Mag-log inSinar matahari merah khas Nocturnia menembus celah gorden beludru yang menyinari wajah Aurelia yang masih terlelap. Namun, ada yang berbeda pagi ini. Bantal hitam sutranya kini tertutup oleh helaian rambut yang tidak lagi berwarna pirang kusam seperti biasanya.
Aurelia mengerang sambil mencoba duduk serta mengucek matanya yang sembab. "Sistem... jam berapa sekarang?" [Ding!] [Pukul 08.00 pagi waktu Nocturnia.] [Peringatan: Perubahan fisik terdeteksi mencapai 100%.] [Status: Evolusi Elf Langit Tahap Awal.] "Evolusi apa?" Aurelia bergumam serak. Ia menyibakkan selimutnya dan beranjak menuju cermin besar di sudut kamar. Langkah kakinya terhenti. Di depan cermin, Aurelia melihat sosok yang hampir tidak ia kenali. Rambut pirang keemasan yang selama ini menjadi ciri khas keluarga Valeraine telah hilang dan digantikan oleh rambut panjang berwarna perak murni yang berkilau seperti cahaya bulan. Kulitnya tampak lebih transparan serta matanya yang dulu berwarna cokelat kini memiliki semburat ungu cerah. "A-apa ini?" Aurelia menyentuh rambutnya dengan tangan gemetar. "Sistem! Kenapa rambutku jadi begini? Aku akan langsung ketahuan sebagai Elf!" [Menjawab...] [Kontak fisik yang intens dengan energi kegelapan Raja Iblis memicu inti suci Anda untuk melindungi diri. Warna perak adalah wujud asli kekuatan Anda.] "Intens dari mana?! Dia hanya menggendongku!" teriak Aurelia frustrasi. Tok! Tok! Tok! Pintu kamar diketuk dengan keras. Suara Silas yakni sang tangan kanan Raja terdengar dari luar. "Putri Aurelia, Yang Mulia Raja Iblis menunggu Anda di Aula Besar. Para tetua sudah berkumpul untuk menagih janji semalam." Aurelia panik. Ia segera mencari kain untuk menutupi rambutnya tapi sifat cerobohnya kembali kumat. Ia menarik taplak meja dengan terlalu kuat hingga vas bunga di atasnya jatuh dan pecah berkeping-keping. Prang! "Aduh! Sial!" Aurelia berlutut untuk memungut pecahan itu namun ujung jarinya justru teriris. Darah yang keluar bukan lagi merah pekat melainkan merah terang dengan binar keemasan. Pintu terbuka sebelum Aurelia sempat bersembunyi. Silas masuk bersama dua pelayan iblis. Mereka semua membeku di tempat saat melihat penampilan Aurelia. "Rambut itu..." Silas bergumam sementara matanya menyipit penuh selidik. "Jadi rumor itu benar. Anda benar-benar bukan manusia biasa." Aurelia berdiri dengan canggung sambil menyembunyikan tangannya yang berdarah di balik gaun tidurnya. "Ini... ini hanya... aku salah pakai sabun mandi semalam! Ya, benar! Sabun di kastil ini sangat keras sampai melunturkan warna rambutku!" Silas menghela napas panjang karena tampak tidak terkesan dengan kebohongan konyol itu. "Ikut saya sekarang, Putri. Atau haruskah saya katakan Calon Permaisuri?" Aula Besar Nocturnia dipenuhi oleh aura yang sangat berat. Dua belas kursi batu besar disusun melingkar yang dihuni oleh para Tetua Iblis yang wajahnya tertutup jubah hitam. Di tengah-tengah mereka, Xaverius duduk di singgasananya yang tampak bosan namun waspada. Saat Aurelia masuk dengan rambut perak yang terurai indah, bisikan-bisikan tajam langsung memenuhi ruangan. "Lihat itu! Tanda terkutuk dari langit!" "Bagaimana mungkin Yang Mulia membawa musuh bebuyutan ke jantung kekaisaran kita?" "Dia harus dieksekusi sebelum kekuatannya bangkit sepenuhnya!" Aurelia menelan ludah serta berjalan tertatih menuju tengah ruangan. Ia merasa ribuan pasang mata ingin melubangi tubuhnya. "Berhenti di sana, Aurelia," suara Xaverius bergema. Ia menatap rambut perak Aurelia tanpa ekspresi terkejut seolah sudah menduganya. "Yang Mulia," salah satu Tetua yang paling tua yaitu Tetua Morax berdiri dengan bantuan tongkat tengkorak. "Anda mengklaim wanita ini sebagai permaisuri semalam untuk melindunginya dari Putri Suci Valeraine. Tapi lihatlah dia sekarang! Dia adalah keturunan Elf! Apa Anda ingin mengulangi sejarah berdarah di mana bangsa mereka menyegel nenek moyang kita?" Xaverius menyandarkan punggungnya serta menopang dagu dengan tangan. "Morax, kau terlalu tua untuk merasa takut pada seorang gadis yang bahkan jatuh karena kakinya sendiri saat masuk ke aula ini tadi." Aurelia merona merah. Benar, tadi ia memang sempat tersandung karpet saat masuk. "Ini bukan soal kecerobohannya!" teriak Morax. "Ini soal ras! Elf dan Iblis adalah minyak dan air! Jika Anda menikahinya, Anda mengkhianati seluruh rakyat Nocturnia!" Aurelia tiba-tiba merasa keberaniannya muncul dari rasa kesal. Ia teringat bagaimana Sarah dan Elias selalu menekannya di dunia nyata. Ia tidak mau diperlakukan seperti itu lagi di sini. "Permisi, Tuan Tetua yang terhormat," suara Aurelia memecah perdebatan. Semua orang menatapnya. Xaverius menaikkan satu alisnya karena merasa tertarik. "Siapa kau berani bicara?!" bentak Morax. "Aku adalah orang yang sedang kalian bicarakan," Aurelia melangkah satu langkah ke depan meski lututnya masih sedikit gemetar. "Kalian bilang aku ancaman? Aku bahkan tidak tahu cara mengeluarkan sihir! Aku dibuang oleh keluargaku sendiri karena dianggap sampah. Jika aku memang sehebat yang kalian takutkan, apa mungkin aku berakhir sebagai tawanan di sini?" "Itu hanya tipuanmu!" sahut tetua lainnya. "Tipuan apa?" Aurelia merentangkan tangannya. "Lihat aku! Aku ceroboh, aku penakut, dan aku tidak punya siapa pun di dunia ini selain yakni selain Yang Mulia Raja Iblis yang membawaku ke sini." Aurelia menoleh ke arah Xaverius serta memberikan tatapan mata kelinci yang paling menyedihkan yang bisa ia buat. "Yang Mulia... jika Anda juga takut padaku karena rambut ini, silakan bunuh aku sekarang. Itu lebih baik daripada aku harus terus dicaci maki padahal aku tidak tahu apa-apa tentang menjadi seorang Elf." Xaverius berdiri dari singgasananya. Ia berjalan menuruni tangga batu dan berhenti tepat di depan Aurelia. Ruangan menjadi senyap seketika. "Kalian dengar itu?" Xaverius menatap para tetua dengan tatapan membunuh. "Dia tidak punya siapa-siapa selain aku. Itu artinya, dia sepenuhnya milikku. Jika dia seorang Elf, maka dia adalah Elf milik Iblis. Jika dia senjata, maka dia adalah senjataku." Xaverius menarik tangan Aurelia dan menggenggamnya kuat-kuat di hadapan semua orang. "Aku tidak butuh persetujuan kalian untuk memilih permaisuri. Aku hanya butuh kesetiaan kalian. Siapa pun yang keberatan dengan keberadaan Aurelia, silakan maju dan tantang aku dalam duel maut sekarang juga." Tidak ada satu pun tetua yang bergerak. Mereka tahu menantang Xaverius berarti menyerahkan nyawa. "Bagus," ucap Xaverius dingin. "Sidang selesai. Silas, siapkan pengumuman resmi ke seluruh kekaisaran. Aurelia von Valeraine akan dinobatkan dalam waktu tiga bulan." Setelah para tetua pergi dengan gerutuan tertahan, Xaverius melepaskan tangan Aurelia. Ia menatap rambut perak gadis itu dengan jarak yang sangat dekat. "Kenapa Anda melakukan itu?" bisik Aurelia. "Anda benar-benar ingin menikahiku? Kita bahkan tidak saling mencintai." Xaverius mendengus. "Cinta adalah konsep yang tidak berguna, Aurelia. Aku menikahimu karena kau adalah kunci untuk menghancurkan Valeraine dari dalam. Dengan identitas Elf milikmu, kau adalah pemegang hak sah atas tanah suci yang sekarang diduduki oleh keluargamu. Aku hanya menggunakanmu untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi milik Nocturnia." Aurelia merasa sedikit kecewa namun ia mencoba tersenyum pahit. "Jadi aku tetaplah alat, ya? Baiklah. Asalkan aku tidak mati seperti di kesempatan pertama dan kedua." "Jangan senang dulu," Xaverius memegang dagu Aurelia guna memaksa gadis itu menatapnya. "Lyra tidak akan tinggal diam. Dia pasti akan mengirim seseorang untuk memverifikasi keaslian darahmu. Dan jika kau tidak bisa mengendalikan kekuatanmu saat itu, aku sendiri yang akan memotong rambut perakmu ini bersama kepalanya." Aurelia menepis tangan Xaverius. "Aku akan belajar! Aku bukan penulis novel yang hanya tahu teori! Aku akan bertahan hidup!" "Penulis novel?" Xaverius mengernyit. "Lagi-lagi kau bicara omong kosong." "Lupakan!" Aurelia berbalik untuk pergi namun gaunnya yang panjang tersangkut di salah satu ornamen singgasana. Sreeek! Bagian bawah gaunnya robek serta Aurelia jatuh tersungkur dengan posisi yang sangat tidak elegan. "Aduuuh! Kenapa harus sekarang sih?!" Xaverius hanya bisa memijat keningnya sambil melihat calon permaisurinya merangkak di lantai. "Aku mulai ragu apakah kau benar-benar Elf Langit yang legendaris itu atau hanya kelinci bodoh yang salah kostum." Di kejauhan yakni di dalam kuil suci Valeraine, Lyra menatap sebuah bola kristal yang menampilkan kejadian di aula Nocturnia. Wajahnya yang cantik tampak terdistorsi oleh kemarahan. "Permaisuri? Dia pikir dia bisa menang hanya karena mendapatkan perlindungan Iblis?" Lyra bergumam. Ia menekan sebuah tombol di antarmuka sistemnya yang transparan. [System Overdrive Aktif.] [Target: Memanggil 'The Saint Hunter' untuk mengeksekusi Aurelia.] "Sarah... kau dengar itu?" Lyra bicara pada bayangannya sendiri di cermin. "Aku tidak akan membiarkan Alya bahagia di dunia ini maupun di dunia sana. Jika dia ingin menjadi permaisuri, maka dia akan menjadi permaisuri di dalam peti mati."Menara Timur Istana Obsidian bermandikan cahaya emas matahari sore. Debu-debu cahaya menari di udara, menciptakan suasana magis di dalam perpustakaan raksasa yang dibangun oleh Ratu Aurelia delapan tahun lalu. Tempat ini seharusnya sunyi. Seharusnya menjadi tempat suci bagi para pencari ilmu. Namun, sore ini, kesunyian itu hanyalah mitos. "Kakak Max! Lihat! Aku nemu buku gambar naga!" "Itu ensiklopedia anatomi Wyvern, Isabella. Taruh kembali. Kau memegangnya terbalik." Di sofa beludru panjang dekat jendela besar, Xaverius dan Aurelia duduk berdampingan. Sang Kaisar sedang tidak memegang dokumen negara, melainkan membiarkan istrinya bersandar di dadanya sambil membelai rambut perak Aurelia. Mereka menikmati tontonan rutin sore hari: Dua buah hati mereka yang sedang 'berdiskusi' di antara rak buku. Pangeran Maximilian, yang duduk rapi di meja baca anak dengan postur tegak sempurna, sedang membaca buku tebal berjudul 'Sejarah Runtuhnya Kekaisaran Kuno'. Wajah datarnya tak terg
Malam telah larut di Istana Obsidian. Suara jangkrik malam dan desau angin dari Hutan Terlarang menjadi satu-satunya musik pengiring di ruang kerja Kaisar yang luas. Lampu kristal diredupkan, menyisakan cahaya hangat dari perapian yang menyala pelan. Di balik meja kerja mahoni yang besar, Xaverius Dracul duduk memeriksa tumpukan dokumen negara. Kacamata baca tipis bertengger di hidung mancungnya sebuah aksesori yang ia pakai hanya saat bekerja, yang membuatnya terlihat semakin tampan dan berwibawa. Di sofa beludru merah tak jauh dari sana, Aurelia duduk bersantai dengan kaki diselonjorkan ke meja kecil, memangku sebuah novel tebal. Sesekali ia menyeruput teh chamomile hangatnya. Hening. Tapi bukan hening yang canggung, melainkan hening yang nyaman. Keheningan sepasang suami istri yang sudah berbagi nyawa selama bertahun-tahun. "Hhh..." Helaan napas panjang Xaverius memecah keheningan. Bukan helaan napas lelah karena pekerjaan, tapi helaan napas frustrasi yang spesifik. Aure
Namaku Kael. Dulu, orang-orang di seluruh benua mengenal namaku dengan sebutan yang membuat bulu kuduk berdiri: The Shadow General Jenderal Bayangan The Silent Blade Pedang Sunyi atau Tangan Kanan Kaisar Iblis. Prestasiku? Jangan tanya. Aku pernah menyusup ke benteng Dwarf tanpa terdeteksi, membunuh tiga komandan Orc dalam satu tarikan napas, dan memanah seekor Wyvern tepat di bola matanya dari jarak satu kilometer saat badai salju. Aku adalah definisi dari "Mematikan". Tapi hari ini... "PAMAAAN KAAEEELLL! KEJAR BELLAAA!" Hari ini, musuh terbesarku bukanlah pasukan aliansi atau monster Void. Musuhku adalah seorang gadis kecil berusia tujuh tahun dengan rambut hitam legam dan koordinasi motorik terburuk dalam sejarah klan Dracul. Di Taman Mawar Istana Obsidian, Putri Isabella Dracul sedang berlari mengejar seekor kupu-kupu biru. Masalahnya, dia berlari sambil melihat ke atas, sementara di depannya ada akar pohon yang menonjol. Satu detik. Kaki mungil Isabella tersangkut.
Langit di atas Nocturnia yang biasanya cerah mendadak berubah warna menjadi hijau zamrud yang menyilaukan. Angin berhembus kencang membawa aroma pinus dan bunga liar yang sangat pekat, menutupi aroma laut dan debu kota. Di balkon Istana Obsidian, sirene peringatan sihir berbunyi nyaring. WIIUUU! WIIUUU! Xaverius, yang sedang menikmati kopi paginya yang baru diseduh dengan sempurna oleh mesin buatan Dwarf langsung tersedak. Mata merah emasnya menyala waspada. Ia meletakkan cangkir, lalu memanggil pedang Black Sun nya dari udara kosong. "Kael!" teriak Xaverius, suaranya menggelegar ke seluruh lorong. "Siapkan pasukan! Ada serangan sihir skala besar dari Utara! Siapa yang bosan hidup berani menyerang wilayahku saat aku sedang cuti?!" Kael muncul dari balik bayangan pilar, membawa dua belati, tapi wajahnya terlihat bingung. "Lapor, Tuan! Deteksi energi menunjukkan ini bukan serangan musuh, tapi... uh... energi alam murni?" Belum sempat Xaverius memproses laporan itu, pintu balk
Delapan tahun telah berlalu sejak perang besar berakhir, namun bagi Kael, medan perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di halaman belakang Istana Obsidian. TAK! TAK! BUK! Suara benturan pedang kayu bergema di udara pagi. "Pangeran... hah... hah..." Kael, Sang Jenderal Bayangan yang namanya pernah membuat raja-raja benua lain gemetar ketakutan, kini berlutut dengan napas memburu. Keringat membasahi seragam latihan hitamnya. Ia mengangkat tangan tanda menyerah. "Ampun, Pangeran! Istirahat dulu! Napas saya mau putus!" Di hadapannya, berdiri seorang bocah laki-laki berusia tujuh tahun. Tubuhnya kecil, namun tegak lurus seperti tiang bendera. Rambut peraknya yang halus warisan mutlak dari sang Ibu berkilauan ditimpa sinar matahari pagi. Namun, saat bocah itu mengangkat wajahnya, siapa pun akan langsung teringat pada Kaisar Iblis. Mata heterochromia merah-emas itu menatap Kael datar. Tanpa emosi. Tanpa belas kasihan. "Berdiri, Kael," perintah Pangeran Maximilian Dracul deng
Pesta pernikahan itu berlangsung sampai dini hari dengan musik, tarian, dan arak madu yang mengalir tanpa henti di seluruh penjuru Istana Obsidian. Namun, saat langit timur mulai menampakkan semburat ungu muda, keramaian itu perlahan mereda. Para tamu sudah terlelap di kamar tamu, di taman, atau bahkan di bawah meja perjamuan saking mabuknya oleh kebahagiaan. Di lorong lantai atas yang sunyi, Xaverius Dracul berjalan pelan. Jas putih pengantinnya sudah dilepas sehingga menyisakan kemeja putih yang kancing teratasnya dibuka longgar dan lengan yang digulung sebatas siku. Di sampingnya, Aurelia berjalan tanpa alas kaki karena sepatu hak tingginya sudah lama ia tinggalkan di sudut ballroom akibat kakinya pegal berdansa. Tangan kanannya menjinjing ujung gaun pengantinnya yang berat, sementara tangan kirinya digenggam erat oleh Xaverius. "Lelah?" tanya Xaverius lembut sambil menatap istrinya yang terlihat mengantuk namun tetap tersenyum. "Sedikit," aku Aurelia. "Kakiku rasanya mau copot,
Ruang perpustakaan yang remang-remang itu kini dipenuhi oleh cahaya biru neon yang berkedip cepat dari panel sistem Aurelia, bercampur dengan aura hitam pekat yang meledak dari tubuh Xaverius. Udara bergetar hebat. Buku-buku tua di rak berguncang dan jatuh, seolah-olah realitas di ruangan itu sedang
Waktu yang tersisa di panel sistem Aurelia terus berdetak mundur, seolah mengejek setiap tarikan napasnya. [Waktu Tersisa sebelum Oksigen Mengkristal: 71 Jam 14 Menit.] Kubah kaca raksasa yang mengurung Nocturnia kini membiaskan cahaya matahari pagi menjadi spektrum warna yang menyakitkan mata. Di
Cahaya merah darah yang memancar dari bulan purnama di atas sana mengubah balkon kaca transparan itu menjadi panggung yang bermandikan warna kirmizi. Di bawah kaki mereka, seluruh Kerajaan Nocturnia yang telah membeku menjadi kristal kini bergetar halus serta memantulkan sinar merah itu hingga menci
Pintu kamar utama Kastil Obsidian terbanting menutup dengan suara dentuman berat yang menggema di lorong sunyi. Pintu itu bukan dikunci dengan kunci biasa, melainkan disegal dengan sihir bayangan tingkat tinggi yang berdenyut ungu gelap di permukaannya. Di dalam kamar, Aurelia masih duduk mematung







