Short
Biarlah Kenangan Masa Lalu Menjadi Buah Waktu

Biarlah Kenangan Masa Lalu Menjadi Buah Waktu

Oleh:  EdelTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
21Bab
9.5KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Bercinta dengan kakaknya sahabat untuk ke-999 kalinya, Isabel Minarto duduk di pangkuan Haikal Lamono, bergumul selama hampir satu jam. Butiran peluh muncul di dahi pria itu, tetapi dia tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. "Bagaimana kalau ... aku membantumu?" usul Isabel lembut, pipinya memerah. Dia kasihan pada Haikal. Namun, Haikal dengan lembut mengacak rambutnya. "Nggak apa-apa, aku bisa lakukan sendiri. Kamu mandi dulu." Air panas mengalir deras, dan dalam kabut uap, Isabel tiba-tiba teringat bahwa dia lupa membawa piama. Tepat di saat dia membuka pintu kamar mandi, dia mendengar napas pelan dan berat dari ruang tamu. "Silvana ...."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Isabel terdiam kaku. Melalui pintu yang setengah terbuka, dia melihat Haikal bersandar di sofa, menempelkan foto Silvana Yamin di bibirnya!

Pria itu memejamkan mata, jakunnya bergerak-gerak, suaranya serak luar biasa. "Silvana .... Sayang ...."

Meski telah berkali-kali bercinta dengannya, Haikal tidak pernah benar-benar bahagia. Namun kini, pria itu memanggil nama Silvana dan melihat fotonya, dia bisa dengan mudah menemukan kebahagiaan sesaat.

Menyaksikan pemandangan ini, Isabel merasa dirinya seolah-olah jatuh ke dalam gua es.

Detik berikutnya, ponsel berdering tiba-tiba. Haikal menenangkan dirinya sejenak sebelum menjawab panggilan tersebut.

Begitu telepon terhubung, suara sahabatnya, Elio Lukman, yang tak percaya terdengar di ujung telepon.

"Haikal, kamu sungguh mau beli penawaran Silvana besok?"

"Kamu lupa bagaimana dia mencampakkanmu dulu? Pas kamu bangkrut, dia malah menjalin hubungan dengan putra kepala sekolah hanya demi mendapatkan kuota kuliah di luar negeri. Sekarang begitu kamu berhasil bangkit kembali, dia balik menempel padamu. Wanita seperti ini ...."

Haikal memejamkan matanya sejenak, suaranya rendah dan dalam. "Aku tahu dia materialistis, egois, dan munafik."

Dia berhenti sejenak, lalu tertawa getir. "Tapi aku sangat mencintainya."

"Selama bertahun-tahun ini, aku hampir gila memikirkannya."

Napas Elio makin cepat. "Bagaimana dengan Isabel? Dia pacarmu sekarang. Kamu anggap dia sebagai apa!"

Haikal memijat pangkal hidungnya. "Aku sudah mencobanya, tapi aku nggak bisa menyukainya."

"Begitu kamu bertemu dengan orang yang tepat, maka orang lain hanyalah sebuah kompromi."

"Isabel sangat baik, tapi bagiku, dia hanya sekadar kompromi."

Elio menghela napas. "Kamu .... Entah obat sihir macam apa yang telah diberikan Silvana padamu! Kalau Isabel tahu kamu memperlakukannya seperti ini, dia pasti akan meninggalkanmu, dan kamu pasti akan menyesal!"

Suara Haikal terdengar sedikit lelah. "Kalau dia mau pergi, biarlah dia pergi."

"Hubungan kami sudah terlalu lama, aku nggak sanggup minta putus dengannya."

"Kalau dia minta putus, itu akan melegakan bagiku."

Melihat Haikal menutup telepon dan bersiap masuk, Isabel menjadi pucat dan buru-buru berlari kembali ke kamar mandi sambil gemetar.

Air pancuran membasahi tubuhnya yang gemetar, membuatnya tanpa sadar teringat kembali adegan saat pertama kali bertemu Haikal.

Itu adalah upacara pembukaan tahun pertama SMA. Sebagai ketua OSIS, Haikal sedang berpidato di atas panggung.

Dia mengenakan kemeja putih, tampak tenang dan elegan, dengan celana hitam yang membalut kakinya yang panjang dan ramping. Dia memancarkan aura bangsawan yang alami, dan yang paling mencolok adalah wajahnya yang sangat tampan. Saat dia mendongak, semua gadis di auditorium tersentak kaget.

Isabel berdiri di tengah kerumunan, memperhatikan jari-jarinya yang terdefinisi dengan baik menyentuh mikrofon dengan lembut, jakunnya bergerak perlahan sembari dia berbicara.

Saat itu, dia seolah mendengar suara detak jantungnya sendiri.

"Hei, kenapa melamun?" Sahabatnya, Nadia Lamono, menyenggolnya dengan siku. "Itu kakakku, tampan, 'kan?"

Kemudian, dia mengetahui bahwa ada sebuah pepatah yang beredar di SMA: [Bisa dimaklumi jika tidak mengenal kepala sekolah, tetapi tidak bisa dimaafkan jika tidak mengenal idola sekolah, Haikal Lamono.]

Haikal menjadi pujaan semua gadis di sekolah, tetapi dia selalu menjaga jarak dan menolak semua pernyataan cinta dengan sopan. Seiring waktu, semua orang mengira dia tidak tertarik pada wanita.

Isabel juga hanya berani melirik pria itu beberapa kali ketika dia datang bertamu di rumah Nadia.

Sampai Silvana pindah ke sekolah mereka.

Dia mengejar Haikal dengan penuh semangat dan gigih, bagai nyala api.

Semua orang mengira dia akan ditolak seperti gadis-gadis lain, tetapi tiga bulan kemudian, Haikal menerima perasaannya.

Isabel tidak akan pernah melupakan hari itu. Dia berdiri di sudut gedung sekolah dan menyaksikan Haikal mendorong Silvana ke dinding dan menciumnya.

Jari-jari Haikal yang panjang dan ramping menyusuri rambut Silvana, matanya yang biasanya tenang kini menyala dengan gairah. Itu adalah sisi Haikal yang belum pernah dilihatnya sebelumnya.

Isabel hanya menyaksikan Haikal kehilangan kendali berulang kali karena Silvana.

Haikal rela mengantre semalaman demi membelikan barang edisi terbatas untuk Silvana, berkelahi demi Silvana, dan bolos kelas demi pergi ke konser bersama Silvana.

Sampai memasuki tahun ketiga kuliah, Keluarga Lamono bangkrut.

Silvana langsung mencampakkannya, dan pergi ke luar negeri bersama putra kepala sekolah. Sebelum berangkat, dia berkata, "Haikal, kamu nggak bisa berikan apa yang kuinginkan."

Pria yang biasanya begitu arogan itu, sampai rela mengejar mobil Silvana hingga dua km jauhnya.

Haikal memohon berulang kali, tetapi wanita itu tidak menoleh sedikit pun.

Sejak itu, Haikal seolah-olah hidup tanpa tujuan. Isabel mengikutinya secara diam-diam karena khawatir, hingga ketahuan oleh pria itu.

"Kenapa kamu selalu mengikutiku?" tanya Haikal sambil berbalik.

Isabel tergagap dan tidak bisa menjawabnya.

"Kamu menyukaiku?" tanya Haikal dengan blak-blakan. "Kalau begitu, ayo kita pacaran."

Setelah mereka bersama, Isabel baru menyadari bahwa Haikal menyetujuinya hanya demi melupakan hubungan menyakitkan itu.

Namun, Isabel masih tetap melakukannya dengan sukarela, memperlakukan pria itu dengan baik, dan menghangatkan hatinya.

Kemudian, sepertinya Haikal secara bertahap juga mulai mencintainya.

Pria itu mulai mengingat hari ulang tahunnya, mulai membuatkan air gula merah untuknya saat menstruasi, dan saat terjadi petir, dia akan memeluknya sambil tersenyum dan berkata, "Jangan takut, Sayang".

Setelah dia sukses dan berhasil membangkitkan kembali Keluarga Lamono, dia makin menyayangi Isabel.

Sampai dua minggu lalu, mereka bertemu Silvana, yang bekerja sebagai pelayan di sebuah klub.

Silvana tanpa sengaja mengotori gaun Isabel, dan Haikal dengan dingin menuntut agar dia membayar ganti rugi sebesar 10 miliar.

"Aku nggak punya uang, tapi aku masih perawan. Aku akan melelang keperawananku dan mengambil uangnya untuk membayarmu, oke?" kata Silvana dengan mata merah.

Haikal mencubit dagunya, suaranya dingin. "Baiklah, uangnya harus aku terima dalam waktu tiga hari."

Malam itu, Isabel berbaring di ranjang besar mereka dan menyaksikan Haikal berada di ruang kerja selama dua jam. Pria itu keluar dengan bau asap yang sangat menyengat.

Haikal berbaring membelakanginya dan tidak tidur sepanjang malam.

Ternyata, pria itu sudah memutuskan untuk menawar lelang keperawanan Silvana sejak saat itu.

Ternyata, di balik kebenciannya yang mendalam, tersembunyi gelombang kerinduan dan cinta.

Ternyata, alasan pria itu tidak bisa melepaskan hasrat terpendamnya setiap kali mereka tidur bersama selama bertahun-tahun ini hanyalah karena Isabel bukanlah tujuan akhirnya, melainkan hanya persinggahan baginya.

Saat menatap bayangan pucat dirinya di cermin, Isabel tiba-tiba tertawa. Ketika tertawa, air matanya juga tanpa disadari ikut mengalir.

Isabel mampu mencintai, dan mampu melepaskan.

Haikal seharusnya mengatakan padanya kalau dia tidak mencintainya.

Dia juga tidak akan menempel terus pada pria itu.

Isabel mematikan pancuran, mengambil ponselnya, dan mengirim pesan.

...

Keesokan paginya, ketika Haikal selesai sarapan dan hendak keluar, Isabel juga keluar dengan pakaian rapi.

"Kok bangun begitu pagi? Kenapa nggak tidur sedikit lebih lama?"

Isabel menundukkan pandangannya. "Aku ada urusan hari ini."

Haikal tersenyum lembut. "Ayo kuantar."

Di dalam mobil, Haikal baru saja menanyakan ke mana dia akan pergi ketika ponselnya berdering.

Suara asisten terdengar melalui gagang telepon. "Pak Haikal, pelelangan Nona Silvana akan diadakan malam ini. Apa Anda ingin hadir secara langsung?"

Mata Haikal menjadi gelap. "Ya."

Pria itu berhenti sejenak, lalu menambahkan, "Aku akan ke sana sekarang."

Setelah menutup telepon, dia menatap Isabel, hendak mencari alasan, tetapi wanita itu sudah menyeringai.

Haikal sepertinya sangat takut lelang keperawanan Silvana akan ditawar oleh orang lain.

Dia berbicara sebelum pria itu sempat membuka mulut, "Pergilah kalau kamu ada urusan. Aku bisa sendiri."

Haikal tidak terlalu memikirkannya dan sudah tidak sabar untuk pergi.

"Oke. Isabel, hati-hati di jalan."

Isabel tidak menjawab. Setelah keluar dari mobil, dia memanggil taksi lain dan pergi ke kafe di mana dia berencana bertemu dengan sahabatnya, Nadia.

Begitu masuk ke dalam, Nadia langsung berlari menghampiri dan meraih tangannya. Matanya memerah.

"Isabel, kamu serius dengan pesan yang kamu kirim padaku tadi malam? Kamu benar-benar ingin menikah dengan Keluarga Sumargo menggantikanku?"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

djasmin vie
djasmin vie
good story
2026-08-26 11:09:46
0
1
Nei Nee
Nei Nee
good menarik sekali
2026-08-10 11:40:21
1
1
Deanista Anik
Deanista Anik
bagus, suka dengan cerita yang ada tolong lanjutkan terus cerita yang ada suka banget soalnya hehehehe
2026-08-12 02:20:41
0
1
N Tri Hapsari
N Tri Hapsari
Ini alur ceritanya loncat2 macam kutu.. Bikin bingung yang baca. Satu detik ngobrol ma si A, lalu tanpa ada keterangan, tiba2 tokoh utamanya bicara dgn B, lalu tanpa ket apapun, tiba2 balik ngobrol ma A lagi. Endingnya juga kayak dipaksakan berakhir. Kyk, hahh.. That's it??
2026-08-21 12:05:45
0
0
21 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status