Share

Bab 3

Author: Wani
Orang tua Livia sudah menyiapkan meja penuh makanan. Melihatku kembali, ibu Livia menggenggam tanganku dengan gembira.

"Nicholas, proses pengurusan akta nikah secepat itu, ya? Kok Livia nggak ikut pulang bersamamu?"

"Dia ada urusan di kantor."

Ibu Livia menegur, "Dasar anak itu! Ini hari kalian mendaftarkan pernikahan. Dia bukannya kesampingkan dulu pekerjaannya."

Ayah Livia tertawa dan menimpali, "Fokus pada karier itu bagus. Lagian, mereka sudah menikah. Kita bisa makan keluarga kapan saja."

Ibu Livia masih menggerutu dan menunjukkan ketidakpuasannya.

Melihat pemandangan yang mengharukan ini, mataku berkaca-kaca.

"Paman, Bibi, aku dan Livia belum daftarkan pernikahan kami. Aku sudah selesaikan prosedur melanjutkan studi di luar negeri dan akan berangkat beberapa hari lagi."

Ibu Livia langsung terkejut.

"Kenapa kalian nggak daftarkan pernikahan kalian? Apa Livia menindasmu? Dia cuma keras kepala. Sebenarnya, dia sangat peduli padamu dan menyukaimu dari lubuk hatinya."

"Dulu, kamu bahkan belajar psikologi sendiri, juga selalu berada di sisinya sepanjang hari untuk pulihkan mentalnya. Kami bisa melihat ketulusanmu terhadapnya. Kalian berdua saling mencintai dan tentu saja harus bersama. Lagian, kamu juga tahu Edward bukan orang baik. Kita nggak boleh biarkan semuanya berjalan sesuai rencananya."

Ayah Livia buru-buru menambahkan, "Livia cuma keras kepala. Begitu kamu bersikeras mau menikah dengannya, dia pasti akan melunak."

Kata-kata ini terdengar familier. Mereka pernah mengatakan hal yang sama sebelumnya. Sayangnya, memaksakan keadaan hanya berujung pada penyesalan semua orang.

Aku menggenggam tangan ibu Livia dan berbisik, "Kalian tenang dulu dan dengarkan penjelasanku. Meski nggak mau mengakuinya, hubungan yang dipaksakan hanya akan buat semua orang terluka. Livia sebenarnya nggak pernah benar-benar mencintaiku."

"Semalam, aku mimpi aku dan Livia menikah, tapi dia nggak bersedia menemuiku. Setiap hari, dia bergadang di perusahaan sampai sakit maag. Dia nggak mau makan bubur yang kumasak untuknya, juga nggak izinkan aku merawatnya waktu dia sakit."

"Katanya, penderitaan yang kuberikan padanya lebih besar daripada kebahagiaan. Waktu berusia 30 tahun, dia bahkan mati ditabrak truk demi selamatkan aku."

Setelah berbicara sampai di sini, hatiku sangat sakit hingga aku hampir tidak bisa bernapas.

Ibu Livia terdiam. "Ini .... Tapi, itu cuma mimpi, Nicholas. Livia nggak akan berbuat begitu."

Aku terisak, lalu memaksakan senyum. "Paman, Bibi, mimpi itu pertanda. Menurutku, dia nggak harus menikah denganku. Kami nggak perlu jadi suami istri, tapi aku mau dia panjang umur dan sehat."

"Lagian, semuanya sebenarnya sudah ada polanya. Livia menyukai musik. Dia nggak suka berbisnis, juga benci mengikuti jalan hidup yang sudah ditentukan untuknya. Kalau dulu tangannya nggak terluka, dia nggak akan ambil jalan ini. Sekarang juga sama. Kalau bukan karena dijodohkan orang tua, dia nggak akan menikah denganku."

"Sumber masalahnya adalah aku, ini semua salahku. Aku nggak mau terus-menerus membuat kesalahan yang sama. Studiku di luar negeri sudah diurus. Aku akan selalu ingat kebaikan kalian. Kelak, aku juga akan berbakti pada kalian!"

Ibu Livia diam-diam menyeka air mata. "Kamu anak yang baik. Livia yang nggak cukup beruntung untuk menikah denganmu."

Aku memeluk mereka dan tersenyum dengan mata berkaca-kaca. "Nggak apa-apa. Meski nggak bisa jadi menantu, aku bisa jadi putra kalian. Aku juga akan merawat kalian di masa depan."

Ibu Livia akhirnya tersenyum di balik air matanya dan menyetujui permintaanku.

Aku teringat penyesalan kedua yang ditulis Livia di buku hariannya. Menurutku, penyesalan ini seharusnya sudah ditebus.

Mesin waktu hanya mengizinkanku tinggal di sini selama 36 jam. Sekarang, masih ada penyesalan terakhir yang harus kutebus. Akankah semuanya berjalan lancar?

Saat menjelang malam, aku pergi ke observatorium sendirian. Ini adalah tempat terbaik untuk melihat hujan meteor. Aku bersandar di pagar dan penantian samar muncul dalam hatiku.

Setelah menunggu entah berapa lama, pintu di belakangku tiba-tiba terbuka. Aku menoleh dengan gembira.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 9

    Kemudian, ketika hasilnya keluar, namaku ternyata ada di dalam daftar.Hari itu, aku menemui Livia di cafe dan bertanya, "Kamu yang bantu aku dalam hal ini? Kompensasi apa yang kamu berikan?"Dia menjawab, "Aku cuma berikan sedikit saham. Itu cuma masalah sepele kok. Kamu pantas mendapatkannya."Aku hampir tertawa saking kesalnya. Ini bukan masalah sepele. Sebelum melakukan hal-hal ini, dia seharusnya tidak meminta persetujuan pemegang saham lain.Livia berujar, "Semua itu nggak penting. Yang penting kamu senang. Gimanapun, kamu itu orang yang paling penting bagiku."Orang yang paling penting?Melihatku menatapnya lekat-lekat, telinga Livia agak memerah dan dia berdeham. "Dua hari yang lalu, aku melihatmu menyukai sebuah foto balap mobil. Aku sudah siapkan kejutan untukmu malam ini. Nanti ....""Livia," selaku dengan lembut. Melihat ekspresiku yang aneh, dia segera menjelaskan, "Kamu nggak suka balap mobil? Maaf, aku akan pergi dan mengatur ulang semuanya. Kamu pengen lihat apa, auror

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 8

    Namun, saat itu, aku yang telah mencintainya selama bertahun-tahun tidak merasakan emosi apa pun. Aku dengan tegas menolak pernyataan cintanya, lalu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi sendirian.Selama sepuluh tahun berikutnya, aku sepenuhnya mengabdikan diri pada studi dan karierku. Hidupku berjalan lancar. Setelah kembali dari luar negeri, aku menjadi profesor di universitas yang cukup terkenal di dalam negeri.Sementara itu, Livia yang sudah menemukan kejanggalan pada akta nikah itu segera pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan perceraian keesokan harinya. Hal ini sangat mengejutkanku. Untungnya, tindakannya itu tidak memengaruhi masa depanku. Aku diam-diam menghela napas lega.Dalam sepuluh tahun ini, Livia tidak pernah bertengkar denganku seperti sebelumnya. Berbagai macam sakit maag yang dialaminya di masa lain juga berhasil terhindarkan kali ini. Dibandingkan dengan sifatnya yang tidak suka diikat dulu, Livia yang sekarang lebih dewasa dan seperti seorang kaka

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 7

    Dalam rekaman suara itu, terdengar suara Edward yang penuh perhitungan dan provokasi. "Bibi, kamu kira dengan paksa Livia menikahi Nicholas, dia akan jatuh cinta pada Nicholas? Aku cuma perlu mengarang beberapa kebohongan dan dia akan langsung datang mencariku.""Dia percaya pada semua yang kukatakan tanpa ragu. Akulah satu-satunya yang dia cintai. Meski aku menggantungnya seumur hidup, dia juga bersedia menerimanya. Tapi, dia cuma cadanganku. Dibandingkan dengan cuma mencintai satu orang, aku lebih suka mencari sensasi dengan orang yang berbeda-beda."Ibu Livia mengumpat marah di telepon, "Dasar bajingan nggak tahu malu! Apa kamu nggak takut disambar petir?"Edward tertawa mengejek dan rekaman itu tiba-tiba berhenti.Livia pun terkejut. Ini sama sekali berbeda dari apa yang dia bayangkan.Ibu Livia menepuk-nepuk kepalanya dan berbicara dengan sungguh-sungguh, "Aku nggak tahu apa yang dia lakukan sampai kamu begitu terpikat padanya. Tapi, dia itu pria yang sangat licik dan bermuka dua.

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 6

    Termos itu jatuh ke lantai dan sup bergizi tumpah membasahi lantai. Selanjutnya, terdengar seruan marah Livia yang diselimuti rasa tidak percaya, "Apa katamu?"Jantungnya terasa seperti dihantam palu dan terasa sangat sakit.Livia memaksa diri untuk tenang dan segera melangkah menuju pintu. Tiba-tiba, kakinya lemas dan dia tersandung. Asistennya buru-buru menangkapnya."Di mana dia? Bawa aku menemuinya sekarang juga!"Asisten itu segera membawa Livia ke kamar rawat inap lain. Livia membuka pintu dengan kasar."Tunggu, Bu Livia. Kamu belum boleh masuk."Beberapa perawat mencoba menghentikannya, tetapi dia langsung mendorong mereka.Ketika sampai di samping tempat tidur, Livia menyingkap kain putih yang menutupi wajah orang itu dan seketika membeku."Dia ... bukan Nicholas?"Perawat yang bergegas masuk memberi penjelasan dengan wajah merah, "Orang ini kebetulan bernama sama dengan Pak Nicholas. Dia juga datang untuk mendonorkan darah hari ini. Karena berita kecelakaan mobil Pak Edward su

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 5

    Sekarang, kami akan segera berpisah dan jalan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kesalahpahaman seperti ini juga tak lagi penting.Saat ini, Livia berkata, "Aku sudah berjanji akan menonton hujan meteor bersamamu, tapi aku nggak menepati janji. Seingatku, kamu pernah bilang ingin pergi ke Durha. Aku akan temani kamu pergi berlibur di sana."Aku tidak menyangka dia mengingatnya dan merasa terkejut untuk sesaat. Kemudian, aku menggeleng untuk menolak. "Nggak perlu."Tidak seperti biasanya, Livia tidak mengatakan sesuatu yang sarkastik. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung memesan tiket untuk lima hari kemudian."Aku tahu kamu kesal sama aku. Aku sudah pesan tiketnya. Setelah kamu pulihkan diri beberapa hari lagi, kita akan pergi bulan madu.""Nggak perlu, Livia."Livia menatapku dan aku berkata pelan, "Kamu nggak perlu paksakan diri, juga jangan merasa bersalah. Ini utangku padamu."Kata-kata itu ditujukan untuk Livia, tetapi juga untuk diriku sendiri.Livia menyela dengan tidak sen

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 4

    "Livia, kamu sudah datang."Namun, Livia memasang ekspresi muram. Dia berjalan menghampiriku dengan mata dipenuhi amarah."Nicholas, cuma karena aku nggak antar kamu pulang dan pergi temani Edward, kamu malah ngadu ke orang tuaku? Kamu tahu nggak? Mereka menelepon dan memarahi Edward! Karena fokusnya terbagi, dia mengalami kecelakaan mobil waktu menyeberang jalan. Sekarang, dia mengalami pendarahan hebat dan hampir mati. Apa kamu sudah puas sekarang?"Aku pun terpaku di tempat.Di kehidupan lampau, Edward juga meninggal akibat pendarahan hebat setelah kecelakaan mobil. Persediaan darah di bank darah tidak cukup sehingga dia tidak berhasil diselamatkan tepat waktu. Jika sebelumnya Livia hanya bersikap sinis dan selalu menyindirku, setelah kejadian ini, dia akan sepenuhnya membenciku. Namun, kecelakaan ini seharusnya terjadi sebulan setelah pernikahan kami. Kenapa sekarang justru terjadi jauh lebih awal?Awalnya, aku masih berpikir bagaimana cara untuk menebus penyesalan ketiga Livia. S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status