LOGINTiba-tiba, sebatang gagang payung terulur dari atas, ujungnya bengkok membentuk pengait.
"Tangkap ini!" seru seseorang dari atas tebing. Mata Jay menangkap bayangan beberapa orang yang sepertinya sedang berusaha ingin menyelamatkannya. "Ada orang?" Mata Jay yang semula redup seketika membeliak. "Siapa mereka?" Melihat orang di bawah sana masih termangu, seseorang kembali berteriak, "Cepat pegang payung ini! Kami akan menarikmu ke atas!" Jay terkejut sekali lagi namun pikirannya untuk tetap hidup membuatnya menerima uluran dari orang-orang asing tersebut. Anggap saja ini adalah hutangnya. "Oh, baiklah!" Jay meraih gagang payung dengan kedua tangan dan orang-orang itu menariknya ke atas. Tubuh Jay terseret melewati bibir jurang, jatuh terkapar di pinggir jalan beraspal. "Tidak mati!" Jay berbaring telentang dengan napas tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. "Syukurlah, ternyata aku masih selamat dari jurang maut!" "Untungnya kami tiba tepat waktu, Anak Muda," ujar seseorang. Jay menoleh. Pria setengah baya berdiri di sampingnya, tinggi, kurus, berambut ikal abu-abu yang diikat ke belakang. Wajahnya keras, berkerut, tapi matanya tajam. Orang itu mengenakan setelan cheongsam tradisional berwarna coklat dipadu topi cowboy dengan warna senada. "Si--siapa Anda?" tanya Jay dengan suara lemah dan matanya sedikit waspada. Pria itu menjawab, "Aku hanya seorang pria tua yang kebetulan lewat bersama dengan rombonganku. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini. Aku menyuruh orangku untuk mencari tahu, dan ternyata dugaanku tidak meleset." "Bagaimana keadaanmu?" tanya pria asing itu. Jay menggeleng. "Tidak apa-apa. Terima kasih atas pertolongannya, Tuan Penyelamat!" Meski mulut Jay berkata demikian, tetapi tubuhnya tetap tidak bisa membohongi siapa pun. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang dan sedikit gelap. "Tidak masalah," sahut pria misterius itu. Pria tua tak percaya begitu saja pada ucapan pemuda itu. Ia berjongkok, jari-jarinya yang kering menyentuh pergelangan tangan Jay, memeriksa nadi. Lalu bergerak ke tulang rusuk, menekan lembut. Jay meringis. "Tiga tulang rusuk patah," gumam pria itu, lebih pada dirinya sendiri. "Gegar otak ringan dan ada luka internal lainnya ... tapi masih bisa diselamatkan." Matanya mengamati tubuh Jay dengan tatapan yang aneh, bukan kasihan, tapi minat. Seperti kolektor yang menemukan permata langka. "Otot yang berkembang baik... tulang kokoh, kepadatan tinggi ...." Ia menekan lengan Jay, memutar pergelangan tangannya, memeriksa sendi-sendinya. "Tubuh seperti ini langka. Sangat cocok untuk pelatihan tingkat tinggi." Jay mencoba bicara, tapi yang keluar hanya batuk berdarah. "Jangan bicara dulu." Pria itu melambaikan tangan, dua orang muncul, pria bertubuh besar dengan wajah datar. "Bawa dia ke Rumah Sakit Grahapura. Segera!" Jay mengangkat tangan, ingin menolak, tapi pria asing itu berkata, "Cepat bawa dia!" Jay tak berdaya, membiarkan mereka mengangkat tubuhnya dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam mobil van putih yang terparkir di jalan setapak. Pria tua itu yang akan Jay kenal sebagai Guru Jade, duduk di sampingnya, mata abu-abunya tidak berkedip, seperti menjaga harta berharga. "Jalan!" perintah Guru Jade. *** Beberapa jam kemudian di lantai tiga Rumah Sakit Grahapura, dalam ruang VVIP yang serba putih dan steril, Diana Legiani terlihat sedang menangis. Air matanya mengalir meski tidak deras, cukup untuk terlihat sedih tapi tidak merusak riasan. Ratu drama ini berusaha memainkan peran ibu tiri yang baik dengan sesempurna mungkin. Wanita itu duduk di samping ranjang Danny, memegang lembut tangan putra tirinya yang terbalut perban. "Sayang, ini semua salahku!" Suara Diana bergetar, penuh penyesalan. "Aku seharusnya tidak menyuruh mereka pulang malam itu. Aku hanya ...." Hendra Wijaya berdiri di ujung ruangan, punggungnya membungkuk, pria yang biasanya tegap kini seperti patah. Pengusaha nomor satu Kota Permata ini kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu putra sekarat di ranjang rumah sakit. Yang lain entah di mana, hidup atau mati. "Ini bukan salahmu," kata Hendra Wijaya, pelan. "Ini adalah kecelakaan yang tentu saja tidak pernah kita duga." "Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri," lanjutnya, tak menaruh curiga sama sekali. "Sekarang kita hanya bisa merawatnya dengan baik hingga dia pulih kembali." Diana menunduk lebih dalam, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Bodoh. Pria ini begitu mudah dimanipulasi. "Karena kondisi Danny sudah aman, sekarang aku harus melakukan sesuatu yang lebih penting," ujar Hendra Wijaya. Hendra Wijaya mengeluarkan ponsel, menekan nomor dengan jari gemetar. "Kerahkan semua orang," perintahnya begitu sambungan tersambung. "Cari Jay. Sisir seluruh tempat kejadian itu dengan teliti. Tuan muda kedua harus segera ditemukan. Mengerti?" "Siap, Tuan," sahut suara di seberang sambungan telepon. Hendra Wijaya menutup telepon, menatap Danny yang terbaring tak sadarkan diri. Wajah putranya yang tampan kini setengah hancur, perban menutupi sebagian besar, hanya menyisakan bibir pucat dan dagu. Kedua kakinya dalam gips tebal, digantung oleh katrol. Hendra Wijaya sungguh mengira jika insiden yang menimpa kedua putranya adalah murni kecelakaan. Ia tidak tahu, iblis wanita di sampingnya sedang tersenyum penuh kemenangan. 'Pria bodoh ini masih belum tahu kalau anak sialan itu mungkin saja sudah mati di dasar jurang,' bisik Diana dalam hati. 'Sekarang tak ada lagi orang yang bisa merebut harta kekayaan Keluarga Wijaya dari anakku. Dan jika perlu, kekayaan Keluarga Anggara juga harus jadi milikku!'Sementara itu di tempat lain.Di dalam gudang tua di wilayah utara kota, markas sementara kelompok JAY’X tampak hidup. Komputer menyala dengan banyak jendela data terbuka. Kenzo sibuk mengetik cepat sambil mengunyah mie instan, sementara Nina, satu-satunya wanita di kelompok itu, sibuk membersihkan senjata yang disimpan dalam koper panjang.Pemuda bertubuh besar bernama Gara, tampak sibuk mengangkat peti berisi perlengkapan logistik ke rak besi di pojok ruangan.Jay duduk di sofa tua, menatap dinding penuh coretan strategi. Di tengah, foto seorang anak lelaki tergantung dan menjadi pusat perhatiannya. Orang dalam foto itu adalah Danny Wijaya, kakaknya.Jay meraih bungkus rokok, mengambil sebatang, lalu menyelipkan benda itu di kedua belah bibirnya yang seksi. Nina, asisten pribadi Jay, bergegas datang dengan pemantik api di tangan.Jay membiarkan sang asisten menyulut rokok di bibirnya. Pria itu menaruh kedua kakinya di atas meja dengan sikap santai."Bagaimana, Ken, sudah kamu dapatk
Diana menarik napas dalam-dalam.Setelah amarahnya sedikit mereda, ia berkata, "Ceritakan semuanya apa yang terjadi dan sekalian rekaman CCTV, kirim sekarang juga!""Baik, Nyonya. Anda tunggulah sebentar. Saya akan segera melakukan pengecekan." Ali kemudian memutuskan sambungan telponnya.Tak lama kemudian, satu berkas video dikirim ke email pribadinya. Diana langsung memutarnya.Namun, begitu video terbuka .…Mata Diana melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Terdengar suara lagu ulang tahun. Kamera menunjukkan ruangan dengan balon warna-warni, kue besar, dan seorang badut berjoget di tengah. Para tamu tertawa, menari, bersulang.Semua orang terlihat gembira dengan pesta ala bocah taman kanak-kanak yang terlihat dalam video.Emosi Diana meledak, merasa dipermainkan oleh Ali. File yang diinginkan bukan ini.Diana meraih ponsel di atas meja, kembali menghubungi Ali dengan amarah meluap."Ali, video apa yang kamu kirim baru saja?" bentak Diana dengan wajah merah padam."
Ali memerintahkan beberapa pegawai kafe untuk segera mengambil semua uang pendapatan yang diminta oleh Jay. 'Tak mengapa. Toh akhirnya nanti akan diambil kembali oleh nyonya,' pikirnya.Jay berkata ke pada kawan-kawannya. "Kalian tunggu dan berjaga di luar. Ingat! Jangan biarkan siapa pun menerobos masuk dan mengganggu rencanaku.""Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, Bos?" tanya Nayaka sambil menunjuk ke arah para pegawai kafe yang telah dibekuk.Jay menunjuk ke sebuah ruangan. "Masukkan mereka semua ke ruangan itu dan kunci dari luar.""Siap, Bos!" sahut para anak buah Jay.Dengan sigap, keenam anak buah Jay segera meringkus semua pegawai kafe dan menahan mereka dalam satu ruangan.Tak lama kemudian, bertumpuk-tumpuk uang kertas sudah berjejer rapi di hadapan Jay yang sekarang mendominasi keadaan. Jika dihitung, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah!Mata Jay berkilat, memandangi lembaran-lembaran rupiah yang teratur rapi dengan seringai di bibirnya."Lihatlah ini!" Jay menyentu
Ali datang dengan wajah beringas. "Kalian semua, jangan membuat keonaran di sini! Jika tidak, kami akan bertindak sesuai hukum yang berlaku!"Teriakan orang yang bernama Ali ini tidak digubris oleh orang-orang yang sepertinya datang hanya untuk membuat kerusuhan."Hukum?" Zane, si pembuat kerusuhan, membanting mangkuk besar sebelum berjalan maju menghampiri Ali. "Hukum apa? Dia pikir kami takut dengan ancaman itu. Dasar budak kecil!"Mendengar gumaman Zane, emosi Ali kian memuncak. Ia langsung memanggil satuan pengaman melalui ponselnya. "Cepat ke mari! Ada sekelompok tikus sedang membuat kekacauan di sini!""Baik, Pak!" sahut suara dari seberang telepon.Sambil menyimpan ponsel, Ali berucap penuh emosi. "Humph! Tunggu sebentar lagi, kalian semua akan kami tangkap!"Kerusuhan terus berlangsung hingga sekelompok orang berseragam satuan pengaman datang. Mereka langsung terlibat baku hantam dengan Geng JAY'X yang hanya berjumlah tujuh orang.Tujuh melawan selusin orang mungkin bukan lawa
Semua orang terkejut saat terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu.Di pintu masuk yang baru saja dirusak, tujuh orang pemuda berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan langkah mantap, bak para prajurit yang siap bertempur.Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut dengan kehadiran kelompok yang memiliki tanda pengenal khusus berupa logo grup yang sengaja ditempelkan pada pakaian masing-masing, dan simbol itu benar-benar milik kelompok bandit metropolitan yang menamakan dirinya sebagai Geng JAY'X.Biang chaos datang!Kelompok ini terkenal suka berbuat onar di tempat umum dan tergolong cukup meresahkan masyarakat. Namun, siapa yang sanggup menghentikan mereka?Jangankan hanya satuan keamanan kecil, aparat penegak hukum saja sering mereka jadikan permainan.Geng JAY'X memiliki penampilan menakutkan. Mereka mengenakan jaket kulit hitam berbahan sintetis, kacamata hitam, celana hitam yang robek-robek di sana-sini disertai beberapa tambalan stiker-stiker aneh dan r
Di koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur. Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia. Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting. Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu. Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?' ***** Tiga minggu berlalu sep







