LOGINNayla hidup sebatang kara setelah kepergian Ibunya. Namun karena kebaikan koleganya, dia berhasil kuliah dan akhirnya pulang kembali ke Indonesia untuk mengejar mimpinya sebagai jurnalis. Tidak disangka pekerjaannya sebagai Jurnalis justru menguak masa lalu yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya.
View More“Selamat pagi, salam kenal. Saya Nayla, reporter baru,” ucap Nayla sambil mengulurkan tangannya pada seorang laki-laki yang duduk di sebelah meja kerjanya.
“Hai! Willy.” laki-laki berusia mirip dengan Nayla itu balas mengulurkan tangannya. Anak baru dari London?” tanya Willy memastikan.
Nayla mengangguk sambil tersenyum.
Hari itu matahari Jakarta terasa begitu menyegarkan. Cerah, seperti ikut menyemangati Nayla di hari pertamanya bekerja. Jantungnya berdegup kencang saat kakinya melangkah masuk ke kantor Elevation, rasanya seperti akan masuk ke dunia pertualangan baru.
“Kalau ada yang bingung, panggill aja ya,” ucap Willy sambil kembali sibuk dengan laptopnya yang penuh dengan tulisan artikel.
“Siap,” balas Nayla sambil merapikan meja kerja barunya.
Tidak lama kemudian, seorang wanita muda, cantik dalam balutan kemejanya datang menghampiri Nayla.
“Nayla? Silahkan ke ruang Pak Adit ya, sudah ditunggu,” jelasnya sambil menunjuk pada ruangan pemimpin redaksi di ujung lorong kiri.
Dengan sebuah buku catatan di tangannya, Nayla melangkah mantap. Dia sudah pernah berkomunikasi beberapa kali dengan Adit, walaupun hanya via zoom dan email. Adit adalah orang yang menerima lamaran pekerjaannya, mewawancarainya saat dia masih di London, dan menjelaskan semua tugasnya saat bekerja di Elevation.
“Selamat pagi Pak Adit,” salam Nayla saat memasuki ruangan yang tidak terlalu besar itu namun rapi dan wangi. Seperti menggambarkan diri pemiliknya yang rapi dan berkelas.
“Pagi Nayla. Panggil Mas saja, semua reporter disini juga begitu. Biar gak terlalu kaku.”
Nayla mengangguk dan mengambil tempat duduk di depan Adit.
“Gimana perjalanan kemarin? Lancar?” tanya Adit.
“Lancar Mas.”
“Baguslah. Sudah siap untuk tantangan baru?”
“Siap, Mas,” jawab Nayla penuh semangat.
“Langsung saya kasih tugas wawancara, berani? Tenang aja, narasumbernya juga masih muda kok, paling seumuran kamu. Baru memulai karir juga, jadi kamu gak usah terlalu canggung nanti. Anggap aja latihan awal.”
Adit kemudian menyerahkan sebuah kartu nama. Nugie Hermawan, arsitek. Dia kemudian menyerahkan selembar kertas pada Nayla.
“Ini panduan awal dalam mewawancarai seseorang. Kamu boleh ikuti sambil inovasi sendiri. Saya mau lihat kreatifitas kamu, pakai ilmu yang sudah kamu pelajari selama ini.” jelas Adit.
Nayla mengangguk kemudian pamit dari ruangan Adit. Kembali ke mejanya, dia duduk terdiam menatapi kartu nama dan kertas yang diberikan Adit.
Dia memastikan dirinya tidak sedang bermimpi. Lima tahun lalu saat hidupnya terpuruk setelah kepergian Ibunya, satu-satunya keluarga yang dimiliki, Nayla pikir semuanya sudah selesai. Namun tiba-tiba ada tawaran beasiswa dari sepasang suami istri, sahabat ibunya, yang sudah menganggap Nayla seperti anak mereka sendiri. Tidak pikir panjang, dia pun menerima tawaran itu, bersungguh-sungguh untuk membangun kembali hidupnya.
Segera dia mencoret-coret buku catatannya, membuat daftar pertanyaan yang akan dia tanyakan nanti.
“Langsung dapet tugas ya dari Mas Adit?” tanya Willy saat melihat Nayla sibuk sekembalinya dari ruangan Adit.
“Iya nih. Disuruh wawancara orang ini,” ucap Nayla sambil menyodorkan kartu nama arsitek muda tadi.
“Wah. Jarang-jarang lho anak baru langsung disuruh turun ke lapangan gini. Biasanya masih tulis-tulis artikel sederhana dulu, atau bantu reporter senior. Emang lulusan luar negeri beda, semangat ya!”
Hari pertamanya bekerja terasa begitu ringan. Atasan yang baik, teman yang baik, dan tugas pertama yang menantang. Cukup untuk menghibur Nayla setelah perjalanan belasan jam dari London, dan merapikan rumah kecilnya yang sudah tampak seperti rumah dalam film horor. Wajar saja, rumah itu kosong bertahun-tahun.
Nayla tidak membiarkan dirinya bersantai, dia tidak ingin pikirannya berlarut dalam kenangan masa lalu yang membuatnya terpuruk. Ketika memasuki rumah kecil berukuran 4x8 itu, semua kenangan dia tentang Ibunya langsung memenuhi pikirannya, air matanya pun menetes tanpa bisa ditahan. Rindu. Satu kata yang cukup untuk menggambarkan perasaan gadis 23 tahun ini.
Nayla kembali dari lamunan mengenai dirinya, kembali fokus pada tugas di depan matanya. Dia mengeluarkan sebuah buku saku kecil dari tasnya dan mulai mencoret-coret kertas di halaman buku itu.
Dia sedang berpikir pertanyaan apa saja yang mau dia ajukan dengan narasumbernya nanti.
“Wil, loe udah pernah wawancara berapa orang? Gimana rasanya pas pertama kali?” tanya Nayla sebelum melanjutkan tugasnya, berharap bisa mendapatkan inspirasi.
“Tiga tahun gue kerja disini, kurang lebih udah 30 kali ya,” jawab Willy sambil menghitung di kepalanya. “Banyak deh pokoknya.” lanjutnya.
“Pas pertama kali gugup gak?” tanya Nayla.
“Banget, sampe tangan gue keringet dingin. Terus panik banget karena catetan gue ketinggalan di kantor. Rasanya udah pengen kabur aja, gak jadi wawancara,” kenang Willy.
Nayla mendengarkan dengan serius, penasaran dengan rekan seniornya ini.
“Tapi habis itu gue tarik nafas, mencoba menenangkan diri. Gue coba inget-inget list pertanyaan yang udah gue siapin di catetan kemarin, terus bikin ulang seadanya,” Willy menceritakan dengan wajah lega mengingat kejadian tersebut.
“Pada akhirnya nanti semua akan mengalir kok Nay. Awalnya emang kayak kaku, tapi kalau lawan bicara kita udah mulai cerita, nanti pertanyaan-pertanyaan baru akan muncul mengikuti alur aja,” jelas Willy lagi sambil menyemangati Nayla.
“Thanks Wil udah mau cerita pengalaman loe, bikin gue jadi lebih tenang,” balas Nayla dengan semangat.
“Biar gak kejadian kayak gue, mending list di catetan loe itu di foto juga. Jadi ada cadangan di HP.” saran Willy.
“Wah bener juga, thank you Wil!” Nayla kemudian kembali sibuk dengan tugasnya.
Willy kemudian lanjut membantu Nayla membuat list-list pertanyaan, memberinya masukan untuk apa saja yang penting untuk ditanyakan.
Nayla yang sempat takut karena langsung diberikan tugas besar di hari pertamanya bekerja, mulai merasa tenang. Dia tidak harus berjuang sendirian, siapa sangka teman pertamanya berbaik hati mau membantunya, sampai ke hal detail yang belum dia pahami.
Hari itu akhirnya tiba, hari keberangkatan Nayla ke China. Malam itu Nayla sudah bersiap untuk berangkat ke bandara bersama Adit. Ina memutuskan untuk tidak ikut mengantar karena takut tidak bisa menahan perasaannya nanti. Bagi Ina ini menjadi perpisahan yang cukup berat, rumah akan kembali sunyi dan sepi tanpa Nayla."Aku berangkat dulu ya, Om, Tante. Aku tunggu Om dan Tante main ke Beijing ya," ucap Nayla sambil memeluk kedua orangtua angkatnya itu."Denger kan, Pa, kita harus kunjungin Nayla ya nanti kalau kanget banget. Sekalian jalan-jalan, iya kan Nay?" ucap Ina."Iya dong, aku akan ajak Om dan Tante ke semua tempat cantik dan restoran enak pokoknya," jawab Nayla bersemangat."Jaga diri kamu ya, Nay. Sering-sering telpon kami ya," pesan Iwan."Pasti, Om. Aku jalan dulu ya," pamit Nayla."Om, Tante, aku pamit juga ya," ucap Adit sambil membawakan koper Nayla dan memasukkannya ke bagasi mobilnya.Nayla kembali melambaikan tangan pada Iwan dan Ina sebelum mobil Adit melaju pergi. M
"Rat, aku udah ketemu sama anak kita. Dia cantik seperti kamu," ucap Rino sambil tersenyum dan menatap Nayla. "Kamu tahu betapa aku merindukan kamu, Rat?" Rino tidak dapat menahan air matanya dan menangis tersedu-sedu sambil memengang batu nisan cinta pertamanya itu. Nayla mengelus punggung Bapaknya untuk menenangkannya, sambil dia sendiri juga menahan air matanya. "Maafin aku, Rat. Aku udah bikin hidup kamu susah. Sekarang aku janji akan jaga anak kita baik-baik," lanjut Rino."Bu, aku sudah memaafkan Bapak. Aku yakin Ibu juga tidak pernah menyimpan kebencian pada Bapak. Karena Ibu tidak pernah menyalahkan Bapak ataupun keadaan. Pasti sekarang Ibu bahagia kan aku bisa ketemu sama Bapak," ucap Nayla kemudian menatap Rino sambil tersenyum. "Bu, setelah ini aku akan berangkat sekolah lagi ke China, dibiayain oleh Bapak. Mungkin aku gak bisa sering-sering kesini, tapi Ibu tahu kan Ibu selalu ada di hati aku," lanjut Nayla. Dia kemudian memeluk batu nisan itu, seolah sedang memeluk Ib
"Bapak sudah sehat?" tanya Nayla dengan wajah khawatir. Mereka mencari waktu untuk bertemu setelah pertemuan di rumah sakit waktu itu. Nayla ingin memastikan Ayahnya baik-baik saja."Seperti yang kamu lihat, sudah lebih segar," jawab Rino sambil tersenyum.Dia tidak ingin Nayla khawatir dengannya. Dia ingin Nayla fokus dengan masa depannya dan tidak terhambat oleh kondisi kesehatannya. "Bagaimana dengan Tante Inge dan Widya?" Nayla bertanya dengan hati-hati."Kamu gak usah mengkhawatirkan mereka, Nay. Fokus saja dengan masa depan kamu. Mereka biar Bapak yang urus ya.""Apa sebaiknya aku ketemu dengan mereka sebelum berangkat?"Rino terdiam. Dia sendiri bingung. Apakah perlu Nayla bertemu dengan Inge dan Widya? Atau membiarkan semuanya pulih dengan sendirinya?"Tapi kalau Bapak gak nyaman, lebih baik gak usah ya, Pak," kata Nayla yang menangkap rasa ragu di wajah Rino."Bapak cuma gak yakin Inge mau ketemu kamu, Nay. Tampaknya dia masih terpukul," Rino berusaha menjelaskan.Nayla men
Suasana di rumah Rino masih terasa aneh. Meja makan menjadi sunyi, rumah itu pun terasa sepi. Mereka tetap makan bersama, Inge tetap merawat Rino, namun tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya. Begitu juga dengan Widya, gadis yang biasanya ramai dan ceria, berubah total sejak kejadian semalam.Rino hanya bisa menerima, dia tahu setelah kesalahan yang dia buat, dia tidak berhak meminta apapun. Keluarganya masih bertahan dan tidak meninggalkan dia saja sudah sebuah pencapaian. "Ini obatnya diminum dulu," ucap Inge sambil menyodorkan secangkir kecil berisi beberapa butir obat yang harus diminum rutin oleh Rino.Rino yang sedang berbaring di tempat tidur langsung bangkit, duduk, dan menerima obat yang disodorkan Inge. "Kamu masih marah?" tanya Rino dengan lembut sambil menggenggam tangan istrinya. Inge hanya diam, bahkan membuang pandangannya ke arah lain. Dia tidak ingin menatap Rino."Duduk dulu, Nge. Kita bicara berdua," bujuk Rino.Inge merasa aneh melihat suaminya yang se






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews