Share

Bab 5

Author: Wani
Sekarang, kami akan segera berpisah dan jalan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kesalahpahaman seperti ini juga tak lagi penting.

Saat ini, Livia berkata, "Aku sudah berjanji akan menonton hujan meteor bersamamu, tapi aku nggak menepati janji. Seingatku, kamu pernah bilang ingin pergi ke Durha. Aku akan temani kamu pergi berlibur di sana."

Aku tidak menyangka dia mengingatnya dan merasa terkejut untuk sesaat. Kemudian, aku menggeleng untuk menolak. "Nggak perlu."

Tidak seperti biasanya, Livia tidak mengatakan sesuatu yang sarkastik. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung memesan tiket untuk lima hari kemudian.

"Aku tahu kamu kesal sama aku. Aku sudah pesan tiketnya. Setelah kamu pulihkan diri beberapa hari lagi, kita akan pergi bulan madu."

"Nggak perlu, Livia."

Livia menatapku dan aku berkata pelan, "Kamu nggak perlu paksakan diri, juga jangan merasa bersalah. Ini utangku padamu."

Kata-kata itu ditujukan untuk Livia, tetapi juga untuk diriku sendiri.

Livia menyela dengan tidak senang, "Apa maksudmu?"

Aku tidak menjawab lagi dan suasananya menjadi hening.

Livia berbalik dan mengambil cangkir untuk menuangkan air hangat untukku. Aku melihat tangannya gemetar tak terkendali. Hari ini pasti hujan sehingga luka lamanya kambuh lagi.

Kenangan dan kesedihan langsung membanjiri pikiranku. Aku bertanya padanya, "Apa kamu menyesal jadi begini demi selamatkan aku?"

Livia menunduk dan meletakkan gelas itu di depanku. Rambutnya menutupi mata dan alisnya. Dia menjawab, "Nggak. Meski itu orang lain, aku akan tetap selamatkan dia."

"Waktu gempa bumi juga sama?"

Aku melihat jari-jarinya sedikit menegang saat menjawab, "Ya. Siapa pun itu, aku akan selamatkan dia."

Ternyata dia memang adalah orang yang lembut dan baik hati.

Aku tersenyum, tetapi mataku menyimpan kesedihan yang tak terhapuskan.

"Terima kasih, Livia. Kamu benar-benar orang yang baik. Dulu, aku malah balas air susu dengan air tuba. Aku berpegang teguh padamu dan menolak untuk melepaskanmu. Kamu pasti sangat menderita, 'kan?"

Dia adalah orang yang begitu baik, tetapi aku malah membuatnya tersiksa selama sepuluh tahun. Pada akhirnya, dia juga meninggal demi menyelamatkanku. Aku benar-benar adalah malapetaka baginya.

Melihat air mataku, secercah kepanikan yang jarang terlihat tiba-tiba muncul di mata Livia. "Omong kosong apa yang kamu bicarakan? Aku ...."

Pada saat ini, sekretarisnya bergegas datang.

"Bu Livia, Pak Edward sudah bangun!"

"Aku temui dia dulu." Livia sangat gembira dan segera berbalik untuk pergi. Namun, aku memanggilnya dengan pelan. Dia menoleh dan aku menatapnya sambil tersenyum hangat.

"Maaf, Livia. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu mulai sekarang. Semoga semua keinginanmu menjadi kenyataan."

Dia bisa merasakan kejanggalanku. "Kenapa kamu tiba-tiba ucapkan kata-kata perpisahan? Aku cuma pergi temui Edward. Ada yang mau kukatakan padamu. Tunggu aku kembali."

Setelah itu, dia berbalik dan pergi.

Hanya kurang dari setengah jam sebelum aku kembali ke masaku. Aku mencabut jarum infus dari lenganku, lalu bangkit dan berjalan keluar dari rumah sakit.

Setelah mengunjungi Edward, Livia kembali ke kamar rawat inapku dengan membawa sup bergizi. Namun, ruangan itu kosong. Livia dengan ragu memanggil namaku beberapa kali, tetapi tidak ada jawaban.

Rasa gelisah yang aneh muncul dalam hati Livia. Dia secara refleks mengeluarkan ponselnya dan hendak menghubungi nomorku. Namun, sekretarisnya berlari masuk dengan tergesa-gesa.

"Bu Livia, sudah terjadi sesuatu yang buruk!" Sekretaris itu berseru dengan terengah-engah, "Sepuluh menit yang lalu, Pak Nicholas mengalami kecelakaan mobil dan menderita pendarahan hebat. Sayangnya, darah di bank darah rumah sakit nggak cukup. Pak Nicholas ... nggak berhasil diselamatkan dan sudah meninggal."
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 9

    Kemudian, ketika hasilnya keluar, namaku ternyata ada di dalam daftar.Hari itu, aku menemui Livia di cafe dan bertanya, "Kamu yang bantu aku dalam hal ini? Kompensasi apa yang kamu berikan?"Dia menjawab, "Aku cuma berikan sedikit saham. Itu cuma masalah sepele kok. Kamu pantas mendapatkannya."Aku hampir tertawa saking kesalnya. Ini bukan masalah sepele. Sebelum melakukan hal-hal ini, dia seharusnya tidak meminta persetujuan pemegang saham lain.Livia berujar, "Semua itu nggak penting. Yang penting kamu senang. Gimanapun, kamu itu orang yang paling penting bagiku."Orang yang paling penting?Melihatku menatapnya lekat-lekat, telinga Livia agak memerah dan dia berdeham. "Dua hari yang lalu, aku melihatmu menyukai sebuah foto balap mobil. Aku sudah siapkan kejutan untukmu malam ini. Nanti ....""Livia," selaku dengan lembut. Melihat ekspresiku yang aneh, dia segera menjelaskan, "Kamu nggak suka balap mobil? Maaf, aku akan pergi dan mengatur ulang semuanya. Kamu pengen lihat apa, auror

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 8

    Namun, saat itu, aku yang telah mencintainya selama bertahun-tahun tidak merasakan emosi apa pun. Aku dengan tegas menolak pernyataan cintanya, lalu pergi ke luar negeri untuk melanjutkan studi sendirian.Selama sepuluh tahun berikutnya, aku sepenuhnya mengabdikan diri pada studi dan karierku. Hidupku berjalan lancar. Setelah kembali dari luar negeri, aku menjadi profesor di universitas yang cukup terkenal di dalam negeri.Sementara itu, Livia yang sudah menemukan kejanggalan pada akta nikah itu segera pergi ke Kantor Catatan Sipil untuk mengajukan perceraian keesokan harinya. Hal ini sangat mengejutkanku. Untungnya, tindakannya itu tidak memengaruhi masa depanku. Aku diam-diam menghela napas lega.Dalam sepuluh tahun ini, Livia tidak pernah bertengkar denganku seperti sebelumnya. Berbagai macam sakit maag yang dialaminya di masa lain juga berhasil terhindarkan kali ini. Dibandingkan dengan sifatnya yang tidak suka diikat dulu, Livia yang sekarang lebih dewasa dan seperti seorang kaka

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 7

    Dalam rekaman suara itu, terdengar suara Edward yang penuh perhitungan dan provokasi. "Bibi, kamu kira dengan paksa Livia menikahi Nicholas, dia akan jatuh cinta pada Nicholas? Aku cuma perlu mengarang beberapa kebohongan dan dia akan langsung datang mencariku.""Dia percaya pada semua yang kukatakan tanpa ragu. Akulah satu-satunya yang dia cintai. Meski aku menggantungnya seumur hidup, dia juga bersedia menerimanya. Tapi, dia cuma cadanganku. Dibandingkan dengan cuma mencintai satu orang, aku lebih suka mencari sensasi dengan orang yang berbeda-beda."Ibu Livia mengumpat marah di telepon, "Dasar bajingan nggak tahu malu! Apa kamu nggak takut disambar petir?"Edward tertawa mengejek dan rekaman itu tiba-tiba berhenti.Livia pun terkejut. Ini sama sekali berbeda dari apa yang dia bayangkan.Ibu Livia menepuk-nepuk kepalanya dan berbicara dengan sungguh-sungguh, "Aku nggak tahu apa yang dia lakukan sampai kamu begitu terpikat padanya. Tapi, dia itu pria yang sangat licik dan bermuka dua.

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 6

    Termos itu jatuh ke lantai dan sup bergizi tumpah membasahi lantai. Selanjutnya, terdengar seruan marah Livia yang diselimuti rasa tidak percaya, "Apa katamu?"Jantungnya terasa seperti dihantam palu dan terasa sangat sakit.Livia memaksa diri untuk tenang dan segera melangkah menuju pintu. Tiba-tiba, kakinya lemas dan dia tersandung. Asistennya buru-buru menangkapnya."Di mana dia? Bawa aku menemuinya sekarang juga!"Asisten itu segera membawa Livia ke kamar rawat inap lain. Livia membuka pintu dengan kasar."Tunggu, Bu Livia. Kamu belum boleh masuk."Beberapa perawat mencoba menghentikannya, tetapi dia langsung mendorong mereka.Ketika sampai di samping tempat tidur, Livia menyingkap kain putih yang menutupi wajah orang itu dan seketika membeku."Dia ... bukan Nicholas?"Perawat yang bergegas masuk memberi penjelasan dengan wajah merah, "Orang ini kebetulan bernama sama dengan Pak Nicholas. Dia juga datang untuk mendonorkan darah hari ini. Karena berita kecelakaan mobil Pak Edward su

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 5

    Sekarang, kami akan segera berpisah dan jalan kami tidak akan pernah bertemu lagi. Kesalahpahaman seperti ini juga tak lagi penting.Saat ini, Livia berkata, "Aku sudah berjanji akan menonton hujan meteor bersamamu, tapi aku nggak menepati janji. Seingatku, kamu pernah bilang ingin pergi ke Durha. Aku akan temani kamu pergi berlibur di sana."Aku tidak menyangka dia mengingatnya dan merasa terkejut untuk sesaat. Kemudian, aku menggeleng untuk menolak. "Nggak perlu."Tidak seperti biasanya, Livia tidak mengatakan sesuatu yang sarkastik. Dia mengeluarkan ponselnya dan langsung memesan tiket untuk lima hari kemudian."Aku tahu kamu kesal sama aku. Aku sudah pesan tiketnya. Setelah kamu pulihkan diri beberapa hari lagi, kita akan pergi bulan madu.""Nggak perlu, Livia."Livia menatapku dan aku berkata pelan, "Kamu nggak perlu paksakan diri, juga jangan merasa bersalah. Ini utangku padamu."Kata-kata itu ditujukan untuk Livia, tetapi juga untuk diriku sendiri.Livia menyela dengan tidak sen

  • Kembali ke Masa Lalu dan Melepaskan Cintaku   Bab 4

    "Livia, kamu sudah datang."Namun, Livia memasang ekspresi muram. Dia berjalan menghampiriku dengan mata dipenuhi amarah."Nicholas, cuma karena aku nggak antar kamu pulang dan pergi temani Edward, kamu malah ngadu ke orang tuaku? Kamu tahu nggak? Mereka menelepon dan memarahi Edward! Karena fokusnya terbagi, dia mengalami kecelakaan mobil waktu menyeberang jalan. Sekarang, dia mengalami pendarahan hebat dan hampir mati. Apa kamu sudah puas sekarang?"Aku pun terpaku di tempat.Di kehidupan lampau, Edward juga meninggal akibat pendarahan hebat setelah kecelakaan mobil. Persediaan darah di bank darah tidak cukup sehingga dia tidak berhasil diselamatkan tepat waktu. Jika sebelumnya Livia hanya bersikap sinis dan selalu menyindirku, setelah kejadian ini, dia akan sepenuhnya membenciku. Namun, kecelakaan ini seharusnya terjadi sebulan setelah pernikahan kami. Kenapa sekarang justru terjadi jauh lebih awal?Awalnya, aku masih berpikir bagaimana cara untuk menebus penyesalan ketiga Livia. S

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status