Share

Chapter. 03

Author: Villain25
last update Last Updated: 2025-12-28 10:53:59

Tiba-tiba, sebatang gagang payung terulur dari atas, ujungnya bengkok membentuk pengait.

"Tangkap ini!" seru seseorang dari atas tebing.

Mata Jay menangkap bayangan beberapa orang yang sepertinya sedang berusaha ingin menyelamatkannya.

"Ada orang?" Mata Jay yang semula redup seketika membeliak. "Siapa mereka?"

Melihat orang di bawah sana masih termangu, seseorang kembali berteriak, "Cepat pegang payung ini! Kami akan menarikmu ke atas!"

Jay terkejut sekali lagi namun pikirannya untuk tetap hidup membuatnya menerima uluran dari orang-orang asing tersebut. Anggap saja ini adalah hutangnya.

"Oh, baiklah!"

Jay meraih gagang payung dengan kedua tangan dan orang-orang itu menariknya ke atas. Tubuh Jay terseret melewati bibir jurang, jatuh terkapar di pinggir jalan beraspal.

"Tidak mati!" Jay berbaring telentang dengan napas tersengal-sengal, dadanya naik turun tak beraturan. "Syukurlah, ternyata aku masih selamat dari jurang maut!"

"Untungnya kami tiba tepat waktu, Anak Muda," ujar seseorang.

Jay menoleh. Pria setengah baya berdiri di sampingnya, tinggi, kurus, berambut ikal abu-abu yang diikat ke belakang. Wajahnya keras, berkerut, tapi matanya tajam. Orang itu mengenakan setelan cheongsam tradisional berwarna coklat dipadu topi cowboy dengan warna senada.

"Si--siapa Anda?" tanya Jay dengan suara lemah dan matanya sedikit waspada.

Pria itu menjawab, "Aku hanya seorang pria tua yang kebetulan lewat bersama dengan rombonganku. Aku merasa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi di sini. Aku menyuruh orangku untuk mencari tahu, dan ternyata dugaanku tidak meleset."

"Bagaimana keadaanmu?" tanya pria asing itu.

Jay menggeleng. "Tidak apa-apa. Terima kasih atas pertolongannya, Tuan Penyelamat!"

Meski mulut Jay berkata demikian, tetapi tubuhnya tetap tidak bisa membohongi siapa pun. Pandangan matanya mulai berkunang-kunang dan sedikit gelap.

"Tidak masalah," sahut pria misterius itu.

Pria tua tak percaya begitu saja pada ucapan pemuda itu. Ia berjongkok, jari-jarinya yang kering menyentuh pergelangan tangan Jay, memeriksa nadi. Lalu bergerak ke tulang rusuk, menekan lembut.

Jay meringis.

"Tiga tulang rusuk patah," gumam pria itu, lebih pada dirinya sendiri. "Gegar otak ringan dan ada luka internal lainnya ... tapi masih bisa diselamatkan."

Matanya mengamati tubuh Jay dengan tatapan yang aneh, bukan kasihan, tapi minat. Seperti kolektor yang menemukan permata langka.

"Otot yang berkembang baik... tulang kokoh, kepadatan tinggi ...." Ia menekan lengan Jay, memutar pergelangan tangannya, memeriksa sendi-sendinya. "Tubuh seperti ini langka. Sangat cocok untuk pelatihan tingkat tinggi."

Jay mencoba bicara, tapi yang keluar hanya batuk berdarah.

"Jangan bicara dulu." Pria itu melambaikan tangan, dua orang muncul, pria bertubuh besar dengan wajah datar. "Bawa dia ke Rumah Sakit Grahapura. Segera!"

Jay mengangkat tangan, ingin menolak, tapi pria asing itu berkata, "Cepat bawa dia!"

Jay tak berdaya, membiarkan mereka mengangkat tubuhnya dengan hati-hati, memasukkannya ke dalam mobil van putih yang terparkir di jalan setapak.

Pria tua itu yang akan Jay kenal sebagai Guru Jade, duduk di sampingnya, mata abu-abunya tidak berkedip, seperti menjaga harta berharga.

"Jalan!" perintah Guru Jade.

***

Beberapa jam kemudian di lantai tiga Rumah Sakit Grahapura, dalam ruang VVIP yang serba putih dan steril, Diana Legiani terlihat sedang menangis.

Air matanya mengalir meski tidak deras, cukup untuk terlihat sedih tapi tidak merusak riasan. Ratu drama ini berusaha memainkan peran ibu tiri yang baik dengan sesempurna mungkin. Wanita itu duduk di samping ranjang Danny, memegang lembut tangan putra tirinya yang terbalut perban.

"Sayang, ini semua salahku!" Suara Diana bergetar, penuh penyesalan. "Aku seharusnya tidak menyuruh mereka pulang malam itu. Aku hanya ...."

Hendra Wijaya berdiri di ujung ruangan, punggungnya membungkuk, pria yang biasanya tegap kini seperti patah. Pengusaha nomor satu Kota Permata ini kehilangan segalanya dalam satu malam. Satu putra sekarat di ranjang rumah sakit. Yang lain entah di mana, hidup atau mati.

"Ini bukan salahmu," kata Hendra Wijaya, pelan. "Ini adalah kecelakaan yang tentu saja tidak pernah kita duga."

"Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri," lanjutnya, tak menaruh curiga sama sekali. "Sekarang kita hanya bisa merawatnya dengan baik hingga dia pulih kembali."

Diana menunduk lebih dalam, menyembunyikan senyum tipis yang hampir muncul. Bodoh. Pria ini begitu mudah dimanipulasi.

"Karena kondisi Danny sudah aman, sekarang aku harus melakukan sesuatu yang lebih penting," ujar Hendra Wijaya.

Hendra Wijaya mengeluarkan ponsel, menekan nomor dengan jari gemetar.

"Kerahkan semua orang," perintahnya begitu sambungan tersambung. "Cari Jay. Sisir seluruh tempat kejadian itu dengan teliti. Tuan muda kedua harus segera ditemukan. Mengerti?"

"Siap, Tuan," sahut suara di seberang sambungan telepon.

Hendra Wijaya menutup telepon, menatap Danny yang terbaring tak sadarkan diri. Wajah putranya yang tampan kini setengah hancur, perban menutupi sebagian besar, hanya menyisakan bibir pucat dan dagu. Kedua kakinya dalam gips tebal, digantung oleh katrol.

Hendra Wijaya sungguh mengira jika insiden yang menimpa kedua putranya adalah murni kecelakaan. Ia tidak tahu, iblis wanita di sampingnya sedang tersenyum penuh kemenangan.

'Pria bodoh ini masih belum tahu kalau anak sialan itu mungkin saja sudah mati di dasar jurang,' bisik Diana dalam hati. 'Sekarang tak ada lagi orang yang bisa merebut harta kekayaan Keluarga Wijaya dari anakku. Dan jika perlu, kekayaan Keluarga Anggara juga harus jadi milikku!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Black Velvet
akhirnya ada pertolongan dari seorang guru
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 33

    Seorang penjaga mencoba menghalau para perusuh dengan wajah yang sudah babak belur. "Sudah, hentikan! Kalian harus segera pergi dari sini!""Siapa yang berani mengusir kami?" balas salah satu perusuh sambil melemparkan botol bir ke arah penjaga. Botol itu melayang dan menghantam kepala penjaga dengan bunyi yang pecahan mengerikan. "Kami adalah raja di wilayah ini!"Keributan semakin menjadi-jadi. Meja dan kursi berserakan, makanan serta minuman berceceran di lantai. Beberapa pelayan wanita menangis ketakutan di pojok ruangan. Salah seorang pelayan secara diam-diam menyelinap pergi guna menelepon polisi dengan tangan gemetar.Pada saat yang sama, Romario Wijaya dan ibunya sampai ke lokasi dengan harapan tinggi, berharap para pelaku adalah kelompok yang menyerang Hero Cafe beberapa waktu lalu. Dengan begitu, mereka bisa menangkap musuh bebuyutan malam ini juga.Namun, mereka harus kecewa karena ternyata perusuh ini hanya sekelompok anak nakal yang tidak mau membayar setelah makan."Sepe

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 32

    Sebelum pergi, Romario Wijaya menelepon satuan bodyguard lain untuk segera bergerak mengikutinya ke Hero Restaurant. Suaranya keras dan tegas, menunjukkan otoritas yang tidak bisa dibantah.Dalam hati ia bertekad untuk menangkap musuh bebuyutannya, Jaya Wijaya dan kelompoknya yang telah mengganggu semua rencananya. Nama itu bergema di benaknya seperti mantra kutukan yang tidak bisa dilupakan.Diana mengepalkan telapak tangannya kuat-kuat, matanya menatap lurus ke depan namun dalam bayangannya hanya ada dua wajah yang sangat ia benci. 'Danny Wijaya, Jaya Wijaya, sebentar lagi tidak akan ada lagi nama kalian di atas bumi ini!' Saat berada di dalam mobil mewahnya, Romario Wijaya berkata kepada ibunya dengan nada khawatir, "Sebenarnya aku merasa was-was, Ma. Takut kalau-kalau orang ini benar-benar Jaya si berengsek itu. Kalau orang itu sampai kembali ke dalam Keluarga Wijaya, maka posisi pewaris tunggalku akan terancam."Diana Legiani menyeringai, meski ada kekhawatiran yang tersembunyi

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 31

    Dua tamparan lagi mengenai wajah Rani yang sudah membengkak. Gadis itu menangis tersedu-sedu, tubuhnya gemetar ketakutan. Pipinya sekarang terasa panas membara, seolah ada api yang menari-nari di permukaan kulitnya."Kalian juga!" Diana menunjuk ke arah karyawan lain yang berdiri gemetar di sudut ruangan. Suasana mencekam menjalar ke seluruh ruangan seperti kabut tebal yang menelan cahaya. "Aku tahu kalian semua tahu sesuatu. Siapa yang mau bicara?"Dua bodyguard lainnya langsung menghampiri para karyawan. Tamparan demi tamparan mulai berterbangan, disertai jeritan kesakitan dan permohonan ampun yang memilukan. Suara tangisan dan isakan memenuhi ruangan, menciptakan simfoni penderitaan yang menyayat hati."Ampun, Nyonya! Kami benar-benar tidak tahu apa-apa!" teriak salah satu karyawan sambil memegang pipinya yang bengkak. Mata orang itu berkaca-kaca, tidak hanya dikarenakan sakit secara fisik, tapi juga karena tekanan mental. "Bohong!" Diana berteriak marah. "Kalian semua bohong!""T

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 30

    "Ma, entah mengapa aku merasa ini ada yang tidak beres dengan masalah ini, Ma." Romario Wijaya menatap wajah Diana.Romario Wijaya merasa geram dalam hati dan berniat melakukan penyelidikan untuk kasus ini. "Ma, aku sendiri yang akan mendatangi tempat itu dan meminta pertanggung jawaban pihak butik!"Tapi ini bukan masalah gaun, melainkan harga diri yang terasa terinjak-injak dan Romario Wijaya merasa seperti ada kejanggalan dalam masalah gaun hitam ini.Malam itu juga, mereka berangkat ke Kiara Boutique yang masih dalam tahap pemberesan akibat baru saja dihancurkan oleh Jay.Diana Legiani duduk di kursi belakang mobilnya yang mewah, wajahnya keras seperti batu. Di samping kirinya, Romario Wijaya menatap keluar jendela dengan ekspresi yang sama geramnya. Di depan mereka, dua mobil hitam lainnya berisi sepuluh orang bodyguard pilihan Diana yang berbadan kekar dan berwajah garang mengikuti dari belakang."Mama akan memastikan mereka membayar atas kelalaian ini," gumam Diana sambil merem

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 29

    Sementara itu, di sudut butik yang mulai tenang kembali, seorang wanita cantik berdiri di balik etalase kaca, menatap kosong ke arah jalan. Rani Simbolon, kepala pengelola Kiara Boutique, menggenggam secangkir teh melati yang kini mulai dingin. Aroma bunga samar-samar masih tercium, namun pikirannya tak di sana."Mengapa dia begitu ngotot membeli gaun milik Nyonya Diana?" gumam Rani, merasa tak habis pikir hingga alisnya berkerut. "Mungkinkah dia memiliki urusan yang tak biasa dengan nyonya besar itu?"Mata Rani Simbolon menyipit, mengingat kembali bagaimana Jay tiba-tiba begitu tertarik dan langsung menawar gaun itu dengan harga yang terlalu tinggi untuk sebuah pakaian.Pikiran Rani melayang ke pesta ulang tahun Heru Wijaya yang akan digelar akhir pekan ini. Ia juga mendapat undangan sebagai tamu yang diundang secara khusus oleh nyonya besar Keluarga Wijaya tersebut."Untuk urusan gaun itu," bisik Rani pada dirinya sendiri, membayangkan gaun hitam ekslusif yang kini tak lagi di buti

  • Kembali untuk Merebut Kekayaan   Chapter. 28

    Kenzo terlihat bingung, sedangkan Zane tertawa puas atas hasil kejahilannya."Sudah, jangan terus berdebat kalian!" Jay mulai merasa kesal. "Kita cabut sekarang!"'Awas lu, Zane!' Kenzo melirik tajam ke arah Zane, bersiap untuk melakukan peritungan.'Rasain lu!' Zane merasa menang kali ini.Tanpa membantah lebih jauh, Zane memberi isyarat pada anggota rombongan lainnya untuk kembali ke motor. Suara mesin kendaraan kembali meraung di udara, tapi kali ini untuk pergi meninggalkan tempat tersebut.Di dalam mobil, Nina duduk di kursi penumpang, berdampingan dengan Jay. Sambil membetulkan posisi duduknya, ia melirik kantong belanja berwarna hitam elegan yang kebetulan berada di bagian teratas."Boss," panggil Nina sambil menatap Jay dari sudut mata. "Sebenarnya gaun hitam itu, Boss beli untuk siapa?" Jay menyandarkan tubuhnya ke sandaran jok dengan sikap santai. "Tidak untuk siapa-siapa.""Aku hanya ingin bersenang-senang dan mempermainkan seseorang dan sama sekali tidak tertarik pada gau

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status