LOGIN04
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Zhao Yìchen mengamati sekitar. Dia terheran-heran dengan bentuk bangunan di tepi jalan, yang sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. Selain itu dia takjub dengan berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan raya.
Zhao Yìchen berulang kali bertanya dan Fritz serta Dante bergantian menjawabnya. Sedangkan Wirya berada di mobilnya di belakang, yang disopiri asistennya, Fikri.
Mendekati Kota Jakarta, Zhao Yìchen makin terpana, karena banyak bangunan tinggi dengan berbagai bentuk. Zhao Yìchen penasaran dengan bagian dalam bangunan itu. Dia mengungkapkan keinginannya dan Dante berjanji akan mengajaknya ke kantor Adhitama, esok hari.
"Ra, kita mampir ke mal. Aku mau beliin dia baju," cakap Dante, sambil memandangi ajudannya yang tengah menyetir.
"Mal Pondok Indah?" tanya Radeya Pangestu.
"Bukan, Pejaten aja."
"Siap."
"Pak, kami manggil dia, apa?" sela Firman Bahiga, ajudan Fritz.
"Kakek," kelakar Dante.
"Uyut," goda Fritz.
"Tampilannya masih muda, masa dipanggil Kakek?" desak Firman.
"Umurnya berapa, Pak?" tanya Radeya.
"Dia bilang, 25," jawab Dante. "Tapi kalau hitungan tahun masehi, jadi 250," lanjutnya.
"Yaa Salam!" seru Firman.
"Gusti!" Radeya menggeleng pelan. "Tambah bingung manggilnya," sambungnya.
Fritz menyolek lengan kanan pria berkemeja krem. "Ko, mereka nanya. Koko mau dipanggil Kakek, atau Uyut?" ungkapnya.
"Panggil Koko saja. Aku masih muda!" kukuh Zhao Yìchen.
"Kalian dengar, Adik-adik? Dia minta dipanggil Koko," canda Fritz.
"Ya, Kak," balas kedua ajudan itu secara bersamaan.
"Pakai Mandarin. Dia paham, tapi jawabnya kurang lancar," tutur Dante.
"Mati aku," keluh Firman.
"Lidahku masih keseleo pakai bahasa itu," cakap Radeya.
"Kalian ini. Sudah hampir 1 tahun ikut sama kami, masih belum lancar juga," ledek Fritz.
"Hurufnya rumit, Kak," kilah Firman.
"Habis lihat huruf itu, mataku jereng," papar Radeya.
"Kamu kalah sama tetehmu," cibir Fritz.
"Teh Kim memang paling pintar di keluarga kami. Aku ngaku kalah," sahut Radeya. "Tapi, dibanding semua saudara laki-laki, aku paling cakep," akunya.
"Kamu kalah kasep sama Arrazi dan Alfareezel," timpal Dante.
"Beuh! Kalah wae aku," rengek Radeya.
"Terima nasib, Ra. Bapak mereka memang lebih ganteng dari papamu."
"Mas Linggha memang paling handsome dan gagah di antara 4 bersaudara itu," celoteh Fritz.
"Ya, kayak aku. Paling keren di keluarga kita," pungkas Dante sembari menyugar rambut lebatnya. Sedangkan Fritz seketika melengos.
Setibanya di tempat tujuan, semua orang keluar dari mobil mewah. Mereka jalan ke pintu masuk, dengan kedua ajudan berada paling depan.
Zhao Yìchen tampak ragu-ragu ketika Dante mengajaknya menaiki eskalator. Zhao Yìchen menapakkan sepatu kets-nya ke tangga eskalator, sembari berpegangan ke lengan kanan Dante.
Sampai di lantai atas, Zhao Yìchen berulang kali berhenti untuk memandangi sekeliling. Meskipun saat itu mal tidak terlalu banyak pengunjung, tetapi bagi Zhao Yìchen tempat itu ramai orang.
Fritz mengajak Zhao Yìchen memasuki toko pakaian besar. Firman menyusul, sedangkan Radeya menemani Dante yang tengah menerima panggilan telepon dari Wirya, yang tidak ikut mampir ke pusat perbelanjaan.
Selama hampir 1 jam, Fritz memilihkan banyak kaus, t-shirt, kemeja, celana pendek dan celana panjang, serta underwear buat Zhao Yìchen. Fritz juga membelikan beragam kosmetik khusus pria, yang membuat Zhao Yìchen kebingungan.
Firman membantu memilihkan 4 topi bisbol beragam warna. Dia meminta Zhao Yìchen mencoba semua topi, sebelum meletakkan semua benda itu ke tas belanja.
Fritz mengambil 2 kacamata hitam dan memberikannya pada Zhao Yìchen, yang langsung mencoba kedua benda itu dengan antusias. Fritz meringis ketika Zhao Yìchen mencoba 3 kacamata berbeda warna dan meminta dibelikan semuanya.
***
Acara makan malam di kediaman Dante, berlangsung dengan hangat. Semua anggota keluarga Adhitama hadir dengan membawa pasangan dan anak masing-masing.
Zhao Yìchen tampak senang bertemu dengan banyak orang, yang semuanya menggunakan bahasa Tiociu. Dia mengamati paras keempat anak Bun Koh Li, dan seluruh cucu serta menantu.
Zhao Yìchen baru mengetahui, jika Zulfi Hamizhan, suami Sabrina Adhitama, merupakan sahabat Wirya. Keduanya merupakan anggota tim lapis 2 PBK, perusahaan jasa keamanan khusus penyediaan pengawal.
Zulfi yang berkulit kecokelatan, menjadikan tampilanjya sangat berbeda dengan yang lainnya. Begitu pula dengan Aradhana Osaze Adhitama, putra kedua Zulfi, yang mengadopsi paras tampan dan kulit khas Indonesia sang abah.
Zhao Yìchen langsung menyukai keluarga besar Adhitama, terutama dengan sifat humoris mereka. Zhao Yìchen terkekeh, kala Adik bungsu Dante berdebat mulut dengan Adik bungsu Delany, istri Wirya.
"Berhenti dulu berantemnya, kita harus membicarakan hal yang penting," cakap Frederick Adhitama, putra tertua Bun Koh Li. "Ini tentang identitas baru Yìchen," lanjutnya.
"Papa, Frans, Finley, dan Katon, sudah berdiskusi dengan pengacara kita. Mereka bilang, kalau untuk identitas palsu, itu mudah dibuatkan. Tapi, akan lebih baik jika Yichen memiliki identitas asli, lengkap dengan semua surat sahnya," ungkap Frederick.
"Kami sudah sepakat, untuk membuatkan identitas Yichen di Taiwan," cetus Frans Adhitama, putra kedua Bun Koh Li. "Kenapa di sana? Karena lebih dekat dengan tempat aslinya," sambungnya.
"Ayah sudah menghubungi Qianfan, dan dia setuju untuk mendaftarkan Yichen, sebagai anak angkatnya," terang Finley Adhitama, sang putra ketiga. "Nama Yìchen akan ditambahkan marga Vong di depannya. Jadi Vong Zhao Yìchen," pungkasnya.
"Setelah itu, Yichen akan didaftarkan di sini, langsung pakai visa kerja," lontar Katon Hayaka, suami Cindy Adhitama. "Dengan begitu, dia bisa kerja untuk menghidupi dirinya sendiri," tambahnya.
"Akong akan memberikan uang buat modal hidupnya. Tapi, dia harus menambahkan nama Indonesia, supaya gampang memperkenalkan diri," sela Bun Koh Li.
"Tidak mungkin dia salaman dengan orang dan menyebutkan nama Chinese. Yichen harus pakai nama Indonesia, ataupun modern, seperti Akong, dari Bun Koh Li jadi Freddy Adhitama," imbuh pria tua tersebut, sembari memandangi Zhao Yìchen.
"Ada saran nama buat Yichen?" tanya Frederick. "Seorang, sebutkan 1 dan langsung dicatat Radeya," pintanya.
Pria muda berkaus putih itu berdiri. Radeya berpindah ke dekat papan putih besar di dinding ruang tengah, lalu dia menghapus berbagai coretan kedua anak Dante.
"Kita mulai. Yang mau ajukan nama, angkat tangan dulu," ujar Frans.
"Fir, kamu yang jadi wasit," tutur Finley yang dibalas lelaki muda berkaus merah, yang segera berpindah ke dekat Radeya.
Satu per satu orang mengangkat tangan, termasuk semua istri dan para bocah. Supaya suasana lebih kondusif, Firman mengizinkan semua anak untuk menyebutkan nama pilihan mereka, yang langsung dituliskan Radeya di papan putih.
"Usulanku, Nathan," tukas Samudra Adhitama, putra sulung Frans.
"Gadhing," ujar Harry Adhitama, putra tertua Finley.
"Nicky," papar Calvin Jesther Adhitama, putra bungsu Frederick.
"Leonardo," celoteh Laura Hayaka, Adik Fritz.
"Aku pakai nama sansekerta. Yaitu, Yodha, artinya pejuang besar," cakap Sabrina Adhitama.
"Aku juga lebih suka nama Indonesia. Yakni, Laksana, atau Laksono," cetus Kyle Adhitama, Adik Harry. "Artinya, pertanda yang baik," jelasnya.
"Pilihanku juga nama Indonesia. Mahasura, artinya pejuang kuat," ungkap Vong Delany.
"Aku kurang paham nama sansekerta, tapi aku pun mengajukan nama Indonesia, yaitu Raka, artinya Kakak laki-laki, karena Koko Yichen akan jadi kakakku," papar Vong Zeo Myron.
"Aku, pass, deh," cetus Wirya.
"Ajuin aja, W," balas Zulfi.
"Lagi blank aku. Kamu aja, Zu," beber Wirya.
Zulfi mengamati Zhao Yìchen yang balas menatapnya lekat-lekat. "Kupikir, nama yang cocok buat Koko, adalah Kelana. Karena dia telah berkelana melompat masa, alias penyintas waktu," terangnya.
84Suasana masjid yang sebelumnya hening, seketika berubah dengan dengungan kata hamdalah, dari orang-orang di ruangan itu. Mereka tampak senang setelah Zhao Yìchen usai mengucapkan syahadat, dan dianggap sah oleh imam utama masjid tersebut. Pria berbaju koko putih yang berhadapan dengan sang imam, menadahkan kedua tangan. Zhao Yìchen mengaminkan doa panjang pria tua berkopiah hitam itu, sembari mengucap syukur dalam hati, karena telah menjadi muslim.Setelahnya, Zhao Yìchen menyalami kedua orang tuanya. Dia mendekap Qianfan dan Nancy, sembari mendengarkan nasihat mereka. Kala memeluk Delany, Zhao Yìchen dan adiknya itu sama-sama menangis, sebelum mereka mengurai dekapan dan mengusap wajah masing-masing dengan saputangan."Selamat datang dan bergabung dengan kami, Ko," ucap Wirya, sebelum merunduk dan menyalami pria yang lebih tua itu dengan takzim."Makasih, W," sahut Zhao Yìchen sembari mendekap Adik iparnya tersebut, lalu dia menjauhkan diri guna berpindah untuk menyalami Dante, Zu
83Konvoi banyak mobil mewah berbagai tipe dan warna, melaju beriringan di jalan bebas hambatan menuju luar kota. Setiap mobil ditempeli stiker bergambar wajah Zhao Yìchen, sebagai penanda jika pria itulah yang hendak diantar ke Bandung, guna melamar kekasihnya. Zhao Yìchen yang berada di mobil MPV mewah milik Frederick, mendengarkan petuah Akong Bun, Papa dan mamanya, serta Frederick dan Tarissa. Semua orang di mobil kedua itu kaget, ketika ketiga mobil Jeep mewah melesat di lajur kanan, lalu para sopirnya melakukan manuver. "Mereka lagi berlatih?" tanya Frederick yang berada di kursi tengah bersama Tarissa. "Ya, Pak," jawab Mahesa, sembari terus mengemudi. "Mobil siapa itu?" desak Akong Bun, yang menempati kursi kiri depan."Bang Varo, Bang Yanuar, dan Kang Hendri," jelas Mahesa. "Sopirnya?" "Kurang tahu, Kong. Aku nggak sempat lihat datanya." "Varo dan Yanuar nyetir mobil mereka sendiri," terang Zhao Yìchen yang tengah berbalas pesan dengan Akhtar. "Zulfi nyetir mobil Hendr
82 Dua orang pria duduk saling berhadapan. Mereka sama-sama diam dan hanya mengamati lawan, sebelum memulai percakapan."Buat apa kamu ke sini?" tanya Banyu, sembari mengamati pria berambut gondrong, yang balik menatapnya dengan saksama. "Aku cuma mau nanya. Apa alasanmu melakukan itu pada Elma?" desak Zhao Yìchen. Banyu mendengkus. "Itu karena dia nolak balikan sama aku, dan itu juga karena dia milih kamu!" Zhao Yìchen tetap berusaha tenang meskipun sebenarnya dia ingin bangkit, dan memukuli pria di hadapannya itu sampai mati. "Kamu egois. Elma nggak akan berpaling ke aku, kalau bukan kamu duluan yang bikin masalah!" tegas Zhao Yìchen. "Aku nggak percaya! Bisa aja kalian juga sudah selingkuh duluan!" kukuh Banyu."Kami ketemu setelah kalian putus. Gimana kami bisa selingkuh duluan?" "Mana buktinya kalian baru kenal setelah aku dan dia bubar?" "Kamu bisa tanya ke para sahabatnya. Mereka yang bawa Elma ke Karimun Jawa, supaya dia bisa ngelupain kamu!" "Mereka itu pembual semua
81Zhao Yìchen memandangi puluhan bos tua dan muda, yang tengah mendengarkan presentasi ala Alvaro, yang menerangkan tentang kemajuan proyek bersama mereka di Spanyol. Setelahnya, giliran Wirya yang menyampaikan beberapa rencana proyek baru di Yunani dan 3 negara Eropa lainnya, yang akan dilaksanakan pada pertengahan tahun mendatang. Zhao Yìchen membatin, jika dirinya tidak akan bisa mencapai tingkatan kemampuan bicara seperti Alvaro dan Wirya. Zhao Yìchen bahkan tidak yakin bisa menyamai kemampuan tim Zikria, yang tengah berjuang keras untuk mengejar kehebatan para Abang mereka. Puluhan menit berlalu. Rapat telah usai. Para pengusaha senior telah kembali ke kantor masing-masing. Sedangkan sisanya memutuskan untuk tetap berada di ruang rapat kantor BHARATHAYA, guna bercengkerama bersama rekan-rekan mereka. Zhao Yìchen yang hendak kembali ke perpustakaan, dipanggil Tio dan diminta untuk duduk di kursi samping kanan, sang presiden komisaris Pramudya Grup tersebut. "Kata Wirya, Sabt
80Berita tertangkapnya Banyu, disambut gembira keluarga inti Elma dan semua sahabatnya. Perempuan itu mengucap hamdalah berulang kali, sebelum mendekap Zhao Yìchen. Bulir bening luruh dari sepasang mata Elma. Dia lega, karena Banyu telah ditangkap di Makassar, dan tengah dipindahkan ke Bandung. Selain itu, Elma juga senang, karena Zhao Yìchen tetap setia dan bersikeras untuk segera menikahinya. Zhao Yìchen memejamkan mata. Dia mengucap syukur dalam hati, karena akhirnya Elma bisa berperang melawan Banyu di pengadilan, guna menuntut keadilan. Zhao Yìchen bertekad untuk terus mendukung kekasihnya, hingga perjuangan Elma tuntas. Siang harinya, Elma diizinkan dokter untuk keluar dari rumah sakit. Erdian yang datang menjemput, mengantarkan Elma dan keluarganya ke Cimahi. Sedangkan Zhao Yìchen menumpang di mobil Yaslan, untuk menuju kediaman orang tua Hendri.Betapa terkejutnya Zhao Yìchen, saat tiba di sana, ternyata Dante dan beberapa anggota keluarga Adhitama telah datang sejak 1 jam
79Beberapa polisi wanita dari polsek setempat, menunggu pegawai yang tengah membuka pintu kamar, di salah satu hotel kawasan Lembang. Kemudian ketiga polwan itu merengsek memasuki kamar guna mengecek situasi. Salah seorang dari mereka menyambangi kasur dan memeriksa kondisi perempuan yang tertutupi selimut. Sedangkan kedua rekannya merekam video dan memotret seisi ruangan, sebagai bukti untuk kasus itu. Zein meminta izin pada kapolsek, yang akhirnya mengajak pria itu memasuki ruangan. Zein berdiri di ujung kasur dan menunggu sang polwan usai mengecek kondisi Elma. Hati Zein mencelos ketika melihat lebam di wajah, leher dan tangan Elma. Dia menunduk saat ketiga polwan menyibak selimut guna memeriksa apakah korban menderita luka lainnya. Seusai pemeriksaan, dua petugas lainnya masuk. Zein membantu memindahkan Elma ke tandu, lalu mengikuti langkah kapolsek dan kedua petugas ambulance yang menggotong tandu. Kelompok itu jalan cepat menuju mobil ambulance. Zein ikut masuk ke sana, se
27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den
12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg
18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed
13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila







