Share

Bab 4

Author: Wani
"Livia, kamu sudah datang."

Namun, Livia memasang ekspresi muram. Dia berjalan menghampiriku dengan mata dipenuhi amarah.

"Nicholas, cuma karena aku nggak antar kamu pulang dan pergi temani Edward, kamu malah ngadu ke orang tuaku? Kamu tahu nggak? Mereka menelepon dan memarahi Edward! Karena fokusnya terbagi, dia mengalami kecelakaan mobil waktu menyeberang jalan. Sekarang, dia mengalami pendarahan hebat dan hampir mati. Apa kamu sudah puas sekarang?"

Aku pun terpaku di tempat.

Di kehidupan lampau, Edward juga meninggal akibat pendarahan hebat setelah kecelakaan mobil. Persediaan darah di bank darah tidak cukup sehingga dia tidak berhasil diselamatkan tepat waktu.

Jika sebelumnya Livia hanya bersikap sinis dan selalu menyindirku, setelah kejadian ini, dia akan sepenuhnya membenciku. Namun, kecelakaan ini seharusnya terjadi sebulan setelah pernikahan kami. Kenapa sekarang justru terjadi jauh lebih awal?

Awalnya, aku masih berpikir bagaimana cara untuk menebus penyesalan ketiga Livia. Sekarang, aku akhirnya memiliki kesempatan.

Aku menatapnya dan bertanya, "Jadi, kamu datang untuk minta aku mendonorkan darah untuknya?"

Mendengar ini, Livia terkejut sejenak, lalu tertawa marah. "Kamu pikir aku nggak berani? Ini utangmu padanya."

Dia menarik pergelangan tanganku dan menyeretku ke rumah sakit.

Di rumah sakit, aku segera mendonorkan 400 cc darah. Aku merasa sebagian besar kekuatanku seperti sudah terkuras dan merasa sangat lemah.

Para perawat mengerutkan kening. "Darah yang didonorkan Pak Nicholas ini masih belum cukup. Setidaknya, masih butuh sepuluh menit untuk mengalokasikan darah. Kami nggak tahu pasien ini mampu bertahan sampai saat itu atau nggak."

Aku menatap Livia. Pandangannya tertuju pada orang di ranjang rumah sakit. Ketika melihat wajah pucat Edward, matanya menunjukkan kesedihan yang tak tersembunyikan.

Perawat hendak melepaskan gelang ikat suntik dari lenganku, tetapi aku menahannya dengan pelan. "Perawat, tolong ambil 400 cc darahku lagi."

Perawat itu terkejut dan buru-buru menghentikanku. "Nggak bisa. Seseorang cuma boleh donorkan darah maksimal 400 cc per kali!"

Aku tersenyum. "Nggak apa-apa, aku akan pulih. Menyelamatkan nyawa orang adalah prioritas."

Dokter dari ruang gawat darurat bergegas keluar sambil berseru, "Darahnya nggak cukup! Cepat desak pihak penyedia darah! Pasien sudah hampir nggak bisa bertahan lagi!"

Aku mendesak perawat itu dan dia berkata dengan penuh rasa terima kasih, "Pak, kamu sangat baik. Pasien akan sangat berterima kasih kepadamu setelah sadar."

"Nicholas, kamu ...." Livia berujar, "Aku akan menebusnya."

Jarum tipis itu menusuk pembuluh darahku dan aku tersenyum tipis padanya. "Nggak apa-apa, aku melakukannya secara sukarela."

Livia telah mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkanku, sedangkan aku hanya melindungi orang yang dicintainya. Itu bukan apa-apa.

Namun, aku terlalu meremehkan konsekuensi dari mendonorkan terlalu banyak darah dan langsung pingsan. Ketika membuka mata lagi, aku mendapati diriku terbaring di ranjang pasien. Bekas tusukan jarum sebelumnya sudah dibalut kapas.

Livia tidak terlihat di mana pun. Semua staf medis sibuk dan tidak ada yang menyadari aku sudah tersadar di ranjang pasien.

Aku mendongak dan melirik jam dinding. Hanya satu jam lagi sebelum aku kembali ke masa lalu.

Televisi kecil di rumah sakit memutar ulang hujan meteor semalam yang terjadi hanya sekali dalam seabad. Hujan meteor itu indah. Sayangnya, aku melewatkannya lagi. Ternyata, keinginanku tak akan pernah terwujud.

Aku termenung sampai mendengar suara langkah kaki di sampingku, yang diikuti oleh suara Livia yang lelah namun gembira.

"Kamu sudah sadar, ya. Edward juga sudah sadar. Syukurlah kamu mendonorkan darah semalam."

Aku menoleh ke arahnya. "Baguslah."

Melihat wajahku yang pucat, dia tertegun sejenak sebelum berkata dengan canggung, "Terima kasih. Omonganku memang agak kasar semalam, tapi kamu nggak seharusnya mengadu. Dia nggak ada hubungannya dengan urusan kita."

Mendengar kata-katanya, hatiku terasa getir. Dia selalu salah paham padaku seperti ini. Jika itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, aku pasti akan buru-buru membela diri.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 9

    Kemudian, ketika hasilnya keluar, namaku ternyata ada di dalam daftar.Hari itu, aku menemui Livia di cafe dan bertanya, "Kamu yang bantu aku dalam hal ini? Kompensasi apa yang kamu berikan?"Dia menjawab, "Aku cuma berikan sedikit saham. Itu cuma masalah sepele kok. Kamu pantas mendapatkannya."Aku hampir tertawa saking kesalnya. Ini bukan masalah sepele. Sebelum melakukan hal-hal ini, dia seharusnya tidak meminta persetujuan pemegang saham lain.Livia berujar, "Semua itu nggak penting. Yang penting kamu senang. Gimanapun, kamu itu orang yang paling penting bagiku."Orang yang paling penting?Melihatku menatapnya lekat-lekat, telinga Livia agak memerah dan dia berdeham. "Dua hari yang lalu, aku melihatmu menyukai sebuah foto balap mobil. Aku sudah siapkan kejutan untukmu malam ini. Nanti ....""Livia," selaku dengan lembut. Melihat ekspresiku yang aneh, dia segera menjelaskan, "Kamu nggak suka balap mobil? Maaf, aku akan pergi dan mengatur ulang semuanya. Kamu pengen lihat apa, auror

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 8

    Namun, saat itu, aku yang telah mencintainya selama bertahun-tahun tidak merasakan emosi apa pun. Aku dengan tegas menolak pernyataan cintanya, lalu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi sendirian.Selama sepuluh tahun berikutnya, aku sepenuhnya mengabdikan diri pada studi dan karierku. Hidupku berjalan lancar. Setelah kembali dari luar negeri, aku menjadi profesor di universitas yang cukup terkenal di dalam negeri.Sementara itu, Livia yang sudah menemukan kejanggalan pada akta nikah itu segera pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan perceraian keesokan harinya. Hal ini sangat mengejutkanku. Untungnya, tindakannya itu tidak memengaruhi masa depanku. Aku diam-diam menghela napas lega.Dalam sepuluh tahun ini, Livia tidak pernah bertengkar denganku seperti sebelumnya. Berbagai macam sakit maag yang dialaminya di masa lain juga berhasil terhindarkan kali ini. Dibandingkan dengan sifatnya yang tidak suka diikat dulu, Livia yang sekarang lebih dewasa dan seperti seorang kaka

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 7

    Dalam rekaman suara itu, terdengar suara Edward yang penuh perhitungan dan provokasi. "Bibi, kamu kira dengan paksa Livia menikahi Nicholas, dia akan jatuh cinta pada Nicholas? Aku cuma perlu mengarang beberapa kebohongan dan dia akan langsung datang mencariku.""Dia percaya pada semua yang kukatakan tanpa ragu. Akulah satu-satunya yang dia cintai. Meski aku menggantungnya seumur hidup, dia juga bersedia menerimanya. Tapi, dia cuma cadanganku. Dibandingkan dengan cuma mencintai satu orang, aku lebih suka mencari sensasi dengan orang yang berbeda-beda."Ibu Livia mengumpat marah di telepon, "Dasar bajingan nggak tahu malu! Apa kamu nggak takut disambar petir?"Edward tertawa mengejek dan rekaman itu tiba-tiba berhenti.Livia pun terkejut. Ini sama sekali berbeda dari apa yang dia bayangkan.Ibu Livia menepuk-nepuk kepalanya dan berbicara dengan sungguh-sungguh, "Aku nggak tahu apa yang dia lakukan sampai kamu begitu terpikat padanya. Tapi, dia itu pria yang sangat licik dan bermuka dua.

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 6

    Termos itu jatuh ke lantai dan sup bergizi tumpah membasahi lantai. Selanjutnya, terdengar seruan marah Livia yang diselimuti rasa tidak percaya, "Apa katamu?"Jantungnya terasa seperti dihantam palu dan terasa sangat sakit.Livia memaksa diri untuk tenang dan segera melangkah menuju pintu. Tiba-tiba, kakinya lemas dan dia tersandung. Asistennya buru-buru menangkapnya."Di mana dia? Bawa aku menemuinya sekarang juga!"Asisten itu segera membawa Livia ke kamar rawat inap lain. Livia membuka pintu dengan kasar."Tunggu, Bu Livia. Kamu belum boleh masuk."Beberapa perawat mencoba menghentikannya, tetapi dia langsung mendorong mereka.Ketika sampai di samping tempat tidur, Livia menyingkap kain putih yang menutupi wajah orang itu dan seketika membeku."Dia ... bukan Nicholas?"Perawat yang bergegas masuk memberi penjelasan dengan wajah merah, "Orang ini kebetulan bernama sama dengan Pak Nicholas. Dia juga datang untuk mendonorkan darah hari ini. Karena berita kecelakaan mobil Pak Edward su

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 5

    Sekarang, kami akan segera berpisah dan jalan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kesalahpahaman seperti ini juga tak lagi penting.Saat ini, Livia berkata, "Aku sudah berjanji akan menonton hujan meteor bersamamu, tapi aku nggak menepati janji. Seingatku, kamu pernah bilang ingin pergi ke Durha. Aku akan temani kamu pergi berlibur di sana."Aku tidak menyangka dia mengingatnya dan merasa terkejut untuk sesaat. Kemudian, aku menggeleng untuk menolak. "Nggak perlu."Tidak seperti biasanya, Livia tidak mengatakan sesuatu yang sarkastik. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung memesan tiket untuk lima hari kemudian."Aku tahu kamu kesal sama aku. Aku sudah pesan tiketnya. Setelah kamu pulihkan diri beberapa hari lagi, kita akan pergi bulan madu.""Nggak perlu, Livia."Livia menatapku dan aku berkata pelan, "Kamu nggak perlu paksakan diri, juga jangan merasa bersalah. Ini utangku padamu."Kata-kata itu ditujukan untuk Livia, tetapi juga untuk diriku sendiri.Livia menyela dengan tidak sen

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 4

    "Livia, kamu sudah datang."Namun, Livia memasang ekspresi muram. Dia berjalan menghampiriku dengan mata dipenuhi amarah."Nicholas, cuma karena aku nggak antar kamu pulang dan pergi temani Edward, kamu malah ngadu ke orang tuaku? Kamu tahu nggak? Mereka menelepon dan memarahi Edward! Karena fokusnya terbagi, dia mengalami kecelakaan mobil waktu menyeberang jalan. Sekarang, dia mengalami pendarahan hebat dan hampir mati. Apa kamu sudah puas sekarang?"Aku pun terpaku di tempat.Di kehidupan lampau, Edward juga meninggal akibat pendarahan hebat setelah kecelakaan mobil. Persediaan darah di bank darah tidak cukup sehingga dia tidak berhasil diselamatkan tepat waktu. Jika sebelumnya Livia hanya bersikap sinis dan selalu menyindirku, setelah kejadian ini, dia akan sepenuhnya membenciku. Namun, kecelakaan ini seharusnya terjadi sebulan setelah pernikahan kami. Kenapa sekarang justru terjadi jauh lebih awal?Awalnya, aku masih berpikir bagaimana cara untuk menebus penyesalan ketiga Livia. S

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status