LOGINXian Ren—seorang pemuda berusia 25 tahun—tewas setelah mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan seorang anak kecil. Tiga tahun setelah kematiannya, ia terbangun di tubuh Han Lim (17)—seorang siswa SMA jenius yang merupakan korban perundungan hingga terbaring koma selama satu bulan di rumah sakit. Kebaikan Xian Ren di akhir hayatnya memicu hadirnya Sistem Duality. Sebuah sistem unik yang dapat memberi Xian Ren dua jalur utama: Lindungi yang lemah untuk memperoleh kekuatan. Taklukkan hati para wanita untuk memperoleh popularitas. Xian Ren harus menghadapi para pelaku yang menghancurkan hidup Han Lim dan membangun kehidupan barunya dari nol. "Sistem, apa cara tercepat untuk menjadi yang terkuat?" [Jawaban: Dapatkan keintiman penuh dan taklukkan para wanita]. Xian Ren tersenyum. "Tantangan diterima."
View More"Brengsek..." Xian Ren mengusap darah yang menetes di bibirnya.
Salah satu pria bertubuh besar di depannya tersenyum mengejek. "Apa cuma segini kemampuanmu, Xian Ren? Aku mulai meragukan julukanmu sebagai petarung yang handal."
Xian Ren meludahkan sisa darah di mulutnya. Ia tersenyum dan menatap pria itu, layaknya elang yang bersiap menerkam mangsanya.
Pria bertubuh besar itu bergerak maju, mengayunkan pipa besi ke arah kepala Xian Ren.
Xian Ren memiringkan tubuhnya dengan cepat. Besi itu hanya menggores pundaknya. Ia menangkap pergelangan tangan si pria, menariknya ke depan, lalu menghantamkan sikunya tepat ke rahang pria tersebut.
Tubuh pria itu langsung ambruk.
Dua orang lainnya menyerbu bersamaan. Xian Ren mundur beberapa langkah, menghindari pukulan pertama. Kakinya berputar cepat, melayangkan tendangan ke lutut salah satu pria dengan keras.
"Arggghhh.... Sialan kau." Pria itu tersungkur dan meringis kesakitan
Xian Ren mengayunkan pukulan bertubi-tubi ke wajah pria berikutnya hingga membuat si pria tersungkur lemas.
Dua orang terakhir saling berpandangan. Nyali mereka mulai menciut.
"Maju kalian berdua, Berengsek!" Xian Ren meludah, lalu tersenyum dingin.
Kedua pria itu, maju bersamaan. Xian Ren menarik napasnya. Seluruh tubuhnya mulai terasa nyeri.
Ia menyelinap di antara keduanya, mendaratkan pukulan keras yang menghantam ulu hati pria pertama, lalu memutar tubuh untuk melayangkan tendangan ke leher pria kedua.
Kelima pria yang tadi mengeroyok Xian Ren dan temannya, kini tergeletak tidak berdaya.
"Cepat bangun kalau kalian masih punya nyali. Aku benar-benar akan menghabisi kalian di sini," ucap Xian Ren, dingin.
"S-Sialan... Ayo kita pergi sekarang," ucap salah satu pria dengan terengah-engah.
Kelimanya segera bangun dan berlari meninggalkan tempat itu.
Xian Ren menghela napas lega kemudian berjalan menuju sudut gang. Ken—temannya yang tadi sempat dipukuli oleh orang-orang itu—masih terduduk lemas dengan darah yang menetes di pelipisnya. Xian Ren menarik tubuh Ken dengan perlahan.
"Kau tidak apa-apa, Ken?"
"Hanya sedikit memar. Terima kasih, Ren." Ken berdiri dan membersihkan pakaiannya dan darah di pelipisnya.
"Sama-sama." Xian Ren menepuk pelan bahu temannya.
"Hei Ren, apa kau akan ikut nongkrong malam ini di tempat biasa?"
"Aku tidak bisa, Ken. Lain kali saja," ucap Xian Ren melambaikan tangannya, lalu berjalan meninggalkan tempat itu.
Xian Ren berjalan menyusuri trotoar di pinggir jalan raya yang cukup ramai. Kendaraan berlalu-lalang dengan kecepatan tinggi.
Xian Ren mengeluarkan rokok dari sakunya. Belum sempat rokok itu dinyalakan, ia melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 6 tahun, yang berlari menyeberangi jalan raya—mengejar bolanya.
Dari arah depan, sebuah mobil melaju kencang. Pengemudi mobil itu tampak terkejut menyadari keberadaan sang bocah yang berdiri di tengah jalan.
Si sopir berusaha menginjak remnya dengan kuat, namun jaraknya terlalu dekat.
Orang-orang di sekitar berteriak histeris.
"AWAS!"
Tanpa berpikir panjang, Xian Ren berlari ke tengah jalan. Ia berhasil menjangkau tubuh si bocah dan mendorongnya ke arah trotoar dan mendarat dengan selamat.
Nahas bagi Xian Ren. Ia tidak bisa menghindar dengan cepat.
Hantaman keras dari mobil itu membuat tubuh Xian Ren terpental beberapa meter ke depan, lalu menghantam permukaan jalanan.
Suara teriakan dan klakson kendaraan mendadak riuh di sekelilingnya.
Xian Ren terbaring kaku. Darah mulai mengalir dari kepala dan dadanya. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh sarafnya—membuat tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali.
Pandangannya perlahan memburam. Suara keramaian di sekitarnya terdengar semakin menjauh dan menghilang.
"Sialan... Apa aku akan mati sekarang?"
Napasnya terputus-putus. Kedua matanya perlahan mulai tertutup. Kesadarannya mulai menghilang.
Gelap. Hening.
---
Rasa sakit.
Itu adalah hal pertama yang dirasakan Xian Ren saat kesadarannya perlahan kembali. Kepalanya masih berdenyut hebat—seolah ada yang memukul tengkoraknya dari dalam.
Bau antiseptik dan alkohol yang sangat menyengat langsung tercium oleh hidungnya.
Xian Ren berusaha bergerak, namun seluruh tubuhnya terasa kaku dan berat. Ia hanya bisa menggerakkan kepalanya sedikit dan duduk bersandar di atas ranjang dengan susah payah. Napasnya masih terengah-engah.
Xian Ren mencoba mengangkat tangannya. Ia melihat lengannya yang terpasang selang infus serta jari-jari tangan yang terbalut kain perban.
"Tunggu sebentar..." Xian Ren mengernyitkan dahinya. Ia mengamati tangannya yang tampak berbeda.
Tangannya terlihat sedikit lebih kecil, jari-jarinya agak panjang, dan kulitnya sedikit pucat. Tidak ada bekas sayatan pisau akibat perkelahiannya beberapa hari yang lalu.
Ia melirik pakaiannya. Pakaian yang ia kenakan saat ini, bukan kaus yang tadi ia pakai. Kainnya berwarna biru muda—khas baju pasien rumah sakit.
"Apa-apaan ini? Siapa yang membawaku ke sini?" gumam Xian Ren.
Ia semakin terkejut ketika mendengar suaranya. Suaranya terdengar lebih mulus, agak tinggi, dan terkesan ringan—bukan suara serak dan berat khas pria perokok berusia 25 tahun.
Xian Ren mencoba menggerakkan kakinya yang masih tertutup selimut. Namun seluruh tubuhnya begitu lemas dan tidak bisa diajak kompromi. Benar-benar seperti patung yang tidak bisa bergerak kemana-mana.
Di saat rasa bingung menguasai pikirannya, sebuah suara nyaring tiba-tiba bergema di kepalanya. Suara itu begitu jelas, seolah diputar di dalam otaknya.
[Inisialisasi Sistem Selesai. Mengikat Jiwa: Xian Ren. Selamat Datang di Sistem Duality.]
Sebuah layar biru transparan seketika muncul dan melayang di depannya—sejajar dengan pandangan matanya. Teks berwarna putih terang muncul secara bertahap di layar tersebut.
"A-Apa ini...?!"
Xian Ren terkejut dan membelalakkan matanya. Ia mencoba menggerakkan tangannya yang diperban untuk menyentuh layar tersebut, namun jarinya hanya menembus layar biru itu.
Layar biru di depannya berkedip lagi beberapa kali dan menampilkan pesan baru.
[Pemberitahuan: Jiwa Inang (Xian Ren) telah tewas dalam insiden kecelakaan Pada Tahun 2027. Aktivasi Sistem Duality: Sistem ini diaktifkan sebagai bentuk apresiasi dan hadiah atas tindakan pengorbanan jiwa Inang yang rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan seorang anak kecil]
Xian Ren tertegun membaca informasi itu. "Tewas? Sistem? Hadiah? Apa ini? Apa aku sudah gila?"
Layar biru berkedip lagi dan berganti menampilkan beberapa informasi lainnya.
[Nama Pemilik Tubuh: Han Lim, 17 Tahun. Status Akademis: Siswa Kelas 3 SMA—Sangat Pintar / Selalu Juara Kelas. Kepribadian Asli: Introvert, Culun, Lemah, dan Anti-Sosial. Kondisi Sosial: Korban Perundungan Utama. Penyebab Koma: Dipukuli hingga babak belur lalu terjatuh dari gedung tingkat dua. Koma di rumah sakit selama 1 bulan penuh. Tahun Saat Ini: 2030].
Xian Ren membaca deretan teks itu, membuatnya semakin bingung dengan semua ini.
Kepalanya tiba-tiba berdenyut. Sebuah ingatan asing seketika muncul di dalam kepalanya. Kepingan-kepingan memori masa lalu milik pemuda bernama Han Lim itu menyatu dengan kesadarannya.
"Arggghh." Xian Ren meringis merasakan rasa sakit di kepalanya.
Layar kembali menampilkan status dan informasi lain.
[Jendela Status. Nama: Xian Ren (Jiwa) / Han Lim (Tubuh). Usia: 17 Tahun. Kekuatan Fisik: 4 (Rata-rata Remaja: 6). Kelincahan: 5. Ketahanan: 3 (Makin Lemah Akibat Koma). Kecerdasan: 9 (Sangat Pintar). Kharisma: 2 (Tampilan Culun). Energi Duality: 0
[Penjelasan Sistem Duality: Sistem Duality memungkinkan Inang untuk meningkatkan atribut fisik, kemampuan bertarung, pengaruh sosial, dan kekayaan melalui dua jalur utama. 1. Path of Protection (Jalur Perlindungan): Dapatkan Poin Atribut dan Keterampilan Bertarung dengan menolong orang yang lemah, membela keadilan, dan menghancurkan musuh. 2. Path of Intimacy (Jalur Keintiman): Dapatkan Poin Karisma, Aset Khusus, dan Fitur Langka dengan meningkatkan hubungan serta menaklukkan hati target wanita yang ditentukan. Analisis Latar Belakang Inang. Identitas: Han Lim. Status Ekonomi: Keluarga Menengah/Sederhana. Aset Finansial: Tabungan pribadi sebesar 150.000 Won]>
Xian Ren membaca seluruh informasi dari layar biru tersebut. Ia lalu memandangi tubuhnya sendiri dengan tatapan bingung sekaligus tak percaya.
'Tangan yang diperban, tubuh yang lemas, sistem, hadiah... Apa arti semua ini sebenarnya?'
"Apa aku benar-benar tewas dan hidup kembali di tubuh orang lain?" gumam Xian Ren pelan.
Di tengah kebingungan dan kondisi tubuhnya yang masih belum bisa digerakkan secara bebas, tiba-tiba pintu terbuka dari luar.
Seorang wanita dewasa berjalan masuk sambil membawa kantong plastik berisi buah dan makanan.
Wanita itu tampak seperti wanita yang berusia sekitar tiga puluhan. Ia memiliki wajah yang cantik, kulit putih, dan bentuk tubuh yang berisi di balik gaun yang dikenakannya. Dua dadanya tampak besar dan menonjol di balik pakaian tersebut.
Wanita itu tertegun melihat Xian Ren yang duduk bersandar di ranjang dengan mata terbuka.
Tangannya gemetar. Kantong plastik di genggamannya terlepas dan jatuh ke lantai.
"H-Han? Kamu... Kamu sudah sadar, Sayang?"
Sambungan telepon kemudian berakhir. Han Yu masih berdiri di dekat meja sambil memegang gagang telepon dengan tangan gemetar. Wajahnya menjadi pucat, matanya mulai berkaca-kaca."Ibu, ada apa?" tanya Xian Ren yang memperhatikan perubahan ibunya itu.Han Yu tidak menjawab, air mata mulai menetes di pipinya."Bu?" Xian Ren mulai panik. Ia segera berdiri lalu mendekat ke arah ibunya.Han Yu meletakkan gagang telepon. Napasnya tersengal-sengal. Ia memeluk Xian Ren yang kini berdiri di dekatnya."Pihak sekolah mengeluarkanmu, Han," ucap Han Yu dengan suara bergetar dan terisak-isak."Mengeluarkanku?" Xian Ren mengernyitkan dahinya.Han Yu mendongak, menatap wajah anak tirinya tersebut. "Mereka bilang, keputusan itu dibuat oleh komite sekolah saat rapat kemarin.""Apa alasannya, Bu?""Komite sekolah mengatakan kalau kecelakaan yang kamu alami terjadi karena kamu melanggar beberapa aturan keselamatan sekolah.”Xian Ren terdiam mendengar ucapan itu."Ibu benar-benar tidak percaya pihak sekola
Setelah mengurus seluruh berkas administrasi kepulangan dan menaiki sebuah mobil taksi yang mereka pesan, Han Yu dan Xian Ren akhirnya tiba di depan rumah berlantai dua beberapa menit kemudian. Rumah itu adalah rumah yang selama ini mereka tempati—peninggalan dari mendiang suami Han Yu yang juga merupakan ayah kandung Han Lim.Xian Ren keluar dari taksi dengan tenang. Walau tubuhnya sudah dipulihkan oleh Ramuan Pemulihan Otot dari Sistem Duality kemarin, ia tetap berpura-pura berjalan lemas agar Han Yu tidak mencurigai pemulihan tubuhnya yang mendadak."Pelan-pelan saja, Han. Biar Ibu membantumu berjalan," ucap Han Yu lembut seraya merangkul lengan anak tirinya dan menuntunnya berjalan ke pekarangan rumah.Han Yu memencet bel rumah. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya membukakan pintu dari dalam. Wanita itu tak lain adalah Bibi Xue Fang yang berusia 43 tahun."Ah, kalian sudah pulang? Ayo masuk," Bibi Xue Fang tersenyum.Han Yu menuntun Xian Ren berjalan ke dalam rumah. Seor
Shuling—seorang siswi berparas cantik dengan rambut panjang yang terurai—tampak tidak fokus mendengarkan penjelasan dari sang guru di depan kelas.Matanya tertuju ke barisan belakang kelas, menatap ke arah Ryu Wei dan teman-temannya yang tertawa sambil bermain ponsel di tengah jam pelajaran—tanpa menghiraukan gurunya di depan kelas.Raut wajah Shuling dipenuhi amarah yang tertahan sejak ia mendengar percakapan Ryu Wei di belakang sekolah kemarin. Ia ingin sekali mendatangi Han Yu—ibu dari Han Lim—untuk membongkar semua kelakuan busuk Ryu Wei yang menyebabkan Han Lim sampai koma.Namun, jika ia cuma bermodalkan apa yang hanya ia dengar kemarin, pihak sekolah pasti akan menyangkalnya dengan mudah. Shuling butuh bukti lain untuk bisa membongkar semua kejahatan itu.Saat bel istirahat berbunyi, Shuling bergegas keluar kelas—bermaksud mengikuti Ryu Wei dan teman-temannya secara diam-diam. Namun langkahnya terhenti di koridor depan ruang Kepala Sekolah. "Tentu saja, Tuan Wei. Masalah wakt
Beberapa jam kemudian, pintu kamar terbuka dari luar. Han Yu dan Yuan Rin masuk ke dalam ruangan sambil membawa kantong plastik berisi kasur lipat dan beberapa perlengkapan cuci muka yang baru mereka beli dari toko di depan rumah sakit.Xian Ren yang tadi sempat tertidur sebentar, segera membuka matanya. Ia menatap ibu dan kakak tirinya itu."Ah, Han. Maafkan kalau membuatmu terbangun," ucap Han Yu dengan senyum lembutnya. Ia meletakkan kasur lipat itu di dekat dinding, lalu menata perlengkapan mandinya di atas meja."Hei adikku yang bodoh. Apa kau lapar?" Yuan Rin berjalan mendekati meja. Ia mengambil satu apel merah dari sana, lalu menarik kursi ke dekat ranjang.Yuan Rin duduk di tepi ranjang di samping Xian Ren. Ia mengupas kulit apel merah itu dengan perlahan. Sesekali melirik ke arah Xian Ren yang sudah bersandar sambil menatap ke arahnya."Bu. Apa kata dokter tentang kondisi Han?" tanya Yuan Rin, sambil terus mengupas kulit apel di tangannya. "Kapan Han diperbolehkan pulang dar






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.