Share

Langit Senja

Author: Melody
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-12 11:27:02

"Saya setuju dengan usul Pak Rino," ucap Adit setelah Nayla menceritakan semua padanya.

Nayla menoleh pada Adit. Dia selalu percaya dengan Adit, dia berharap kali ini Adit akan punya pandangan atau masukan yang berbeda.

"Semuanya Mas?" tanya Nayla memastikan.

"Iya. Mungkin kamu memikirkan perasaan Widya dan Tante Inge. Tapi bukankah menyimpan rahasia ini sama saja dengan membohongi mereka? Saya rasa mereka berhak tahu."

Nayla hanya mendengarkan. Mereka memilih untuk duduk di sebuah restoran ou
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Kembali untuk Bertemu   Langit Senja

    "Saya setuju dengan usul Pak Rino," ucap Adit setelah Nayla menceritakan semua padanya. Nayla menoleh pada Adit. Dia selalu percaya dengan Adit, dia berharap kali ini Adit akan punya pandangan atau masukan yang berbeda."Semuanya Mas?" tanya Nayla memastikan."Iya. Mungkin kamu memikirkan perasaan Widya dan Tante Inge. Tapi bukankah menyimpan rahasia ini sama saja dengan membohongi mereka? Saya rasa mereka berhak tahu."Nayla hanya mendengarkan. Mereka memilih untuk duduk di sebuah restoran outdoor dengan pemandangan kota, yang cocok menemani di sore hari. "Mengenai Elevation, saya juga setuju. Saya yakin kamu bisa mengurus Elevation dengan sangat baik nantinya," lanjut Adit. "Mengenai sekolah lagi..." Adit menyeruput kopi di hadapannya sebelum melanjutkan kata-katanya. Nayla menunggu sambil ikut menyeruput teh yang dipesannya. "Saya juga setuju, walaupun saya akan merasa kehilangan kamu," ucap Adit sambil menatap Nayla lekat-lekat, sampai membuat Nayla salah tingkah. Adit tersen

  • Kembali untuk Bertemu   Tidak Semua Rahasia Harus Disimpan

    Nayla berjalan perlahan mendekati tempat tidur dimana Rino berbaring. Rino menoleh pelan untuk melihat siapakah yang datang menjenguknya. "Nayla?" panggil Rino pelan. Nayla berjalan mendekat dan mengambil tempat duduk di sebelah ranjang rumah sakit itu. "Bagaimana kondisinya, Pak?" tanya Nayla."Sudah lebih baik. Terimakasih sudah datang kesini, Nak."Nayla tersentak saat mendengar panggilan Rino padanya. Sewaktu kecil dia selalu iri saat melihat teman-temannya menghabiskan waktu bersama Ayah mereka. Dia selalu membayangkan seperti apa rasanya punya ayah kandung yang akan menyanyanginya. Tiba-tiba air matanya menetes tanpa bisa ditahan. "Maafkan Bapak ya, Nay," ucap Rino lagi, walaupun dia tahu seribu permintaan maaf tidak akan bisa menyembuhkan luka dalam hati Nayla.Nayla mengangguk pelan, lalu berdiri dan memeluk Rino sambil menangis tersedu-sedu. Rino membalas pelukan itu dengan mengusap lembut kepala Nayla. Air mata Rino ikut menetes. Dia sadar betapa pahit hidup yang sudah d

  • Kembali untuk Bertemu   Menjadi Dewasa

    Keesokan harinya Nayla datang ke Elevation. Setelah beberapa hari tidak terlihat, kehadirannya sontak menarik perhatian semua orang."Nay! Kemana aja sih lo? Sakit ya?" Willy langsung menghampiri Nayla begitu melihatnya. Nayla tersenyum. "Gak kok, Wil. Habis ada urusan sekalian ngabisin cuti."Jujur di dalam hatinya Nayla begitu merindukan suasana kantor, dan semua interaksi dengan rekan-rekannya."Jadi hari ini udah balik kerja lagi kan? Udah numpuk banget Nay kerjaan lo pasti," timpal Novi yang ikut menghampiri Nayla."Gue mau ketemu Mas Adit dulu ya," pamit Nayla."Ya udah gih Mas Adit juga baru sampe," ucap Willy.Dia sadar ada yang aneh dengan Nayla. Sebagai teman yang mengenal Nayla sejak hari pertama, dia bisa merasakan gerak-gerik yang tidak biasa. Namun dia tidak mau bertanya apapun, dia yakin Nayla akan menceritakan padanya nanti.Nayla langsung berjalan menuju ruangan Adit, yang terletak di sebelah ruangannya dengan Widya. Hatinya terasa sesak saat melihat ruangan itu. Dia

  • Kembali untuk Bertemu   Ketakutan dan Penyesalan

    Adit langsung berlari kencang menuju ruang ICU setelah memarkir mobilnya. Sampai disana terlihat Widya dan Mamanya, Inge, yang sedang terduduk lemas dengan mata sembab. "Tante, Widya, gimana kondisi Pak Rino?" tanya Adit sambil berjalan mendekati mereka berdua. "Mas..." Widya tidak sanggup menahan tangisnya ketika melihat Adit. Setelah bekerja lama di Elevation dan menjadi orang kepercayaan Rino, Adit sudah seperti keluarga bagi mereka. Baik Widya maupun Inge sudah mengenal Adit dengan baik. Saat ada kejadian seperti ini, Adit menjadi orang pertama yang mereka hubungi."Papa belum sadar, Mas," isak Widya. Melihat Widya yang nangis tersedu-sedu, Adit langsung memeluk Widya dan menenangkannya.Tidak lama kemudian dokter keluar dari ruangannya diikuti dengan suster yang dan juga Rino yang masih terbaring lemah diatas tempat tidur. "Gimana Dok kondisi suami saya?" tanya Inge dengan wajah khawatir."Jantungnya melemah, jadi untuk saat ini lebih baik dirawat secara intensif dulu.

  • Kembali untuk Bertemu   Penyesalan Selalu Datang Terlambat

    "Jadi kamu punya hubungan apa sama Adit?" Nugie tidak mau berbasa-basi lagi. Begitu sampai di sebuah taman kota, mereka duduk disana untuk berbincang. "Gak ada hubungan apa-apa. Mas Adit gak ada hubungannya sama berakhirnya hubungan kita," jawab Nayla tenang."Terus apa yang aku lihat tadi? Apa wajar dua orang jalan seperti itu kalau gak punya hubungan spesial?"Nayla mengela nafas. "Benar kan dia itu suka sama kamu?" Nugie terus mencecar Nayla dengan pertanyaannya."Oke, kamu benar. Mas Adit suka sama aku. Tapi dia gak pernah ngomong apapun sampai tahu kita berdua udah putus.""Kamu juga suka sama dia?" kali ini suara Nugie terdengar sedikit bergetar menahan sedih."Aku gak tau, aku gak bisa jawab soal itu." Mereka berdua terdiam sejenak. Nayla sendiri memang masih belum yakin dengan perasaannya. Apakah dia benar-benar suka dengan Adit? Atau hanya terbawa suasana sejenak? Memang sejak awal dia merasa nyaman dekat dengan Adit, tapi apakah itu perasaan suka?"Maaf ya Gie kalau aku u

  • Kembali untuk Bertemu   Diantara Dua Pilihan

    Adit memutuskan untuk menemani Nayla hari itu, dia sudah ijin dengan Rino untuk tidak kembali ke kantor. Mereka berdua hanya berjalan menyelusuri taman, tanpa berbicara sepatah kata pun. Adit tahu dia hanya perlu menemani Nayla, yang akan bercerita jika memang dia sudah siap. Setelah berjalan-jalan cukup lama, mereka akhirnya duduk di salah satu sisi taman. Beruntung hari itu cuaca sedang mendung dan berangin. Adit hanya diam, tidak ingin bertanya apa yang Nayla bicarakan dengan Rino, namun tangannya terus menggenggam tangan Nayla. Itu caranya memberitahu Nayla dia ada dan siap untuk mendengarkan kapan saja. "Aku aneh ya, Mas?" tanya Nayla sambil menatap pada Adit."Maksud kamu?" Adit tampak bingung dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Nayla."Aku pikir aku akan marah besar jika kelak bertemu dengan Ayah aku. Setelah aku tahu Pak Rino adalah Ayah aku, aku marah sampai gak bisa berkata-kata. Rasanya cuma bisa nangis karena sesak banget," ucap Nayla sambil menatap jauh ke depan.

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status