LOGIN
Cahaya remang menembus celah jendela kayu. Alea membuka mata pelan, kepala terasa berat, napasnya tersengal. Begitu matanya benar-benar terbuka, ia tersentak. Ruangan itu asing, dindingnya dari kayu jati, atapnya tinggi berukir, tirai-tirai tipis menjuntai. Tidak ada kipas angin, tidak ada lampu neon, apalagi suara lalu lintas.
"Eh... ini dimana?" gumam Alea serak, duduk dengan susah payah di ranjang berkelambu. Tiba-tiba pintu geser terbuka. Seorang gadis muda berbusana kebaya sederhana masuk sambil membawa nampan berisi kendi air. Matanya melebar. "Gusti Rara! Gusti Rara sampun wungu?!" terkejutnya, sekaligus terharu begitu melihat Alea terbangun. Alea melongo. "Eh, Mbak? Salah orang kali. Aku bukan Gusti Rara. By the way, aku dimana, nih? Ini syuting film kolosal ya? Kok tiba-tiba aku disini, sih, Mbak?" Dayang itu meletakkan nampan dengan terburu-buru, lalu mendekat dengan wajah penuh haru. Air matanya hampir menetes. "Duh, Gusti. Kulo ngira panjenengan mboten bade wungu malih." Sedihnya yang mengira Alea tak akan terbangun lagi. Alea makin bingung. "Panjenengan? Gusti Rara? Loh, namaku Alea, Mbak. Bukan Gusti Rara. Hello? Wake up! Ini mimpi kan? Paling juga bentar lagi kebangun di kasur. Hahaha! Eh, atau jangan-jangan, aku diculik terus dibawa ke tempat ini!" Ia mencoba untuk mencubit pipinya sendiri, meringis. "Aduh! Lho, kok sakit beneran?" Dayang itu makin panik, menatap Alea seperti melihat sesuatu yang aneh. "Gusti... njenengan... lali? Njenengan boten kelingan?" ia bertanya, apakah Alea lupa pada dirinya. Alea cengar-cengir, mencoba santai. "Lali? Wah iya, kayaknya aku lagi amnesia deh, kayak sinetron-sinetron itu. Jadi, aku ini siapa? Ratu? Putri Disney? Atau jangan-jangan, aku ketabrak isekai truck ya?" lanturnya. Dayang itu makin pucat, berlutut sambil menunduk. "Astaghfirullah! Gusti Rara, menawi kados mekaten, nopo kulo kedah ngaturi tabib?" dayang muda tersebut hendak memanggil seorang tabib. Alea menghela napas panjang, lalu meraih bantal dan memeluknya. "Ya ampun, ini beneran mimpi absurd banget. Tapi kalo mimpi, kenapa detail banget sih?" Ia melirik dayang yang masih berlutut. "Mbak, jangan nangis gitu dong. Aku juga bingung, tahu!" ujar Alea masih tak percaya dengan apa yang ia lihat di depan mata kepalanya saat ini. Dayang itu menahan tangis, mengira Nawang benar-benar kehilangan ingatan. Dalam hatinya ia berdoa, semoga Tuan Putrinya diberikan kesadaran lagi. Sementara Alea hanya menatap sekeliling, masih setengah yakin kalau ia akan segera terbangun di kasurnya. "Hmmm. Dia kenapa bicara pakai bahasa Jawa segala, sih? Mana nunduk-nunduk mulu lagi." Gerutu Alea dalam hatinya sembari menatap malas pada dayang muda itu. Setelah mengoceh dalam hati, Alea turun dari dipan kayu jati itu. Berkeliling di ruangan ala-ala keraton itu untuk mencari cermin. Dayang muda itu tersentak kaget dan langsung mengekori Alea. "Kaca mana kaca?" Tanya Alea pada Dayang itu. "Ampun, Gusti. Menapa panjenengan nggoleki pangilon?" dayang itu bertanya apakah Alea mencari sebuah cermin. Alea mendengus kesal. Lalu berbalik menghadap dayang muda itu dengan melipat tangan di dada. Sebuah sikap aneh yang baru pertama kali dayang itu lihat dari Tuan Putrinya. Ia kaget tapi buru-buru menduduk karena takut. "Mbak. Pakai bahasa Indonesia aja, ya, ngomongnya. Aku lumayan bisa bahasa Jawa, sih. Tapi males aja. Jadi, nggak usah pakai bahasa jawa, oke? Agak pusing aku dengernya." "Nga-ngapunten, Gusti Rara. Kulo mboten ngertos maksud panjenengan nopo," tutur Sang Dayang yang tak memahami maksud perkataan Alea. "Hadeehhhh... begini... maksud aku, bicara seperti teman sebaya aja. Nggak usah pakai bahasa alus begitu aku jadi nggak nyaman. Lagipula, kamu kelihatan masih muda seumuran aku. Jadi nggak perlu alus-alus begitu. Paham, kan?" "Oh, nggih, Gusti Rara . Kulo... eh... saya mengerti." "Nah! Pinter!" Alea menepuk-nepuk pundak Dayang membuatnya terbelalak kaget. Tubuh Dayang itu hampir jatuh melihat gelagat diluar nalar Tuan Putrinya. "Jadi, dimana cerminnya? Mau ngaca ini. Oh, itu dia!" Alea langsung menghampiri sebuah cermin besar yang ternyata di samping kasur. Alea berdiri di depan pangilon besar berbingkai ukiran emas. Matanya membelalak, mulutnya setengah terbuka. Yang ia lihat bukan dirinya dalam pakaian casual santai seperti saat terakhir kali ia pakai di Museum, melainkan seorang gadis berbusana kebaya halus dengan selendang sutra menjuntai di bahu. Rambutnya masih terurai. "Astaga! ini siapa?!" Alea menunjuk pantulan dirinya di cermin. "Kok aku cosplay jadi putri keraton gini?!" Dayang yang berdiri di belakangnya terlonjak kecil. "Gusti Rara. Apakah Gusti tidak senang? Saya sudah memakaikan busana kesayangan Gusti." Alea berbalik, tangannya bertolak pinggang. "Mbak! Ini bukan bajuku! Terakhir aku pake baju casual, tahu! Lha, kok sekarang jadi kebaya ribet gini? Mana ada selendang segala. Aduh! panas banget lagi! Bisa balikin bajuku nggak?!" "Astaghfirullah, kenapa Gusti Rara jadi seperti ini?" Ucapnya lirih dan sedih. Sementara Alea masih ngoceh, petantang-petenteng di depan cermin. "Nih lihat, rambutku! Perasaan rambutku agak pendek. Kenapa sekarang jadi panjang banget? Warna rambutku juga agak cokelat. Baru aja disemir minggu lalu. Kenapa sekarang item semua?! Terus, ini apa? Ada make-up segala? Hello! Aku kan nggak pernah pake beginian, paling banter lip balm." Dayang mendekat, mencoba menenangkan. "Gusti Rara, kalau Gusti tidak berkenan, saya bisa menyiapkan busana lain." Alea mendesah panjang sambil menjewer sedikit kain selendangnya. "Aduuhhh! Baju kayak gini ribetnya minta ampun! Aku, tuh, biasa jalan ke kantin, naik ojek online, bukan jalan di keraton pake selendang segede gaban." Alea melempar selendangnya kesembarang tempat. Membuat dayang itu merasa takut dan bersalah. Dayang terdiam, wajahnya makin sedih. Ia menunduk, dan hampir menangis. Dalam hati mereka yakin, Tuan Putrinya benar-benar lupa akan dirinya sendiri. Sedangkan Alea hanya menatap lagi ke cermin, menepuk pipinya sendiri. "Please deh, Alea! Bangunlah dari mimpi absurd ini. Masa iya aku masuk drama kolosal? Nggak siap banget kalau harus naik naga terbang," celetuknya ngasal. ⏳️⏳️⏳️ Alea masih duduk di tepi ranjang kayu berkelambu tipis. Napasnya berat, pikirannya kacau. Belum selesai ia mencerna kehadiran dayang yang sibuk mengurusinya, kini seorang dayang senior masuk dengan langkah pelan namun mantap. Rambutnya sudah memutih, tubuhnya agak membungkuk, namun sorot matanya tajam penuh hormat. "Gusti Ayu, " suaranya berat, penuh wibawa. Ia menunduk dalam-dalam, kedua tangannya terkatup di depan dada. "Kawula sowan, nyuwun dawuh panjenengan, Gusti Ayu." Ucap dayang senior itu, menghaturkan hormatnya kepada Nawang. Alea terperanjat. Menatap kedatangan abdi dalem itu beserta rombongan para dayang lain di belakangnya. "Gusti Ayu? Hadeehhh! Namaku bukan gusti-gusti begitu! Terus ini kenapa tambah banyak orang yang datang? Syutingnya mau mulai, kah?" Alea menggerutu sekaligus heran, setengah pada dirinya sendiri, setengah pada mereka. Dayang-dayang hanya saling pandang, tidak berani menimpali. Dayang senior itu tetap menunduk khidmat, sama sekali tak tersentuh oleh nada kesal Alea. Tak tahan dengan suasana yang terasa menekan, Alea langsung berdiri. Ia menyingkap kain panjang yang menjuntai dari ranjang, lalu melangkah cepat menuju pintu. Dayang-dayang sontak bersuara, "Gusti Rara!" seru mereka kaget melihat Alea keluar dari kamarnya tiba-tiba. Begitu keluar dari kamar, Alea menghirup udara bebas. Dinding-dinding tinggi dengan ukiran halus dan lorong panjang yang dihiasi lampu minyak tampak membentang. Ia berjalan tanpa arah, sekadar ingin menjauh dari tatapan orang-orang yang terus memanggilnya dengan panggilan asing itu."Kemana perginya dia? Dari pagi nggak kelihatan." Gumamnya. Ia berjalan menuju halaman kecil di belakang Pendopo, lalu duduk di ayunan kayu yang pernah dibuat ayahnya ketika ia masih kecil. Ayunan itu bergoyang pelan, namun rasa sepi tetap menempel di dadanya. Tak betah diam, Nawang bangkit mencari Kenanga lagi. Ia menyusuri lorong-lorong Kadipaten, dari taman dalam hingga ke balairung kecil, tetapi gadis itu tak terlihat di mana pun. Ketika hampir menyerah, ia mencium aroma masakan dari arah dapur kadipaten. "Hmmm... enak banget baunya. Masak apa, ya, mereka?" Dengan rasa penasaran, Nawang melangkah masuk. Begitu melihatnya, semua abdi dapur sontak terkejut. Sendok terhenti di udara, mangkuk hampir tergelincir dari tangan seorang pelayan muda. Seorang pelayan senior segera membungkuk dan berkata gugup, “Gusti… panjenengan mboten kenging mlebet mriki. Dapur dudu papan kang prayogi kangge panjenengan.” Pelayan senior itu mengatakan bahwa Nawang tidak seharusnya masuk ke dapur k
"Teman masa kecil?" Ulang Wiraguna. Keningnya mengkerut. "Mengapa kau tidak pernah menceritakannya padaku jika kau selama ini adalah teman masa kecilnya, Arya?" Tanya Wiraguna. Arya yang tampak gugup, berusaha menjawabnya. "Aku... aku rasa itu bukan perkara yang penting untuk aku beritahu padamu, Gusti Raden. Lagipula, itu sudah lama saat kami masih kecil. Dan aku pikir, Gusti Rara sudah melupakannya," jawab Arya sekenanya. Ia menatap Nawang, Nawang juga menatapnya lekat. "Tapi dia masih mengingatnya, Arya," ujar Wiraguna. Suaranya getir. Arya terdiam. Bingung merespon apa. Sedangkan Nawang tetap santai. "Tidak perlu diperpanjang lagi. Lagipula hari ini kau telah mengetahuinya, Raden Wiraguna." Kata Nawang. Tatapannya menerawang ke depan. Hembusan angin kecil menerbangkan helaian rambut poninya yang selalu disampirkan ke samping. Bisa dibilang itu gaya rambut khas Nawang di hari-hari biasa setelah ia berubah. Ia selalu menyisakan poninya ke samping, katanya biar lebih cant
Gusti Nyai Mas Semangkin segera bersuara, nada keberatannya tampak jelas. “Kanjeng Ratu, Nawang bukan barang yang bisa kau ambil begitu saja. Perjodohannya dengan Raden Wiraguna baru saja dibatalkan. Jika ia langsung dijodohkan lagi dengan Putra Mataram yang lain, apa yang akan dipikirkan rakyat tentang keluarga kerajaan? Ini tidak pantas. Terlebih lagi, apa yang akan terjadi jika Adipati Agung Mangkura dan Kanjeng Nyai Dyah Kusumawati mendengar perkataanmu ini?” Kanjeng Ratu membalas dengan suara meninggi. “Bagaimana kau bisa tahu penderitaanku, Semangkin? Kau tidak memiliki putri! Kau tidak akan pernah memahami betapa sakitnya kehilangan seorang putri.” Ucapan itu membuat beberapa orang terkejut, bahkan merasa tidak nyaman, apalagi Raden Rangga. Sebelum perdebatan makin besar, Nawang melangkah maju. Nada suaranya halus, tapi penuh ketegasan. “Kanjeng Ratu, hamba memohon maaf. Tetapi hamba tidak bisa menerima permintaan itu. Jika hamba menerimanya...” ucapan Nawang mengg
Upacara berlangsung lama namun tertib. Tak ada keributan, tak ada tangis yang keras. Hanya keheningan yang dalam, seperti seluruh alam turut memberi hormat. Di sela-sela kesunyian itu, Alea merasa seperti sedang berada di dua dunia sekaligus. Dunia masa kini yang ia pahami, dan dunia kuno yang perlahan membuka dirinya kepada Alea. Ketika tanah terakhir diratakan, semua orang menundukkan kepala sekali lagi. Pembayun menunduk sangat dalam. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, namun tidak ada air mata yang jatuh. Hanya dada yang naik turun menahan beratnya kehilangan. Nawang mendekat, menepuk pelan punggung Pembayun. "Aku di sini," bisiknya. Dari barisan lain, Raden Wiraguna terus memperhatikan Nawang sejak awal gadis itu tiba di Mataram. Seolah ada sesuatu yang ingin ia katakan tapi tak mampu. Hanya matanya saja yang bicara. Dan tanpa sengaja, Nawang menangkap sosok yang sedang memperhatikannya itu. Mata mereka bertemu. Cukup lama, tapi tidak dramatis. Tapi cukup membuat seolah
Nawang kini berada di kamarnya bersama Kenanga. Kedua tangannya terlipat di atas meja. Lalu ia meletakkan dagunya menempel di atas tangannya. Bibirnya manyun. Raut jengkel jelas tergambar di wajahnya. Kenanga sendiri hanya bisa menahan senyum melihat ekspresi kesal itu. Tadi, baru saja Nawang memohon-mohon kepada Kanjeng Nyai agar diperbolehkan ke Mataram. Tapi ditolak mentah-mentah. "Aku sudah mengatakannya, Gusti Rara. Tetapi kau tidak mendengarkanku." "Diamlah, Kenanga. Aku nggak mood. Aku pikir, putri keraton itu selalu mendapat apa yang dia inginkan. Tapi buktinya, keinginanku ditolak." Gerutunya. "Keinginanmu berbahaya, Gusti Rara. Tapi bukankah, Kanjeng Nyai mengizinkanmu kesana esok hari?" "Ya. Memang. Tapi besok ada acara pemakaman, Kenanga. Aku malas ikut-ikutan. Dan lagi, bukannya untuk kesana memakan waktu yang lama? Aku nggak sanggup nginep di tengah hutan kayak waktu itu. Capek!" Kini Nawang merengek. Menangis dibuat-buat. Kepalanya tenggelam di antara kedua tan
Begitu selesai bersapa dan menghaturkan hormat kepada Adipati Agung Mangkura, selanjutnya Ki Ageng Mangir dipersilakan menghadap Panembahan. Dan sampai di hadapan Panembahan, ia berhenti. Menundukkan kepala dalam-dalam, lalu berjongkok, bersiap untuk mengaturkan sembah bekti. Dengan suara berat namun lembut, Ki Ageng berkata, "daulat, Kanjeng Panembahan. Hamba Ki Ageng Mangir Wanabaya, datang untuk sowan, mengaturkan sembah bekti atas segala anugerah dan pangayoman yang Kanjeng berikan. Hamba pun datang sebagai menantu, mohon diakoni sebagai bagian dari keluarga Mataram." Panembahan menatapnya lama, seolah menelusuri setiap garis wajah menantunya itu. Suasana menjadi sunyi, hingga suara napas saja terdengar jelas. Akhirnya Panembahan mengangguk pelan, bibirnya tersenyum samar. "Ngger Mangir... wis daksuwun rawuhe. Panjenengan dugi kanthi wilujeng, niku sampun dados kabungahan kawula." Ujar Panembahan, mengatakan bahwa kedatangan Ki Agenh Mangir dengan selamat adalah kebahagiaan







