LOGINTangan Danny menggapai ke depan, matanya basah oleh air mata bercampur percikan hujan. Kemarahan dan kesedihan menjadi satu, merasa dunia tidak adil bagi mereka.
Salah satu pria menjambak rambut panjangnya, mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, lalu membanting Danny ke aspal dengan brutal. Wajah tampan itu kini hancur, tulang pipi retak, alis sobek, darah memenuhi mata. Danny terbaring tak bergerak. Mata setengah terbuka, menatap kosong ke langit yang masih menangis. Di sudut pandangnya yang kabur, ia melihat para pria itu berjalan ke motor mereka, mesin dihidupkan, lalu pergi begitu saja. Meninggalkannya mati, atau setengah mati. Hujan mulai mereda menjadi gerimis lembut. Dalam kesunyian itu, Danny menangis, tangisan tanpa suara, hanya air mata yang bercampur darah dan hujan. Kakinya hancur. Adiknya hilang di jurang. Dan ia ... ia tidak bisa melakukan apa-apa? Tak lama kemudian, cahaya lampu mobil memecah kegelapan. Sebuah Mercedes hitam berhenti sempurna di tepi jalan, mesinnya mendesis lembut. Pintu belakang terbuka. Seorang wanita turun dengan anggun, high heels Louboutin-nya menghentak aspal dengan bunyi tajam. Gaun Chanel-nya tidak boleh basah, maka seorang bodyguard segera membukakan payung besar. Diana Legiani berjalan perlahan, mata tajamnya mengamati pemandangan di hadapannya seperti menilai lukisan yang baru selesai. Di sampingnya, pemuda belasan tahun, Romario Wijaya, tersenyum tipis, matanya berbinar penuh kepuasan. "Nyonya," panggil salah satu bodyguard melaporkan dengan suara datar. "Tuan Muda Danny masih hidup. Tapi kondisinya ... mungkin dia akan cacat seumur hidup." Diana mengangguk pelan, wajahnya tidak menunjukkan emosi apapun. "Lalu yang satunya?" "Mereka hanya menemukan sobekan baju di tepi jurang. Kalau dia jatuh, kemungkinan besar sudah tewas." "Bagus." Diana tersenyum, senyum tipis yang tidak mencapai mata. Diana membelai kepala Romario dengan lembut, seperti layaknya seorang ibu yang menyayangi anak. "Akhirnya semua bisa dibereskan. Dan kamu, Rio ... kamu sekarang adalah tuan muda tunggal. Kamulah ahli waris utama dan hanya satu-satunya, seluruh kekayaan Keluarga Wijaya." Diana Legiani tertawa panjang dan keras, sekarang tak ada lagi pesaing berat anaknya. Jay tewas dan Danny cacat. Memangnya siapa lagi yang bisa diandalkan selain Romario Wijaya, putranya? Romario mengangguk, dadanya membusung. "Lalu ... Nyonya, bagaimana dengan Tuan Muda Danny?" bodyguard bertanya lagi. Diana terdiam sejenak, jari-jarinya mengetuk-ngetuk tas Hermes-nya. Matanya menatap tubuh Danny yang tergeletak tak berdaya dua puluh meter dari mereka. "Bawa dia ke rumah sakit," katanya akhirnya, suaranya dingin seperti es. "Mungkin dia masih bisa berguna nantinya." Saat ini, tubuh Jay tergantung terbalik di dekat dinding tebing dalam keadaan menyedihkan. Rupanya, ketika tubuh Jay meluncur ke bawah, seutas sulur tumbuhan gantung tak sengaja membelit kakinya. Meskipun sangat menyakitkan, tapi itulah cara Tuhan menyelamatkan nyawa pemuda tersebut. "Apakah aku masih hidup?" bisik Jay, antara percaya dan tidak. Jay sadar kalau saat ini tubuhnya terbalik. Ia dengan sekuat tenaga mencoba melakukan beberapa gerakan guna membetulkan posisinya. Krak! Ada yang terasa patah dan hancur pada bagian kanan perutnya. Jay tak peduli, ia hanya tahu kalau dirinya harus tetap bertahan. Jay menggigit lidah menahan jeritan, darah memenuhi mulutnya. Jari-jarinya mencengkeram sulur itu sampai kuku-kukunya menancap ke kulit kayu, berdarah, tapi ia tidak peduli. Di bawahnya, kegelapan menganga seperti hendak menelannya kapan saja. Ia berpikir entah bagaimana nasibnya jika tubuhnya jatuh ke dalam sana. "Bertahan," bisiknya pada diri sendiri, suara tercekat. "Aku harus bertahan dan tidak boleh mati!" Tangan kirinya meraba-raba dinding jurang, mencari pegangan lain. Batu-batu kecil lepas, jatuh ke kedalaman dengan bunyi yang tidak pernah sampai ke dasar. Jari-jarinya menemukan akar pohon yang mencuat, ia menarik tubuhnya, otot-ototnya berteriak protes, tulang rusuk yang retak mengirim rasa sakit seperti petir ke seluruh tubuh. Satu tarikan. Dua tarikan. Tiga tarikan. "Hup!" Jay mencoba menggerakkan tangannya dengan sekuat tenaga. Kakinya sesekali mencari pijakan di celah batu dan ketemu. Ia mendorong tubuhnya ke atas, sentimeter demi sentimeter. Darah dan keringat bercampur air hujan membuat pegangannya terasa licin. Napas Jay tersengal, setiap tarikan dan hembusan adalah perjuangan yang menyiksa. "Ayolah, Jay! Kamu pasti bisa!" Kakaknya masih di atas. Orang-orang yang melakukan ini masih bebas. Kalau ia mati sekarang, semuanya akan sia-sia. Jay meraih cabang demi cabang atau tonjolan-tonjolan bebatuan. Kulitnya sesekali tersayat duri, tapi ia terus memanjat. Dunia berputar, pandangannya mengabur. Sudah berapa lama ia memanjat? Sepuluh menit? Satu jam? Waktu tidak berarti lagi. Yang ada hanya rasa sakit, kegelapan, dan semangat untuk bangkit dari jurang kematian. Saat tangannya hampir mencapai permukaan, tanah basah, rumput, hampir saja jari-jarinya terlepas dan melorot ke bawah. "Tidak!" Jay berteriak keras dan serak, seperti ingin menangis, sedih bercampur marah. "Aku harus melihat Kak Danny!" "Aku harus melihatnya!" "Kak Danny, kamu harus baik-baik saja!" Namun tubuhnya semakin lemas dan perasaan putus asa mulai menggerogoti batinnya. "Apakah batas hidupku hanya sampai di sini?" bisik Jay dengan suara lemah, bahkan nyaris tak terdengar oleh telinganya sendiri. Mata Jay mulai redup ....Seorang penjaga mencoba menghalau para perusuh dengan wajah yang sudah babak belur. "Sudah, hentikan! Kalian harus segera pergi dari sini!""Siapa yang berani mengusir kami?" balas salah satu perusuh sambil melemparkan botol bir ke arah penjaga. Botol itu melayang dan menghantam kepala penjaga dengan bunyi yang pecahan mengerikan. "Kami adalah raja di wilayah ini!"Keributan semakin menjadi-jadi. Meja dan kursi berserakan, makanan serta minuman berceceran di lantai. Beberapa pelayan wanita menangis ketakutan di pojok ruangan. Salah seorang pelayan secara diam-diam menyelinap pergi guna menelepon polisi dengan tangan gemetar.Pada saat yang sama, Romario Wijaya dan ibunya sampai ke lokasi dengan harapan tinggi, berharap para pelaku adalah kelompok yang menyerang Hero Cafe beberapa waktu lalu. Dengan begitu, mereka bisa menangkap musuh bebuyutan malam ini juga.Namun, mereka harus kecewa karena ternyata perusuh ini hanya sekelompok anak nakal yang tidak mau membayar setelah makan."Sepe
Sebelum pergi, Romario Wijaya menelepon satuan bodyguard lain untuk segera bergerak mengikutinya ke Hero Restaurant. Suaranya keras dan tegas, menunjukkan otoritas yang tidak bisa dibantah.Dalam hati ia bertekad untuk menangkap musuh bebuyutannya, Jaya Wijaya dan kelompoknya yang telah mengganggu semua rencananya. Nama itu bergema di benaknya seperti mantra kutukan yang tidak bisa dilupakan.Diana mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, matanya menatap lurus ke depan namun dalam bayangannya hanya ada dua wajah yang sangat ia benci. 'Danny Wijaya, Jaya Wijaya, sebentar lagi tidak akan ada lagi nama kalian di atas bumi ini!' Saat berada di dalam mobil mewahnya, Romario Wijaya berkata kepada ibunya dengan nada khawatir, "Sebenarnya aku merasa was-was, Ma. Takut kalau-kalau orang ini benar-benar Jaya si berengsek itu. Kalau orang itu sampai kembali ke dalam Keluarga Wijaya, maka posisi pewaris tunggalku akan terancam."Diana Legiani menyeringai, meski ada kekhawatiran yang tersembunyi
Dua tamparan lagi mengenai wajah Rani yang sudah membengkak. Gadis itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar ketakutan. Pipinya sekarang terasa panas membara, seolah ada api yang menari-nari di permukaan kulitnya."Kalian juga!" Diana menunjuk ke arah karyawan lain yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Suasana mencekam menjalar ke seluruh ruangan seperti kabut tebal yang menelan cahaya. "Aku tahu kalian semua tahu sesuatu. Siapa yang mau bicara?"Dua bodyguard lainnya langsung menghampiri para karyawan. Tamparan demi tamparan mulai berterbangan, disertai jeritan kesakitan dan permohonan ampun yang memilukan. Suara tangisan dan isakan memenuhi ruangan, menciptakan simfoni penderitaan yang menyayat hati."Ampun, Nyonya! Kami benar-benar tidak tahu apa-apa!" teriak salah satu karyawan sambil memegang pipinya yang bengkak. Mata orang itu berkaca-kaca, tidak hanya dikarenakan sakit secara fisik, tapi juga karena tekanan mental. "Bohong!" Diana berteriak marah. "Kalian semua bohong!""T
"Ma, entah mengapa aku merasa ini ada yang tidak beres dengan masalah ini, Ma." Romario Wijaya menatap wajah Diana.Romario Wijaya merasa geram dalam hati dan berniat melakukan penyelidikan untuk kasus ini. "Ma, aku sendiri yang akan mendatangi tempat itu dan meminta pertanggung jawaban pihak butik!"Tapi ini bukan masalah gaun, melainkan harga diri yang terasa terinjak-injak dan Romario Wijaya merasa seperti ada kejanggalan dalam masalah gaun hitam ini.Malam itu juga, mereka berangkat ke Kiara Boutique yang masih dalam tahap pemberesan akibat baru saja dihancurkan oleh Jay.Diana Legiani duduk di kursi belakang mobilnya yang mewah, wajahnya keras seperti batu. Di samping kirinya, Romario Wijaya menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sama geramnya. Di depan mereka, dua mobil hitam lainnya berisi sepuluh orang bodyguard pilihan Diana yang berbadan kekar dan berwajah garang mengikuti dari belakang."Mama akan memastikan mereka membayar atas kelalaian ini," gumam Diana sambil merem
Sementara itu, di sudut butik yang mulai tenang kembali, seorang wanita cantik berdiri di balik etalase kaca, menatap kosong ke arah jalan. Rani Simbolon, kepala pengelola Kiara Boutique, menggenggam secangkir teh melati yang kini mulai dingin. Aroma bunga samar-samar masih tercium, namun pikirannya tak di sana."Mengapa dia begitu ngotot membeli gaun milik Nyonya Diana?" gumam Rani, merasa tak habis pikir hingga alisnya berkerut. "Mungkinkah dia memiliki urusan yang tak biasa dengan nyonya besar itu?"Mata Rani Simbolon menyipit, mengingat kembali bagaimana Jay tiba-tiba begitu tertarik dan langsung menawar gaun itu dengan harga yang terlalu tinggi untuk sebuah pakaian.Pikiran Rani melayang ke pesta ulang tahun Heru Wijaya yang akan digelar akhir pekan ini. Ia juga mendapat undangan sebagai tamu yang diundang secara khusus oleh nyonya besar Keluarga Wijaya tersebut."Untuk urusan gaun itu," bisik Rani pada dirinya sendiri, membayangkan gaun hitam ekslusif yang kini tak lagi di buti
Kenzo terlihat bingung, sedangkan Zane tertawa puas atas hasil kejahilannya."Sudah, jangan terus berdebat kalian!" Jay mulai merasa kesal. "Kita cabut sekarang!"'Awas lu, Zane!' Kenzo melirik tajam ke arah Zane, bersiap untuk melakukan peritungan.'Rasain lu!' Zane merasa menang kali ini.Tanpa membantah lebih jauh, Zane memberi isyarat pada anggota rombongan lainnya untuk kembali ke motor. Suara mesin kendaraan kembali meraung di udara, tapi kali ini untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil, Nina duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Jay. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia melirik kantong belanja berwarna hitam elegan yang kebetulan berada di bagian teratas."Boss," panggil Nina sambil menatap Jay dari sudut mata. "Sebenarnya gaun hitam itu, Boss beli untuk siapa?" Jay menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dengan sikap santai. "Tidak untuk siapa-siapa.""Aku hanya ingin bersenang-senang dan mempermainkan seseorang dan sama sekali tidak tertarik pada gau







