Share

Bab 02

Author: Olivia Yoyet
last update publish date: 2026-02-17 13:16:20

02

"Martin?" panggil Zeinharis Abqary, sembari memandangi lelaki yang bagian depan kepalanya plontos, sedangkan rambut panjangnya dikepang satu.

"Dia bukan Martin, Z," cakap Hendri Danantya, yang tengah mengangkat badan Zhao Yìchen untuk disandarkan ke tubuhnya. "Muka mereka memang mirip, tapi ini bukan Martin," lanjutnya sambil mengamati pria bermata sipit dalam dekapannya. 

Zhao Yìchen terbatuk dan memuntahkan darah. Keempat orang itu kaget, lalu Zeinharis, Ubaid Abdullah dan Bayu Hendrawan, bekerjasama mengangkat badan Zhao Yìchen ke punggung Hendri. 

Keempatnya jalan cepat ke balik pohon. Bayu sempat berhenti untuk memanggil ketiga rekannya, yang segera mengekori langkah mereka. Kelompok kecil itu tiba di depan lubang hitam besar, yang berada di tengah-tengah bukit batu.

Mereka memasuki tempat itu dan ketiga orang di belakang bekerjasama untuk menutup lubang portal, antara dua dunia. Kemudian Izra Husnain Amriza, Emyr Safran Danarhadi, dan Gunther Jaleed, bergegas menyusul kelima orang di depan. 

Ketujuh pria tersebut berasal dari masa modern. Mereka merupakan anggota paguyuban olah napas Margaluyu, yang memasuki lorong waktu guna mencari Martin Ragnala, Adik ipar Hendri. 

Martin yang merupakan peranakan Tionghos, dilaporkan menghilang oleh Yuanna Binazir Danantya, Adik bungsu Hendri, setelah Martin dan beberapa rekannya tersesat di perbukitan dekat tempat proyek di wilayah Cianjur. 

Teman-teman Martin ditemukan tim HWZ dan warga lokal, tetapi suami Yuanna itu terpisah dari kelompoknya. Hendri meminta bantuan gurunya, yakni Mulyadi, guna mencari keberadaan Martin melalui penerawangan gaib. Hasilnya, Martin diduga kuat memasuki portal gaib dan tersedot ke masa 250 tahun silam. 

Hendri dan keenam rekannya yang memiliki kemampuan supranatural cukup tinggi, nekat memasuki lorong waktu untuk menemukan keberadaan Martin. Namun, mereka terpaksa kembali ke masa modern untuk menyelamatkan nyawa pria yang parasnya mirip dengan Martin. 

*** 

Sekelompok orang menyeberangi sungai untuk mengecek kondisi seekor kuda cokelat bersurai hitam, yang berbaring di tepi sungai. Setibanya di sana, Sun Qiang berjongkok untuk mengamati Niu. 

"Dia sudah mati," tutur Sun Qiang. "Tuan muda, Anda di mana?" tanyanya sembari memindai sekitar. 

"Tuan, ada darah!" seru seorang pria, sambil menunjuk ke dekat bebatuan kecil. 

Sun Qiang berpindah untuk mengamati apa yang ditunjukkan anak buahnya. "Ikuti!" titahnya saat menyadari bila tetesan darah itu juga ada di tempat lain. 

Belasan orang tersebut jalan pelan sambil menunduk. Langkah mereka berhenti di depan perbukitan batu, di mana tetesan darah terakhir terlihat. Jalan itu buntu, dan suasananya senyap. 

Beberapa orang mencoba menaiki bukit tersebut, tetapi kemudian mereka kembali ke bawah, karena ternyata puncak bukit itu cukup tinggi dan terjal. 

"Tuan, sepertinya Tuan muda tidak mungkin memanjat ke atas. Apalagi jika benar dia tengah terluka, maka dia akan kesulitan menggapai puncak bukit ini," cakap Hu Guang, yang ikut bersama pasukan tambahan yang dikirim ayahnya Zhao Yìchen. 

Sun Qiang mendengkus pelan. "Ya, kamu benar," sahutnya. 

"Lalu, bagaimana, Tuan?" 

"Kita kembali ke tempat tadi. Kuburkan Niu, kemudian istirahat. Nanti siang, kita cari lagi di Hutan Hong. Sebelum gelap, kita sudah harus keluar dari sana." 

Hu Guang mengangguk mengerti. Dia memerintahkan anggota kelompok itu untuk kembali ke tepi sungai. Sementara Sun Qiang masih bertahan di depan bukit batu. 

Setelah pasukannya menjauh, Sun Qiang menempelkan telapak tangan kanan ke batu. Dia berkonsentrasi sembari membaca mantra yang diajarkan Liu Ying, Adik ipar Zhao Zixin, Ayah Zhao Yìchen. 

Liu Ying yang akrab dipanggil Bibi Ying, merupakan ahli nujum terpercaya keluarga Zhao. Bibi Ying pernah meramalkan jika Zhao Yìchen akan menghilang dan melintasi lorong waktu, hingga berpindah ke masa modern. 

Bibi Ying juga menerangkan detail tempat terakhir kalinya Zhao Yìchen berada, dan itu sesuai dengan lokasi perbukitan yang tengah didatangi Sun Qiang. 

Ketua pengawal keluarga Zhao itu merupakan keponakan asli Bibi Ying. Ibu Sun Qiang adalah Adik bungsu Bibi Ying. Namun, kemampuan supranatural itu hanya diturunkan ke keturunan dari garis perempuan, hingga Sun Qiang tidak memiliki kemampuan tersebut. 

"Tuan muda, sepertinya inilah waktu perpindahan yang disebutkan Bibi Ying," ucap Sun Qiang, sembari menjauhkan tangannya dari batu. "Maafkan aku yang tidak bisa menemani Tuan muda di sana," lanjutnya sembari menahan sesak dalam dada. 

"Semoga Tuan muda selalu sehat dan hidup bahagia. Aku akan terus menjaga keluarga Zhao di sini," tukas Sun Qiang. "Aku akan hidup kembali di masa mendatang dan mencari Tuan muda. Tunggulah," lanjutnya.

"Selamat jalan, Tuan muda," bisik Sun Qiang, kemudian dia mengambil pisau kecil dari dalam baju, dan mengukir nama Zhao Yìchen di batu itu. 

Sun Qiang kembali memandangi batu. Dia membungkukkan badan sedikit, dan mengatupkan kedua tangan ke depan tubuh. Sun Qiang menghormat 3 kali, lalu dia mengayunkan tungkai menjauhi bukit batu. 

*** 

2017

Zhao Yìchen mengerjapkan matanya berulang kali. Saat merasakan denyutan di dada, dia memegangi tempat itu sembari merintih kesakitan. 

Seorang pria asing mendekat dan langsung memeriksa kondisi pasiennya. Kemudian sang dokter meminta perawat jaga, guna memanggilkan keluarga pasien yang berada di luar ruang perawatan. 

Hendri muncul bersama Abang iparnya, Wirya Arudji Kartawinata. Mereka berbincang dengan dokter, sebelum pria berjas putih panjang itu keluar ruangan. 

Hendri dan Wirya mendekati ranjang. Mereka duduk di dua bangku sisi kiri. Wirya mendekatkan badannya hingga menempel ke tepi ranjang. 

"Selamat siang. Namaku, Wirya," tutur pria berkemeja putih dengan bahasa Mandarin yang fasih. 

Zhao Yìchen mengamati pria itu, lalu menyahut dalam bahasa Tiewchiew (Tiociu). "Aku kurang memahami Mandarin." 

Wirya terpegun sejenak, lalu dia mengangguk. "Namaku, Wirya. Kamu, siapa?" tanyanya menggunakan bahasa Tiociu yang cukup lancar. 

"Zhao Yìchen." Sang pasien mengarahkan pandangan pada pria di sebelah kiri Wirya. "Dia, siapa?" desaknya. 

"Hendri. Dia sahabat sekaligus Adik iparku," terang Wirya. "Dia dan teman-teman membawamu ke sini, melintasi lorong waktu," sambungnya yang mengejutkan Zhao Yìchen. 

"Lorong waktu?" 

"Ya. Mereka tengah mencari Martin. Saat keluar dari lorong itu, mereka menemukanmu yang sedang diserang jin penunggu hutan." 

"Hantu?" 

Wirya mengangguk mengiakan. "Kudamu, mati, dan terpaksa ditinggalkan di sana." 

"Niu." Zhao Yìchen memejamkan mata sambil mengingat kuda yang telah menemanimanya sejak lama. "Aku mau pulang," ucapnya sembari membuka mata.

"Kamu tidak bisa pulang sekarang. Kondisimu belum pulih." 

"Aku harus menguburkan Niu." 

"Dia sudah dikuburkan," sela Hendri, yang cukup memahami bahasa itu, walaupun pasif.

"Dia bilang apa?" tanya Zhao Yìchen. 

"Katanya, kudamu sudah dikuburkan," ungkap Wirya. "Lanjut, H. Aku terjemahin," pintanya dalam bahasa Indonesia. 

"Setelah mengantarkanmu ke sini, aku dan teman-teman kembali ke sana. Niu sudah dikuburkan, tapi aku tidak tahu siapa yang melakukannya," ungkap Hendri. "Ada ukiran di batu atas kuburan, dan di batu tempat lubang lorong waktu berada," tambahnya. 

"Aku rasa, orang yang menguburkan Niu dan mengukir batu itu, adalah orang yang sama. Izra sempat memotret kedua batu itu. Kita tunggu dia datang. Nanti fotonya kutunjukkan padamu," pungkas Hendri, yang segera diterjemahkan Wirya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 130

    130Ustaz Sulaiman dan Ustaz Mawardi bergantian menyampaikan tausiah dengan topik yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Kemudian acara gunting rambut dimulai dan para tamu semuanya berdiri. Zhao Yìchen keluar dari dalam rumah sambil menggendong Nayara. Agung dan Nandi menyusul sambil membawa nampan berisikan gunting, serta mangkuk untuk menempatkan potongan rambut sang bayi. Zhao Yìchen mendatangi kedua Ustaz terlebih dahulu, kemudian dia bergeser ke kiri guna menyambangi Yayan, Qianfan, Wahyu, Maman, Akong Bun, Frederick, Frans, Finley, Katon, Sultan, Gustavo, Harsaya, Arsyad, Mulyadi, dan ditutup oleh Abdul Affan, ayahnya Zulfi. Selanjutnya, Zhao Yìchen berpindah ke barisan para Nenek, yang dimulai dari Nilam, dan diakhiri seorang perempuan berjilbab abu-abu mengilat, yang senada dengan gamisnya. "Mak, kapan datang?" tanya Zhao Yìchen, sebelum menyerahkan Nayara ke Nilam, lalu dia merunduk untuk menyalami sang pengarang buku, dengan takzim. "Sekitar 15 menit lalu," jawab Emak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 129

    129Malam baru dimulai, tetapi di bawah tenda panjang itu telah banyak orang dengan berbagai aktivitas. Ada yang memasang hiasan di sepanjang tenda, ada yang memasang banyak kipas AC besar di puluhan titik. Ada pula yang hanya menonton sambil berbincang dengan berbagai topik. Zhao Yìchen tercenung kala puluhan ajudan berbadan jangkung, bekerjasama menggantungkan banyak balon di dalam dan luar rumah. Balon-balon itu berisikan kertas warna-warni dan nomor hadiah doorprize, sumbangan dari semua cucu serta menantu keluarga Adhitama.Zhao Yìchen tercenung saat Bayazid dan teman-temannya diangkat tim Zikria, supaya bisa duduk di pundak Hisyam, Qadry, Aditya, Chairil, Beni, Harun, Samudra, Mahesa, Xander, Dipta, Listu, Dimas, Ukky, Lazuardi, dan Santos, yang badannya menjulang semua. Para bocah itu menambahkan hiasan berupa foto Nayara dalam berbagai pose, yang telah dilaminating. Kemudian mereka bekerjasama mengangkat banner besar bertuliskan nama lengkap Nayara dalam huruf kaligrafi, yan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 128

    128 Zhao Yìchen bernyanyi dan bergoyang sembari mengayun anaknya. Tanpa memedulikan tawa Nandi dan Agung yang melihat tingkahnya, Zhao Yìchen meneruskan aktivitasnya hingga Nayara merengek, karena menginginkan Mou-chan. Zhao Yìchen bergegas memasuki kamar utama di bagian belakang rumah. Dia memanggil Elma, yang keluar dari toilet dengan berjalan pelan. "Mou-chan, Naya mau nyusu," ucap Zhao Yichen. "Bentar, Ko. Aku minum dulu," kilah Elma sembari duduk di sofa tunggal, dan menggapai gelasnya dari meja. "Fu-chan, bukan Koko," tukas Zhao Yichen. "Kepanjangan," balas Elma, sambil meraih anaknya yang diulurkan sang suami. "Ya, udah. Fu aja." "Jadi kayak nyebut Kung Fu." Zhao Yìchen memandangi istrinya yang tengah mengulum senyuman. "Kamu senyum-senyum, gitu, hatiku mencair." "Jangan merayu. Fu mesti puasa 1 setengah bulan." "Bukannya 40 hari?" "Pas-kan aja jadi 45 hari." "Enggak mau!" "Sstt! Jangan naik suaranya. Naya kaget." Zhao Yìchen mengambil bantal khusus dan menyelipk

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 127

    127 Hari berikutnya. Ruang perawatan VIP yang ditempati Elma, dipenuhi banyak orang. Sebab tidak semua orang bisa tertampung, akhirnya banyak yang keluar dan berpindah duduk di deretan bangku selasar. Di dalam ruangan, semua orang bergantian menggendong bayi bertopi merah muda, yang tetap tertidur pulas walaupun berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Dante membaca doa, sebelum mengecup dahi keponakannya dengan hati-hati. Dia mengayun bayi sembari bernyanyi lagu Mandarin, dengan suara yang cukup merdu. "Ko, gantian. Aku dari tadi belum gendong," pinta Calvin. "Hati-hati, Vin. Ini bayi, bukan boneka," tukas Dante, sembari memindahkan bayi itu ke kedua tangan adiknya. Pintu terbuka dan Wirya memasuki ruangan bersama keluarganya. Mereka menyalami kedua orang tua Elma yang telah datang kemarin malam, kemudian mereka beralih bersalaman dengan keluarga Adhitama. "Siniin bayinya, Vin," ujar Wirya. "Bang, aku baru gendong semenit," rengek Calvin. "Kamu bisa gendong lagi nanti. Aku

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 126

    126Jalinan waktu terus berjalan. Hari perkiraan lahiran Elma yang kian dekat, menjadikan Zhao Yìchen gelisah. Pria itu makin cemas, ketika Elma mulai sering mengalami kontraksi palsu. Seperti pagi itu. Zhao Yìchen ragu-ragu untuk berangkat ke sekolah, tetapi akhirnya dia pergi juga untuk melaksanakan ujian akhir kejar paket B. Pria berkemeja putih itu menyetir sembari berzikir dalam hati. Selain melancarkan, Zhao Yìchen juga tengah mengamalkan wejangan dari Mulyadi, yang telah menerangkan kegunaan dari doa-doa pendek untuk menjaga keselamatan diri. Semua anggota Paguyuban Margalutu telah merasakan manfaat tersebut. Mereka sering mengalami berbagai kejadian yang sulit dijelaskan dengan logika. Seperti yang pernah dialami Izra dan Emyr, saat mereka masih berpangkat staf HWZ, dulu. Izra dan Emyr bertugas mengecek proyek di Lombok, yang telah nyaris rampung pengerjaannya. Mereka menyewa mobil untuk pergi meninjau lokasi lain yang ditawarkan rekanan. Emyr yang menjadi sopir, membaca

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 125

    125Elma berteriak mengelu-elukan kedua mempelai yang masih berdiri di panggung bulat. Elma nyaris melompat, sebelum akhirnya ingat jika dirinya sedang hamil.Elma tersenyum ketika melihat orang-orang di sekitarnya, yang melakukan berbagai macam gaya, guna mengekspresikan kegembiraan mereka akan pertunjukan fantastis tersebut. Akong Bun dan Kakek Edward yang menempati meja sebelah kanan, turut menyoraki Wirya dan Vanetta. Sedangkan ketiga anak Wirya jingkrak-jingkrak di dekat panggung, sebelum mereka dinaikkan petugas ring 1, supaya bisa bergabung dengan kedua orang tua mereka. "Ayah, keren!" puji Bayazid, seusai menerima mikrofon yang diberikan Satya dari tepi kanan panggung. "Mama juga, keren sekali," ungkap Marwa, sebelum dia mendekap Vanetta dari sisi kiri. "Xie-xie," balas Vanetta."Aku pengen bisa kayak tadi," papar Marwa."Nanti kita latihan, Kak. Selagi alatnya masih terpasang," cetus Vanetta. "Abang bisa parkour. Mau tunjukin di sini?" pinta Wirya sembari mengusap dahinya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 06

    06Bunyi seruling terdengar syahdu dari gazebo di halaman belakang kediaman Dante. Seorang pria berkaus putih meniup alat musik itu dengan serius dan penuh penghayatan, sambil membayangkan orang-orang di masa silam. Lagu kuno Tiongkok mengalun silih berganti. Hingga Zhao Yìchen berhenti bermain mus

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 05

    05Jalinan waktu terus bergulir. Tanpa terasa, sudah hampir sebulan Zhao Yìchen tinggal di rumah Dante. Setiap pagi dia akan menyapu halaman depan dan belakang, meskipun telah dicegah Dante dan istrinya. Menjelang siang, Zhao Yìchen akan belajar bahasa Indonesia pada Edelweiss, yang mengajari pria

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 04

    04 Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Zhao Yìchen mengamati sekitar. Dia terheran-heran dengan bentuk bangunan di tepi jalan, yang sangat berbeda dengan tempat tinggalnya. Selain itu dia takjub dengan berbagai jenis kendaraan yang melintas di jalan raya.Zhao Yìchen berulang kali bertanya dan Fr

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 03

    03Zhao Yìchen memandangi langit cerah dari jendela yang terbuka lebar. Dia memikirkan keluarganya di utara Guangdong, yang pastinya tengah sedih, karena Zhao Yìchen menghilang. Pria berhidung bangir itu membayangkan paras Ayah, Ibu, dan kakaknya, Zhao Mùchen. Zhao Yìchen juga terbayang wajah kelu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status