Short
Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku

Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku

By:  WaniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
5views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Setelah cinta pertamanya meninggal, Livia membenciku selama sepuluh tahun. Aku mencoba segala cara untuk bersikap baik padanya, tetapi dia hanya mencibir, "Kalau kamu benar-benar ingin menyenangkanku, lebih baik kamu mati saja." Hatiku terasa sakit. Namun, ketika truk melaju ke arah kami, dia malah meninggal di genangan darah demi menyelamatkanku. Sebelum meninggal, dia menatapku dalam-dalam. "Andai saja ... aku nggak pernah ketemu kamu." Di pemakaman, ibu mertuaku sangat terpukul. "Dulu, aku seharusnya biarkan Livia dan Edward bersama, bukannya paksa dia menikahimu!" Ayah mertuaku juga membenciku. "Livia sudah selamatkan kamu tiga kali! Dia orang yang begitu baik. Kenapa yang mati bukan kamu!" Semua orang menyesal Livia menikahiku, termasuk aku. Aku diusir dari pemakaman dan merasa patah hati. Tiga tahun kemudian, sebuah mesin waktu muncul entah dari mana. Aku pun kembali ke masa lalu. Kali ini, aku memilih untuk memutuskan semua hubungan dengan Livia dan mengabulkan keinginan semua orang.

View More

Chapter 1

Bab 1

Mesin waktu itu memancarkan cahaya yang sangat menyilaukan. Aku memejamkan mata rapat-rapat, tetapi tiba-tiba mendengar suara ejekan Livia.

"Orang tuaku mengancam mau bunuh diri demi paksa aku menikahimu. Nicholas, kamu memang hebat. Tapi meski kita menikah, apa yang bisa kamu dapatkan? Apa kamu benar-benar berpikir kita bisa bahagia?"

Tiba-tiba, aku membuka mata dan melihat Livia yang masih hidup berdiri di hadapanku. Dia mengenakan gaun panjang yang elegan dan rambutnya diikat kucir kuda yang tinggi. Dia memancarkan energi muda, tetapi matanya dipenuhi ejekan yang tak dapat ditutupi.

Livia di masa depan memiliki sifat dewasa, dingin, dan sulit didekati. Sementara itu, Livia saat ini masih polos, ceria, dan bahkan sedikit lincah.

Melihat ini, hidungku terasa perih.

Mesin waktu itu benar-benar membawaku kembali ke masa lalu. Sayangnya, mesin itu sepertinya bermasalah. Aku tidak kembali ke pertemuan pertama kami, melainkan kembali ke sepuluh tahun yang lalu, hari di mana aku dan Livia akan segera menikah.

Untungnya, pada saat ini, masih ada kesempatan untuk mengubah keadaan.

Aku menekan kepahitan di hatiku dan menatapnya dengan penuh perasaan. "Livia, kamu nggak mau nikah denganku karena orang yang benar-benar ingin kamu nikahi adalah Edward, 'kan?"

Mungkin karena aku telah menyentuh titik sensitifnya, tubuhnya tiba-tiba menegang dan dia menatapku dengan dingin. "Memangnya kenapa kalau benar begitu? Kita sudah berdiri di depan pintu masuk Kantor Catatan Sipil. Apa masih sempat untuk berubah pikiran?"

Aku mengangguk jujur. "Sempat."

Livia mencibir, "Aku nggak punya waktu untuk main-main denganmu. Cepat tanda tangani semua dokumennya, lalu ambil akta nikahnya. Kutunggu kamu di luar."

Melihat sosoknya yang menjauh, hatiku terasa sakit seperti ditusuk jarum yang tajam.

Aku telah mencintai Livia selama bertahun-tahun, baik di kehidupan lampau maupun kehidupan sekarang. Dia pernah mempertaruhkan nyawanya dua kali untuk menyelamatkanku. Aku salah mengira bahwa dia juga diam-diam menyukaiku.

Orang tua Livia juga menasihatiku, "Livia berhati lembut, tapi keras kepala. Kalau dia nggak mencintaimu, buat apa dia pertaruhkan nyawanya untuk selamatkan kamu sampai dua kali?"

Aku memercayainya dan mempersiapkan diri untuk menikahinya dengan gembira. Sampai cinta pertamanya meninggal, aku baru yakin bahwa dia mencintai orang lain.

Kata-kata terakhirnya yang mengungkapkan keengganannya untuk bertemu denganku sudah sepenuhnya menghancurkanku. Sepuluh tahun cintaku adalah siksaan baginya.

Sebelum memutar mesin waktu, biksu agung itu berkata bahwa aku baru dapat memutuskan ikatan burukku dengan Livia dengan memenuhi tiga penyesalannya. Dia tidak akan mati pada usia 30 tahun lagi karena aku. Mulai saat itu, aku dan dia akan memiliki jalan hidup mulus masing-masing.

Aku menunduk dan menulis nama Edward di formulir aplikasi pernikahan. Aku ingat jelas tiga penyesalan yang Livia tulis di buku hariannya.

[ Menyesal menikahi Nicholas, menyesal tidak menentang perjodohan yang diaturkan orang tuaku, menyesal tidak menyelamatkan Edward. ]

Sekarang, penyesalan pertamanya telah terpenuhi.

Aku keluar dengan membawa dua akta nikah. Livia sedang berdiri di depan pintu untuk menungguku. Dia secara refleks mengambil akta nikah dari tanganku dan mencoba melihatnya. Namun, aku menahan tangannya.
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status