Mag-log inMendengar panggilan itu disebut lagi, mata Alea mulai berkaca-kaca. Jantungnya berdegup kencang dan tubuhnya menegang.
“Kau tidak sedang bermimpi buruk. Kau adalah Putri Adipati Agung yang berkuasa di bawah Mataram. Kau ada disini, karena dititipkan untuk dididik, serta untuk dijadikan calon istri Raden Wiraguna Jayanegara, Putra Kanjeng Panembahan Senopati. Dan aku... apa kau sungguh tak mengenaliku?” “Mataram? Panembahan Senopati? Raden Wiraguna? Apa maksud semua itu?! Nggak mungkin! Semua itu udah berubah. Udah ganti zaman!” Alea tetap keukeuh tak percaya, merasa sedang dipermainkah. Tak lama setelah marah-marah, tubuh Putri Nawang ambruk dan tak sadarkan diri di pangkuan Nyai Mas Semangkin. Wanita berdarah biru tersebut langsung memerintahkan para abdi dalem untuk segera membawa Nawang ke kamarnya untuk diperiksa. Ruangan itu hening. Hanya suara minyak lampu yang sesekali berdesis. Alea, yang berada di ranjang berkelambu tipis, masih terbaring tak sadarkan diri. Wajahnya pucat, keringat dingin menempel di pelipis. Pelan-pelan, jemarinya bergerak. Bibirnya pun bergetar, lirih menyebut, “Bunda... Bunda...” Nyai Mas Semangkin yang duduk di sisi ranjang segera menunduk, menatap wajah Nawang dengan cemas “Rara Nawang?” ucapnya lembut, penuh harap. Alea membuka mata perlahan. Cahaya remang dari lampu minyak di sudut ruangan membuat pandangannya berkunang. Tubuhnya lemas, seolah tidak bertenaga. Saat ia menyadari sekelilingnya, hatinya berdesir keras, dinding kayu berukir, kain batik tergantung, para dayang bersimpuh, semua bukti nyata bahwa ia benar-benar ada di masa lalu, bukan sekadar mimpi. “Jadi ini nyata? Aku bukan Alea lagi. Tapi Nawang, seorang putri bangsawan pemilik cincin di Gedhong itu. Mustahil sekali ini bisa terjadi,” batinnya. Rasa takut dan tak percaya bercampur jadi satu, membuat napasnya terasa berat. Ia hampir menangis. Nyai Mas Semangkin menoleh pada tabib yang bersimpuh di dekat kaki ranjang. “Bagaimana keadaan Gusti Raden Rara?” Tabib itu menunduk hormat. Wajahnya tampak ragu. “Gusti Nyai, hamba sendiri pun heran. Tubuh Gusti Raden Rara, sehat adanya. Namun, saat ini, seakan ada perubahan yang sulit dijelaskan. Seperti, jiwa yang tersentak saat ia bangun pertama kali. Sepertinya, Gusti Raden Rara telah kehilangan semua ingatannya.” Nyai Mas Semangkin terdiam, kegelisahan semakin membayang di wajahnya. Ia menggenggam tangan Nawang erat-erat. Alea, dengan sisa tenaga yang tipis, memalingkan wajahnya ke arah samping. Suaranya lirih, nyaris berbisik. “Biarkan aku sendiri dulu, Gusti Nyai.” Pintanya. Ibu seorang raden itu menatapnya lekat, jelas enggan beranjak. Namun akhirnya ia mengangguk pelan, lalu memberi isyarat pada para dayang dan tabib. “Semua keluar. Biarkan ia beristirahat.” Satu per satu orang meninggalkan ruangan, hingga hanya tersisa satu sosok seorang dayang muda yang sejak awal paling sigap merawatnya. Wajahnya polos, tatapannya penuh rasa ingin melindungi. Alea menoleh perlahan, mata mereka bertemu. Dayang muda itu menunduk dalam, lalu berkata lembut, “Hamba tetap di sini, Gusti Rara. Bila Gusti berkenan.” Alea terdiam sesaat. Entah mengapa, melihat sosok dayang muda itu memberinya sedikit rasa aman di tengah segala kebingungannya. Alea mengangguk pelan sebagai jawaban. ⏳️⏳️⏳️ Ruangan itu lengang, hanya suara napas Alea yang masih terengah pelan. Dayang muda itu duduk bersimpuh di sudut ranjang, sesekali melirik ke arah Nawang, atau sejatinya sekarang jiwanya Alea yang baru saja sadar. Alea juga beberapa kali menoleh, tapi buru-buru mengalihkan pandangan begitu tatapan mereka hampir bertemu. Keheningan terasa canggung. Alea menggeliat pelan, lalu berpura-pura membetulkan selimutnya hanya agar tidak terlihat kikuk. Dayang muda itu pun menunduk, jari-jarinya meremas kain jariknya sendiri. Hingga akhirnya, dengan suara ragu namun tulus, dayang itu berbisik, “Apakah Gusti Rara menginginkan air minum? Atau barangkali, ramuan hangat?” Alea menatapnya lama. Tatapan itu bukan tatapan seorang putri yang anggun, melainkan sorot mata seorang gadis modern yang penuh tanda tanya. Ia menggeleng pelan. “Nggak. Aku nggak butuh itu.” Alea menelan ludah, lalu memberanikan diri. “Aku justru mau tanya.” Dayang itu terperanjat kecil, lalu mengangkat wajah dengan hati-hati. “Bertanya... kepada hamba, Gusti?” Alea mencondongkan tubuh sedikit, meski masih lemas. “Iya. Kamu tentu tahu banyak tentang tempat ini, kan? Tentang kerajaan ini. Jadi, sebenarnya, kerajaan apa ini?” tanya Alea, yang sebenarnya masih ragu dengan keberadaannya sekarang. Dayang muda itu menunduk lagi, bingung dengan pertanyaan yang dianggap aneh. “Kerajaan ini, Keraton Mataram, Gusti.” Alea membelalak kecil. Hatinya berdegup makin cepat. “Mataram? Jadi benar, aku kelempar ke masa lalu? Ya Allah! Padahal aku ada tugas kelompok sejarah yang mempelajari tentang kerajaan ini. Dan sekarang, aku malah kelempar beneran ke kerajaan ini.” Hatinya berdesir. Seketika ingatannya melayang ke masa disaat ia mendapatkan tugas sejarah mengenai Mataram Islam. Lalu momen disaat ia study tour ke Yogyakarta. Di Gedhong Larangan, Musem Candra Nawa, tempat semuanya terjadi. Alea mengingat-ingat kembali. Alea tertegun. Untuk pertama kalinya hari itu, hatinya terusik. Ada sesuatu pada cincin itu yang menarik pandangannya, seakan berbisik tanpa suara. “Cantik banget, ya...” gumam Alea pelan. Tiba-tiba, suara serak seorang pria membuatnya tersentak. “Cincin itu... bukan sekadar perhiasan, Nak.” Seorang pria paruh baya, berusia sekitar lima puluhan, berdiri tak jauh darinya. Wajahnya teduh namun misterius, dengan sorot mata yang sulit dibaca. Ia mengenakan seragam sederhana, lencana kecil di dadanya menandakan ia petugas Museum. “Konon,” lanjut pria itu, “cincin ini milik seorang putri yang masih memiliki keturunan Majapahit di masa Panembahan Senopati. Ia meninggal muda... sebelum sempat menikah dengan Raden Wiraguna, salah satu putra sang Panembahan.” Alea mengernyit. Nama itu samar-samar ia kenal dari buku sejarah, tapi entah kenapa, hatinya seperti bergetar mendengarnya. “Tak ada yang tahu dengan pasti bagaimana ia meninggal,” bisik pria itu lirih, “tapi cincin inilah peninggalan terakhirnya. Seakan menyimpan kisah yang belum selesai.” Alea menelan ludah. “Lalu... kenapa masih ada di sini?” Pria itu tersenyum tipis. “Mungkin, karena ia sedang menunggu seseorang.” Alea tersentak, tapi belum sempat bertanya lebih jauh, pria itu berkata lagi, “Kalau kau mau, cobalah memakainya. Hanya sebentar. Tak ada yang akan marah.” “Apa?!” Alea langsung mengibaskan tangan. “Ng-nggak mungkin! Ini benda antik, bisa-bisa aku diusir dari rombongan!” Tapi pria itu menatapnya dengan tenang, seolah tahu sesuatu yang tak bisa ia mengerti. “Kadang, sebuah takdir tidak datang dua kali. Dengarkan panggilan itu, Nak.” Sebelum Alea sempat menolak, pria itu melangkah pergi begitu saja, menghilang di balik pintu ruangan, seolah larut dalam bayangan. Alea terdiam. Dadanya berdebar keras. Entah kenapa, meski kepalanya menjerit untuk menjauh, tangannya justru terangkat pelan ke arah cincin itu. Hatinya menolak, tapi ada sesuatu yang mendorongnya... sesuatu yang lebih kuat dari logika. Ia menoleh kanan-kiri memastikan tak ada yang melihat. Dengan ragu, ia membuka kotak kaca itu, anehnya, tak terkunci, lalu menyentuh cincin tersebut. Begitu cincin menyentuh jarinya, sensasi dingin menjalar hingga ke tulang. Alea ternganga melihat betapa indahnya perhiasan itu melingkar di jari manisnya. Namun kebahagiaan itu hanya sekejap. Cincin tiba-tiba berkilat, menyala dengan cahaya putih yang menyilaukan. “A-apa ini?!” Alea panik, berusaha melepasnya, tapi cincin itu melekat erat, tak bergeming meski ia menarik sekuat tenaga."Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k
"Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant
Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg
Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah
Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan
Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan







