Home / Fantasi / Kembalinya Janda Wiratama / |3| Gerbang Balas Dendam

Share

|3| Gerbang Balas Dendam

Author: Lefkilavanta
last update publish date: 2026-06-23 14:47:34

Luna membuka matanya pelan, menahan napas sejenak, lalu mengembuskannya perlahan. Manik matanya menatap langit-langit kamar—kusam. Bukan lagi lantai marmer apartemen Darian. Bukan kamar luas dengan jendela besar. Hanya plafon kusam, kipas angin tua, dan bau kayu lembap yang menempel di udara.

Ia beranjak dari tempat duduk, menatap pantulan bayangan tubuhnya di cermin rias di depannya. “Benar. Aku bukan Yalinda.” 

“Aku harus membiasakan diri,” gumamnya pelan.

 Jujur saja, dia tak tahu bagaimana bisa jatuh tertidur semalam. Yang ia ingat, semua yang dirasakan hanyalah kenyamanan yang ia rindukan ketika hidup sebagai Yalinda. 

Ia mandi, mempelajari batas tubuh barunya. Bahu yang lebih sempit. Lengan yang lebih ringan. Bekas luka yang tidak ada. Untuk sesaat, ada perasaan ganjil—kehilangan sekaligus kebebasan.

Selepas mandi, ia mendandani diri. Mengenakan seragam sekolah, memoles wajah ala kadarnya, dan menyematkan nama Luna di dada kanannya. 

Di dapur kecil, seorang nenek menunggu. Rambutnya memutih, punggungnya sedikit membungkuk. Nenek itu—satu-satunya keluarga Luna.

“Duduklah. Nenek sudah menyiapkan sarapan,” kata sang nenek lembut.

Luna duduk, menatap bubur hangat di atas meja, lalu menyendoknya. Tangannya ragu. Ia bukan Luna. Ia tidak tumbuh dengan wanita tua ini. Setiap gerakannya terasa seperti akting di panggung yang terlalu dekat dengan penonton.

“Aku akan pulang sedikit petang. Kalau kamu tidak bekerja, jangan lupa kunci pintunya.” Wanita itu datang membawa segelas air dan meletakkannya di atas meja.

“Sebentar lagi musim ujian. Kamu bisa libur bekerja jika ingin fokus belajar.”

Televisi menyala di sudut ruangan. Berita pagi mengalir biasa—hingga satu nama muncul. Darian Wiratama.

“Biar nenek yang bekerja sementara waktu untuk–”

Sendok di tangan Luna berhenti.

“Wiratech resmi mengakuisisi seluruh saham perusahaan properti Ercaka Estate, yang sebelumnya berada di bawah naungan keluarga mendiang istrinya …”

“Luna!” Neneknya memukul punggung Luna karena terlalu fokus pada tajuk berita di televisi. “Kamu ini kebiasaan! Kalau nenek bicara, selalu mengabaikan.” 

Napas Luna tertahan.

Layar menampilkan wajah Darian. Rapi. Tenang. Tersenyum seolah dunia tidak pernah melihat darah di tangannya.

“… langkah ini memperkuat posisi Darian Wiratama sebagai salah satu pengusaha properti paling berpengaruh di kota.”

Bubur di mangkuk bergetar.

“Luna!” Kali ini neneknya mengetuk meja di sisinya. 

Luna tersentak. Menoleh ke wanita tua di sampingnya. 

“Kamu ini kenapa?” tanyanya. “Sejak kapan peduli sama berita begituan?” 

Luna terdiam. Tatapannya kembali pada layar televisi di hadapannya.  

Itu milik ayahku. Itu warisan keluargaku. Itu semua yang tersisa … dan dia mengambilnya.

Amarah menjalar, panas dan ganas. Namun, Luna tidak berteriak. Tidak membanting meja. Ia menunduk, mengepalkan tangan di bawah meja hingga kuku menekan kulit.

====

Yalinda tak menyangka dia harus bersekolah setiap pagi. Tempat Luna Asteria dikenal sebagai gadis pendiam. Mudah ditekan. Mudah dijadikan sasaran.

Ia melangkah ke kelas dan duduk di bangkunya seperti biasa. Beberapa pasang mata menoleh—lalu suara itu datang.

“Seperti biasa,” ucap seseorang padanya. Namun, Luna tak bereaksi sedikit pun.

Bangku di belakangnya ditendang pelan. Lalu tangan seseorang terulur, hendak menarik rambutnya.

“Luna!” Gadis itu berteriak di telinganya. 

Luna menoleh, menatapnya. Dia tak tahu siapa; hanya nama di dada kanannya, Arumia. 

“Kamu pura-pura tuli sekarang?” Dia menarik rambut Luna, membuatnya mendongak. “Seperti biasa!” Tubuhnya ditarik dari bangku dan jatuh tersungkur di lantai. 

Yalinda tak siap soal fakta ini. Dia berdecak ringan, merasakan nyeri di lututnya. Anehnya, tak ada yang membantu. 

“Sudah miskin, tuli pula!” Dua gadis tertawa bersamaan. 

Luna bangkit dari posisinya. Matanya memandang tiga gadis yang tertawa ke arahnya. “Kalian pasti membuli tubuh gadis ini sepanjang waktu,” gumamnya. 

“Dia ngomong apa sih?” Arumia, ketua geng, maju selangkah. Jarinya menekan dahi Luna dan mendorongnya mundur. “Kalau miskin, jangan banyak tingkah!”

Luna tak tinggal diam. Dia berhenti mundur. Ketika tangan Arumia hendak menamparnya, dia mencegahnya dengan tepat, mencengkeram pergelangan tangan Arumia. 

“Jangan menyentuh tubuh ini lagi.” Itu yang ingin Yalinda katakan pada Darian, bukan pada gadis ini. “Aku tidak akan tinggal diam,” ucapnya sembari mendorong tubuh Arumia menjauh dan menabrak loker di belakangnya. 

Suasana membeku.

Gadis itu tersentak. “Kamu pikir kamu berubah jadi apa sekarang?”

Sebelum serangan pertama datang, Luna menjejak kaki gadis itu hingga tersungkur di lantai. 

Semua orang terdiam. Pemandangan yang aneh. Luna yang pendiam akhirnya melawan.

Luna mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya rendah, terkendali, tetapi mengancam.

“Pikirkan dua kali sebelum mengulanginya.”

Ketika Luna berdiri kembali, tak sengaja tatapnya bertemu dengan seseorang. Wajah dan perawakan itu tak asing. Jiwa Yalinda mengenalnya, Lion Bagaskara. 

Guru masuk. Keributan mereda. Namun, bisik-bisik mulai menyebar. Pertengkaran selesai begitu saja.

====

Jam istirahat pertama, Luna keluar dari kelas. Bukan tanpa tujuan, tetapi menyusul langkah seseorang yang dikenalnya, baik sebagai Luna maupun jiwa Yulinda.

“Lion!” panggilnya. “Lion! Tunggu!”

Aneh. Sekeras apa pun Luna berteriak, Lion tak menoleh, apalagi berhenti dari langkah kakinya. 

“Lion!” 

Luna mempercepat langkah kaki, berlari dan menghadang lelaki itu. 

“Kamu tuli?” tanya Luna ketika berhasil menjangkau posisi Lion. 

Pemuda itu melepas earphone di telinganya. Melihat itu, Luna menghela napas panjang. “Pantas saja.”

“Kamu memanggilku?” Lion menanggapi dengan ketus. “Aku?”

Luna menganggukkan kepala. “Hanya kamu yang namanya Lion. Aneh?”

“Aneh.” Lion memalingkan wajah. “Kalau kamu minta bantuan tentang pembulianmu, aku tidak tertarik.” 

Selepas menyelesaikan kalimatnya, dia berpaling dari Luna. 

“Bukan itu!” Luna menarik pergelangan tangan Lion, berusaha menghentikan langkah kakinya. 

Namun, dengan kasar, Lion menampik tangan Luna, membuat gadis itu terpelanting hampir jatuh. 

“Ada apa denganmu hari ini?” Lion menatapnya dengan kesal. “Kita tidak pernah bicara. Kita hanya tahu nama satu sama lain dan kita hanya satu kelas. Jaga batasan itu.” 

Selepas menyelesaikan kalimatnya, Lion beranjak lagi. 

Luna menghela napasnya, kembali berdiri dan menatap Lion yang perlahan menjauh darinya. “Jadi Luna tak pernah bicara dengannya?” gumam Luna pada dirinya sendiri. “Baiklah, akan aku buat kalian terus bicara mulai sekarang.” 

“Soal wanita samping apartemenmu yang mati!” Luna berteriak pada Lion.

Pemuda itu terhenti. Sukses! Luna berhasil menarik perhatiannya. Lion berbalik dan mendekatinya. “Apa katamu tadi?” 

“Wanita yang mati itu ….” 

Raut wajah Lion berubah dan kerutan tipis muncul di keningnya. 

“Bagaimana perasaanmu?” 

====

Senja turun begitu saja. Luna tak henti-hentinya mendesah kasar. Langkah kakinya punya satu tujuan: kafe tempat Luna yang asli bekerja paruh waktu. 

“Kenapa dia kasar sekali?” Dia bergumam pada dirinya sendiri. 

“Padahal dia begitu lembut sama Yalinda. Kenapa kasar sekali sama temannya sendiri?” Luna menjejakkan kakinya ke aspal jalanan, kesal karena dimaki habis-habisan oleh Lion setelah membahas tentang kematian Yalinda. 

“Entahlah. Aku pusing,” gumam Luna lagi. 

Dia merogoh ponsel di saku roknya lalu mencocokkan alamat yang difoto dari lembar buku harian Luna tentang masa remajanya. Yalinda tak perlu bingung sekarang. Luna mencatat hampir seluruh kisah hidupnya pada buku diari yang disimpan di  loker meja belajar pribadinya. 

Langkahnya menyebrang jalan, mengikuti arah ponsel yang membawanya pergi. Dia sampai di sebuah gedung klasik dengan papan nama yang dikelilingi lampu kuning kecil yang mempesona. 

“Luna bekerja di sini?” Dia menatap bangunan itu dengan saksama, lalu memutar tubuhnya. Tepat di seberang sana, dia mengenali bangunan itu. 

Seulas senyum mengembang begitu saja di bibir ranumnya. “Tuhan memihakku,” ucapnya kemudian. Tangannya menunjuk ke arah bangunan pencakar langit di seberang jalan. 

Wiratech, perusahaan properti milik mantan suaminya, Darian Wiratama. 

“Sekarang aku tahu,” lanjutnya. “Tuhan mengizinkan aku untuk membalas dendam.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
honeybee202024
sejujurnya aku ga bisa berkata-kata untuk bab ini, seharusnya dia bisa memulai hidup baru dan menjauhi manusia toxic itu. tapi apalah daya ... aku hanya penonton.
goodnovel comment avatar
honeybee202024
maaf kak typo* Yalinda 🫠
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kembalinya Janda Wiratama   84| Pasar Malam (2)

    "Apa bedanya? Kamu bayar uangnya, lalu ambil barangnya." "Itu namanya belanja, bukan menang." Darian menghela napas. Luna menyerahkan sisa sosisnya pada Darian, lalu membayar beberapa keping koin kepada penjaga stan untuk mengambil gelang-gelang plastik. "Perhatikan. Saya akan tunjukkan cara bermain yang benar." Lemparan pertama: meleset jauh. Lemparan kedua: membentur pinggir botol. Lemparan ketiga: jatuh menggelinding di tanah. Luna mengerutkan hidungnya sebal. Darian menahan tawa. "Katanya mau menunjukkan cara bermain yang benar?" Luna menatapnya tajam. "Diam." Darian tertawa kecil—sebuah tawa renyah tanpa topeng direktur yang jarang sekali didengar siapa pun. Luna sempat tertegun mendengarnya. Luna menarik napas, membidik sekali lagi. Kali ini, gelang plastiknya meluncur mulus dan melingkar sempurna di leher botol sasaran. "Berhasil!" serunya girang, mengangkat tangan ke udara sebelum menatap Darian dengan senyuman kemenangan. Darian menoleh pada penjaga stan. "Ambilkan

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Pasar Malam

    Pukul enam sore, Luna melangkah keluar dari lobi Wiratech dengan bahu yang terasa kaku dan punggung yang lelah. Sepanjang hari, jemarinya disibukkan oleh tumpukan berkas dan jadwal rapat yang disodorkan Darian, sementara kepalanya berputar hebat memikirkan rahasia kelam di balik mansion lama ayahnya.Begitu ia mencapai pelataran depan, langkah kakinya serta-merta terhenti.Sebuah sedan hitam mewah terparkir persis di dekat pintu keluar. Darian berdiri di samping kemudi, satu tangannya terselip santai di dalam saku celana, sementara jemari tangan lainnya menggenggam ponsel yang baru saja ia padamkan.Luna mengerutkan dahi, mendekat dengan waspada. "Pak Darian?"Pria itu mengangkat wajah, menatap lurus ke arahnya. "Akhirnya kamu keluar juga.""Kamu ... belum pulang?""Aku sedang menunggumu."Luna terdiam sesaat. Menunggunya? Untuk apa?Darian membuka pintu penumpang depan. "Kita makan malam bersama."Luna langsung menggeleng tegas. "Maaf, aku ada urusan lain.""Urusan apa?""Urusan pri

  • Kembalinya Janda Wiratama   82| Mata Pisau

    Ia mencatat semuanya menggunakan pulpen hitam dengan guratan tangan yang rapi, memberikan garis bawah kecil pada agenda yang membutuhkan lampiran dokumen pendukung.Darian yang kembali duduk di balik meja kerjanya mengamati gadis itu dari kejauhan. Awalnya, ia hanya ingin memastikan sekretaris baru ini tidak memicu masalah. Namun, beberapa menit berselang, perhatiannya justru terpaku pada kebiasaan kecil Luna.Setiap kali pikiran gadis itu berproses memecahkan masalah, jemarinya mengetukkan ujung pulpen dua kali ke atas permukaan meja.Ketuk, ketuk. Berhenti seketika. Lalu ketuk, ketuk lagi.Darian membeku.Yalinda memiliki kebiasaan identik itu. Dulu, ketika malam masih muda dan gadis itu mengerjakan tugas kuliahnya di meja makan rumah mereka, Yalinda akan mengetukkan pulpennya dua kali setiap kali menemui rumus yang rumit. Jika Darian mencoba mengganggunya saat itu, Yalinda akan mendongak galak dan berkata, "Tunggu sebentar. Aku sedang berpikir."Darian menatap Luna lebih tajam. Ti

  • Kembalinya Janda Wiratama   81| Meja Balas Dendam

    Pintu lift berdenging halus ketika terbuka, mempersembahkan koridor lantai teratas Wiratech Group yang diselimuti kemewahan dingin. Luna melangkah keluar dengan setelan kerja sederhana berwarna monokrom, rambut pendeknya dipangkas rapi membingkai tegas garis wajahnya, sementara sebuah map hitam legam tergenggam erat di tangan kanannya. Sepasang sepatu hak rendah mengetuk lantai marmer mengkilap dengan ritme teratur yang memantulkan ketenangan mutlak.Beberapa karyawan yang berpapasan menolehkan kepala. Sebagian berbisik-bisik di balik punggung, sementara yang lain terang-terangan memperhatikan transformasi drastis pada penampilan Luna. Namun, gadis itu bergeming. Tak ada sisa kerapuhan di matanya. Ia telah kehilangan rumah, kehilangan satu-satunya tempat bersandar di dunia, dan baru saja kehilangan sang nenek tercinta. Ia tidak lagi menyisakan apa pun untuk dicemaskan.Kini, jiwanya hanya dipenuhi oleh satu poros tunggal—menghancurkan orang-orang yang telah merenggut segalanya. Te

  • Kembalinya Janda Wiratama   80| Peluru

    Di ambang pintu, Selena berdiri mematung. Tatapan matanya yang tajam menelusuri wajah Luna, berhenti pada potongan rambut pendeknya yang tajam, lalu turun pada map berkas di dekapan gadis itu.Bukan pertengkaran kasar dengan suara melengking yang pecah, melainkan sebuah intimidasi senyap—perang psikologis yang udaranya mendadak dipenuhi bisa beracun.Selena melangkah satu pijakan maju, memangkas jarak. Dagu mewahnya terangkat anggun, namun ada guratan amarah terselubung di celah bibirnya. "Kamu masih punya nyali datang ke kantor suamiku?"Luna menyunggingkan garis bibir tipis—sebuah seringai dingin tanpa cela. "Sayang sekali. Mulai sekarang aku akan jadi jauh lebih sering datang ke sini."Alis Selena menukik tajam. Manik matanya mengunci map tebal di tangan L

  • Kembalinya Janda Wiratama   79| Medan Perang

    Wiratech Group berdiri megah merobek langit pagi, memantulkan silau matahari pada dinding-dinding kaca tebalnya yang dingin. Langkah kaki bersepatu tumit rendah itu bergema mantap di atas lantai marmer yang mengkilap. Rambut pendek barunya—pangkasan tajam yang membingkai rahang tegasnya—bergerak halus mengiringi setiap pijakan. Luna menghentikan langkah tepat di depan meja resepsionis bergaya minimalis.Seorang petugas wanita berseragam rapi menengadah, mengukir senyum formal yang dipaksakan. "Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa dibantu? Ada janji dengan siapa?"Luna menatap mata wanita itu tanpa kedipan, menyunggingkan garis bibir yang teramat tipis. "Darian Wiratama."Saat nama itu meluncur dari celah bibirnya, sebuah desiran dingin yang menusuk mendadak merayap naik dari ujung kakinya, merayapi tulang belakang hingga menjangkau dadanya. “Aku mendapat undangan khusus,” ucap Luna meletakkan kartu nama dia atas meja marmer. “Undangan pekerjaan di sini.”Rasa sesak yang membakar terin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status