Share

Bab 111

Penulis: Olivia Yoyet
last update Tanggal publikasi: 2026-05-20 10:57:59

111

Jaya memandangi Anita yang tengah menunduk di kursi seberang. Dia tahu jika gadis itu tengah menahan malu, karena telah berulang kali merepotkan Jaya.

Pria berambut tebal itu mengalihkan perhatian ke amplop di meja. Dia awalnya hendak menolak, tetapi kemudian dibatalkan, saat satu ide melintas di benaknya.

Jaya meraih amplop itu dan mengecek isinya. Dia menutup amplop, dan memasukkan benda itu ke saku kemeja putih. Jaya memerhatikan Anita yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. Kal
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 112

    112"Ta," panggil Jaya sembari mengarahkan badan ke kiri. "Ya?" balas Anita. "Aku ... nggak bisa bermanis-manis kata," ucap Jaya, sebelum mengeluarkan kotak perhiasan merah dari tas kecil. "Aku menyukaimu sejak lama," akunya sambil menatap Anita lekat-lekat. "Aku sudah sangat dewasa, dan ingin memiliki keluarga sendiri. Ehm, maukah kamu menikah denganku?" tanya Jaya sembari menahan degup jantungnya yang kian kencang. Anita memandangi pria yang telah membuat hidupnya berwarna, selama hampir 2 tahun. Anita bermonolog dalam hati, lalu dia mengangguk."Ya, Kang. Aku mau," tukas Anita. Sudut bibir Jaya melengkung ke atas membingkai senyuman. "Alhamdulillah." Jaya membuka kotak perhiasan. "Ini, buatmu," akunya. "Bukannya buat Ibu?" tanya Anita.Jaya menggeleng. "Aku sengaja minta kamu milih, karena ini memang buatmu." Anita mengulum senyuman. "Dengan kata lain, aku beli cincin dari uang sewa rumah yang kubayar." "Ya, dan aku cuma nambahin dikit." "Enggak modal." Keduanya serentak

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 111

    111Jaya memandangi Anita yang tengah menunduk di kursi seberang. Dia tahu jika gadis itu tengah menahan malu, karena telah berulang kali merepotkan Jaya. Pria berambut tebal itu mengalihkan perhatian ke amplop di meja. Dia awalnya hendak menolak, tetapi kemudian dibatalkan, saat satu ide melintas di benaknya. Jaya meraih amplop itu dan mengecek isinya. Dia menutup amplop, dan memasukkan benda itu ke saku kemeja putih. Jaya memerhatikan Anita yang tengah merapikan rambutnya dengan jemari. Kala gadis itu menengadah, tatapan mereka bersirobok dan Jaya spontan tersenyum. "Aku terima uang sewa rumah ini," ucap Jaya. "Tapi, bulan depan nggak usah bayar," lanjutnya. Anita menggeleng. "Aku nggak mau utang budi, Kang," tolaknya. "Akang sudah terlalu sering membantuku dan keluarga. Aku nggak bisa balasnya," sambungnya. "Enggak perlu dibalas. Aku ikhlas." "Ehm, ya." "Aku dulu juga hidup susah, Ta. Orang tuaku cuma buruh tani. Kami berempat nyaris nggak pernah ngerasain pegang duit, meski

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 110

    110Zhao Yìchen menghentikan mobil beberapa belas meter sebelum rumah kontrakan Anita. Mobil tidak bisa terus maju, karena banyak orang yang tengah berkerumun di depan. Zhao Yìchen menunggu istrinya turun. Dia mengunci mobil, lalu menggapai tangan kiri Elma dan jalan menerobos kerumunan. Keduanya kesulitan menembus area terdekat dengan rumah, karena banyak pria bertampang sangar yang tengah berdiri di sana. Zhao Yìchen menarik Elma agar berpindah ke belakangnya. Pria berjaket hitam itu memaksa merentangkan tangan untuk membuka jalan, dan Elma segera maju memasuki pekarangan sempit yang banyak barang berhamburan. Elma memasuki ruang tamu sambil mengucapkan salam. Zhao Yìchen menyusul dan segera menyambangi Jaya yang tengah menunggui Norman, yang berbaring di kasur tipis.Elma mengambil alih bocah laki-laki dari gendongan Anisa, yang tengah sibuk menenangkan Siti. Perempuan tua itu sejak tadi mengumpati kelompok pria di depan rumah, yang merupakan anak buah bos rentenir. Anita menya

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 109

    109 Pengajian bulanan malam itu di kediaman Wirya, didatangi lebih dari 200 orang. Mereka penasaran dengan sosok aktris China, yang tampil dengan gamis biru dan pasmina putih, yang diberikan Irshava. Vanetta tampak senang, karena para tamu yang hadir sebagian besar bisa berbahasa Mandarin. Dia kaget, kala Zhao Yìchen mengajaknya berbincang dalam bahasa Kanton, yang dibalas perempuan itu dengan semangat. Elma mengamati sang aktris yang tampak berkilau. Dia tersenyum, ketika Zayd mendekati Vanetta dan duduk di pangkuan perempuan tersebut dengan santai. "Kenapa aku jadi mikir, kalau dia yang akan jadi istrinya Bang W?" tanya Salwa. "Kirain aku aja yang mikir, gitu," sahut Leni."Zayd langsung suka. Nempel terus dia dari tadi," papar Elma. "Zid dan Marwa, reaksinya, gimana?" desak Novi. "Mereka juga welcome. Marwa bahkan sudah berani ngelihatin gambar desain buatannya," ungkap Elma. "Mungkin Marwa bisa ngerasa, kalau aura Vanetta itu baik," papar Rida sembari memandangi perempuan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 108

    108Waktu berganti. Wirya kembali dinas ke luar negeri setelah lebih dari 8 bulan dia hanya bertugas di seputar Indonesia. Wirya berangkat ke China bersama Girish, Zikria, dan Harshil. Mereka berkeliling banyak unit kerja dan area proyek di sekitar Tianjin, Beijing, Guangzhou, dan Shanghai. Zhao Yìchen dan Elma menghuni kediaman Wirya guna menemani ketiga bocah. Irshava tengah ikut Hendri meninjau lokasi proyek di Malang, hingga tidak bisa membantu mengurus ketiga anak abangnya. Sabrina dan Zaheera juga tengah fokus mengurus bisnis masing-masing, hingga mereka tidak mampu memerhatikan Bayazid dan kedua adiknya, setiap hari. Edelweiss, Ineke, Leni dan yang lainnya, bergantian datang untuk mengantarkan makanan, ataupun kudapan buat seisi rumah. Elma yang belum pandai memasak, menyambut gembira kiriman para kerabatnya tersebut, karena dia dan kedua asisten rumah tidak pusing lagi memikirkan menu lauk yang hendak dimasak. Pagi itu, Tang Jason menghubungi Zhao Yìchen guna menyampaikan

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 107

    107Sepasang insan menatap layar monitor dengan serius. Kebahagiaan terpancar di wajah mereka, ketika menyaksikan selaput kecil dalam perut Elma, telah terdeteksi dengan akurat.Zhao Yìchen mengucap hamdalah berulang kali. Dia memandangi Elma yang perutnya tengah dibersihkan dari gel, oleh asisten dokter kandungan. Setelah Elma duduk di kursinya, Dokter Eldelyn memberikan berbagai wejangan, agar pasangan di hadapannya bisa bekerjasama untuk menjaga kandungan Elma, hingga tiba waktunya melahirkan nanti.Hampir setengah jam berlalu, pasangan tersebut telah berada di mobil SUV putih. Zhao Yìchen mengarahkan kendaraannya menuju cluster 5, guna mengabari keluarganya tentang berita bahagia itu. Elma menunduk sambil mengusap perutnya yang masih rata. Perempuan bergaun cokelat muda itu benar-benar tidak menyangka, jika akhirnya dia bisa mengandung. Pada awalnya Elma sempat khawatir. Pernikahannya dengan Zhao Yìchen sudah mencapai 11 bulan. Namun, dia belum juga hamil. Elma sudah berniat unt

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 12

    12 Cayden mengulum senyuman, sesaat setelah mendengar penuturan Harper mengenai kejadian kemarin malam. Cayden terkekeh setelah Harper menggerutu, karena beberapa korban dari pihak gangster, yang mengalami patah tangan ataupun patah kaki, akibat disiksa tim PBK. Setelah tawanya lenyap, Cayden berg

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 27

    27Kehadiran Zhao Yìchen pagi itu, disambut teriakan banyak karyawan di gedung PBK. Mereka berebutan untuk menyalami pria berambut gondrong, yang telah mencukur kumisnya hingga klimis. Zhao Yìchen melayani rekan-rekannya yang mengajak berbincang selama belasan menit. Kemudian dia memasuki lift den

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 18

    18 Zhao Yìchen memandangi Jauhari yang tengah berlatih di palang besi. Pria bertubuh langsing itu memperagakan senam ala atlet dengan cukup baik.Jauhari melentingkan badannya dua kali, lalu dia melepaskan pegangan pada palang, dan melompat turun sambil koprol. Jauhari mendarat di tanah dengan sed

  • Kelana Penyintas Waktu    Bab 13

    13Zhao Yìchen mengamati presiden komisaris LB Company, yang tengah berbincang dengan Bryan, Keven, dan Jourell. Zhao Yìchen menyukai pria tua yang rambutnya telah memutih seluruhnya itu, yang sangat ramah.Zhao Yìchen kagum dengan gaya santai yang ditampilkan Li Thorne. Zhao Yìchen membatin, bila

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status