LOGIN03
Zhao Yìchen memandangi langit cerah dari jendela yang terbuka lebar. Dia memikirkan keluarganya di utara Guangdong, yang pastinya tengah sedih, karena Zhao Yìchen menghilang.
Pria berhidung bangir itu membayangkan paras Ayah, Ibu, dan kakaknya, Zhao Mùchen. Zhao Yìchen juga terbayang wajah keluarga dan kerabatnya, yang tinggal tidak jauh dari kediaman orang tuanya.
Zhao Yìchen tertegun, ketika terngiang ucapan Bibi Ying yang telah meramalkan kepindahannya ke masa depan. Zhao Yìchen tidak menyangka, jika penerawangan Bibi Ying ternyata akurat.
Bunyi pintu terbuka mengalihkan tatapan Zhao Yìchen. Dia mengamati Wirya yang datang bersama beberapa orang yang baru kali itu dilihatnya.
"Ko, ini, Koko tertuaku. Axelle Dante Adhitama," ujar Wirya, sambil mengarahkan tangan kanannya pada pria berparas tampan, yang langsung menyalami Zhao Yìchen.
"Apa kabar?" tanya Dante dengan bahasa Kanton yang fasih, sembari menarik tangannya.
Zhao Yìchen membulatkan matanya. "Kamu bisa bahasa ibuku?" tanyanya dalam bahasa serupa.
"Ya, begitu juga dengan adikku ini." Dante memandangi pria bermata sipit di sisi kirinya.
"Koko, salam kenal. Aku, Fritz Hayaka," ungkap lelaki berkemeja hitam pas badan, sembari bersalaman dengan sang pasien.
"Senang bertemu denganmu," cakap Zhao Yìchen. "Bagaimana kalian bisa menguasai bahasa itu?" tanyanya tanpa bisa menutupi rasa keingintahuannya.
"Keluarga kami, maksudku, Bun, berasal dari Taiwan. Kakek kami, Akong Bun Koh Li, ibunya orang Indonesia, dan mewariskan semua harta keluarganya pada Akong, yang kemudian pindah ke Medan," jelas Dante.
"Akong menikah dengan warga pribumi yang juga peranakan Tionghoa. Mereka memiliki 4 anak. Papaku anak sulung, dan maminya Fritz, anak bungsu. Lalu, karena sesuatu hal, keluarga kami pindah ke Jakarta, dan sampai sekarang kami menetap di sana."
"Dari kecil, kami diajarkan bahasa Tiociu, Khek, Kanton, dan Mandarin. Selain bahasa Indonesia, tentunya," ungkap Dante.
"Kami datang ke sini, karena diminta Wirya. Dia Adik angkatku, karena menikah dengan Adik sepupuku," jelas Dante. "Bahasa Kanton Wirya masih pasif. Dia meneleponku dan menanyakan banyak hal. Hingga aku dan Fritz sepakat untuk datang dan menemuimu," lanjutnya.
"Ko, dia jauh lebih tua. Jangan pakai kata kamu," seloroh Fritz.
Dante mengamati lelaki di ranjang. "Berapa usiamu?" tanyanya.
"25," jawab Zhao Yìchen.
"Tahun lahir Masehi?"
"Ehm, 1767."
"Sekarang, tahun 2017. Berarti umurmu, 250 tahun."
"Ha?"
"Jangan digodain, Ko. Syok dia," sela Wirya.
"Aku bicara apa adanya, W," kilah Dante.
Ketiganya mengawasi Zhao Yìchen yang sedang bergumam, sambil menggerak-gerakkan tangannya, seolah-olah tengah memakai sempoa. Wirya mengambil ponselnya dari saku celana, lalu membuka fitur kalkulator.
"2017 dikurangi 1767, sama dengan 250," cakap Wirya sambil menunjukkan layar ponselnya.
"Hmm." Zhao Yìchen mengambil ponsel itu dan memandangi deretan angka sembari merenung. "Kalau tahun China, berapa?" tanyanya.
"Aku tidak tahu, harus diteliti dulu."
Zhao Yìchen manggut-manggut. "Aku mau punya benda ini. Apa namanya?"
"Ponsel, atau telepon genggam. Bahasa gampangnya, hape."
"Berapa harganya? 1 tail perak?"
Wirya terpegun sejenak, lalu dia meneruskan perkataan. "Ko, mata uang di sini, rupiah. Di China juga sudah ganti, pakai Yuan, bukan tail emas atau perak."
Zhao Yìchen terdiam. Lalu dia menggeleng pelan. "Aku masih bingung dengan perubahan waktu ini. Sangat berbeda dengan masaku."
"Sabar, Ko. Pelan-pelan saja belajarnya," bujuk Fritz. "Nanti Koko juga akan terbiasa," akunya.
"Ya, kamu benar," balas Zhao Yìchen.
"Ko, ada beberapa hal yang harus kita bahas," celetuk Wirya. "Aku, Hendri, dan kedua saudaraku ini, sudah berdiskusi. Kami memutuskan untuk melakukan hal-hal darurat, sebelum membawa Koko ke Jakarta " bebernya.
"Apa aku tidak bisa tinggal di sini saja?" desak Zhao Yìchen.
"Tim proyek di sini tidak ada yang bisa bahasa Tiociu dan Kanton. Koko akan sulit berkomunikasi dengan mereka," tukas Wirya. "Kami juga tidak bisa sering ke sini, karena kami harus bekerja," lanjutnya.
"Koko dibawa ke Jakarta, supaya punya teman bicara. Keluarga kami bisa Tiociu dan Kanton. Kerabat, bisa Mandarin. Koko akan punya teman bicara, jika kami tidak berada di rumah," imbuh Fritz.
"Sebelum itu, kami terpaksa memintamu memotong rambut. Karena tampilanmu sangat berbeda dengan kami, dan akan jadi pusat perhatian orang, jika kamu keluar dari sini," tutur Dante. "Karena bagian depan rambutmu plontos, akan dipasang wig untuk menutupinya," lontarnya.
"Wig?" tanya Zhao Yìchen.
"Rambut palsu. Sedang dicarikan ajudanku, karena tidak disebutkan Wirya untuk dibawa."
***
Dua orang pria saling menatap. Mereka sama-sama takjub dengan kemiripin fisik mereka. Walaupun tidak sama seluruhnya, tetapi bentuk rahang, dahi, dan bibir mereka sama. Padahal mereka bukan saudara, apalagi kembar.
Zhao Yìchen memandangi lelaki yang nemperkenalkan diri sebagai Martin Ragnala. Pria yang sempat hilang di bukit, dan akhirnya ditemukan di tepi sungai, tempat Zhao Yìchen berjumpa dengan Hendri dan rekan-rekannya, hampir seminggu silam.
Martin Ragnala terlempar ke masa 250 tahun silam, dan berjumpa dengan Sun Qiang, di jalan kecil dekat Hutan Hong. Sang ketua pengawal keluarga Zhao itu awalnya menduga Martin sebagai Zhao Yìchen. Namun, setelah memahami situasinya, Sun Qiang mengajak Martin untuk menemui keluarga Zhao.
Martin menginap di sana selama 3 hari. Lalu dia diantarkan Sun Qiang dan Bibi Ying ke tepi sungai. Bibi Ying bersama beberapa muridnya, melakukan ritual untuk membuka lorong waktu.
Pada saat yang bersamaan, kelompok Hendri kembali ke tempat itu dan akhirnya bisa bertemu dengan Martin. Selain itu, Hendri juga dititipi surat oleh Bibi Ying, yang menerangkan hasil penerawangan perempuan tersebut, akan kehidupan Zhao Yìchen.
Martin juga dititipi surat oleh keluarga Zhao Yìchen, serta beberapa pakaian bagus dan barang-barang berharga di zaman Dinasti Qing (Manchuria).
"Rambut Koko, disimpan di mana?" tanya Martin dalam bahasa Tiociu.
"Tas merah, dalam lemari," jawab Zhao Yìchen sambil menunjuk benda yang dimaksud.
"Sebelum dipotong rambutnya, apa Koko sempat difoto?"
"Ya. Izra yang simpan. Dia bilang, mau dicetak, nanti diserahkan padaku."
Martin mengangguk. "Kata Kang Hendri, Koko mau dibawa ke Jakarta."
"Ya. Dante mengajakku tinggal di rumahnya."
"Koko pasti suka tinggal di sana. Teh Edelweiss, istrinya Koko Dante, orangnya sangat baik. Anak-anaknya juga ramah dan lucu."
"Berapa jumlah anaknya?"
"Dua. Yang pertama, Erlangga. Kedua, Hillary."
"Wirya, Hendri, dan Fritz, berapa anak mereka?"
"Bang W, punya 2 anak, dan istrinya sedang hamil anak ketiga. Kang Hendri, anaknya baru 1. Kak Fritz, belum punya."
"Kalau kamu?"
"Belum ada. Istriku tengah hamil muda."
"Siapa namanya?"
"Yuanna Binazir Danantya."
"Namanya bagus. Berapa umurnya?"
"27 tahun."
"Aku ingin bertemu dengannya."
"Setelah pekerjaanku selesai, kami akan mengunjungi Koko di Jakarta."
Zhao Yìchen manggut-manggut. "Mar, apa kamu bertemu dengan calon Kakak iparku?"
"Nona Chow Ling Huang?"
"Ya."
"Kami berjumpa di hari terakhir aku di sana. Dia juga menitipkan surat. Ada di kotak itu." Martin mengarahkan pandangan ke kotak hitam di ujung ranjang. "Kapan Koko akan membukanya?" desaknya.
"Nanti, setelah aku sampai di Jakarta."
"Semoga betah, Ko."
"Apa aku boleh menyimpan nomormu?"
"Tentu saja. Nanti kuminta ajudan Koko Dante untuk memasukkan nomorku ke ponsel Koko. Kita bisa mengobrol di malam hari. Koko kirim pesan dulu, nanti aku yang telepon."
130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak
129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan
128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk
127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku
126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca
125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya
09Waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke Jakarta. Sedangkan Zhao Yìchen dan pasukan pimpinan Yusuf, tetap tinggal di Sydney. Zhao Yìchen telah pindah ke apartemen yang dibeli Alvaro untuk tim PBK. Gedung apartemen itu lokasinya tidak jauh dari kantor polisi pusat, dan memudahka
08Pekikan Jauhari mengejutkan semua petugas ruang penerimaan tamu. Salah satu dari mereka segera berdiri dan jalan ke belakang. Dia membuka pintu ruang tamu kecil, dan seketika tersenyum. Dennis Hamilton memasuki ruangan sambil menutup pintu. Dia duduk di sofa tunggal, lalu menyomot keripik pisan
07Suasana haru memenuhi ruangan luas di kantor polisi Sydney. Puluhan orang menandangi adegan kedua pria yang tengah berangkulan lama. Jauhari terisak-isak dalam dekapan Wirya yang juga meneteskan air mata. Keduanya baru menjauh, setelah dipisahkan Alvaro. Zhao Yìchen menghela napas berat dan mel
06Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam. Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain mus







