แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Hapiza
Saat melangkah keluar dari aula pesta, aku membuat sebuah keputusan. Di kehidupan ini, aku akan hidup dengan baik bersama anakku.

Aku tidak kembali ke apartemenku di pusat kota, melainkan langsung pergi ke bandara. Di kehidupan sebelumnya, aku malah didesak hingga ke jalan buntu karena aku tetap tinggal di kota ini. Di kehidupan ini, aku akan pergi sejauh mungkin sebelum orang tuaku dan Bobby berniat mencelakai anakku. Karena mereka kejam, aku juga tidak memiliki keterikatan lagi.

Namun, aku sudah meremehkan kemampuan Bobby. Begitu dia menyadari aku menghilang, kartu bankku dibekukan dan ponselku dilacak. Bahkan tiket pesawat yang sudah aku pesan terlebih dulu pun dibatalkan.

Aku seperti burung dalam sangkar, tidak bisa pergi ke mana pun. Aku akhirnya hanya bisa bersembunyi di sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota yang pemiliknya adalah seorang nenek. Dia merasa iba saat melihatku yang hamil, sehingga dia hanya meminta setengah dari biaya sewa.

Namun, aku tahu ketenangan seperti ini tidak akan bertahan lama. Pemikiranku memang benar. Dua hari kemudian, Bobby pun menemukan tempatku ini.

"Yuni, untuk apa beberapa hari ini kamu bersembunyi di sini?" tanya Bobby yang berdiri di depan pintu. Ekspresinya terlihat lembut dan mengenakan jas rapi yang terlihat sangat tidak cocok dengan lingkungan kumuh ini.

Aku menatap Bobby dengan dingin. "Pak Bobby, ada urusan apa mencariku?"

"Apa maksudmu? Kami semua sangat khawatir padamu. Aku datang menjemputmu pulang, kita sekeluarga hidup bersama dengan baik," kata Bobby dengan ekspresi sedih.

Mendengar kata sekeluarga, hatiku seolah-olah berhenti sejenak. Apakah sikap patuhku di kehidupan ini telah membangkitkan hati nurani mereka? Namun, saat aku masih terpaku, kalimat berikut dari Bobby membuatku seolah-olah jatuh ke dalam jurang es.

"Sebenarnya ...."

Ekspresi Bobby terlihat tidak alami. "Kami mau kamu bantu Yurike .... Yurike menemukan sebuah resep lama. Dia dengar kalau resep itu dipadukan dengan darah bayi prematur, itu bisa menyembuhkan penyakitnya."

Seluruh tubuhku gemetar karena ingatan dari kehidupan sebelumnya langsung menyerbu pikiranku. Cahaya di ruang operasi yang menyilaukan, bau tajam cairan disinfektan, teriakan panik dari para dokter, dan akhirnya semuanya menjadi gelap. Aku langsung berteriak sambil mendorong Bobby, "Pergi! Jangan bermimpi bisa menyentuh anakku!"

Mengapa tadi aku masih sempat berharap pada orang-orang ini? Benar-benar konyol!

Bobby mengernyitkan alisnya. "Kenapa kamu jadi begitu gila? Hanya melahirkan lebih awal dan ambil sedikit darah saja, nggak akan berpengaruh apa-apa pada anak itu. Kenapa kamu begitu egois?"

"Egois?"

Aku tertawa dengan air mata yang mengalir tak terkendali. "Bobby, ini anakmu juga. Bagaimana bisa kamu ...."

Sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku, ayah dan ibuku tiba-tiba bergegas naik dari tangga darurat.

Ibuku langsung menerjang dan memeluk kakiku. "Yuni, tolong selamatkan Yurike. Kamu kan kakaknya."

Aku melepaskan genggaman ibuku dengan kasar. "Kakak? Sejak kapan kalian menganggapku sebagai anak?"

"Kamu!"

Ayahku marah besar. "Setidaknya kami sudah menjemputmu pulang dan memberimu kehidupan yang serba cukup. Kenapa kamu bisa begitu kejam?"

"Yang paling kejam itu bukan aku, tapi kalian!" teriakku karena rasa sakit menusuk hingga ke tulang. Padahal aku sudah terus mengalah, bahkan bersembunyi agar tidak mengganggu kehidupan bahagia keluarga mereka. Mengapa mereka masih terus menekanku dan bahkan mengincar nyawa anakku.

"Kak Yuni ...."

Yurike perlahan-lahan berjalan naik dari tangga. "Maafkan aku. Semua ini salahku, aku yang dapat penyakit aneh ini ...."

Wajah Yurike pucat dan tubuhnya kurus, seolah-olah bisa tumbang kapan pun.

Melihat keadaan Yurike seperti itu, ayah dan ibu yang merasa sangat iba segera menghampiri untuk menopang Yurike.

Ibuku memeluk Yurike sambil menyeka air matanya, lalu menatapku dengan tatapan penuh kebencian. "Jangan bicara seperti ini. Ini salah kami yang sudah bawa pulang wanita murahan ini, sampai kamu jadi sakit. Dia sudah punya uang pun masih nggak cukup, masih mau rebut milikmu. Dia yang membuatmu seperti ini, dia yang seharusnya mati menggantikanmu."

Aku tersenyum sinis, ternyata begini orang tua kandungku. Bukan hanya menghinaku sebagai wanita murahan, mereka juga merendahkan, mengutuk, dan bahkan berharap aku mati. Namun, apa sebenarnya salahku? Jika dibandingkan denganku, bukankah mereka yang lebih murahan?

"Sudahlah, Yuni. Jangan membuat keributan lagi," kata Bobby sambil menggenggam tanganku.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 10

    Tepat saat Haris memasangkan cincin di jariku, pintu aula tiba-tiba didobrak terbuka."Hentikan! Pernikahan ini nggak boleh dilanjutkan!"Orang itu adalah Bobby. Dia melangkah masuk dengan terhuyung-huyung dan tangan kanannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Setelan jasnya juga masih berbau alkohol, terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari sebuah bar. Di belakangnya, orang tuaku juga bergegas melangkah masuk.Ibuku menangis dengan pilu, "Putri ... putriku! Syukurlah! Kamu masih hidup ...."Saat melihat Anton yang berdiri di sampingku, seluruh tubuh Bobby langsung terpaku seperti disambar petir. Wajah kecil itu dan mata itu sama seperti dia saat masih muda. Dia berkata dengan suara bergetar, "Ini ... anakku?"Sudah lima tahun berlalu, ini pertama kalinya Bobby melihat jelas anaknya sendiri. Saat di klinik haram di kehidupan sebelumnya, dia bahkan tidak melirik anaknya dan langsung pergi dengan tergesa-gesa. Hanya demi mengantar darah untuk Yurike, dia membiarkan Anton yang begit

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 9

    Bobby maju dengan penuh emosi dan ingin memelukku. "Selama ini aku sudah mencarimu ke seluruh dunia .... Aku tahu kamu nggak mati."Aku mundur selangkah dengan dingin. "Kamu sudah salah orang."Bobby berkata dengan nada memohon, "Yuni, jangan buat keributan lagi .... Aku mana mungkin salah mengenalimu .... Aku sangat merindukanmu."Aku menatap Bobby dengan tatapan datar.Bobby berlutut sampai hampir berlutut dengan perasaan bahagia dan sedih. "Aku tahu kamu menyalahkanku, semua ini karena Yurike si penipu itu. Omongannya menyesatkan, jadi kami menyakitimu. Yuni, Grup Prastika sudah bangkrut."Kilatan terkejut melintas di tatapanku. Bangkrut? Bagaimana mungkin perusahaan yang begitu besar bisa bangkrut secepat ini?"Tapi sekarang, aku mengerti. Ini adalah utangku padamu, ini adalah harga yang harus kubayar untuk menemukanmu. Ikut aku pulang. Aku mau menebus kesalahanku," kata Bobby yang berlutut di lantai sambil memeluk kedua kakiku dan menangis histeris.Aku mengernyitkan alis dengan j

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 8

    Tatapan Haris terlihat dingin. "Satpam, ada yang buat keributan di sini."Setelah Yurike diseret paksa oleh satpam, aku menatap makanan di atas meja dan langsung kehilangan selera makan. Bagi Keluarga Rasyidin, aku sudah mati dan tidak boleh terlibat dengan mereka lagi. Namun, yang paling aku khawatirkan bukan identitasku terbongkar karena insiden tak terduga ini, melainkan mengkhawatirkan Anton.Wajah putraku itu pun perlahan-lahan muncul di benakku. Jika Bobby tahu, dia pasti akan membawa Anton pergi. Aku tidak akan membiarkan Anton kembali ke keluarga yang cacat itu.Saat aku terdiam cukup lama, tiba-tiba ada sepasang tangan hangat yang menggenggam tanganku.Haris menatapku dengan tegas, lalu berkata dengan lembut, "Kita ini sekeluarga, kamu tenang saja. Aku nggak akan membiarkan mereka menyakiti kalian."Mendengar itu, hatiku bergetar. "Kamu ... tahu tentang masalahku?"Haris tersenyum tipis dan menggenggam tanganku lebih erat. "Setelah kamu pergi, mereka mencarimu di dalam negeri

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 7

    "Kenapa kamu masih belum pulang?" tanyaku dengan terkejut."Aku tunggu kamu agar bisa sama-sama pergi makan camilan malam. Aku tahu kamu pasti lupa makan malam lagi," jawab Haris sambil menyampirkan mantel wol kasmir di bahuku.Saat itu, aku baru menyadari kopi di mejaku sudah dingin sepenuhnya dan dokumen di sampingnya sudah ditandatangani sampai menumpuk tinggi.Malam itu, Haris membawaku ke restoran terbaik di pusat kota. Dengan hujan yang turun deras, kami berjalan berdampingan di jalan berbatu. Dia memayungiku, sedangkan hujan diam-diam menumpuk di bahunya.Haris tiba-tiba berkata, "Kamu tahu nggak? Aku rasa kita boleh mencobanya."Aku langsung tertegun.Namun, Haris malah terus berjalan ke depan seperti tidak terjadi apa-apa, hanya meninggalkan jejak kaki yang samar-samar.Setelah itu, Haris mencarikan pengasuh bayi yang terbaik dan sering datang menemani putraku, Anton, bermain. Pria elite yang terlihat selalu rapi tanpa cela itu akan berbaring di karpet dan menemani anakku memb

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 6

    Air mata Yurike mengalir deras dan napasnya terengah-engah. "Aku benar-benar sakit ...."Melihat ekspresi Yurike yang merasa bersalah, ibuku langsung mengerti segalanya. "Kami memperlakukanmu seperti anak kandung dan kamu juga sudah menempati tempat orang lain selama dua puluhan tahun, kenapa masih nggak puas sampai harus memperlakukan Yuni seperti ini?"Yurike langsung panik. "Ma, aku nggak mau mati ... hanya Kak Yuni yang bisa menyelamatkanku.""Resep apa yang harus pakai darah anak kakakmu? Jelas-jelas kamu yang selama ini sengaja mengarahkan semua ini, jadi kami panik sampai bertindak tanpa pikir panjang," kata ayahku dengan tajam.Bobby berteriak dengan nada dingin, "Pengawal, kurung dia."Setelah itu, Bobby berkata dengan nada datar, "Kamu kan bilang kamu sakit dan akan mati dalam tiga hari ini tanpa darah janin kamu, jadi kita akan mengurungmu sampai racunmu kambuh dan mati."Kaki Yurike menjadi lemas. "Jangan! Papa, Mama, aku ini Yurike kalian. Kalian bilang kalian paling menya

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 5

    "Yuni .... Yuni dia ...."Orang pertama yang bereaksi adalah Bobby. Matanya langsung memerah. "Aku harus pergi mencari Yuni, ini pasti palsu.""Benar, benar. Bobby, kita pergi mencarinya sekarang juga. Anak sialan itu pandai sekali akting, kita pergi mencarinya sekarang juga."Bobby dan keluargaku mengerahkan semua tenaga dan sumber daya untuk mencariku. Namun, saat mereka menemukan gudang terbengkalai tempat aku pernah berada, mereka hanya melihat darah yang berceceran di lantai. Selain itu, ada sebuah jasad janin kecil dan mantelku yang berlumuran darah. Dia terpaku, lalu tubuhnya gemetar dan terus menggelengkan kepala. "Nggak ... ini bohong."Air mata Bobby mengalir tanpa suara dan merasa terpukul hingga tidak mampu berdiri. Dia jatuh ke lantai, lalu merangkak seperti anjing dan memeluk mantelku yang berlumuran darah itu."Kak Bobby!" teriak Yurike."Yuniku ... anakku ...," teriak Bobby dengan histeris sambil kembali berlari dan memeluk janin kecil itu.Yurike berlari maju dan menah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status