แชร์

Bab 8 - Rambut perak

ผู้เขียน: BabyCaca
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-23 13:00:54

Sinar matahari merah khas Nocturnia menembus celah gorden beludru, menyinari wajah Aurelia yang masih terlelap. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Bantal hitam sutranya kini tertutup oleh helaian rambut yang tidak lagi berwarna pirang kusam seperti biasanya.

Aurelia mengerang, mencoba duduk sambil mengucek matanya yang sembab. "Sistem... jam berapa sekarang?"

[Ding!] [Pukul 08.00 pagi waktu Nocturnia.] [Peringatan: Perubahan fisik terdeteksi mencapai 100%.] [Status: Evolusi Elf Langit Tahap Awal.]

"Evolusi apa?" Aurelia bergumam serak. Ia menyibakkan selimutnya dan beranjak menuju cermin besar di sudut kamar.

Langkah kakinya terhenti. Di depan cermin, Aurelia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Rambut pirang keemasan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga Valeraine telah hilang, digantikan oleh rambut panjang berwarna perak murni yang berkilau seperti cahaya bulan. Kulitnya tampak lebih transparan, dan matanya yang dulu berwarna cokelat kini memiliki semburat ungu cerah.

"A-apa ini?" Aurelia menyentuh rambutnya dengan tangan gemetar. "Sistem! Kenapa rambutku jadi begini? Aku akan langsung ketahuan sebagai Elf!"

[Menjawab...] [Kontak fisik yang intens dengan energi kegelapan Raja Iblis memicu inti suci Anda untuk melindungi diri. Warna perak adalah wujud asli kekuatan Anda.]

"Intens dari mana?! Dia hanya menggendongku!" teriak Aurelia frustrasi.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar diketuk dengan keras. Suara Silas, sang tangan kanan Raja, terdengar dari luar. "Putri Aurelia, Yang Mulia Raja Iblis menunggu Anda di Aula Besar. Para tetua sudah berkumpul untuk menagih janji semalam."

Aurelia panik. Ia segera mencari kain untuk menutupi rambutnya, tapi sifat cerobohnya kembali kumat. Ia menarik taplak meja dengan terlalu kuat hingga vas bunga di atasnya jatuh dan pecah berkeping-keping.

Prang!

"Aduh! Sial!" Aurelia berlutut untuk memungut pecahan itu, namun ujung jarinya justru teriris. Darah yang keluar bukan lagi merah pekat, melainkan merah terang dengan binar keemasan.

Pintu terbuka sebelum Aurelia sempat bersembunyi. Silas masuk bersama dua pelayan iblis. Mereka semua membeku di tempat saat melihat penampilan Aurelia.

"Rambut itu..." Silas bergumam, matanya menyipit penuh selidik. "Jadi rumor itu benar. Anda benar-benar bukan manusia biasa."

Aurelia berdiri dengan canggung, menyembunyikan tangannya yang berdarah di balik gaun tidurnya. "Ini... ini hanya... aku salah pakai sabun mandi semalam! Ya, benar! Sabun di kastil ini sangat keras sampai melunturkan warna rambutku!"

Silas menghela napas panjang, tampak tidak terkesan dengan kebohongan konyol itu. "Ikut saya sekarang, Putri. Atau haruskah saya katakan... Calon Permaisuri?"

Aula Besar Nocturnia dipenuhi oleh aura yang sangat berat. Dua belas kursi batu besar disusun melingkar, dihuni oleh para Tetua Iblis yang wajahnya tertutup jubah hitam. Di tengah-tengah mereka, Xaverius duduk di singgasananya, tampak bosan namun waspada.

Saat Aurelia masuk dengan rambut perak yang terurai indah, bisikan-bisikan tajam langsung memenuhi ruangan.

"Lihat itu! Tanda terkutuk dari langit!" "Bagaimana mungkin Yang Mulia membawa musuh bebuyutan ke jantung kekaisaran kita?" "Dia harus dieksekusi sebelum kekuatannya bangkit sepenuhnya!"

Aurelia menelan ludah, berjalan tertatih menuju tengah ruangan. Ia merasa ribuan pasang mata ingin melubangi tubuhnya.

"Berhenti di sana, Aurelia," suara Xaverius bergema. Ia menatap rambut perak Aurelia tanpa ekspresi terkejut, seolah sudah menduganya.

"Yang Mulia," salah satu Tetua yang paling tua, Tetua Morax, berdiri dengan bantuan tongkat tengkorak. "Anda mengklaim wanita ini sebagai permaisuri semalam untuk melindunginya dari Putri Suci Valeraine. Tapi lihatlah dia sekarang! Dia adalah keturunan Elf! Apa Anda ingin mengulangi sejarah berdarah di mana bangsa mereka menyegel nenek moyang kita?"

Xaverius menyandarkan punggungnya, menopang dagu dengan tangan. "Morax, kau terlalu tua untuk merasa takut pada seorang gadis yang bahkan jatuh karena kakinya sendiri saat masuk ke aula ini tadi."

Aurelia merona merah. Benar, tadi ia memang sempat tersandung karpet saat masuk.

"Ini bukan soal kecerobohannya!" teriak Morax. "Ini soal ras! Elf dan Iblis adalah minyak dan air! Jika Anda menikahinya, Anda mengkhianati seluruh rakyat Nocturnia!"

Aurelia tiba-tiba merasa keberaniannya muncul dari rasa kesal. Ia teringat bagaimana Sarah dan Elias selalu menekannya di dunia nyata. Ia tidak mau diperlakukan seperti itu lagi di sini.

"Permisi, Tuan Tetua yang terhormat," suara Aurelia memecah perdebatan.

Semua orang menatapnya. Xaverius menaikkan satu alisnya, tertarik.

"Siapa kau berani bicara?!" bentak Morax.

"Aku adalah orang yang sedang kalian bicarakan," Aurelia melangkah satu langkah ke depan, meski lututnya masih sedikit gemetar. "Kalian bilang aku ancaman? Aku bahkan tidak tahu cara mengeluarkan sihir! Aku dibuang oleh keluargaku sendiri karena dianggap sampah. Jika aku memang sehebat yang kalian takutkan, apa mungkin aku berakhir sebagai tawanan di sini?"

"Itu hanya tipuanmu!" sahut tetua lainnya.

"Tipuan apa?" Aurelia merentangkan tangannya. "Lihat aku! Aku ceroboh, aku penakut, dan aku tidak punya siapa pun di dunia ini selain... selain Yang Mulia Raja Iblis yang membawaku ke sini."

Aurelia menoleh ke arah Xaverius, memberikan tatapan mata kelinci yang paling menyedihkan yang bisa ia buat. "Yang Mulia... jika Anda juga takut padaku karena rambut ini, silakan bunuh aku sekarang. Itu lebih baik daripada aku harus terus dicaci maki padahal aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi seorang Elf."

Xaverius berdiri dari singgasananya. Ia berjalan menuruni tangga batu dan berhenti tepat di depan Aurelia. Ruangan menjadi senyap seketika.

"Kalian dengar itu?" Xaverius menatap para tetua dengan tatapan membunuh. "Dia tidak punya siapa-siapa selain aku. Itu artinya, dia sepenuhnya milikku. Jika dia seorang Elf, maka dia adalah Elf milik Iblis. Jika dia senjata, maka dia adalah senjataku."

Xaverius menarik tangan Aurelia dan menggenggamnya kuat-kuat di hadapan semua orang. "Aku tidak butuh persetujuan kalian untuk memilih permaisuri. Aku hanya butuh kesetiaan kalian. Siapa pun yang keberatan dengan keberadaan Aurelia, silakan maju dan tantang aku dalam duel maut sekarang juga."

Tidak ada satu pun tetua yang bergerak. Mereka tahu menantang Xaverius berarti menyerahkan nyawa.

"Bagus," ucap Xaverius dingin. "Sidang selesai. Silas, siapkan pengumuman resmi ke seluruh kekaisaran. Aurelia von Valeraine akan dinobatkan dalam waktu tiga bulan."

Setelah para tetua pergi dengan gerutuan tertahan, Xaverius melepaskan tangan Aurelia. Ia menatap rambut perak gadis itu dengan jarak yang sangat dekat.

"Kenapa Anda melakukan itu?" bisik Aurelia. "Anda benar-benar ingin menikahiku? Kita bahkan tidak saling mencintai."

Xaverius mendengus. "Cinta adalah konsep yang tidak berguna, Aurelia. Aku menikahimu karena kau adalah kunci untuk menghancurkan Valeraine dari dalam. Dengan identitas Elf-mu, kau adalah pemegang hak sah atas tanah suci yang sekarang diduduki oleh keluargamu. Aku hanya menggunakanmu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Nocturnia."

Aurelia merasa sedikit kecewa, namun ia mencoba tersenyum pahit. "Jadi aku tetaplah alat, ya? Baiklah. Asalkan aku tidak mati seperti di kesempatan pertama dan kedua."

"Jangan senang dulu," Xaverius memegang dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatapnya. "Lyra tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mengirim seseorang untuk 'memverifikasi' keaslian darahmu. Dan jika kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu saat itu... aku sendiri yang akan memotong rambut perakmu ini bersama kepalanya."

Aurelia menepis tangan Xaverius. "Aku akan belajar! Aku bukan penulis novel yang hanya tahu teori! Aku akan bertahan hidup!"

"Penulis novel?" Xaverius mengernyit. "Lagi-lagi kau bicara omong kosong."

"Lupakan!" Aurelia berbalik untuk pergi, namun gaunnya yang panjang tersangkut di salah satu ornamen singgasana.

Sreeek!

Bagian bawah gaunnya robek, dan Aurelia jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak elegan. "Aduuuh! Kenapa harus sekarang sih?!"

Xaverius hanya bisa memijat keningnya, melihat calon permaisurinya merangkak di lantai. "Aku mulai ragu apakah kau benar-benar Elf Langit yang legendaris itu, atau hanya kelinci bodoh yang salah kostum."

Di kejauhan, di dalam kuil suci Valeraine, Lyra menatap sebuah bola kristal yang menampilkan kejadian di aula Nocturnia. Wajahnya yang cantik tampak terdistorsi oleh kemarahan.

"Permaisuri? Dia pikir dia bisa menang hanya karena mendapatkan perlindungan Iblis?" Lyra bergumam. Ia menekan sebuah tombol di antarmuka sistemnya yang transparan.

[System Overdrive Aktif.] [Target: Memanggil 'The Saint Hunter' untuk mengeksekusi Aurelia.]

"Sarah... kau dengar itu?" Lyra bicara pada bayangannya sendiri di cermin. "Aku tidak akan membiarkan Alya bahagia di dunia ini maupun di dunia sana. Jika dia ingin menjadi permaisuri, maka dia akan menjadi permaisuri di dalam peti mati."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 98 - Naskah terbakar

    Aurelia berdiri di depan pintu gubuk tua itu, tangannya terulur hendak menyentuh gagang kayunya yang lapuk. Penjaga Hutan masih berlutut di belakangnya, dan kabut ungu berputar pelan seolah menahan napas. Namun, sebelum jari Aurelia menyentuh kayu itu, sebuah rasa panas yang menyengat tiba-tiba menyerang matanya. "Argh!" Aurelia mundur selangkah, menutup matanya dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada bara api yang ditaruh tepat di balik kelopak matanya. "Aurelia!" Xaverius, yang sedang disandarkan Kael di batang pohon, memaksakan diri untuk berdiri. "Ada apa?!" Aurelia membuka matanya paksa. Dan apa yang ia lihat membuatnya menjerit ngeri. Layar transparan yang selama ini menemaninya—panel sistem yang memberinya peringatan, misi, dan status—kini tidak lagi berwarna biru tenang atau merah bahaya. Layar itu terbakar. Api digital berwarna emas melahap teks-teks yang ada di sana. Bukan api ilusi; Aurelia bisa merasakan panasnya membakar retina matanya. Huruf-huruf di layar itu m

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 97 - Efek penghapusan

    Hutan Terlarang sudah terlihat di depan mata—dinding pepohonan raksasa dengan daun berwarna ungu dan perak yang tertutup kabut abadi. Namun, jarak satu kilometer terakhir ini terasa seperti jarak terjauh yang pernah mereka tempuh seumur hidup. Di belakang mereka, "Tinta Purba" itu tidak lagi berbentuk cairan yang merayap di tanah. Ia telah berubah menjadi tsunami putih raksasa—sebuah dinding ketiadaan setinggi lima puluh meter yang menghapus langit, tanah, dan suara. Tidak ada gemuruh. Itulah bagian yang paling mengerikan. Tsunami itu bergerak dalam keheningan total. Aurelia, yang masih lemas di pelukan Xaverius di atas punggung naga, menoleh ke belakang dengan mata terbelalak. Ia melihat barisan belakang pasukan Aliansi yang masih berusaha lari. Seorang letnan dari pasukan Ksatria Perak, pria gagah yang tadi sempat memberikan Aurelia air minum saat istirahat, tersandung kudanya. Ia jatuh terguling di tanah. "Tolong!" teriak letnan itu, mengulurkan tangan ke arah teman-temannya.

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 96 - Retakan realistis

    Naga Bayangan itu membelah angin dengan kecepatan putus asa, sayapnya mengepak panik menjauhi lembah yang kini telah menjadi kawah kematian. Di punggung naga, Xaverius masih memeluk Aurelia, namun cengkeramannya mulai melemah. Darah segar terus merembes dari sela-sela bibir sang Kaisar, menetes mengotori zirah hitam Aurelia yang sudah berdebu. "Xaverius, bertahanlah..." Aurelia terisak, tangannya yang bercahaya perak menekan dada suaminya, mencoba menyalurkan Aether penyembuh. Namun, luka Xaverius bukan luka fisik biasa. Itu adalah luka akibat benturan langsung dengan ketiadaan. Energi penyembuh Aurelia hanya mendesis saat menyentuh kulit Xaverius, seolah ditolak oleh residu Void yang menempel di sana. "Jangan buang tenagamu," Xaverius terbatuk, suaranya parau. Ia menoleh ke belakang, menatap horor yang sedang mengejar mereka. "Lihat..." Aurelia mengikuti arah pandang Xaverius, dan napasnya tercekat di tenggorokan. Lembah Valeraine tidak lagi terlihat seperti lembah. Tanah di san

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 95 - Janji kaisar

    Langit di atas Lembah Valeraine runtuh. Bukan secara metafora, melainkan harfiah. Awan-awan kelabu yang menutupi matahari ditarik paksa ke bawah oleh gravitasi yang diputarbalikkan oleh Sang Bayangan Purba, menciptakan pusaran angin topan yang menghancurkan sisa-sisa hutan mati. "Wadahku... kemarilah." Suara itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung menghantam otak seperti palu godam. Aurelia menjerit tertahan, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di depannya, sosok asap raksasa dengan mata ungu itu mengulurkan tangan yang besarnya seukuran menara istana. "JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Xaverius. Sang Kaisar tidak membuang waktu. Ia tidak mencoba menyerang balik makhluk itu—insting tempurnya yang telah diasah ribuan tahun memberitahunya bahwa makhluk di depan mereka berada di dimensi kekuatan yang berbeda. Ini bukan monster; ini adalah dewa kematian. Xaverius menyambar tubuh Aurelia, mendekapnya erat ke dada bidangnya, lalu berbal

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 94 - Lembah duka

    Debu. Hanya itu yang tersisa. Istana Valeraine, monumen ketakutan yang telah berdiri selama lima ratus tahun dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh benua, kini tak lebih dari tumpukan batu yang hancur. Ledakan jatuhnya istana itu menciptakan kawah raksasa di tengah lembah, mengirimkan awan debu abu-abu pekat yang menutupi matahari, mengubah siang hari menjadi senja yang kelabu. Naga Bayangan Xaverius mendarat dengan berat di sebuah bukit batu, cukup jauh dari pusat reruntuhan agar aman, namun cukup dekat untuk melihat skala kehancurannya. Xaverius melompat turun lebih dulu. Zirah hitamnya yang legendaris kini retak di bahu dan dada, dan wajahnya tergores luka, namun ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia segera berbalik, merentangkan tangannya untuk menurunkan Aurelia. Aurelia turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat sepatu bot besinya menyentuh tanah, ia nyaris ambruk jika Xaverius tidak menahannya. Aurelia tidak terluka parah secara fisik—zirah kembar dan perlindungan

  • Kehidupan Ketiga Sang Villainess   Bab 93 - Pesan terakhir

    Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan. Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatannya, berubah menjadi butiran cahaya yang rapuh. "Ibu..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Eleanor tidak lagi meronta. Wajahnya yang tadinya retak dan mengerikan kini kembali utuh untuk terakhir kalinya. Kulit abu-abunya memudar, menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang angkuh namun tragis. Mata hitam pekatnya perlahan kembali berwarna cokelat madu—warna mata yang sama dengan milik Aurelia. Eleanor menatap putrinya. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi obsesi gila untuk menjadik

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status