MasukHujan deras menetes di jendela sekolah menimbulkan suara ketukan yang monoton. Dia membuka mata. Semuanya gelap. Lekas ia membuang ember yang menutupi kepalanya.
Ruangan ini dingin dan sempit. Aroma sabun dan lantai sekolah yang basah menyengat hidungnya.
Ia mencoba menggerakkan tangan dan terhentak kaget. Tubuhnya terasa kecil, kurus, tak familiar … dan muda. Tangannya lebih lentik dan jari-jarinya halus. Saat menoleh, ia menyadari sesuatu yang membuatnya membeku. Pantulan cermin itu bukan dirinya, melainkan orang lain.
“S–siapa …” Dia merangkak mendekat, menyentuh permukaan cermin di sudut ruang toilet. “Siapa yang ….” Anehnya, pantulan di dalam cermin mengikutinya. Hingga ia sadar, itu bukan bayangan orang lain, melainkan dirinya sendiri.
Yalinda kaget bukan main. Ia mundur tersentak. “Apa yang terjadi?”
Ingatannya kembali pada malam sebelumnya. Dia mati di tangan suaminya dan orang terakhir yang ia temui adalah Lion.
“Apa yang terjadi padaku?” Yalinda beranjak dari tempatnya. Lututnya gemetar dan tubuhnya basah kuyup akibat pembulian yang dialaminya.
Dia menatap cermin di atas wastafel, lalu mendekat. Matanya membaca tulisan di dada kanannya. “Luna Asteria?” Suaranya terdengar tinggi khas remaja baru pubertas dan nyaris serak karena panik.
Ia terdiam untuk mencoba mencerna keadaan. Wajah gadis 18 tahun yang bukan dirinya menatap balik—matanya besar, polos, tetapi penuh luka batin yang tersembunyi di balik ekspresi takut. Rambut hitamnya berantakan, pipinya memerah karena pukulan dan air hujan yang menempel.
“Apa yang terjadi padaku?”
Ia mencoba menenangkan diri, mengusap wajah yang bukan miliknya. Langkahnya perlahan keluar dari toilet.
Lorong sekolah terasa asing untuk Yalinda. Suara langkah kaki, tawa, bahkan aroma hujan membingungkan inderanya.
“Kasian sekali istrinya, padahal mereka keluarga yang harmonis,” bisikan membuat Yalinda menoleh. Dia menghentikan dua gadis yang berjalan berlawanan arah dengannya.
“Hei, tunggu,” ujar Yalinda. “Di mana ini?” tanyanya.
Dua gadis itu saling berpandangan. “Apa maksudmu? Ini SMA Candramaya.”
“Aku gadis SMA?” batin Yalinda.
Samar-samar suara dari dalam ponsel menyita fokus Yalinda. “Istri CEO Wiratech meninggal dunia malam kemarin. Diduga karena depresi yang dialaminya. Seluruh keluarga berkabung dalam pemakaman Lumina Memorial dengan hikmat siang ini.”
Yalinda langsung merebut ponsel itu. Matanya menatap layar dan jarinya memperbesar volume. “Benar, aku sudah mati kemarin,” gumamnya pada dirinya sendiri.
“Kamu ini kenapa, Lun!” Temannya merebut ponselnya. “Dasar sinting!” Mereka meninggalkan Yalinda begitu saja.
Ia sedikit linglung, tetapi tekadnya kembali terbangun begitu saja. Langkahnya gontai, berlari ke gerbang utama sekolah. Tak peduli bahwa dia adalah murid SMA yang harus belajar setelah ini.
Di pinggir jalan, dia menghentikan taksi, memberi arahan kepada sang sopir untuk pergi ke Lumina Memorial.
Di dalam taksi, Luna terus menatap pantulan wajahnya dari kaca jendela mobil, lalu menatap jari jemarinya yang terasa lembut dan muda. Yang paling mengejutkan adalah dia hidup.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” gumam Yalinda pada dirinya sendiri.
Taksi berhenti di depan halaman parkir. Yalinda mengeluarkan uang dari saku roknya. Pandangan matanya terkunci pada karangan bunga yang menuliskan namanya. Yalinda. Sebagai tokoh yang mati hari ini.
Yalinda masuk ke dalam kawasan pemakaman. Di sana ramai, semua orang mengenakan pakaian hitam dan berduka. Namun, tidak semua datang dengan duka yang tulus.
“Ayah.” Yalinda mempercepat langkah kaki. “Ayah,” gumamnya setelah melihat pria tua yang terduduk lesu dengan wajah tua yang rapuh, menangis tersedu-sedu.
Darian berdiri di depan peti matinya, dingin dan duka yang palsu. Sesekali dia melihat senyum tipis terlukis sebagai respons otomatis terhadap kematiannya.
Yalinda, dalam tubuh Luna, mencoba menerobos kerumunan. Ia ingin memeluk ayahnya, ingin menjerit dan menumpahkan semua rasa sakit yang tak tertahankan. Namun, pengawal ketat mendorongnya mundur. Tubuhnya yang kecil dan muda terlalu mudah ditahan.
Hujan mulai turun deras, membasahi rambut dan pakaian. Namun, rasa dingin di dada lebih menusuk daripada air yang menetes. Dan dari semua itu, dia hanya bisa menonton semua ini dalam tubuh gadis yang tak ia kenal.
====
Kembali ke sekolah. Luna berdiri di ruang kelas, memandang bangku-bangku yang mulai kosong. Wajahnya lesu. Dia menghentikan langkah kaki seorang teman.
“Di mana tempat duduk gadis ini?” tanyanya.
Pemuda di depannya terdiam.
“Maksudku di mana tempat dudukku?”
Dia menunjuk kursi paling belakang dengan bingung. Gadis basah kuyup yang lupa tempat duduknya, ya, begitulah Yalinda sekarang.
Yalinda menghela napas. Berdiri di depan bangku kosong dengan buku berserak di atasnya. Dia menutup buku pertama, nama Luna sebagai identitas pemilik. Buku kedua juga sama, begitu juga ketiga.
“Apa yang terjadi padaku?” Air mata menetes karena bingung. Dia memasukkan buku-buku itu ke dalam tasnya.
Di dalam sana, Yalinda mengambil dompet lalu mengeluarkan KTP. Sekali lagi, itu milik Luna Asteria. “Siapa Luna ini?”
====
KTP itu mengantarkan Yalinda ke sebuah rumah tua sederhana di pinggiran kota. Dia masih asing, tetapi dia tahu bahwa ini adalah rumah barunya.
Ia memasukkan kunci ke dalam lubang, memutar gagang pintu, dan gelap menyambutnya. Jari jemarinya meraba dinding, menemukan saklar lampu dan … menyala.
Tempat itu bersih; semua tertata rapi. Yalinda berjalan menyusuri ruangan, langkah kakinya berusaha mengenali lingkungan baru. Dia berhenti di depan sebuah pintu kamar. Ada nama Luna di sana. Perlahan dia membuka pintu itu.
“Apa yang sedang aku lakukan?” Yalinda bergumam pada dirinya sendiri. Luna pulang, tidak untuk jiwa Yalinda.
Dia menyusuri kamar kecil itu, menemukan bingkai foto yang memotret kecantikan Luna bersama wanita paruh baya. “Ini pasti neneknya.”
Yalinda duduk di ujung ranjang, sorot matanya tertuju pada kaca rias di sampingnya. “Jadi aku hidup di dalam tubuh gadis ini?” Dia mulai menyimpulkan.
“Tuhan memberiku hidup kedua?” Pertanyaan terus muncul dalam dirinya. “Aku mati sebagai Yalinda dan hidup kembali sebagai Luna?”
Yalinda mengusap air matanya. Tubuhnya begitu lelah. “Kenapa rasanya begitu aneh?”
Suara langkah kaki terdengar masuk ke dalam rumah. Yalinda buru-buru mengusap air matanya yang habis dan melangkah keluar kamar.
Seorang wanita tua datang membawa bungkus makanan yang diletakkan di atas meja makan.
“Kamu pulang lebih awal. Tidak bekerja?”
Yalinda terdiam. Dia hanya menatap wanita tua itu dengan ragu.
“Kalau nenek bicara, itu dijawab,” ucapnya lagi.
Yalinda hanya tak tahu bicara apa.
Wanita itu menoleh padanya. Menatap Yalinda, kemudian berbicara. “Kenapa selalu lupa bawa payung? Kita sekarang punya payung.”
Yalinda mendekati wanita tua itu. “Luna, maksudku aku … ini rumahku?”
Keduanya saling memandang. Sejenak hening membentang sebelum akhirnya wanita itu menepuk punggung Yalinda dengan keras. “Kamu mulai lagi!” Dia tertawa tiba-tiba. “Sudah, nenek bilang jangan bermimpi jadi aktris! Kita orang miskin, mimpi itu jadi dokter atau orang kaya.”
“Mandi dan ganti bajumu. Nenek menyiapkan makan untukmu.”
Yalinda menatap wanita tua itu sekali lagi. Satu hal pasti yang dimiliki Luna tetapi tidak dimiliki olehnya, orang yang mencintainya dengan tulus.
Ia mengeluarkan sebuah foto lain dari map. Foto itu memperlihatkan Luna sedang berjalan bersama Darian di sebuah pusat perbelanjaan. Foto lain menunjukkan mereka berdua di pasar malam. Selena menatap foto tersebut cukup lama.“Darian tidak pernah memperlakukan orang lain seperti itu.”Perempuan di hadapannya tidak memberikan tanggapan.“Cari tahu siapa saja orang yang pernah dekat dengan Luna. Teman sekolah, keluarga, bahkan orang-orang yang bekerja bersamanya.”“Baik, Nyonya.”“Dan satu lagi.” Selena menutup map. “Cari tahu apakah dia pernah berhubungan dengan keluarga Yalinda.”Perempuan itu mengangguk. Selena menyandarkan tubuhnya. Ia belum memiliki bukti, tetapi nalurinya mengatakan bahwa Luna bukan sekadar gadis yang kebetulan masuk ke kehidupan mereka. Ada sesuatu yang jauh lebih besar. Selena tidak akan membiarkan gadis itu mengancam posisinya.Menjelang siang, Luna kembali ke mansion karena jadwal kerjanya di perusahaan baru dimulai sore hari. Ia sengaja meminta izin kepada kep
“Kamu belum menjawab pertanyaanku.”Darian masih berdiri di belakang Luna. Tatapannya tertuju pada lorong yang menuju ruang kerja lama milik ayah Yalinda.Luna memasukkan kedua tangannya ke saku jaket. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Kamarku terasa pengap.”“Di dalam mansion sebesar ini, kamu harus berjalan sampai ke lorong tersebut untuk mencari udara?”Luna tersenyum tipis. “Ternyata Pak Darian sangat memperhatikan ke mana aku berjalan.”“Sulit untuk tidak memperhatikan seseorang yang selalu muncul di tempat yang tidak seharusnya.”Sindiran itu tidak membuat Luna gentar. Ia justru berbalik menghadap Darian.
Malam merayap pekat.Luna baru saja selesai membersihkan diri ketika ketukan tajam mengoyak pintu kamarnya. Ia menduga salah satu pelayan, tetapi begitu dibuka, Selena berdiri dengan mata bernyala.“Kita perlu bicara,” desis Selena tanpa menunggu izin, langsung menerobos masuk ke dalam kamar.Netra Selena menyapu sudut ruangan tersebut. Kamar di sayap atas mansion, menghadap langsung ke taman belakang, dan letaknya begitu dekat dengan ruang kerja lama ayah Yalinda—titik strategis yang memang sejak awal diincarnya.“Kamu semakin betah di rumah ini, rupanya,” sindir Selena tajam.Luna menyampirkan handuk kecil di pundaknya. “Bukankah itu bagus? Setidaknya aku tidak merepotkan siapa pun.
Sejak malam di mana bara api menghanguskan sejarah hidupnya, eksistensi Luna di dalam dinding megah mansion Wiratama merayap bagai racun yang tak kasat mata.Ia tidak meledak-ledak. Tidak pula menuntut perhatian. Ia merayap lewat celah-celah terkecil yang selama ini diabaikan oleh Selena—sudut-sudut rumah yang kehilangan jiwa.Pagi itu, Luna menuruni anak tangga dengan balutan pakaian sederhana berwarna netral.Rambut pendeknya dibiarkan tergerai natural, membingkai garis rahangnya yang tegas. Di tangan kanannya, sebuah buku catatan kulit kecil tergenggam.Langkahnya terhenti di ruang keluarga yang lapang. Seorang pelayan paruh baya tengah berdiri di samping vas kristal besar, mengganti tumpukan bunga segar yang menghiasi sudut ruangan.
Luna tidak langsung menjawab.Tatapannya terpaku pada layar ponsel Darian. Rekaman CCTV itu memperlihatkan dirinya berdiri di ruang tengah rumah, menyalakan api, lalu berjalan keluar tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.Tidak ada yang bisa disangkal.Ia memang pelakunya.“Kamu ingin menjelaskan sesuatu?” tanya Darian.Luna mengangkat wajah. Pria itu berdiri beberapa langkah di hadapannya, masih mengenakan kemeja kerja dengan lengan tergulung sampai siku. Wajahnya tenang, tetapi sorot matanya tidak bisa dibohongi.Darian sedang menguji dirinya.“Kalau aku bilang itu bukan aku, kamu akan percaya?”“Tidak.”“Kalau begitu, untuk apa bertanya?”Darian meletakkan ponselnya di atas meja. “Aku hanya ingin tahu alasanmu.”Luna menarik napas perlahan. “Aku sudah bilang, Pak Darian. Aku tidak punya rumah lagi. Sekarang aku tinggal di sini.”“Itu bukan alasan untuk membakar rumah sendiri.”“Rumah itu sudah tidak punya siapa-siapa.” Luna menatapnya lurus. “Tidak ada yang akan kehilangan apa pu
Lion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be







