LOGINNayla hidup sebatang kara setelah kepergian Ibunya. Namun karena kebaikan koleganya, dia berhasil kuliah dan akhirnya pulang kembali ke Indonesia untuk mengejar mimpinya sebagai jurnalis. Tidak disangka pekerjaannya sebagai Jurnalis justru menguak masa lalu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
View MoreSetelah menerima pesan dari Adit semalam sebelumnya, Nayla merubah tujuannya pagi itu. Dia tidak ke kantor tapi langsung menuju ke salah satu gedung perkantoran di daerah Sudirman.
Ada tugas meliput yang menantinya disana, bukan untuk mengisi rubrik yang biasanya, kali ini dia hanya menggantikan tugas salah satu reporter yang mendadak sakit. Sudah semalaman dia melihat profile orang yang akan ditemuinya besok, kali ini tantangan baru. Bukan seperti yang sudah-sudah, kali ini dia akan mewawancarai seorang yang sudah sangat sukses.
Setelah taksi yang mengantarkan sampai di lobi gedung itu, Nayla segera turun dan mengatur nafasnya agar tidak gugup. Untuk mengimbangi orang yang akan ditemuinya pagi itu, Nayla memakai kemeja merah dan rok hitam, tidak ketinggalan blazer untuk membuatnya terlihat lebih rapi dan tidak kalah duluan di awal.
Begitu melangkahkan kakinya masuk ke gedung yang menjulang tinggi ke langit itu, dia langsung disuguhi pemandangan dari puluhan orang berjas yang lalu lalang dengan sibuknya. Ponsel mereka tidak lepas dari tangan dan telinga mereka.
Nayla tercengang sesaat sebelum melangkah ke resepsionis. Resepsionis pun meminta kartu tanda pengenalnya sebelum memberikan dia kartu akses untuk bisa naik ke lantai yang ingin dia tuju.
Nayla pun melangkah masuk ke dalam lift yang dipenuhi para eksekutif-eksekutif muda yang biasanya menjadi incaran para wanita masa kini. Sampai di lantai yang dia tuju, Nayla kembali disambut oleh resepsionis, kali ini resepsionis khusus perusahaan yang dia tuju, sebuah perusahaan tambang batu bara besar di Indonesia.
Tiba-tiba kepercayaan dirinya sedikit menciut, dia mulai berpikir apakah dia siap untuk mewawancarai orang sehebat ini, seorang direktur perusahaan besar. Tangannya mulai basah dengan keringat dingin seraya menunggu di ruang depan.
“Silahkan Mbak, Pak Hartono sudah bisa ditemui.” Resepsionis tadi memanggil Nayla setelah lima belas menit menunggu. Nayla pun bangkit berdiri, berusaha untuk mengumpulkan kembali kepercayaan dirinya dan melangkah mantap.
Pasti bisa, gumamnya untuk menguatkan dirinya sendiri. Sampailah dia di sebuah ruangan yang cukup besar, dan terlihat disana seorang pria berusia sekitar 60-an sudah menunggunya dan menyambutnya dengan ramah. Langsung saja Nayla mendapatkan kembali kekuatannya. Dia pun membalas sapaan itu dengan percaya diri dan membuang jauh-jauh ketakutannya tadi.
“Selamat pagi Pak, perkenalkan saya Nayla dari Elevation,” sapa Nayla sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
Salam itu pun disambut hangat.
“Silahkan duduk,” Pak Hartono mempersilahkan.
Resepsionis tadi kembali masuk ke ruangan membawa dua cangkir teh untuk menemani sesi wawancara itu.
“Terima kasih untuk waktu dan kesediaannya melakukan wawancara ini ya Pak,” kata Nayla dengan sopan. “Saya ijin untuk mulai ya Pak.”
“Silahkan.” balas Pak Hartono.
Nayla kemudian menyalakan perekam di HP miliknya dan wawancara pun dimulai.
Tidak terasa satu jam pun berlalu dan Nayla berhasil melakukan tugasnya dengan baik. Banyak pengetahuan baru yang didapatnya dengan bertemu orang hebat seperti ini, dia semakin mencintai pekerjaannya.
“Terima kasih banyak Pak atas waktunya. Saya belajar banyak hal dari Bapak,” ucap Nayla sambil bangkit berdiri dari tempat duduknya hendak pamit.
“Nanti kalau sudah terbit, akan saya kirimkan majalahnya untuk Bapak.” lanjut Nayla sebelum meninggalkan ruangan tersebut.
“Baik, saya tunggu.” balas Pak Hartono sambil mengantar Nayla keluar dari ruangannya.
Begitu keluar dari ruangan itu Nayla langsung bernafas lega. Perasaan bangga dan senang bercampur dalam dirinya membuat langkahnya begitu ringan hari itu. Setelah selesai menukar ID yang dia tinggalkan, Nayla pun berdiri di lobi sambil menunggu taksi untuk mengantarnya ke kantor.
“Nayla?” tiba-tiba sebuah suara memanggilnya.
Saat Nayla berpaling ke arah suara tersebut, sontak kebahagiaan hari itu runtuh dalam sekejap karena sosok yang berdiri di hadapannya itu.
“Bener kan loe Nayla? Gile gue hampir gak ngenalin loe lho, keren amat loe sekarang.” Lanjut pria berjas yang tampak sebaya dengan Nayla itu. “Ngapain loe disini? Kerja disini? Hebat juga loe.”
“Habis ketemu orang.” sahut Nayla singkat dan segera memalingkan wajahnya siap untuk melangkah pergi.
Dia hanya ingin segera kabur dari orang di hadapannya ini.
“Eh tunggu! Sombong amat loe!” pria tadi menarik tangannya yang langsung ditepis Nayla dengan wajah penuh amarah.
“Gitu respon loe sama sodara sendiri?” seru pria itu dengan nada tinggi.
“Gue gak ada waktu buat ngomong sama loe.” sahut Nayla dengan nada suara bergetar menahan emosinya.
“Oh mentang-mentang udah jadi orang kantoran loe sekarang. Gimana kabar Tante Ratna? Bangga donk anaknya sekarang bisa pake baju keren dan kerja di gedung bagus. Gue juga kerja disini, loe di lantai berapa?” pria itu terus berceloteh dengan tatapan merendahkan yang membuat Nayla semakin geram.
“Ada masalah buat loe kalau sekarang gue begini? Gue bisa begini karena usaha gue sendiri, gak ada campur tangan dari kalian.” balas Nayla dengan mata mulai berkaca-kaca.
“Oh gitu? Siapa yang dulu malem-malem dateng ke rumah untuk minta duit? Jangan sombong Nay, kalau bukan karena bokap gue, mungkin nyokap loe udah lewat!”
Saat itu juga rasanya Nayla ingin menampar pria dihadapannya itu, namun dia tau tidak ada gunanya, hanya akan membuat keributan.
Dia ingat apa tujuannya datang ke gedung itu dan tidak mau merusaknya. Meskipun berat dia memilih untuk melangkahkan kakinya dan langsung masuk ke dalam taksi yang kebetulan baru saja menurunkan penumpangnya itu.
Air matanya langsung menetes deras saat itu juga. Hari yang dia kira indah kini rusak sudah.
Begitu sampai di rumah, dia langsung menghempaskan dirinya ke tempat tidur dan nangis sejadi-jadinya. Karena tau harinya sudah rusak dan tidak mungkin kembali ke kantor, dia hanya mengirimkan pesan pada Adit untuk ijin karena tidak enak badan. Setelah puas menangis selama setengah jam dia akhirnya terduduk di tempat tidurnya dengan mata sembap gak karuan. Dia mengambil buku hariannya di laci sebelah tempat tidurnya. Dia ingin menumpahkan semua kekesalannya, dan buku itu adalah satu-satunya tempat. Menulis di buku itu baginya seperti sedang bercerita pada Ibunya, dan untuk masalah ini dia hanya bisa menumpahkan pada Ibunya. Nayla terdiam sejenak saat memegang buku itu. Buku kecil yang cukup tebal, mirip agenda, berwarna merah muda. Dia kemudian sadar bahwa sudah cukup lama dia tidak membaca buku itu.Kesibukannya di kantor berhasil mengalihkan dia dari masa lalunya. Tapi tidak untuk saat ini, dia membutuhkan buku itu. Dia kemudian mengambil sebuah pulpen dan mulai menulis.Bu, hari
“Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya. “Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan. Nayla mengangguk sambil tersenyum. Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru. “Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel. “Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla. “Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri.
Lima tahun cukup lama untuk membuat Nayla merasa asing di kota kelahirannya sendiri. Rasanya banyak sekali pembangunan di Jakarta sampai-sampai dia tidak lagi mengenali kota itu, banyak sekali perubahannya. Dengan taksi online Nayla menuju ke kantor Nugie Hermawan. Hari ini adalah hari penting untuknya. Sambil menikmati pemandangan kota, Nayla mengeluarkan notes kecil berisi list pertanyaan yang dia buat kemarin bersama Willy.Dia membaca ulang beberapa kali untuk memastikan semua pertanyaan itu sudah tepat dan tidak ada yang terlewatkan. Walaupun lawan bicaranya nanti katanya masih muda dan baru memulai karir, tapi tetap saja Nayla gugup bukan main karena ini pertama kalinya dia mewawancarai seseorang, sekalipun bukan orang terkenal. Tak lama kemudian taksi yang ditumpanginya sampai di sebuah ruko di area perkantoran Jakarta Selatan. Setelah memastikan itu ruko yang tepat, Nayla pun turun dari mobil dengan tangan yang mulai keringat dingin dan jantung yang berdegup semakin cepat. D
Nayla melirik ke jam kecil disebelah tempat tidurnya, pukul 23.00 WIB, dan dia masih belum berhasil untuk tidur. Hari ini terlalu menyenangkan untuknya. Wawancara pertamanya berhasil. Selain itu dia juga bertemu dengan Om Iwan dan Tante Ina lagi, sepasang suami istri yang membiayai kuliahnya ke London. Sepulang dari kantor Nugie, Nayla mampir sejenak ke rumah mereka yang tidak jauh dari sana. Mereka bertiga pun berbagi begitu banyak cerita. Hatinya terasa bahagia.Nayla kemudian mengeluarkan sebuah buku kecil dari laci di dekat tempat tidurnya. Dia mulai menulis di buku itu.Hai, Bu. Apa kabar? Disana pasti indah dan menyenangkan ya. Aku sudah pulang ke rumah kita Bu. Disini rasanya sepi sekali tanpa Ibu.Aku mau cerita, Bu. Aku sekarang udah jadi jurnalis di majalah besar, tadi habis wawancara orang. Rasanya menyenangkan, aku harap Ibu bangga sama aku ya. Rasanya masih kayak mimpi hidupku bisa seperti sekarang, tapi rasanya ada yang kurang karena aku gak bisa menikmati kebahagiaan
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.