LOGINCahaya perak yang berpendar dari tubuh Aurelia menerangi seluruh kuil bawah tanah yang tadinya gelap gulita. Xaverius terpaku, merasakan energi murni yang terasa panas namun menenangkan di saat yang bersamaan. Di depannya, Lyra menatap dengan mata yang membelalak puas—sebuah ekspresi yang sangat kontras dengan aura "suci" yang selalu ia banggakan.
"Lihat itu, Yang Mulia," Lyra tertawa kecil, suaranya bergema di dinding batu. "Kekuatan yang murni dan menjijikkan. Dia adalah Elf, musuh alami bangsamu. Apa kau masih ingin mendekap bom waktu yang bisa melenyapkan seluruh Nocturnia?" Aurelia gemetar hebat. Tangannya yang bersinar perak mulai terasa berat. "Lyra... kenapa kau melakukan ini? Aku tidak pernah ingin menyakiti siapa pun..." "Kau tidak perlu bicara, Kakak," potong Lyra tajam. "Keberadaanmu saja sudah merupakan ancaman. Seharusnya kau mati di Hutan Terlarang, bukan malah menjadi parasit di sini." Xaverius perlahan berdiri tegak. Ia melepaskan pegangannya pada bahu Aurelia, membuat gadis itu merasa kehilangan pegangan. Aurelia menunduk, air mata mulai jatuh ke lantai kuil yang basah. Selesai sudah, pikirnya. Xaverius akan membunuhku sekarang. Takdir novel ini tidak bisa diubah. "Berikan dia padaku, Xaverius," perintah Lyra sambil mengangkat tongkat emasnya. "Kuil akan memberikanmu kedamaian selama seratus tahun jika kau menyerahkan aib ini untuk kami murnikan." Xaverius terdiam sejenak. Ia menatap telapak tangannya yang masih terasa hangat akibat sentuhan Aurelia. Kemudian, ia tertawa. Bukan tawa yang meledak, melainkan tawa rendah yang sangat mengerikan. "Kedamaian?" Xaverius melangkah maju, menghalangi pandangan Lyra terhadap Aurelia. "Kau pikir aku butuh kedamaian dari kuilmu yang busuk itu?" Lyra mengernyit. "Apa maksudmu? Dia adalah Elf! Kau membenci mereka lebih dari apa pun!" "Aku memang membenci mereka," ucap Xaverius, suaranya menggelegar hingga membuat getaran di langit-langit kuil. "Tapi aku lebih membenci orang yang berani mendikte apa yang harus kulakukan di rumahku sendiri." Xaverius berbalik, menatap Aurelia yang masih bersimpuh. Dengan gerakan yang sangat lambat namun pasti, ia menarik Aurelia berdiri. Tangannya yang besar kini melingkari pinggang Aurelia dengan sangat posesif. "Dengarkan aku baik-baik, Putri Suci," Xaverius kembali menatap Lyra dengan mata merah yang menyala terang. "Gadis ini memang memiliki kekuatan perak yang menjijikkan bagi kaumku. Tapi mulai detik ini, dia bukan lagi urusan Valeraine. Dia bukan lagi bagian dari kuilmu." "Apa yang kau katakan?!" teriak Lyra, wajah cantiknya mulai retak oleh amarah. "Aurelia von Valeraine adalah Calon Permaisuriku," ucap Xaverius tegas. Dunia seolah berhenti berputar bagi Aurelia. Ia mendongak, menatap profil samping Xaverius dengan mulut terbuka. "Y-yang Mulia? Apa yang Anda..." "Diam," bisik Xaverius di telinganya, napas dinginnya membuat bulu kuduk Aurelia meremang. "Ikuti saja permainanku jika kau ingin hidup." Lyra melangkah maju satu langkah, cahaya biru dari tongkatnya mulai bergejolak tidak stabil. "Kau gila! Menjadikan musuh alami sebagai permaisuri? Seluruh Nocturnia akan memberontak padamu!" "Biarkan mereka mencoba," tantang Xaverius. "Setiap pedang yang diangkat untuk melawannya, akan berhadapan dengan taringku terlebih dahulu. Sekarang, pergilah dari sini sebelum aku berubah pikiran dan menjadikan tongkat emasmu itu sebagai hiasan di makammu sendiri." "Kau akan menyesal, Xaverius!" Lyra mendesis. Ia menatap Aurelia dengan tatapan penuh kebencian yang murni—tatapan yang mengingatkan Alya pada Sarah sesaat sebelum ia jatuh dari apartemen. "Nikmatilah waktumu, Kakak. Karena saat kuil menyatakan perang, tidak akan ada tempat bagimu untuk bersembunyi—bahkan di pelukan Iblis sekalipun." Dengan satu entakan tongkatnya, Lyra menghilang dalam pusaran cahaya suci yang menyilaukan. Hening. Ruangan itu kembali sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari jubah mereka yang basah. Aurelia merasa seluruh energinya terkuras habis. Kekuatan peraknya perlahan memudar, meninggalkan rasa lemas yang luar biasa. "Yang Mulia..." Aurelia mencoba bicara, tapi kakinya yang ceroboh lagi-lagi mengkhianatinya. Ia limbung dan jatuh tepat ke dada Xaverius. Xaverius menangkapnya, namun kali ini ia tidak melepaskannya. "Kau benar-benar tidak bisa berdiri tegak selama lima menit, ya?" "Kenapa?" bisik Aurelia, air mata mengalir membasahi baju zirah hitam Xaverius. "Kenapa Anda berbohong pada dia? Kenapa Anda melindungiku?" Xaverius mengangkat dagu Aurelia, memaksa gadis itu menatap matanya. "Aku tidak suka berutang. Tadi di bawah air, kau menyerap racun Aura Abyss yang seharusnya menyerangku. Kau menyelamatkanku, kelinci kecil." Aurelia tertegun. "Aku... aku tidak bermaksud... aku hanya takut..." "Aku tahu," potong Xaverius. "Dan soal 'Permaisuri' itu... itu adalah satu-satunya cara agar hukum internasional antar kerajaan tidak bisa menyentuhmu. Di Nocturnia, kata-kataku adalah hukum. Selama kau menyandang gelar itu, Lyra tidak bisa menarikmu secara paksa tanpa memicu perang dunia." Aurelia menelan ludah. "Tapi... jenderal-jenderal Anda... mereka akan membenciku. Aku adalah Elf." "Mereka memang akan membencimu," sahut Xaverius dengan nada datar. "Dan tugasmu adalah membuat mereka takut padamu sebelum mereka sempat membencimu. Gunakan kecerobohanmu atau apa pun itu untuk membuat mereka bingung, seperti yang kau lakukan malam ini." Xaverius kemudian menggendong Aurelia ala bridal style, membawanya keluar dari kuil bawah tanah yang dingin. "Mulai besok, kehidupanmu akan menjadi neraka yang berbeda," bisik Xaverius saat mereka melewati koridor kastil. "Para tetua akan datang. Mereka akan menuntut pembuktian. Apa kau siap memainkan peran sebagai calon pengantin sang Raja Iblis?" Aurelia menyandarkan kepalanya di bahu Xaverius. Pikirannya melayang pada kehidupannya di dunia nyata. Dulu, Elias menjanjikannya pernikahan namun memberinya pengkhianatan. Sekarang, seorang pria yang seharusnya membencinya justru menawarkannya perlindungan di balik gelar pernikahan. "Asalkan bukan susu cokelat," gumam Aurelia lemas. "Apa?" Xaverius mengernyit bingung. "Tidak... lupakan saja," Aurelia memejamkan matanya. "Jika ini adalah kesempatan ketigaku, maka aku akan menjadi Permaisuri Iblis paling aneh yang pernah ada. Aku akan bertahan hidup, Xaverius." Xaverius terdiam, merasakan detak jantung Aurelia yang perlahan mulai tenang. Ada sesuatu dalam diri gadis ini—perpaduan antara kerapuhan yang nyata dan keberanian yang muncul di saat-saat paling terdesak—yang membuatnya tidak bisa berpaling. [Ding!] [Misi Rahasia Selesai: Mendapatkan Perlindungan Absolut.] [Hubungan dengan Xaverius: 'Possessive Interest' (15%)] [Peringatan: Lyra telah mengaktifkan 'System Overdrive' untuk menghancurkan reputasi Anda di Valeraine.] “Jika ada kehidupan selanjutnya aku tidak akan memilih menjadi seorang penulis. Benar kata Sarah. Menulis hanya akan membunuh ku secara perlahan, dan aku terjebak dalam cerita ku sendiri.” batin Aurelia. Aurelia tidak peduli lagi dengan peringatan sistem. Ia terlalu lelah. Saat ia mulai terlelap dalam gendongan Xaverius, ia tidak menyadari bahwa Sang Raja Iblis menundukkan wajahnya, mencium kening Aurelia dengan sangat singkat—sebuah tanda klaim yang bahkan tidak disadari oleh Xaverius sendiri. "Selamat tidur, musuh kecilku," bisik Xaverius. "Besok, kita akan mulai menghancurkan dunia yang membuangmu."Aurelia berdiri di depan pintu gubuk tua itu, tangannya terulur hendak menyentuh gagang kayunya yang lapuk. Penjaga Hutan masih berlutut di belakangnya, dan kabut ungu berputar pelan seolah menahan napas. Namun, sebelum jari Aurelia menyentuh kayu itu, sebuah rasa panas yang menyengat tiba-tiba menyerang matanya. "Argh!" Aurelia mundur selangkah, menutup matanya dengan kedua tangan. Rasanya seperti ada bara api yang ditaruh tepat di balik kelopak matanya. "Aurelia!" Xaverius, yang sedang disandarkan Kael di batang pohon, memaksakan diri untuk berdiri. "Ada apa?!" Aurelia membuka matanya paksa. Dan apa yang ia lihat membuatnya menjerit ngeri. Layar transparan yang selama ini menemaninya—panel sistem yang memberinya peringatan, misi, dan status—kini tidak lagi berwarna biru tenang atau merah bahaya. Layar itu terbakar. Api digital berwarna emas melahap teks-teks yang ada di sana. Bukan api ilusi; Aurelia bisa merasakan panasnya membakar retina matanya. Huruf-huruf di layar itu m
Hutan Terlarang sudah terlihat di depan mata—dinding pepohonan raksasa dengan daun berwarna ungu dan perak yang tertutup kabut abadi. Namun, jarak satu kilometer terakhir ini terasa seperti jarak terjauh yang pernah mereka tempuh seumur hidup. Di belakang mereka, "Tinta Purba" itu tidak lagi berbentuk cairan yang merayap di tanah. Ia telah berubah menjadi tsunami putih raksasa—sebuah dinding ketiadaan setinggi lima puluh meter yang menghapus langit, tanah, dan suara. Tidak ada gemuruh. Itulah bagian yang paling mengerikan. Tsunami itu bergerak dalam keheningan total. Aurelia, yang masih lemas di pelukan Xaverius di atas punggung naga, menoleh ke belakang dengan mata terbelalak. Ia melihat barisan belakang pasukan Aliansi yang masih berusaha lari. Seorang letnan dari pasukan Ksatria Perak, pria gagah yang tadi sempat memberikan Aurelia air minum saat istirahat, tersandung kudanya. Ia jatuh terguling di tanah. "Tolong!" teriak letnan itu, mengulurkan tangan ke arah teman-temannya.
Naga Bayangan itu membelah angin dengan kecepatan putus asa, sayapnya mengepak panik menjauhi lembah yang kini telah menjadi kawah kematian. Di punggung naga, Xaverius masih memeluk Aurelia, namun cengkeramannya mulai melemah. Darah segar terus merembes dari sela-sela bibir sang Kaisar, menetes mengotori zirah hitam Aurelia yang sudah berdebu. "Xaverius, bertahanlah..." Aurelia terisak, tangannya yang bercahaya perak menekan dada suaminya, mencoba menyalurkan Aether penyembuh. Namun, luka Xaverius bukan luka fisik biasa. Itu adalah luka akibat benturan langsung dengan ketiadaan. Energi penyembuh Aurelia hanya mendesis saat menyentuh kulit Xaverius, seolah ditolak oleh residu Void yang menempel di sana. "Jangan buang tenagamu," Xaverius terbatuk, suaranya parau. Ia menoleh ke belakang, menatap horor yang sedang mengejar mereka. "Lihat..." Aurelia mengikuti arah pandang Xaverius, dan napasnya tercekat di tenggorokan. Lembah Valeraine tidak lagi terlihat seperti lembah. Tanah di san
Langit di atas Lembah Valeraine runtuh. Bukan secara metafora, melainkan harfiah. Awan-awan kelabu yang menutupi matahari ditarik paksa ke bawah oleh gravitasi yang diputarbalikkan oleh Sang Bayangan Purba, menciptakan pusaran angin topan yang menghancurkan sisa-sisa hutan mati. "Wadahku... kemarilah." Suara itu tidak terdengar lewat telinga, tapi langsung menghantam otak seperti palu godam. Aurelia menjerit tertahan, memegangi kepalanya yang serasa mau pecah. Darah segar mengalir dari hidungnya. Di depannya, sosok asap raksasa dengan mata ungu itu mengulurkan tangan yang besarnya seukuran menara istana. "JANGAN DENGARKAN DIA!" teriak Xaverius. Sang Kaisar tidak membuang waktu. Ia tidak mencoba menyerang balik makhluk itu—insting tempurnya yang telah diasah ribuan tahun memberitahunya bahwa makhluk di depan mereka berada di dimensi kekuatan yang berbeda. Ini bukan monster; ini adalah dewa kematian. Xaverius menyambar tubuh Aurelia, mendekapnya erat ke dada bidangnya, lalu berbal
Debu. Hanya itu yang tersisa. Istana Valeraine, monumen ketakutan yang telah berdiri selama lima ratus tahun dan menjadi mimpi buruk bagi seluruh benua, kini tak lebih dari tumpukan batu yang hancur. Ledakan jatuhnya istana itu menciptakan kawah raksasa di tengah lembah, mengirimkan awan debu abu-abu pekat yang menutupi matahari, mengubah siang hari menjadi senja yang kelabu. Naga Bayangan Xaverius mendarat dengan berat di sebuah bukit batu, cukup jauh dari pusat reruntuhan agar aman, namun cukup dekat untuk melihat skala kehancurannya. Xaverius melompat turun lebih dulu. Zirah hitamnya yang legendaris kini retak di bahu dan dada, dan wajahnya tergores luka, namun ia tidak memedulikan dirinya sendiri. Ia segera berbalik, merentangkan tangannya untuk menurunkan Aurelia. Aurelia turun dengan kaki yang terasa seperti jeli. Saat sepatu bot besinya menyentuh tanah, ia nyaris ambruk jika Xaverius tidak menahannya. Aurelia tidak terluka parah secara fisik—zirah kembar dan perlindungan
Cahaya pemurnian itu terasa hangat di kulit Aurelia, namun bagi Eleanor, itu adalah api penyucian yang membakar setiap inci dosa yang melekat pada jiwanya. Di tengah pilar cahaya putih yang membutakan mata itu, waktu seolah melambat. Raungan bayangan di belakang Eleanor perlahan mereda, bukan karena tenang, melainkan karena terusir paksa oleh kemurnian Aether yang Aurelia alirkan. Aurelia masih memeluk tubuh ibunya yang kaku. Ia bisa merasakan bahu Eleanor yang kurus mulai kehilangan kepadatannya, berubah menjadi butiran cahaya yang rapuh. "Ibu..." bisik Aurelia, suaranya tercekat. Eleanor tidak lagi meronta. Wajahnya yang tadinya retak dan mengerikan kini kembali utuh untuk terakhir kalinya. Kulit abu-abunya memudar, menampakkan sisa-sisa kecantikan masa mudanya yang angkuh namun tragis. Mata hitam pekatnya perlahan kembali berwarna cokelat madu—warna mata yang sama dengan milik Aurelia. Eleanor menatap putrinya. Tidak ada lagi kebencian, tidak ada lagi obsesi gila untuk menjadik







