Share

TIGA

"Assalamu'alaikum, Mbak," ucap salam laki-laki tersebut.

Aisyah menoleh ke belakang. "Wa'alaikumussalam. Ada apa, ya?"

Laki-laki itu terlihat gugup. Dia sempat terbata-bata menjawab pertanyaan Aisyah. "Anu, ini bukumu terjatuh." 

Aisyah pun melirik pada tangan kekar si laki-laki, dan beralih ke arah tangannya. Benar saja novel itu kini sudah berpindah tangan. 

"Ma syaa Allah, terima kasih sudah menemukannya. Saya sendiri belum sadar kalau novel saya terjatuh," pekiknya sembari mengambil novel yang diserahkan laki-laki tersebut.

"Kalau begitu, saya permisi dulu. Assalamu'alaikum ...." Lanjut Aisyah. Setelah itu, ia pun berpamitan pergi. Meski begitu gadis muslimah ini sempat melihat wajah tampan laki-laki itu. Lak-laki bernama Fadli itu segera menundukkan kepala karena tidak baik jika harus menatap lama wajah yang bukan makhromnya.

"Wa'alaikumussalam ...." lirihnya sembari diam-diam menatap kepergian Aisyah.

Entah atas dorongan apa, Fadli masih melihat dan menatap kepergian Aisyah dari jauh. Ia bisa melihat khimar yang dikenakan gadis itu melambai-lambai karena terkena terpaan angin.

Fadli Akram I'tisan, adalah seorang direktur di salah satu hotel terkenal di jakarta yang kebetulan baru saja keluar dari sebuah warung mie ayam kesukaannya. Dia baru pulang dari Prancis. Tinggal cukup lama di negara orang membuatnya sangat rindu dengan masakan Indonesia. Terutama mie ayam yang menjadi makanan paling favoritnya.

Ketika dia baru saja melangkahkan kaki keluar dari warung mie ayam tadi, dia melihat Aisyah yang terhimpit oleh ibu-ibu. Saat kejadian itu dia sempat tertawa kecil melihat Aisyah yang bersusah payah untuk lepas dari himpitan para ibu-ibu tadi. Namun, tawanya harus terhenti ketika dia melihat sebuah buku jatuh dari genggamannya. Maka dari itu, Fadli berinisiatif mengejar Aisyah untuk mengembalikan novel yang terjatuh tadi.

"Kenapa nggak aku tanya namanya," gumam Fadli pelan di saat dia melihat Aisyah yang sudah naik ke angkot.

"Astaghfirullahal 'adzim ... Fadli, ingat dosa," ucap lelaki itu dengan sedikit nada penyesalan.

Akhirnya, Fadli memutuskan untuk kembali ke rumah karena rindu terhadap makanan mie ayam sudah terobati. Kini dia harus mengobati lagi rindunya pada sang bunda yang sudah membesarkan dia.

Fadli langsung bergegas melangkah menuju mobil yang diparkirnya tadi. Tak lupa dia memberi uang selembaran kepada tukang parkir sebagai tanda terima kasih telah menjaga mobilnya.

Di tengah perjalanan, Fadli mendapat pesan dari bunda yang isinya beliau meminta supaya Fadli membeli beberapa stok makanan. Bunda pun sudah mengirimkan daftar belanjaan yang harus Fadli beli.

Tepat sekali, ketika Fadli membaca pesan dari bunda ternyata di depan terlihat ada minimarket dan dia segera bergegas turun untuk membeli semua pesanan yang bunda.

Namun, di saat dia hendak menutup pintu mobil, gendang telinganya sempat mendengar suara lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dilantunkan cukup merdu. Manik matanya mencari arah sumber suara dan berhasil mendapatkan siapakah sang pemilik suara indah itu. Ternyata seorang anak jalanan yang di tangannya sedang memegang Al-Qur'an, dan anak jalanan lainnya terlihat sedang mendengarkannya.

Hati Fadli tersentuh. Dia belum pernah melihat kejadian indah seperti ini. Diam-diam Fadli tersenyum. 

Tiba-tiba terlintas di benaknya untuk memberikan beberapa makanan untuk anak jalanan itu. Kebetulan juga Fadli sangat menyukai anak-anak. Karena hal itulah Fadli langsung bergegas memasuki minimarket dan membeli semua keperluan serta beberapa makanan yang akan ia berikan untuk anak jalanan tadi.

Di dalam minimarket, Fadli dengan lihai mencari bahan-bahan apa saja yang dibutuhkan bunda. Tak lupa dia mengambil beberapa makanan dan minuman ringan untuk anak jalanan yang sedang mengaji tadi.

Alhamdulillah, setelah hampir 15 menit dia selesai mengambil semua barang belanjaan dan langsung menuju kasir untuk membayar semua belanjaannya. Setelah membayar, Fadli keluar dari supermarket itu dan melihat anak jalanan tadi yang masih setia dengan Al-Qur'an di tangannya. Dia melangkahkan kakinya dengan cepat untuk menghampiri anak jalanan itu. 

"Assalamu'alaikum ...."

Anak jalanan yang sedang mengaji menghentikan aktifitasnya dan kini menatap Fadli dengan tatapan bingung.

"Sadaqallahul 'adzim... Wa'alaikumussalam. Kakak siapa, ya?" tanya anak jalanan itu sembari menutup Al-Qur'annya.

"Maaf, kakak mengganggu kalian mengaji, ya. Perkenalkan, nama kakak Fadli. Tadi secara nggak sengaja kakak mendengar suara alunan ngaji kamu. Ma syaa Allah, kakak tersentuh karena sebelumnya belum pernah melihat anak jalanan seperti kalian ini mau membaca Al-Qur'an," jelas Fadli.

"Oh, kenalkan nama aku Yusuf, Kak. Ini teman seprofesi di jalanan, hehe," celetuk Yusuf. 

"Kami diajarkan sama kakak kita, Kak. Ya walaupun bukan kakak kandung tapi dia sudah seperti kakak kita sendiri. Namanya Kak Aisyah, beliau selalu mengatakan dimanapun kita berada kita harus menyempatkan diri untuk membaca Al-Qur'an. Karena membaca Al-Qur'an banyak memberikan kita pahala, bagi yang mendengarkannya pun mendapatkan pahala juga. Begitu kata Kak Aisyah," tutur Yusuf lagi ketika dia menceritakan sedikit tentang Aisyah. Dia tersenyum karena ada orang yang tidak memandangnya dengan sebelah mata. 

Fadli terdiam. Dia berpikir pasti gadis yang bernama Aisyah itu sudah banyak memberikan ilmu agama yang bisa memberikan manfaat untuk mereka. Begitu baik hatinya, batin Fadli.

"Baik sekali kakakmu, Yusuf. Oh, iya, ini ada beberapa sedikit makanan untuk kamu dan yang lainnya. Mohon diterima, ya," ujar Fadli sembari menyerahkan satu kantong plastik besar berisi makanan.

Yusuf menatap Fadli, kemudian dia beralih menatap teman-temannya yang hanya mengangkat bahunya. 

"Ya sudah. Kata Kak Aisyah juga nggak baik menolak rezeki. Terima kasih." Yusuf menerima makanan itu dengan senyuman yang merekah di wajahnya yang terlihat sedikit kusam.

"Sama-sama. Kakak pamit dulu, ya. Semoga Allah mempertemukan kita lagi. Assalamu'alaikum." Setelah mengucapkan salam, Fadli pun meninggalkan Yusuf dan yang lainnya.

"Wa'alaikumussalam ...." seru Yusuf dan anak lainnya secara bersamaan. Mereka bahagia karena masih ada orang yang menghargai mereka dengan keadaan seperti ini. 

Biasanya mereka akan dipandang sebelah mata oleh orang-orang karena profesi mereka sebagai anak jalanan. Tapi kini, laki-laki bernama Fadli tadi sudah seperti malaikat bagi mereka karena datang selain memberikan makanan juga sudah memberikan sesuatu yang menambah rasa semangat dan yakin bahwa di luaran sana masih ada orang yang tidak memandang sebelah mata anak jalanan.

"Kita ke rumah singgah, yuk," ajak Yusuf yang langsung dibalas anggukan oleh anak jalanan yang lain.

OoO

"Enak, Mbak, baksonya." 

Aisyah melirik ke arah Fatimah yang kini sedang menikmati bakso yang kubawa tadi. "Iyalah. Apalagi gratis," celetuknya.

Fatimah terkekeh, kemudian dia mengambil sesuap bakso lagi untuk dimasukkan ke mulutnya.

"Yusuf sama anak-anak yang lainnya kok belum datang, ya. Aku khawatir sama mereka," ujar Aisyah sembari menatap ke arah gerbang rumah singgah.

"Tenang saja. 'Kan, ada Yusuf yang bisa melindungi trman-temannya," jawab Nailah, lalu melangkah ke belakang untuk meletakkan mangkok yang baru saja dipakainya.

"Fatimah, anak jalanan yang kita asuh ada berapa?" tanya Aisyah. Kemudian Fatimah membuka sebuah buku yang ada di sampingnya.

"Yang tinggal di sini ada lima anak. Trus yang hanya belajar di sini ada sekitar tujuh anak. Berarti total seluruh anak jalanannya ada dua belas anak, Mbak." 

Aisyah mengangguk mendengar penuturan Fatimah. Belum terlalu banyak karena rumah singgah ini pun baru dibangun sekitar dua tahun yang lalu.

Tak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang. Yusuf beserta anak jalanan lainnya datang dengan membawa satu kantong plastik besar. Aisyah pun menghampiri mereka.

"Assalamu'alaikum, adik-adik."

"Wa'alaikumussalam, Kak Aisyah," jawab mereka serempak.

Aisyah tersenyum, kemudian matanya menatap kantong plastik besar yang dibawa Yusuf. "Apa itu, Yusuf?"

Yusuf langsung mengangkat kantong itu seraya berkata. "ini makanan, Kak. Tadi ada kakak baik yang tiba-tiba datang dan memberi kami ini. Namanya kalo nggak salah itu Kak Fadli."

Aisyah mengernyitkan kening. Siapa Fadli, dan untuk apa dia memberikan Yusuf dan lainnya banyak makanan. Ah, sudahlah, mungkin dia ingin menyedekahkan sedikit rezekinya pada mereka.

Kemudian, Aisyah memerintahkan Yusuf untuk membagikan makanan itu kepada teman-temannya dengan sama rata. Aisyah membiarkan mereka makan terlebih dahulu sebelum kegiatan belajar dimulai.

Fatimah dan Nailah keluar dan langsung menanyakan darimana asal makanan itu.

"Orang baik, Kak," celetuk Tono, anak jalanan yang kini sedang sibuk makan coklat.

Aisyah terkekeh mendengar jawaban Tono. Dari sekian banyak anak jalanan, hanya Tono lah yang masih sedikit polos karena kebetulan juga dia paling kecil di antara anak lainnya.

"Setelah makan kalian bersih-bersih dulu, ya. Trus untuk yang belum sholat, sholat dulu. Yang sudah sholat boleh langsung ke ruangan belajar. Paham?" 

"Paham, Kak Nailah!" seru mereka.

Aisyah dan Nailah memutuskan untuk masuk ke dalam, meninggalkan Fatimah yang ikut berbaur dengan Yusuf dan lainnya. Aisyah mengajak Nailah untuk berbicara serius tentang pengrekrutan relawan baru untuk rumah singgah. 

"Gimana? Apa sudah ada kabar?" tanyanya serius.

Kemudian Nailah mengotak-atikkan laptop yang di hadapannya. Sedetik kemudian dia menggeleng pelan sebagai jawaban pertanyaan Aisyah.

"Nggak mudah mencari relawan yang benar-benar tulus mau membantu kita di rumah singgah. Apalagi kita disini nggak dibayar," kata Nailah.

Aisyah berpikir. "Benar juga. Trus, langkah selanjutnya gimana? Semakin lama rumah singgah ini membutuhkan banyak relawan karena anak-anak yang belajar di sini pasti akan semakin banyak."

"Kita berdoa dan berserah diri saja. Hanya itu yang bisa kita lakukan. Semoga Allah memudahkan semuanya," ujar Nailah yang langsung diamini oleh Aisyah.

Aisyah pun berharap seperti itu karena jauh-jauh hari dia pernah berjanji pada Abi untuk mengajaknya jalan-jalan. Kasihan beliau harus kehilangan waktu bersama anak-anaknya karena Aisyah dan Fatimah harus sibuk mengurus rumah singgah.

Semoga ada relawan untuk rumah singgah secepatnya. Amiin.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status