MasukLuna membuka matanya pelan, menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Manik matanya menatap langit-langit kamar—kusam. Bukan lagi lantai marmer apartemen Darian. Bukan kamar luas dengan jendela besar. Hanya plafon kusam, kipas angin tua, dan bau kayu lembap yang menempel di udara.
Ia beranjak dari tempat duduk, menatap pantulan bayangan tubuhnya di cermin rias di depannya. “Benar. Aku bukan Yalinda.”
“Aku harus membiasakan diri,” gumamnya pelan.
Jujur saja, dia tak tahu bagaimana bisa jatuh tertidur semalam. Yang ia ingat, semua yang dirasakan hanyalah kenyamanan yang ia rindukan ketika hidup sebagai Yalinda.
Ia mandi, mempelajari batas tubuh barunya. Bahu yang lebih sempit. Lengan yang lebih ringan. Bekas luka yang tidak ada. Untuk sesaat, ada perasaan ganjil—kehilangan sekaligus kebebasan.
Selepas mandi, ia mendandani diri. Mengenakan seragam sekolah, memoles wajah ala kadarnya, dan menyematkan nama Luna di dada kanannya.
Di dapur kecil, seorang nenek menunggu. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk. Nenek itu—satu-satunya keluarga Luna.
“Duduklah. Nenek sudah menyiapkan sarapan,” kata sang nenek lembut.
Luna duduk, menatap bubur hangat di atas meja, lalu menyendoknya. Tangannya ragu. Ia bukan Luna. Ia tidak tumbuh dengan wanita tua ini. Setiap gerakannya terasa seperti akting di panggung yang terlalu dekat dengan penonton.
“Aku akan pulang sedikit petang. Kalau kamu tidak bekerja, jangan lupa kunci pintunya.” Wanita itu datang membawa segelas air dan meletakkannya di atas meja.
“Sebentar lagi musim ujian. Kamu bisa libur bekerja jika ingin fokus belajar.”
Televisi menyala di sudut ruangan. Berita pagi mengalir biasa—hingga satu nama muncul. Darian Wiratama.
“Biar nenek yang bekerja sementara waktu untuk–”
Sendok di tangan Luna berhenti.
“Wiratech resmi mengakuisisi seluruh saham perusahaan properti Ercaka Estate, yang sebelumnya berada di bawah naungan keluarga mendiang istrinya …”
“Luna!” Neneknya memukul punggung Luna karena terlalu fokus pada tajuk berita di televisi. “Kamu ini kebiasaan! Kalau nenek bicara, selalu mengabaikan.”
Napas Luna tertahan.
Layar menampilkan wajah Darian. Rapi. Tenang. Tersenyum seolah dunia tidak pernah melihat darah di tangannya.
“… langkah ini memperkuat posisi Darian Wiratama sebagai salah satu pengusaha properti paling berpengaruh di kota.”
Bubur di mangkuk bergetar.
“Luna!” Kali ini neneknya mengetuk meja di sisinya.
Luna tersentak. Menoleh ke wanita tua di sampingnya.
“Kamu ini kenapa?” tanyanya. “Sejak kapan peduli sama berita begituan?”
Luna terdiam. Tatapannya kembali pada layar televisi di hadapannya.
Itu milik ayahku. Itu warisan keluargaku. Itu semua yang tersisa … dan dia mengambilnya.
Amarah menjalar, panas dan ganas. Namun, Luna tidak berteriak. Tidak membanting meja. Ia menunduk, mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku menekan kulit.
====
Yalinda tak menyangka dia harus bersekolah setiap pagi. Tempat Luna Asteria dikenal sebagai gadis pendiam. Mudah ditekan. Mudah dijadikan sasaran.
Ia melangkah ke kelas dan duduk di bangkunya seperti biasa. Beberapa pasang mata menoleh—lalu suara itu datang.
“Seperti biasa,” ucap seseorang padanya. Namun, Luna tak bereaksi sedikit pun.
Bangku di belakangnya ditendang pelan. Lalu tangan seseorang terulur, hendak menarik rambutnya.
“Luna!” Gadis itu berteriak di telinganya.
Luna menoleh, menatapnya. Dia tak tahu siapa; hanya nama di dada kanannya, Arumia.
“Kamu pura-pura tuli sekarang?” Dia menarik rambut Luna, membuatnya mendongak. “Seperti biasa!” Tubuhnya ditarik dari bangku dan jatuh tersungkur di lantai.
Yalinda tak siap soal fakta ini. Dia berdecak ringan, merasakan nyeri di lututnya. Anehnya, tak ada yang membantu.
“Sudah miskin, tuli pula!” Dua gadis tertawa bersamaan.
Luna bangkit dari posisinya. Matanya memandang tiga gadis yang tertawa ke arahnya. “Kalian pasti membuli tubuh gadis ini sepanjang waktu,” gumamnya.
“Dia ngomong apa sih?” Arumia, ketua geng, maju selangkah. Jarinya menekan dahi Luna dan mendorongnya mundur. “Kalau miskin, jangan banyak tingkah!”
Luna tak tinggal diam. Dia berhenti mundur. Ketika tangan Arumia hendak menamparnya, dia mencegahnya dengan tepat, mencengkeram pergelangan tangan Arumia.
“Jangan menyentuh tubuh ini lagi.” Itu yang ingin Yalinda katakan pada Darian, bukan pada gadis ini. “Aku tidak akan tinggal diam,” ucapnya sembari mendorong tubuh Arumia menjauh dan menabrak loker di belakangnya.
Suasana membeku.
Gadis itu tersentak. “Kamu pikir kamu berubah jadi apa sekarang?”
Sebelum serangan pertama datang, Luna menjejak kaki gadis itu hingga tersungkur di lantai.
Semua orang terdiam. Pemandangan yang aneh. Luna yang pendiam akhirnya melawan.
Luna mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya rendah, terkendali, tetapi mengancam.
“Pikirkan dua kali sebelum mengulanginya.”
Ketika Luna berdiri kembali, tak sengaja tatapnya bertemu dengan seseorang. Wajah dan perawakan itu tak asing. Jiwa Yalinda mengenalnya, Lion Bagaskara.
Guru masuk. Keributan mereda. Namun, bisik-bisik mulai menyebar. Pertengkaran selesai begitu saja.
====
Jam istirahat pertama, Luna keluar dari kelas. Bukan tanpa tujuan, tetapi menyusul langkah seseorang yang dikenalnya, baik sebagai Luna maupun jiwa Yulinda.
“Lion!” panggilnya. “Lion! Tunggu!”
Aneh. Sekeras apa pun Luna berteriak, Lion tak menoleh, apalagi berhenti dari langkah kakinya.
“Lion!”
Luna mempercepat langkah kaki, berlari dan menghadang lelaki itu.
“Kamu tuli?” tanya Luna ketika berhasil menjangkau posisi Lion.
Pemuda itu melepas earphone di telinganya. Melihat itu, Luna menghela napas panjang. “Pantas saja.”
“Kamu memanggilku?” Lion menanggapi dengan ketus. “Aku?”
Luna menganggukkan kepala. “Hanya kamu yang namanya Lion. Aneh?”
“Aneh.” Lion memalingkan wajah. “Kalau kamu minta bantuan tentang pembulianmu, aku tidak tertarik.”
Selepas menyelesaikan kalimatnya, dia berpaling dari Luna.
“Bukan itu!” Luna menarik pergelangan tangan Lion, berusaha menghentikan langkah kakinya.
Namun, dengan kasar, Lion menampik tangan Luna, membuat gadis itu terpelanting hampir jatuh.
“Ada apa denganmu hari ini?” Lion menatapnya dengan kesal. “Kita tidak pernah bicara. Kita hanya tahu nama satu sama lain dan kita hanya satu kelas. Jaga batasan itu.”
Selepas menyelesaikan kalimatnya, Lion beranjak lagi.
Luna menghela napasnya, kembali berdiri dan menatap Lion yang perlahan menjauh darinya. “Jadi Luna tak pernah bicara dengannya?” gumam Luna pada dirinya sendiri. “Baiklah, akan aku buat kalian terus bicara mulai sekarang.”
“Soal wanita samping apartemenmu yang mati!” Luna berteriak pada Lion.
Pemuda itu terhenti. Sukses! Luna berhasil menarik perhatiannya. Lion berbalik dan mendekatinya. “Apa katamu tadi?”
“Wanita yang mati itu ….”
Raut wajah Lion berubah dan kerutan tipis muncul di keningnya.
“Bagaimana perasaanmu?”
====
Senja turun begitu saja. Luna tak henti-hentinya mendesah kasar. Langkah kakinya punya satu tujuan: kafe tempat Luna yang asli bekerja paruh waktu.
“Kenapa dia kasar sekali?” Dia bergumam pada dirinya sendiri.
“Padahal dia begitu lembut sama Yalinda. Kenapa kasar sekali sama temannya sendiri?” Luna menjejakkan kakinya ke aspal jalanan, kesal karena dimaki habis-habisan oleh Lion setelah membahas tentang kematian Yalinda.
“Entahlah. Aku pusing,” gumam Luna lagi.
Dia merogoh ponsel di saku roknya lalu mencocokkan alamat yang difoto dari lembar buku harian Luna tentang masa remajanya. Yalinda tak perlu bingung sekarang. Luna mencatat hampir seluruh kisah hidupnya pada buku diari yang disimpan di loker meja belajar pribadinya.
Langkahnya menyebrang jalan, mengikuti arah ponsel yang membawanya pergi. Dia sampai di sebuah gedung klasik dengan papan nama yang dikelilingi lampu kuning kecil yang mempesona.
“Luna bekerja di sini?” Dia menatap bangunan itu dengan saksama, lalu memutar tubuhnya. Tepat di seberang sana, dia mengenali bangunan itu.
Seulas senyum mengembang begitu saja di bibir ranumnya. “Tuhan memihakku,” ucapnya kemudian. Tangannya menunjuk ke arah bangunan pencakar langit di seberang jalan.
Wiratech, perusahaan properti milik mantan suaminya, Darian Wiratama.
“Sekarang aku tahu,” lanjutnya. “Tuhan mengizinkan aku untuk membalas dendam.”
"Jika kamu benar-benar percaya bahwasanya dia berusaha merebutku dari sisimu..." bisik Darian, suaranya mengalun sangat berat dan dalam, "kenapa kamu harus menggunakan cara sejahat ini untuk menghancurkan hidupnya?"Selena bungkam, bibirnya bergetar kaku tanpa kata.Darian menunjuk layar ponsel yang mati di atas meja. "Kamu membuatnya dipermalukan, dihina, dan diburu bagai binatang!"Darian mencondongkan tubuhnya lebih rendah, membisikkan kalimat ancaman yang mengunci aliran darah Selena: "Sekali lagi ... sekali lagi saja kamu menyentuh atau mengusik satu helai rambut Luna ... aku sendiri yang akan memastikan kamu menyesali hari di mana kamu dilahirkan."Selena menatap suaminya dengan mata terbelalak horor, tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Kamu ... kamu mengancam istrimu sendiri demi gadis SMA murahan itu?"Darian menatapnya lurus, dingin tanpa penyesalan. "Aku tidak sedang mengancam. Aku sedang memperingatkan istriku."“Dan, ya, namanya Luna Asteria.”Tanpa menungg
Ujung-ujung jemari Darian gemetar kaku di atas kemudi kulit hitamnya. Di dalam keheningan kabin mobil yang pengap oleh napasnya yang berat, layar ponselnya memancarkan pendar cahaya kebiruan yang menusuk mata.Di sana, sebuah rekaman amatir dari kafe berputar tanpa jeda. Ia menyaksikan bagaimana Selena menyiramkan cangkir kopi dingin tepat ke paras halus Luna. Melihat jemari istrinya sendiri meraup rambut Luna yang basah, menjambak dan mendorongnya hingga tubuh ramping gadis itu terhempas membentur sudut kursi kayu yang keras. Suara jeritan Selena melengking menembus pengeras suara ponsel. “Dia mencuri suamiku!”Darian menonton tanpa berkedip. Manik matanya menyipit bahaya, sementara rahangnya mengeras rapat hingga urat-urat di sepanjang lehernya menegang menembus kulit.Belum sempat amarahnya menyurut, rekaman kedua secara otomatis terputar di layar. Video lain yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari balik dinding beton gedung belakang sekolah. Dua orang siswi menyeret paksa Lun
Meja belajarnya telah hancur tak berbentuk. Permukaan kayu meja itu dipenuhi coretan spidol beracun yang sama.Tak hanya itu, sisa makanan busuk dan siraman cairan minuman manis yang lengket disiramkan membanjiri permukaannya, menetes lambat menimpa lantai. Kursi belajarnya telah diseret dan ditarik jauh ke sudut belakang.Di samping puing-puing mejanya, Arumia berdiri anggun bersama gengnya. Cewek populer itu menyilangkan kedua tangannya di dada, menyunggingkan senyuman iblis yang menawan.Luna menatap mejanya yang kotor, lalu mengalihkan pandangannya tepat ke manik mata Arumia. "Kamu yang melakukan ini?"Arumia mengulas senyum tipis, melangkah satu ayunan mendekat. "Kenapa? Kamu keberatan, Luna?""Hapus," tuntut Luna
Sinar matahari pagi menembus celah-celah dedaunan di sepanjang jalan menuju sekolah, namun tak mampu menghangatkan tubuh Luna yang bergidik dingin. Seragam abu-abunya terasa makin kaku, dan lebam memar di sudut bibirnya masih menorehkan perih. Namun, desakan teror tak kasatmata yang semalam merayap lewat dering telepon tak bernama jauh lebih menakutkan daripada sekadar rasa sakit fisik.Begitu langkah kakinya menapak melewati gerbang besi sekolah, atmosfer di sekitarnya mendadak berubah drastis. Keheningan yang janggal merayap, digantikan oleh bisik-bisik beracun yang terbang di udara.Beberapa siswa menoleh terang-terangan. Siswi-siswi berkerumun di lorong, mata mereka berbinar liar sembari saling menyodorkan layar ponsel yang menyala terang."Lihat, itu dia orangnya ....""Gadis yang kemarin bikin istri orang ngamuk dan ngamuk di kafe?""Katanya dia cewek murahan, sering datang ke rumah pria beristri itu malam-malam.""Pelakor ternyata masih berseragam sekolah. Menjijikkan."Luna m
Di dalam ruangan manajer yang sempit dan beraroma kertas arsip, Luna berdiri kaku di depan meja kayu.“Dia sudah dua kali datang ke tempat ini hanya untuk mengomel padamu,” kata pria botak itu menatap Luna dengan letih.Dia menarik napas, lalu mengembuskannya kasar. Seolah Luna beban berat baginya. “Kemarin,” ucapnya pelan namun sarat akan tuduhan selanjutnya. “Aku masih memaklumi, mungkin salah paham.”"Pak, saya tidak pernah melakukan apa pun yang dituduhkan oleh wanita itu," ucap Luna pelan, mempertahankan kejujurannya.Manajer itu menatap Luna dengan pandangan serba salah dan letih. "Saya percaya kamu tidak punya niat buruk, Luna.”“Kamu pekerja yang rajin. Tapi, wanit
“Aku yakin kamu … Yalinda. Itu kesimpulan yang aku pikirkan setelah ribuan kali merenung.”Kalimat itu menggema di kepala Luna, langkahnya seperti berjalan dia atas kerikil batu yang tajam dengan bertelanjang kaki. Meskipun begitu dia harus tetap melangkah ke kafe tempatnya bekerja paruh waktu. Ia menolak menyerahkan kenyataannya pada paranoid.Di balik meja baristanya, Luna meracik minuman dengan ketelitian presisi–sudah prosesional, begitu kiranya. Ia menyapu meja-meja kayu, melayani pelanggan, dan membawa nampan berisi cangkir-cangkir keramik yang beradu halus. Aroma biji kopi yang dipanggang dan hembusan uap manis berpadu dengan melodi piano yang mengalun pelan dari pengeras suara ceiling. Kafe sedang berada di puncak kesibukan sore; gelak tawa pengunjung, gesekan kursi, dan denting sendok besi memenuhi seluruh sudut ruangan.Luna mengangkat sebuah nampan kayu berisi secangkir iced coffee latte yang meliuk oleh lelehan es batu, berniat membawanya ke meja nomor empat di dekat jen







