LOGIN
Hujan deras memukul aspal dengan keras, mengubah jalanan pinggir Kota Permata menjadi cermin hitam yang memantulkan sedikit cahaya lampu jalanan, mengiringi sosok Danny Wijaya yang tengah menarik handle gas dalam-dalam hingga mesin motor Honda Repsolnya meraung, membelah kegelapan malam.
"Pelan-pelan saja, Kak Danny. Jangan terlalu terburu-buru!" Jay memeluk pinggang sang kakak lebih erat, tubuhnya gemetar, entah karena dingin atau ketakutan. "Jalanan terlalu licin. Kita jangan sampai celaka." "Kita harus cepat sampai di rumah." Danny menoleh sekilas, melihat wajah adiknya yang pucat. "Kakak tidak ingin kamu sakit. Besok kamu masih harus bertanding, kan?" Ketika Jay hendak menjawab, bayangan tiga lampu motor muncul dari tikungan belakang yang baru saja mereka lewati. Cahayanya menyorot tajam, memotong kegelapan seperti pisau. Suara mesin motor-motor meraung-raung, seperti sengaja mereka gunakan untuk mengancam lawan. "Kak Danny." Jay menoleh ke belakang, dadanya sesak. "Sepertinya ada yang aneh dengan para pengendara motor di belakang itu." Danny Wijaya melirik spion kiri, lalu kanan. "Mungkin mereka cuma orang yang sedang jalan searah dengan kita," sahut Danny, suaranya dibuat santai. Tapi nada suara Danny tidak meyakinkan. Tangannya menggenggam stang lebih kencang sampai buku-buku jarinya agak memutih. Tiba-tiba, sebutir batu melayang dari kegelapan, dan .... Trang! Benda itu menghantam spakbor belakang, memantul ke aspal dengan bunyi nyaring. Motor yang dikendarai Danny tersentak, ban belakang bergeser sedikit ke kiri. "Astaga! Hampir saja!" Danny menjerit, setengah kaget, setengah panik, sambil berjuang mengendalikan kemudi. "Sial!" Jay melirik ke belakang, matanya melebar. "Kak, mereka benar-benar menguntit kita!" "Kakak tahu!" Danny menarik gas habis-habisan. Angin hujan menghantam wajah mereka seperti cambuk. "Berpegangan erat-erat, Jay!" Jay kala itu baru berusia dua puluh tahun hanya mengangguk, tangannya melingkar erat di pinggang Danny yang hanya selisih tiga tahun dari usianya. "Tetap hati-hati, Kak!" Jay terus mengingatkan. "Kamu tenanglah." Danny bersiap tancap gas lebih kuat. "Ingatlah kalau kakakmu ini adalah seorang pembalap yang belum terkalahkan di kota ini!" Motor-motor di belakang semakin dekat. Salah satu melaju sejajar, pengendaranya, pria bertopeng hitam yang menatap mereka dengan pandangan mata dingin. Klakson dibunyikan berulang kali, memekakkan telinga. Gas digeber keras-keras, menciptakan harmoni setan di malam yang kelam. Jalanan mulai menanjak, di kanan mereka jurang menganga seperti mulut raksasa. Tidak ada pembatas, hanya kegelapan yang menelan segalanya. Jay bisa mendengar detak jantungnya sendiri, lebih keras dari suara hujan. "Kak, awas!" teriak Jay, panik. Terlambat. Motor dari arah kiri melesat dengan kecepatan gila, menabrak keras motor Danny. Bunyi benturan logam memecah malam. Danny kehilangan kendali. Motor berputar, tubuh mereka terlempar. Dunia menjadi kacau, aspal, langit, lampu, semuanya berputar dalam pusaran mengerikan. Danny berguling, punggungnya membentur tanah berulang kali. Motor jatuh menindihnya, knalpot panas menyentuh pahanya. Rasa sakit meledak di sekujur tubuh, tapi satu-satunya yang ia pikirkan adalah adiknya. "Jay!" "Jay!" Suaranya pecah, penuh kepanikan. "Di mana kamu?" Danny merangkak, menyeret tubuhnya keluar dari bawah motor. Setiap gerakan seperti pisau mengiris daging. Darah bercampur air hujan di tangannya, membuatnya licin dan merah muda. "Jay, apa kamu baik-baik saja?" Bunyi mesin motor mendekat. Danny mendongak, terlalu lambat, sebuah roda depan sepeda motor besar melindas kedua kakinya. Kretek! Danny menjerit. Suara yang keluar bukan lagi manusiawi, melainkan seperti jeritan binatang yang terluka. Tulangnya remuk, daging robek, saraf-saraf berteriak dalam agoni yang tak terbayangkan. Danny jatuh telentang, rambutnya yang panjang tersebar di genangan air bercampur darah. Hujan membasuh wajahnya, tapi tidak bisa membasuh rasa sakit. "Kak Danny!" Suara teriakan Jay terdengar lemah, ketakutan, datang dari sebelah kiri. Danny memaksakan kepala menoleh. Adiknya berdiri tertatih, tapi sebelum sempat melangkah, pria berbadan besar berpakaian serba hitam sudah menghadangnya. Bogem pertama menghantam pipi Jay. Kepala pemuda itu terpelanting. Tinju kedua mengenai perut, membuatnya membungkuk. Ketiga, keempat, kelima, tinju itu tidak berhenti. Jay tersungkur, muntah darah di aspal basah. "Siapa ... siapa kamu?" Jay terbatuk, darah mengalir dari sudut bibirnya. Pria itu tidak menjawab. Hanya melanjutkan pukulan dengan metodis, seperti mesin pembunuh. "Tidaaak!" Danny berteriak, suaranya serak. Ia mencoba merangkak, tapi kakinya tidak merespons, hanya daging hancur dan tulang patah. "Jangan! Tolong lepaskan adikku!" Dua pria lain muncul dari kegelapan. Mereka mengangkat tubuh Jay yang nyaris tak sadarkan diri, menyeretnya ke tepi jurang. Kaki-kaki Jay menggantung di udara kosong. "Kalau kalian ingin harta, tinggal katakan saja!" Suara Danny memelas, air mata bercampur darah di wajahnya. "Kalau kalian menginginkan nyawaku, tinggal ambil saja! Tapi tolong ... tolong bebaskan adikku!" Mereka tidak peduli. Dengan gerakan acuh tak acuh, mereka melemparkan Jay ke dalam jurang. "Kak Danny!" Tubuh pemuda itu menghilang dalam kegelapan. Tidak ada teriakan. Tanpa bunyi benturan. Hanya kesunyian yang lebih mengerikan dari apa pun. "Jaaaaaay!" Danny menjerit sampai suaranya hilang, tenggorokannya serasa robek. "Jay!"Sementara itu di tempat lain.Di dalam gudang tua di wilayah utara kota, markas sementara kelompok JAY’X tampak hidup. Komputer menyala dengan banyak jendela data terbuka. Kenzo sibuk mengetik cepat sambil mengunyah mie instan, sementara Nina, satu-satunya wanita di kelompok itu, sibuk membersihkan senjata yang disimpan dalam koper panjang.Pemuda bertubuh besar bernama Gara, tampak sibuk mengangkat peti berisi perlengkapan logistik ke rak besi di pojok ruangan.Jay duduk di sofa tua, menatap dinding penuh coretan strategi. Di tengah, foto seorang anak lelaki tergantung dan menjadi pusat perhatiannya. Orang dalam foto itu adalah Danny Wijaya, kakaknya.Jay meraih bungkus rokok, mengambil sebatang, lalu menyelipkan benda itu di kedua belah bibirnya yang seksi. Nina, asisten pribadi Jay, bergegas datang dengan pemantik api di tangan.Jay membiarkan sang asisten menyulut rokok di bibirnya. Pria itu menaruh kedua kakinya di atas meja dengan sikap santai."Bagaimana, Ken, sudah kamu dapatk
Diana menarik napas dalam-dalam.Setelah amarahnya sedikit mereda, ia berkata, "Ceritakan semuanya apa yang terjadi dan sekalian rekaman CCTV, kirim sekarang juga!""Baik, Nyonya. Anda tunggulah sebentar. Saya akan segera melakukan pengecekan." Ali kemudian memutuskan sambungan telponnya.Tak lama kemudian, satu berkas video dikirim ke email pribadinya. Diana langsung memutarnya.Namun, begitu video terbuka .…Mata Diana melebar, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.Terdengar suara lagu ulang tahun. Kamera menunjukkan ruangan dengan balon warna-warni, kue besar, dan seorang badut berjoget di tengah. Para tamu tertawa, menari, bersulang.Semua orang terlihat gembira dengan pesta ala bocah taman kanak-kanak yang terlihat dalam video.Emosi Diana meledak, merasa dipermainkan oleh Ali. File yang diinginkan bukan ini.Diana meraih ponsel di atas meja, kembali menghubungi Ali dengan amarah meluap."Ali, video apa yang kamu kirim baru saja?" bentak Diana dengan wajah merah padam."
Ali memerintahkan beberapa pegawai kafe untuk segera mengambil semua uang pendapatan yang diminta oleh Jay. 'Tak mengapa. Toh akhirnya nanti akan diambil kembali oleh nyonya,' pikirnya.Jay berkata ke pada kawan-kawannya. "Kalian tunggu dan berjaga di luar. Ingat! Jangan biarkan siapa pun menerobos masuk dan mengganggu rencanaku.""Lalu bagaimana dengan orang-orang ini, Bos?" tanya Nayaka sambil menunjuk ke arah para pegawai kafe yang telah dibekuk.Jay menunjuk ke sebuah ruangan. "Masukkan mereka semua ke ruangan itu dan kunci dari luar.""Siap, Bos!" sahut para anak buah Jay.Dengan sigap, keenam anak buah Jay segera meringkus semua pegawai kafe dan menahan mereka dalam satu ruangan.Tak lama kemudian, bertumpuk-tumpuk uang kertas sudah berjejer rapi di hadapan Jay yang sekarang mendominasi keadaan. Jika dihitung, jumlahnya mencapai ratusan juta rupiah!Mata Jay berkilat, memandangi lembaran-lembaran rupiah yang teratur rapi dengan seringai di bibirnya."Lihatlah ini!" Jay menyentu
Ali datang dengan wajah beringas. "Kalian semua, jangan membuat keonaran di sini! Jika tidak, kami akan bertindak sesuai hukum yang berlaku!"Teriakan orang yang bernama Ali ini tidak digubris oleh orang-orang yang sepertinya datang hanya untuk membuat kerusuhan."Hukum?" Zane, si pembuat kerusuhan, membanting mangkuk besar sebelum berjalan maju menghampiri Ali. "Hukum apa? Dia pikir kami takut dengan ancaman itu. Dasar budak kecil!"Mendengar gumaman Zane, emosi Ali kian memuncak. Ia langsung memanggil satuan pengaman melalui ponselnya. "Cepat ke mari! Ada sekelompok tikus sedang membuat kekacauan di sini!""Baik, Pak!" sahut suara dari seberang telepon.Sambil menyimpan ponsel, Ali berucap penuh emosi. "Humph! Tunggu sebentar lagi, kalian semua akan kami tangkap!"Kerusuhan terus berlangsung hingga sekelompok orang berseragam satuan pengaman datang. Mereka langsung terlibat baku hantam dengan Geng JAY'X yang hanya berjumlah tujuh orang.Tujuh melawan selusin orang mungkin bukan lawa
Semua orang terkejut saat terdengar suara dobrakan keras dari arah pintu.Di pintu masuk yang baru saja dirusak, tujuh orang pemuda berpakaian serba hitam melangkah masuk dengan langkah mantap, bak para prajurit yang siap bertempur.Semua orang yang ada di ruangan tersebut menjadi terkejut dengan kehadiran kelompok yang memiliki tanda pengenal khusus berupa logo grup yang sengaja ditempelkan pada pakaian masing-masing, dan simbol itu benar-benar milik kelompok bandit metropolitan yang menamakan dirinya sebagai Geng JAY'X.Biang chaos datang!Kelompok ini terkenal suka berbuat onar di tempat umum dan tergolong cukup meresahkan masyarakat. Namun, siapa yang sanggup menghentikan mereka?Jangankan hanya satuan keamanan kecil, aparat penegak hukum saja sering mereka jadikan permainan.Geng JAY'X memiliki penampilan menakutkan. Mereka mengenakan jaket kulit hitam berbahan sintetis, kacamata hitam, celana hitam yang robek-robek di sana-sini disertai beberapa tambalan stiker-stiker aneh dan r
Di koridor luar, sepuluh orang pengawal Keluarga Wijaya berbaris rapi. Mereka bergegas menuruni tangga darurat, melewati lobi rumah sakit dengan langkah cepat dan teratur. Di pintu masuk, mereka berpapasan dengan rombongan lain. Empat orang membawa tandu, di atasnya tubuh pemuda penuh luka. Dipimpin oleh pria setengah baya bertopi cowboy yang berjalan dengan tenang, tidak terburu-buru, seperti memiliki semua waktu di dunia. Para pengawal Keluarga Wijaya tidak menoleh. Mereka punya misi. Orang lain tidak penting. Dua kelompok itu berpapasan, begitu dekat, tapi tidak pernah bertemu. Takdir memainkan ironi kejamnya, mereka mencari orang yang tepat berada dua meter dari mereka, tapi tidak ada yang tahu. Mata abu-abu Guru Jade melirik sekilas, mengikuti kepergian para pengawal itu. Ia bergumam dalam hati. 'Sepertinya mereka para pengawal dari sebuah keluarga kaya dan terhormat. Mungkinkah ada orang penting yang sedang dirawat di rumah sakit ini?' ***** Tiga minggu berlalu sep







