Chapter: Bayangan Masa LaluBegitu sampai di rumah, dia langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan nangis sejadi-jadinya. Karena tau harinya sudah rusak dan tidak mungkin kembali ke kantor, dia hanya mengirimkan pesan pada Adit untuk ijin karena tidak enak badan. Setelah puas menangis selama setengah jam dia akhirnya terduduk di tempat tidurnya dengan mata sembap gak karuan. Dia mengambil buku hariannya di laci sebelah tempat tidurnya. Dia ingin menumpahkan semua kekesalannya, dan buku itu adalah satu-satunya tempat. Menulis di buku itu baginya seperti sedang bercerita pada Ibunya, dan untuk masalah ini dia hanya bisa menumpahkan pada Ibunya. Nayla terdiam sejenak saat memegang buku itu. Buku kecil yang cukup tebal, mirip agenda, berwarna merah muda. Dia kemudian sadar bahwa sudah cukup lama dia tidak membaca buku itu.Kesibukannya di kantor berhasil mengalihkan dia dari masa lalunya. Tapi tidak untuk saat ini, dia membutuhkan buku itu. Dia kemudian mengambil sebuah pulpen dan mulai menulis.Bu, hari
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-29
Chapter: Hello Again, Jakarta“Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya. “Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan. Nayla mengangguk sambil tersenyum. Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru. “Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel. “Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla. “Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri.
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Pertemuan PertamaLima tahun cukup lama untuk membuat Nayla merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Rasanya banyak sekali pembangunan di Jakarta sampai-sampai dia tidak lagi mengenali kota itu, banyak sekali perubahannya. Dengan taksi online Nayla menuju ke kantor Nugie Hermawan. Hari ini adalah hari penting untuknya. Sambil menikmati pemandangan kota, Nayla mengeluarkan notes kecil berisi list pertanyaan yang dia buat kemarin bersama Willy.Dia membaca ulang beberapa kali untuk memastikan semua pertanyaan itu sudah tepat dan tidak ada yang terlewatkan. Walaupun lawan bicaranya nanti katanya masih muda dan baru memulai karir, tapi tetap saja Nayla gugup bukan main karena ini pertama kalinya dia mewawancarai seseorang, sekalipun bukan orang terkenal. Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah ruko di area perkantoran Jakarta Selatan. Setelah memastikan itu ruko yang tepat, Nayla pun turun dari mobil dengan tangan yang mulai keringat dingin dan jantung yang berdegup semakin cepat. D
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Lembaran BaruNayla melirik ke jam kecil disebelah tempat tidurnya, pukul 23.00 WIB, dan dia masih belum berhasil untuk tidur. Hari ini terlalu menyenangkan untuknya. Wawancara pertamanya berhasil. Selain itu dia juga bertemu dengan Om Iwan dan Tante Ina lagi, sepasang suami istri yang membiayai kuliahnya ke London. Sepulang dari kantor Nugie, Nayla mampir sejenak ke rumah mereka yang tidak jauh dari sana. Mereka bertiga pun berbagi begitu banyak cerita. Hatinya terasa bahagia.Nayla kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci di dekat tempat tidurnya. Dia mulai menulis di buku itu.Hai, Bu. Apa kabar? Disana pasti indah dan menyenangkan ya. Aku sudah pulang ke rumah kita Bu. Disini rasanya sepi sekali tanpa Ibu.Aku mau cerita, Bu. Aku sekarang udah jadi jurnalis di majalah besar, tadi habis wawancara orang. Rasanya menyenangkan, aku harap Ibu bangga sama aku ya. Rasanya masih kayak mimpi hidupku bisa seperti sekarang, tapi rasanya ada yang kurang karena aku gak bisa menikmati kebahagiaan
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: KeberuntunganTeman-teman kantornya sudah mulai pulang satu per satu, namun Nayla masih terus berkutik dengan laptop dan beberapa majalah di tangannya. Dia melirik jam dinding dihadapannya, menunjukkan pukul 17.00. Memang sudah jam pulang kantor. Tapi Nayla masih betah dan asik dengan apa yang dikerjakannya, dia tau harus banyak belajar untuk bisa berkontribusi banyak Elevation.“Belum pulang?” suara Adit mengejutkan Nayla.“Eh Mas Adit. Belum nih, masih sore, nanti saja.”“Semangat kerja ya?” canda Adit.“Ya habis dirumah juga gak ada kerjaan, Mas,” jawab Nayla sambil tertawa kecil. “Aku lagi lihat-lihat Elevation edisi yang lalu-lalu, pengen pelajarin lebih. Sama pelajarin majalah saingannya Elevation juga, pengen tahu apa yang bikin dia bisa mencuri perhatian pasar.” lanjut Nayla sambil memperlihatkan tumpukan majalah di mejanya.“Lulusan luar memang beda ya. Ayo ikut saya, kita makan malam sambil ngobrol soal ide-ide baru. Mungkin kamu bisa kasih masukan ide segar seperti yang diinginkan Pak
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27
Chapter: Artikel PertamaEntah mengapa matahari pagi itu sangat menarik baginya. Nugie pun membuka gorden kamarnya untuk menikmati keindahan taman belakang rumahnya yang hampir tidak pernah dia lihat. Taman itu memang indah karena selalu dirawat oleh Mamanya yang pecinta tanaman. Ada juga kolam ikan kecil yang menjadi kesukaan Papanya. Bisa dibilang taman itu ada perpaduan antara kedua orangtuanya yang dijadikan satu. Tiba-tiba bunyi ponselnya mengalihkan perhatiannya dari taman itu. Ada sebuah pesan masuk.Gie, majalahnya udah terbit, aku kirimin satu ya ke kantor.Wajahnya langsung tersenyum menerima pesan singkat itu.Oke Nay, aku tunggu. Thanks.Pesan terkirim dan dia pun bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Tidak sabar melihat hasil wawancara perdananya. Dan juga tidak sabar bertemu lagi dengan wanita yang mewawancarainya itu.Hari itu dia memilih baju lebih lama dari biasanya, mencari baju terbaik yang tepat untuk dia pakai. Setelah sarapan, Nugie langsung buru-buru pamit.“Aku berangkat ya, Ma,”
ปรับปรุงล่าสุด: 2026-07-27