LOGINLion menegakkan tubuhnya seketika. Darian berdiri beberapa meter dari mereka dalam balutan kemeja gelap. Tatapan matanya bergulir dari Lion ke Luna, lalu mengunci pada jemari Lion yang berada di dekat pintu."Aku tidak ingat pernah memberi izin bagi tamu luar untuk berkunjung di jam seperti ini," ucap Darian dingin.Lion menatap Darian dengan kebencian yang telanjang. "Aku juga tidak ingat harus meminta izin padamu hanya untuk memastikan seseorang belum tewas di rumah ini."Darian menyipitkan matanya bahaya. "Jaga bicaramu, Anak Muda.""Atau apa? Kamu mau mengusirku?" Lion tertawa sinis. "Baguslah. Setidaknya aku tidak perlu menghirup udara di tempat yang mungkin menjadi lokasi pembunuhan berikutnya."Wajah Darian mengeras kaku.Luna menyela cepat, "Lion, pergi dari sini sekarang!"Lion menoleh pada Luna dengan tatapan terluka. "Jadi kamu memilih bertahan di sampingnya?""Aku tidak memilih siapa pun!""Lalu kenapa kamu membiarkan pria ini mengurungmu?!""Aku tidak dikurung!""Kalau be
Darian menundukkan kepalanya sedikit, mengunci pandangan mereka. “Aku akan mencari tahu apa yang membuat gadis sepertimu rela menghancurkan hidupnya sendiri hanya untuk menjangkauku.”Luna tersenyum getir. “Kalau begitu, silakan cari tahu sampai tuntas, Pak Darian.”Ia menggeser tubuhnya, hendak meraih gagang pintu. Namun suara Darian menghentikan pergerakannya.“Jangan pernah menyalakan api yang tidak sanggup kamu padamkan sendiri, Luna.”Luna menoleh. Darian berdiri di bawah pendar lampu kamar, bayangan wajahnya jatuh kusam di dinding beton.“Api tidak pernah memilih siapa yang pantas dibakar. Begitu pula orang-orang yang sedang kamu coba permainkan di rumah ini.”
“Kenapa kamu terlihat begitu tenang dan berdiri menyaksikan rumahmu terbakar di CCTV... tepat setelah kamu menyulutkan api dari dalam?”Kalimat itu meluncur bagai bilah belati dingin. Di balik pintu, keheningan membeku, hanya diselingi napas berat Darian dan bunyi gesekan gagang pintu yang kembali diputar kaku.Luna memandang korek api gas di tangannya. Benda kecil berjelaga itu mendadak terasa bagai barang bukti pembunuhan yang tertangkap basah.“Buka pintunya, Luna.”Suara Darian tidak melengking. Justru ketenangan ekstrem itulah yang membuat bulu kuduk Luna meremang. Ia pernah mendengar oktaf suara itu sebelumnya—suara seorang pria yang sedang menahan amarah murni, bukan karena ragu untuk menghancurkan, melainkan sedang menimbang bagian mana yang harus dilumatkan terlebih dahulu.Luna buru-buru menyusupkan korek api itu ke dasar tas, menyapu telapak tangannya yang basah oleh keringat dingin ke kain rok seragam, lalu melangkah menuju pintu.Ia menarik gagangnya.Darian berdiri menju
Darian akhirnya membawa Luna ke mansion mewahnya, bukan karena ia menelan bulat-bulat kebetulan tragis ini. Insting penguasanya membaca ketenangan ekstrem yang ditunjukkan gadis itu saat menyaksikan rumahnya hangus menjadi abu.Begitu melangkah melewati lobi mansion yang megah, Darian memerintahkan staf rumah tangga untuk menyiapkan kamar tamu di lantai bawah. Namun, Luna menyela pelan."Bolehkah aku menggunakan kamar di sayap atas yang menghadap ke taman belakang?"Darian menghentikan langkahnya di anak tangga, menoleh penuh selidik. "Kenapa harus kamar itu?""Aku menyukai pemandangannya," sahut Luna santai.Darian menatapnya kaku. Kamar yang ditunjuk Luna berbatasan langsung dengan lantai sayap tua mansion—bagian terlarang yang menyimpan ruang kerja milik mendiang ayah Yalinda, area yang sebelumnya telah Darian larang untuk dimasuki siapa pun."Kamu tidak pernah berkunjung ke mansion ini sebelumnya," bisik Darian curiga. “Dari mana kamu tahu?”"Memangnya aku harus pernah berkunjung
Api membumbung tinggi melahap bubungan kayu rumah tua miliknya. Suara kayu patah berderak hebat, pecahan kaca jendela meledak menghantam halaman, dan teriakan histeris para tetangga memecah keheningan malam.“Sebenarnya, kamu bisa saja menumpang tinggal di rumah pria itu. Tapi masalahnya, kalau kamu tidak punya tempat bernaung sama sekali ... situasinya jadi sedikit rumit.”Di seberang jalan, Luna berdiri mematung di bawah bayangan tebal. Wajahnya yang pucat tersiram pantulan pendar merah kobaran api. Tak ada air mata yang mengalir di pipinya. Tak ada teriakan meminta pertolongan.Di dalam genggamannya, layar ponsel menampilkan sebuah pesan anonim terakhir:“Gadis itu pintar bukan?”Luna mematikan layar ponselnya. Berselang menit, sebuah sedan hitam mewah mendadak berhenti keras di tepi jalan. Darian menerobos keluar dari pintu pengemudi, menatap horor pada kobaran api yang membakar rumah itu, sebelum matanya menemukan sosok Luna yang berdiri kaku di seberang jalan."Luna! Kamu tidak
Luna melangkah pergi tanpa menoleh lagi.Ia bisa merasakan tatapan Lion menancap di punggungnya—berat, hancur, dan sarat penderitaan. Namun, ia memaksa kedua kakinya terus mengayun mantap, menjauhi koridor yang baru saja menjadi saksi bisu hancurnya jalinan di antara mereka.Satu langkah. Dua langkah.Makin jauh ia melangkah meninggalkan Lion, makin sesak rasa dihantam ulu hatinya. Ada dorongan histeris untuk berhenti, berbalik, lalu menarik kembali seluruh kalimat beracun yang baru saja ia muntahkan. Namun, Luna menepisnya kaku. Lion harus membencinya. Itu jauh lebih aman daripada membiarkan dia membusuk di neraka yang sama demi menyelamatkannya.Luna mempercepat langkah menembus deretan kelas yang mulai sepi. Ia baru saja berbelok menuju tangga belakang ketika sebuah suara perempuan yang halus memanggil dari arah samping."Luna, tunggu!"Luna menghentikan langkahnya. Thea berjalan menghampiri dengan senyuman ramah yang teramat sempurna. Rambut ikalnya tergerai indah, sementara kedu







