แชร์

Kematian yang Diharapankan Suamiku
Kematian yang Diharapankan Suamiku
ผู้แต่ง: Hapiza

Bab 1

ผู้เขียน: Hapiza
Aku duduk di ruang tamu mewah dan menatap wajah-wajah yang familier di hadapanku. Dalam keadaan setengah sadar, cahaya putih yang menyilaukan dari ruang operasi seolah-olah masih bergoyang di depan mataku.

"Yuni, tanda tangan saja surat perjanjian cerai itu. Itu adalah keinginan terakhir Yurike," kata ibuku sambil terus meneteskan air mata. Dia duduk di seberangku sambil menggenggam tangan Yurike dengan sangat akrab dan menatapku seolah-olah aku adalah orang yang sangat berdosa.

Ayahku berdiri di depan jendela dengan ekspresi dingin dan tegas. "Dulu kamu yang tiba-tiba kembali dan merebut Bobby, Yurike sampai menderita depresi. Ini semua utangmu padanya. Sekarang Yurike sudah nggak punya banyak waktu lagi. Dia hanya punya satu permintaan ini, masa kamu nggak bisa memenuhinya."

Aku mengelus perutku yang terlihat jelas mulai membesar, lalu menatap Bobby yang duduk di seberang. "Kamu juga mau cerai denganku dan menikah dengan Yurike?"

Bobby memijat pelipisnya dengan lelah. "Yuni, kondisi Yurike sangat parah. Kami tumbuh bersama sejak kecil, kami seharusnya memang bersama. Kalau bukan karena kamu tiba-tiba kembali ...."

Yurike menyela ucapan Bobby sambil menangis, "Jangan paksa Kak Yuni lagi. Aku tahu aku nggak pantas bersama Kak Bobby, aku nggak ada apa-apanya dibandingkan Kak Yuni ...."

Dengan air mata berlinang, Yurike langsung menerjang ke dalam pelukan Bobby.

Aku melihat Bobby juga secara refleks merangkul pinggang ramping Yurike.

Yurike melanjutkan, "Meskipun sejak kecil aku dibesarkan Papa Mama dan juga tumbuh bersama Kak Bobby, aku memang bukan anak kandung mereka ...."

"Yurike, jangan berkata begitu. Di hati Papa Mama, kamu ini anak kandung kami," kata ibuku sambil menyeka air mata Yurike dengan penuh kasih sayang, lalu mengelus rambut Yurike dengan lembut.

Namun, begitu menoleh ke arahku, tatapannya yang tadinya terlihat lembut langsung menjadi penuh amarah dan berteriak dengan keras, "Yuni, kamu memang bukan bagian dari Keluarga Rasyidin. Sekarang kamu bahkan nggak mau penuhi keinginan terakhir adikmu. Kamu ini benar-benar nggak tahu balas budi."

"Yuni, kami semua lakukan ini juga demi kebaikan Yurike. Jangan bersikap egois," kata ayahku dari samping dengan nada penuh peringatan.

Bobby berbisik di telinga Yurike dengan lembut untuk menenangkan, "Yurike, percayalah padaku, aku pasti akan menikahimu dengan meriah."

Dia mengangkat kepala dan menatapku dengan tajam, lalu melanjutkan, "Yuni, Yurike itu adikmu. Ke mana perginya Yuni yang baik hati yang aku kenal? Lagi pula, ini juga bukan benar-benar jadi suami istri, hanya untuk memenuhi keinginan terakhir Yurike saja. Masa kamu nggak setuju?"

Aku menundukkan kepala dan menatap surat perjanjian cerai di tanganku, lalu jemariku yang memegang kertas itu menjadi gemetar. Baik kehidupan sebelumnya ataupun kehidupan sekarang, Bobby dan orang tuaku selalu berpihak pada Yurike.

Karena dulu kesalahan perawat, aku dan Yurike tertukar saat bayi dan baru ditemukan kembali setahun yang lalu. Aku sempat berpikir aku akhirnya memiliki keluarga dan orang-orang yang mencintaiku. Namun, setelah aku kembali, yang kuterima justru penolakan dan pengabaian.

Bahkan keluargaku pun menyalahkanku karena sudah merebut pacarnya Yurike dan juga menuduhku mengambil kasih sayang yang seharusnya menjadi milik Yurike. Padahal mereka yang sudah mencariku ke seluruh penjuru dunia untuk membawaku pulang. Bobby juga yang terus mengejarku hingga akhirnya aku tersentuh dan setuju menikah dengannya.
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 10

    Tepat saat Haris memasangkan cincin di jariku, pintu aula tiba-tiba didobrak terbuka."Hentikan! Pernikahan ini nggak boleh dilanjutkan!"Orang itu adalah Bobby. Dia melangkah masuk dengan terhuyung-huyung dan tangan kanannya terkulai lemah di sisi tubuhnya. Setelan jasnya juga masih berbau alkohol, terlihat seperti baru saja merangkak keluar dari sebuah bar. Di belakangnya, orang tuaku juga bergegas melangkah masuk.Ibuku menangis dengan pilu, "Putri ... putriku! Syukurlah! Kamu masih hidup ...."Saat melihat Anton yang berdiri di sampingku, seluruh tubuh Bobby langsung terpaku seperti disambar petir. Wajah kecil itu dan mata itu sama seperti dia saat masih muda. Dia berkata dengan suara bergetar, "Ini ... anakku?"Sudah lima tahun berlalu, ini pertama kalinya Bobby melihat jelas anaknya sendiri. Saat di klinik haram di kehidupan sebelumnya, dia bahkan tidak melirik anaknya dan langsung pergi dengan tergesa-gesa. Hanya demi mengantar darah untuk Yurike, dia membiarkan Anton yang begit

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 9

    Bobby maju dengan penuh emosi dan ingin memelukku. "Selama ini aku sudah mencarimu ke seluruh dunia .... Aku tahu kamu nggak mati."Aku mundur selangkah dengan dingin. "Kamu sudah salah orang."Bobby berkata dengan nada memohon, "Yuni, jangan buat keributan lagi .... Aku mana mungkin salah mengenalimu .... Aku sangat merindukanmu."Aku menatap Bobby dengan tatapan datar.Bobby berlutut sampai hampir berlutut dengan perasaan bahagia dan sedih. "Aku tahu kamu menyalahkanku, semua ini karena Yurike si penipu itu. Omongannya menyesatkan, jadi kami menyakitimu. Yuni, Grup Prastika sudah bangkrut."Kilatan terkejut melintas di tatapanku. Bangkrut? Bagaimana mungkin perusahaan yang begitu besar bisa bangkrut secepat ini?"Tapi sekarang, aku mengerti. Ini adalah utangku padamu, ini adalah harga yang harus kubayar untuk menemukanmu. Ikut aku pulang. Aku mau menebus kesalahanku," kata Bobby yang berlutut di lantai sambil memeluk kedua kakiku dan menangis histeris.Aku mengernyitkan alis dengan j

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 8

    Tatapan Haris terlihat dingin. "Satpam, ada yang buat keributan di sini."Setelah Yurike diseret paksa oleh satpam, aku menatap makanan di atas meja dan langsung kehilangan selera makan. Bagi Keluarga Rasyidin, aku sudah mati dan tidak boleh terlibat dengan mereka lagi. Namun, yang paling aku khawatirkan bukan identitasku terbongkar karena insiden tak terduga ini, melainkan mengkhawatirkan Anton.Wajah putraku itu pun perlahan-lahan muncul di benakku. Jika Bobby tahu, dia pasti akan membawa Anton pergi. Aku tidak akan membiarkan Anton kembali ke keluarga yang cacat itu.Saat aku terdiam cukup lama, tiba-tiba ada sepasang tangan hangat yang menggenggam tanganku.Haris menatapku dengan tegas, lalu berkata dengan lembut, "Kita ini sekeluarga, kamu tenang saja. Aku nggak akan membiarkan mereka menyakiti kalian."Mendengar itu, hatiku bergetar. "Kamu ... tahu tentang masalahku?"Haris tersenyum tipis dan menggenggam tanganku lebih erat. "Setelah kamu pergi, mereka mencarimu di dalam negeri

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 7

    "Kenapa kamu masih belum pulang?" tanyaku dengan terkejut."Aku tunggu kamu agar bisa sama-sama pergi makan camilan malam. Aku tahu kamu pasti lupa makan malam lagi," jawab Haris sambil menyampirkan mantel wol kasmir di bahuku.Saat itu, aku baru menyadari kopi di mejaku sudah dingin sepenuhnya dan dokumen di sampingnya sudah ditandatangani sampai menumpuk tinggi.Malam itu, Haris membawaku ke restoran terbaik di pusat kota. Dengan hujan yang turun deras, kami berjalan berdampingan di jalan berbatu. Dia memayungiku, sedangkan hujan diam-diam menumpuk di bahunya.Haris tiba-tiba berkata, "Kamu tahu nggak? Aku rasa kita boleh mencobanya."Aku langsung tertegun.Namun, Haris malah terus berjalan ke depan seperti tidak terjadi apa-apa, hanya meninggalkan jejak kaki yang samar-samar.Setelah itu, Haris mencarikan pengasuh bayi yang terbaik dan sering datang menemani putraku, Anton, bermain. Pria elite yang terlihat selalu rapi tanpa cela itu akan berbaring di karpet dan menemani anakku memb

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 6

    Air mata Yurike mengalir deras dan napasnya terengah-engah. "Aku benar-benar sakit ...."Melihat ekspresi Yurike yang merasa bersalah, ibuku langsung mengerti segalanya. "Kami memperlakukanmu seperti anak kandung dan kamu juga sudah menempati tempat orang lain selama dua puluhan tahun, kenapa masih nggak puas sampai harus memperlakukan Yuni seperti ini?"Yurike langsung panik. "Ma, aku nggak mau mati ... hanya Kak Yuni yang bisa menyelamatkanku.""Resep apa yang harus pakai darah anak kakakmu? Jelas-jelas kamu yang selama ini sengaja mengarahkan semua ini, jadi kami panik sampai bertindak tanpa pikir panjang," kata ayahku dengan tajam.Bobby berteriak dengan nada dingin, "Pengawal, kurung dia."Setelah itu, Bobby berkata dengan nada datar, "Kamu kan bilang kamu sakit dan akan mati dalam tiga hari ini tanpa darah janin kamu, jadi kita akan mengurungmu sampai racunmu kambuh dan mati."Kaki Yurike menjadi lemas. "Jangan! Papa, Mama, aku ini Yurike kalian. Kalian bilang kalian paling menya

  • Kematian yang Diharapankan Suamiku   Bab 5

    "Yuni .... Yuni dia ...."Orang pertama yang bereaksi adalah Bobby. Matanya langsung memerah. "Aku harus pergi mencari Yuni, ini pasti palsu.""Benar, benar. Bobby, kita pergi mencarinya sekarang juga. Anak sialan itu pandai sekali akting, kita pergi mencarinya sekarang juga."Bobby dan keluargaku mengerahkan semua tenaga dan sumber daya untuk mencariku. Namun, saat mereka menemukan gudang terbengkalai tempat aku pernah berada, mereka hanya melihat darah yang berceceran di lantai. Selain itu, ada sebuah jasad janin kecil dan mantelku yang berlumuran darah. Dia terpaku, lalu tubuhnya gemetar dan terus menggelengkan kepala. "Nggak ... ini bohong."Air mata Bobby mengalir tanpa suara dan merasa terpukul hingga tidak mampu berdiri. Dia jatuh ke lantai, lalu merangkak seperti anjing dan memeluk mantelku yang berlumuran darah itu."Kak Bobby!" teriak Yurike."Yuniku ... anakku ...," teriak Bobby dengan histeris sambil kembali berlari dan memeluk janin kecil itu.Yurike berlari maju dan menah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status