แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Hapiza
"Besok kita akan buat bayi ini lahir lebih awal untuk menyelamatkan bibinya," kata Bobby.

"Aku nggak mau," kataku dengan mata yang memerah. Aku ingin berjuang sekali lagi untuk diriku sendiri dan anakku, tetapi kata-kata Bobby berikutnya membuatku seolah-olah jatuh ke dalam jurang es.

Bobby memperkuat genggamannya, lalu berkata dengan dingin, "Meskipun kamu nggak setuju, tetap harus setuju. Aku nggak mau menggunakan kekerasan pada wanita."

Tanganku dicengkeram Bobby hingga terasa sakit dan dua tetes air mata mengalir di pipiku. Aku tersenyum mengejek diri sendiri dan hatiku kembali hancur berkeping-keping. "Baiklah. Kalau begitu, beri aku waktu satu hari lagi agar aku dan anakku pergi ke pantai untuk menenangkan diri. Besok aku akan kembali dan bekerja sama dengan kalian."

Aku terjatuh lemas di lantai, lalu memeluk kaki Bobby dan memohon dengan pelan, "Kak Bobby, biarkan aku berpamitan dengan anakku."

Bobby menghela napas lega dan berpikir sejenak, lalu menganggukkan kepala. "Kamu akhirnya mengerti."

Setelah itu, ekspresi Bobby terlihat merasa agak bersalah. "Setelah bayi ini lahir, aku pasti akan sangat menyayanginya."

Menyayangi? Di kehidupan sebelumnya, Bobby bahkan mengambil dua tabung darah dari anak itu dengan kejam hingga anak itu lemah dan meninggal. Saat itu, seberapa besar penderitaan anakku? Sekarang Bobby masih berani berkata akan menyayangi anak ini?

Setelah Bobby dan keluargaku pergi dengan puas, aku perlahan-lahan bangkit dalam diam. Aku menutup pintu, lalu mengelus perutku dan tersenyum gila. Karena ayah dan ibuku merasa aku telah merebut semua yang seharusnya milik Yurike, aku akan mengembalikan semuanya pada mereka.

Keesokan harinya, Bobby dan keluargaku datang sesuai janji. Saat mereka baru saja melangkah masuk ke rumah kontrakanku, ponsel Bobby berdering dan masuk sebuah panggilan video. Saat menerima telepon itu, mereka melihat aku dengan pakaian berantakan dan wajah penuh luka yang mengerikan.

Dengan keadaan diikat dan mulut disumpal kain, aku menatap Bobby serta keluargaku melalui layar dengan tatapan menyedihkan dan berjuang mati-matian melepaskan diri.

"Bobby, sudah lihat, 'kan? Mantan istrimu ada di tanganku. Kalau mau dia tetap hidup, siapkan 100 miliar."

Pria asing di sampingku itu menekan bilah pisau ke leherku dan berkata dengan suara yang terdengar seperti bom lau yang meledak di ruang tamu yang sunyi itu, "Dengar baik-baik, cepat siapkan uangnya. Jangan coba-coba lapor polisi. Kalau berani lapor, siap-siap terima mayatnya."

Mendengar kata-kata itu, ekspresi Bobby langsung menjadi muram.

Yurike yang berdiri di samping Bobby menutup mulut dulu dan ekspresinya terlihat tidak percaya saat melihat pemandangan itu, lalu matanya memerah dan berkata dengan nada mengeluh, "Kak Bobby, ayo kita cepat selamatkan Kak Yuni. Aku tahu Kak Yuni bukan sengaja nggak mau menyelamatkanku, dia pasti punya alasannya."

Setelah mendengar ucapan Yurike, ekspresi Bobby terlihat makin muram. "Yuni, sudah cukup. Kamu begitu ingin Yurike mati ya? Demi nggak menyelamatkannya, kamu sampai pakai trik seperti ini."

Ekspresi orang tuaku terlihat agak goyah, tetapi ekspresi mereka juga menjadi dingin setelah mendengar kata-kata Bobby dan Yurike.

"Aku sudah tahu ini. Pantas saja anak sialan ini tiba-tiba minta jalan-jalan, ternyata memang ada maksud tersembunyi."

"Wanita murahan ini benar-benar kejam. Jadi, bagaimana dengan Yurike kita?"

Terdengar tangisan ibu dari seberang telepon.

Meskipun aku sudah lama tidak berharap apa-apa dari ibuku ini, tetapi hatiku tetap terasa seperti ditusuk jarum setelah mendengar kata-kata itu.

Saat itu, penculik tiba-tiba menarik kain yang menyumpal mulutku dengan kasar. Setelah terbatuk-batuk sejenak, aku baru mengangkat kepala dan menatap ke arah kamera. Aku memaksakan sebuah senyuman pilu. "Hahaha. Aku seharusnya nggak berharap pada kalian. Kalian mau pakai aku dan bayiku untuk menyelamatkan Yurike? Kali ini, aku mau lihat bagaimana kalian menyelamatkannya."

"Dengarkan baik-baik. Di kehidupan ini, kehidupan berikutnya, dan bahkan kehidupan setelahnya lagi, aku nggak mau bertemu kalian lagi. Mulai sekarang, kalian nggak ada hubungan apa pun denganku."

Setelah mengatakan itu, aku langsung menerjang ke arah pisau di tangan penculik. Dalam sekejap, pisau itu menggores leherku dan darah menyembur mewarnai layar. Pada saat yang bersamaan, video itu pun terputus ....
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 10

    Tepat saat Haris memasangkan cincin di jariku, pintu aula tiba-tiba didobrak terbuka."Hentikan! Pernikahan ini nggak boleh dilanjutkan!"Orang itu adalah Bobby. Dia melangkah masuk dengan terhuyung-huyung dan tangan kanannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Setelan jasnya juga masih berbau alkohol, terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari sebuah bar. Di belakangnya, orang tuaku juga bergegas melangkah masuk.Ibuku menangis dengan pilu, "Putri ... putriku! Syukurlah! Kamu masih hidup ...."Saat melihat Anton yang berdiri di sampingku, seluruh tubuh Bobby langsung terpaku seperti disambar petir. Wajah kecil itu dan mata itu sama seperti dia saat masih muda. Dia berkata dengan suara bergetar, "Ini ... anakku?"Sudah lima tahun berlalu, ini pertama kalinya Bobby melihat jelas anaknya sendiri. Saat di klinik haram di kehidupan sebelumnya, dia bahkan tidak melirik anaknya dan langsung pergi dengan tergesa-gesa. Hanya demi mengantar darah untuk Yurike, dia membiarkan Anton yang begit

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 9

    Bobby maju dengan penuh emosi dan ingin memelukku. "Selama ini aku sudah mencarimu ke seluruh dunia .... Aku tahu kamu nggak mati."Aku mundur selangkah dengan dingin. "Kamu sudah salah orang."Bobby berkata dengan nada memohon, "Yuni, jangan buat keributan lagi .... Aku mana mungkin salah mengenalimu .... Aku sangat merindukanmu."Aku menatap Bobby dengan tatapan datar.Bobby berlutut sampai hampir berlutut dengan perasaan bahagia dan sedih. "Aku tahu kamu menyalahkanku, semua ini karena Yurike si penipu itu. Omongannya menyesatkan, jadi kami menyakitimu. Yuni, Grup Prastika sudah bangkrut."Kilatan terkejut melintas di tatapanku. Bangkrut? Bagaimana mungkin perusahaan yang begitu besar bisa bangkrut secepat ini?"Tapi sekarang, aku mengerti. Ini adalah utangku padamu, ini adalah harga yang harus kubayar untuk menemukanmu. Ikut aku pulang. Aku mau menebus kesalahanku," kata Bobby yang berlutut di lantai sambil memeluk kedua kakiku dan menangis histeris.Aku mengernyitkan alis dengan j

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 8

    Tatapan Haris terlihat dingin. "Satpam, ada yang buat keributan di sini."Setelah Yurike diseret paksa oleh satpam, aku menatap makanan di atas meja dan langsung kehilangan selera makan. Bagi Keluarga Rasyidin, aku sudah mati dan tidak boleh terlibat dengan mereka lagi. Namun, yang paling aku khawatirkan bukan identitasku terbongkar karena insiden tak terduga ini, melainkan mengkhawatirkan Anton.Wajah putraku itu pun perlahan-lahan muncul di benakku. Jika Bobby tahu, dia pasti akan membawa Anton pergi. Aku tidak akan membiarkan Anton kembali ke keluarga yang cacat itu.Saat aku terdiam cukup lama, tiba-tiba ada sepasang tangan hangat yang menggenggam tanganku.Haris menatapku dengan tegas, lalu berkata dengan lembut, "Kita ini sekeluarga, kamu tenang saja. Aku nggak akan membiarkan mereka menyakiti kalian."Mendengar itu, hatiku bergetar. "Kamu ... tahu tentang masalahku?"Haris tersenyum tipis dan menggenggam tanganku lebih erat. "Setelah kamu pergi, mereka mencarimu di dalam negeri

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 7

    "Kenapa kamu masih belum pulang?" tanyaku dengan terkejut."Aku tunggu kamu agar bisa sama-sama pergi makan camilan malam. Aku tahu kamu pasti lupa makan malam lagi," jawab Haris sambil menyampirkan mantel wol kasmir di bahuku.Saat itu, aku baru menyadari kopi di mejaku sudah dingin sepenuhnya dan dokumen di sampingnya sudah ditandatangani sampai menumpuk tinggi.Malam itu, Haris membawaku ke restoran terbaik di pusat kota. Dengan hujan yang turun deras, kami berjalan berdampingan di jalan berbatu. Dia memayungiku, sedangkan hujan diam-diam menumpuk di bahunya.Haris tiba-tiba berkata, "Kamu tahu nggak? Aku rasa kita boleh mencobanya."Aku langsung tertegun.Namun, Haris malah terus berjalan ke depan seperti tidak terjadi apa-apa, hanya meninggalkan jejak kaki yang samar-samar.Setelah itu, Haris mencarikan pengasuh bayi yang terbaik dan sering datang menemani putraku, Anton, bermain. Pria elite yang terlihat selalu rapi tanpa cela itu akan berbaring di karpet dan menemani anakku memb

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 6

    Air mata Yurike mengalir deras dan napasnya terengah-engah. "Aku benar-benar sakit ...."Melihat ekspresi Yurike yang merasa bersalah, ibuku langsung mengerti segalanya. "Kami memperlakukanmu seperti anak kandung dan kamu juga sudah menempati tempat orang lain selama dua puluhan tahun, kenapa masih nggak puas sampai harus memperlakukan Yuni seperti ini?"Yurike langsung panik. "Ma, aku nggak mau mati ... hanya Kak Yuni yang bisa menyelamatkanku.""Resep apa yang harus pakai darah anak kakakmu? Jelas-jelas kamu yang selama ini sengaja mengarahkan semua ini, jadi kami panik sampai bertindak tanpa pikir panjang," kata ayahku dengan tajam.Bobby berteriak dengan nada dingin, "Pengawal, kurung dia."Setelah itu, Bobby berkata dengan nada datar, "Kamu kan bilang kamu sakit dan akan mati dalam tiga hari ini tanpa darah janin kamu, jadi kita akan mengurungmu sampai racunmu kambuh dan mati."Kaki Yurike menjadi lemas. "Jangan! Papa, Mama, aku ini Yurike kalian. Kalian bilang kalian paling menya

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 5

    "Yuni .... Yuni dia ...."Orang pertama yang bereaksi adalah Bobby. Matanya langsung memerah. "Aku harus pergi mencari Yuni, ini pasti palsu.""Benar, benar. Bobby, kita pergi mencarinya sekarang juga. Anak sialan itu pandai sekali akting, kita pergi mencarinya sekarang juga."Bobby dan keluargaku mengerahkan semua tenaga dan sumber daya untuk mencariku. Namun, saat mereka menemukan gudang terbengkalai tempat aku pernah berada, mereka hanya melihat darah yang berceceran di lantai. Selain itu, ada sebuah jasad janin kecil dan mantelku yang berlumuran darah. Dia terpaku, lalu tubuhnya gemetar dan terus menggelengkan kepala. "Nggak ... ini bohong."Air mata Bobby mengalir tanpa suara dan merasa terpukul hingga tidak mampu berdiri. Dia jatuh ke lantai, lalu merangkak seperti anjing dan memeluk mantelku yang berlumuran darah itu."Kak Bobby!" teriak Yurike."Yuniku ... anakku ...," teriak Bobby dengan histeris sambil kembali berlari dan memeluk janin kecil itu.Yurike berlari maju dan menah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status