeng Ratu Waskitajawi berdiri tak jauh darinya cahaya lampu minyak menyorot wajah Sang Ratu yang tampak tenang, namun setiap gerakannya memancarkan kekuasaan. Nyai Mas Semangkin segera menu
Cahaya rembulan masih samar bergantung di langit, sementara kokok ayam pertama baru saja terdengar dari kejauhan. Di dalam Keputren, Kenanga berjalan perlahan mendekati amben Putri Nawang, membawa lampu minyak kecil di tangannya. Ia mendekat, lalu berbisik lembut. “Gusti Rara, sudah waktunya bersiap untuk ibadah pagi.” Nawang atau Alea yang kini mengisi raganya, bergerak sedikit di balik kelambu. Dengan mata setengah terpejam, ia mengibaskan tangan malas. “Apa-apaan sih! Masih gelap gini udah ribut-ribut!” gumamnya kesal. Kenanga tetap sabar, menunduk sedikit. “Mohon maaf, Gusti Rara. Kalau terlambat sholat subuh nanti tidak baik.” Belum sempat kalimat itu selesai, Nawang tiba-tiba bangun setengah duduk dengan rambut awut-awutan, wajah masih kucel karena kebluk. “APA? Subuh-subuh? Aku aja baru tidur dua jam yang lalu! Kenapa, sih, di sini orang-orang nggak bisa kasih aku tidur tenang sedikit aja?” Kenanga terkejut, buru-buru menunduk dalam-dalam. “Aku hany







