Share

Bab 04

Author: Olivia Yoyet
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-17 13:34:04

04 

Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Zhao Yìchen mengamati sekitar. Dia terheran-heran dengan bentuk bangunan di tepi jalan, yang sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. Selain itu dia takjub dengan berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan raya.

Zhao Yìchen berulang kali bertanya dan Fritz serta Dante bergantian menjawabnya. Sedangkan Wirya berada di mobilnya di belakang, yang disopiri asistennya, Fikri.

Mendekati Kota Jakarta, Zhao Yìchen makin terpana, karena banyak bangunan tinggi dengan berbagai bentuk. Zhao Yìchen penasaran dengan bagian dalam bangunan itu. Dia mengungkapkan keinginannya dan Dante berjanji akan mengajaknya ke kantor Adhitama, esok hari. 

"Ra, kita mampir ke mal. Aku mau beliin dia baju," cakap Dante, sambil memandangi ajudannya yang tengah menyetir. 

"Mal Pondok Indah?" tanya Radeya Pangestu.

"Bukan, Pejaten aja." 

"Siap." 

"Pak, kami manggil dia, apa?" sela Firman Bahiga, ajudan Fritz. 

"Kakek," kelakar Dante.

"Uyut," goda Fritz. 

"Tampilannya masih muda, masa dipanggil Kakek?" desak Firman. 

"Umurnya berapa, Pak?" tanya Radeya. 

"Dia bilang, 25," jawab Dante. "Tapi kalau hitungan tahun masehi, jadi 250," lanjutnya. 

"Yaa Salam!" seru Firman. 

"Gusti!" Radeya menggeleng pelan. "Tambah bingung manggilnya," sambungnya.

Fritz menyolek lengan kanan pria berkemeja krem. "Ko, mereka nanya. Koko mau dipanggil Kakek, atau Uyut?" ungkapnya. 

"Panggil Koko saja. Aku masih muda!" kukuh Zhao Yìchen. 

"Kalian dengar, Adik-adik? Dia minta dipanggil Koko," canda Fritz. 

"Ya, Kak," balas kedua ajudan itu secara bersamaan. 

"Pakai Mandarin. Dia paham, tapi jawabnya kurang lancar," tutur Dante.

"Mati aku," keluh Firman. 

"Lidahku masih keseleo pakai bahasa itu," cakap Radeya. 

"Kalian ini. Sudah hampir 1 tahun ikut sama kami, masih belum lancar juga," ledek Fritz. 

"Hurufnya rumit, Kak," kilah Firman. 

"Habis lihat huruf itu, mataku jereng," papar Radeya. 

"Kamu kalah sama tetehmu," cibir Fritz. 

"Teh Kim memang paling pintar di keluarga kami. Aku ngaku kalah," sahut Radeya. "Tapi, dibanding semua saudara laki-laki, aku paling cakep," akunya. 

"Kamu kalah kasep sama Arrazi dan Alfareezel," timpal Dante. 

"Beuh! Kalah wae aku," rengek Radeya.

"Terima nasib, Ra. Bapak mereka memang lebih ganteng dari papamu." 

"Mas Linggha memang paling handsome dan gagah di antara 4 bersaudara itu," celoteh Fritz. 

"Ya, kayak aku. Paling keren di keluarga kita," pungkas Dante sembari menyugar rambut lebatnya. Sedangkan Fritz seketika melengos. 

Setibanya di tempat tujuan, semua orang keluar dari mobil mewah. Mereka jalan ke pintu masuk, dengan kedua ajudan berada paling depan. 

Zhao Yìchen tampak ragu-ragu ketika Dante mengajaknya menaiki eskalator. Zhao Yìchen menapakkan sepatu kets-nya ke tangga eskalator, sembari berpegangan ke lengan kanan Dante. 

Sampai di lantai atas, Zhao Yìchen berulang kali berhenti untuk memandangi sekeliling. Meskipun saat itu mal tidak terlalu banyak pengunjung, tetapi bagi Zhao Yìchen tempat itu ramai orang. 

Fritz mengajak Zhao Yìchen memasuki toko pakaian besar. Firman menyusul, sedangkan Radeya menemani Dante yang tengah menerima panggilan telepon dari Wirya, yang tidak ikut mampir ke pusat perbelanjaan. 

Selama hampir 1 jam, Fritz memilihkan banyak kaus, t-shirt, kemeja, celana pendek dan celana panjang, serta underwear buat Zhao Yìchen. Fritz juga membelikan beragam kosmetik khusus pria, yang membuat Zhao Yìchen kebingungan. 

Firman membantu memilihkan 4 topi bisbol beragam warna. Dia meminta Zhao Yìchen mencoba semua topi, sebelum meletakkan semua benda itu ke tas belanja. 

Fritz mengambil 2 kacamata hitam dan memberikannya pada Zhao Yìchen, yang langsung mencoba kedua benda itu dengan antusias. Fritz meringis ketika Zhao Yìchen mencoba 3 kacamata berbeda warna dan meminta dibelikan semuanya. 

*** 

Acara makan malam di kediaman Dante, berlangsung dengan hangat. Semua anggota keluarga Adhitama hadir dengan membawa pasangan dan anak masing-masing. 

Zhao Yìchen tampak senang bertemu dengan banyak orang, yang semuanya menggunakan bahasa Tiociu. Dia mengamati paras keempat anak Bun Koh Li, dan seluruh cucu serta menantu. 

Zhao Yìchen baru mengetahui, jika Zulfi Hamizhan, suami Sabrina Adhitama, merupakan sahabat Wirya. Keduanya merupakan anggota tim lapis 2 PBK, perusahaan jasa keamanan khusus penyediaan pengawal.

Zulfi yang berkulit kecokelatan, menjadikan tampilanjya sangat berbeda dengan yang lainnya. Begitu pula dengan Aradhana Osaze Adhitama, putra kedua Zulfi, yang mengadopsi paras tampan dan kulit khas Indonesia sang abah.

Zhao Yìchen langsung menyukai keluarga besar Adhitama, terutama dengan sifat humoris mereka. Zhao Yìchen terkekeh, kala Adik bungsu Dante berdebat mulut dengan Adik bungsu Delany, istri Wirya. 

"Berhenti dulu berantemnya, kita harus membicarakan hal yang penting," cakap Frederick Adhitama, putra tertua Bun Koh Li. "Ini tentang identitas baru Yìchen," lanjutnya. 

"Papa, Frans, Finley, dan Katon, sudah berdiskusi dengan pengacara kita. Mereka bilang, kalau untuk identitas palsu, itu mudah dibuatkan. Tapi, akan lebih baik jika Yichen memiliki identitas asli, lengkap dengan semua surat sahnya," ungkap Frederick. 

"Kami sudah sepakat, untuk membuatkan identitas Yichen di Taiwan," cetus Frans Adhitama, putra kedua Bun Koh Li. "Kenapa di sana? Karena lebih dekat dengan tempat aslinya," sambungnya. 

"Ayah sudah menghubungi Qianfan, dan dia setuju untuk mendaftarkan Yichen, sebagai anak angkatnya," terang Finley Adhitama, sang putra ketiga. "Nama Yìchen akan ditambahkan marga Vong di depannya. Jadi Vong Zhao Yìchen," pungkasnya. 

"Setelah itu, Yichen akan didaftarkan di sini, langsung pakai visa kerja," lontar Katon Hayaka, suami Cindy Adhitama. "Dengan begitu, dia bisa kerja untuk menghidupi dirinya sendiri," tambahnya. 

"Akong akan memberikan uang buat modal hidupnya. Tapi, dia harus menambahkan nama Indonesia, supaya gampang memperkenalkan diri," sela Bun Koh Li. 

"Tidak mungkin dia salaman dengan orang dan menyebutkan nama Chinese. Yichen harus pakai nama Indonesia, ataupun modern, seperti Akong, dari Bun Koh Li jadi Freddy Adhitama," imbuh pria tua tersebut, sembari memandangi Zhao Yìchen. 

"Ada saran nama buat Yichen?" tanya Frederick. "Seorang, sebutkan 1 dan langsung dicatat Radeya," pintanya. 

Pria muda berkaus putih itu berdiri. Radeya berpindah ke dekat papan putih besar di dinding ruang tengah, lalu dia menghapus berbagai coretan kedua anak Dante. 

"Kita mulai. Yang mau ajukan nama, angkat tangan dulu," ujar Frans. 

"Fir, kamu yang jadi wasit," tutur Finley yang dibalas lelaki muda berkaus merah, yang segera berpindah ke dekat Radeya. 

Satu per satu orang mengangkat tangan, termasuk semua istri dan para bocah. Supaya suasana lebih kondusif, Firman mengizinkan semua anak untuk menyebutkan nama pilihan mereka, yang langsung dituliskan Radeya di papan putih. 

"Usulanku, Nathan," tukas Samudra Adhitama, putra sulung Frans. 

"Gadhing," ujar Harry Adhitama, putra tertua Finley. 

"Nicky," papar Calvin Jesther Adhitama, putra bungsu Frederick. 

"Leonardo," celoteh Laura Hayaka, Adik Fritz. 

"Aku pakai nama sansekerta. Yaitu, Yodha, artinya pejuang besar," cakap Sabrina Adhitama.

"Aku juga lebih suka nama Indonesia. Yakni, Laksana, atau Laksono," cetus Kyle Adhitama, Adik Harry. "Artinya, pertanda yang baik," jelasnya.

"Pilihanku juga nama Indonesia. Mahasura, artinya pejuang kuat," ungkap Vong Delany. 

"Aku kurang paham nama sansekerta, tapi aku pun mengajukan nama Indonesia, yaitu Raka, artinya Kakak laki-laki, karena Koko Yichen akan jadi kakakku," papar Vong Zeo Myron. 

"Aku, pass, deh," cetus Wirya. 

"Ajuin aja, W," balas Zulfi. 

"Lagi blank aku. Kamu aja, Zu," beber Wirya. 

Zulfi mengamati Zhao Yìchen yang balas menatapnya lekat-lekat. "Kupikir, nama yang cocok buat Koko, adalah Kelana. Karena dia telah berkelana melompat masa, alias penyintas waktu," terangnya. 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mispri Yani
Cakep usulan Abah Zulfi
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 48

    48Wirya mengawasi pria berambut gondrong yang tampak tegang di kursi seberang. Wirya tahu alasan sebenarnya lelaki itu bersikukuh untuk pergi jadi pengawas proyek lain. Namun, sang komisaris banyak perusahaan itu tidak mau mendesak kokonya untuk bercerita.Sebagai kerabat sekaligus atasan, Wirya c

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 47

    47Seunit mobil sedan biru tua yang terparkir di depan kediaman baru Glania, menyebabkan Zhao Yìchen penasaran. Dia turun dari motor yang dikendarai Jaya, lalu menunggu sahabatnya itu memarkirkan kendaraan di belakang sedan tadi.Keduanya mengayunkan tungkai ke teras depan yang pintunya terbuka leba

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 46

    46Zhao Yìchen memerhatikan sekeliling ruang kelas di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat), yang diikutinya. Pada awalnya, Zhao Yìchen sempat merasa rendah diri, karena usianya paling tua. Namun, ternyata keenam teman barunya cukup asyik diajak bicara.Mereka adalah para pekerja biasa yang putu

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 45

    45Zhao Yìchen, Nirwan, Jaya dan Glania, memelototi belasan foto di dinding ruang kerja Wisnu. Keempatnya berusaha memastikan ketiga pelaku penculikan Glania, yang ternyata merupakan residivis atas kasus serupa di masa lampau. Zhao Yìchen menunjuk orang nomor 5, sedangkan Jaya menunjuk pria nomor

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status