Partager

Kekhawatiran

Auteur: Mr. Mystery
last update Date de publication: 2026-02-05 00:32:30

Arya terdiam, tidak tahu bagaimana gadis kecil ini bisa terlihat senang dan bahagia, alih-alih takut akan kejadian sebelumnya.

Dia tidak yakin, tapi saat melihatnya terlihat sangat menggemaskan, dia tidak tahan untuk tidak mengambilnya, dan menggendongnya dengan senyum lebar.

"Apakah ayah terlihat kuat?"

Kiara di gendongannya buru-buru mengangguk, dan dengan wajah serius menjawab, "Sangat kuat! Ara sudah lama ingin menghajar orang-orang jahat itu. Tapi Arya takut, dan tidak berani melihatnya! Melihat ayah menghajar orang-orang jahat yang selama ini mengganggu mama, ayah terlihat sangat keren dan kuat!"

"Oh..." Arya tersenyum senang atas pujian putrinya. Lalu mencubit pipinya, dan bertanya, "Jika begitu, apakah Ara juga ingin menjadi kuat seperti ayah?"

"Apakah Ara juga bisa menjadi kuat seperti ayah?"

"Tentu saja!" Arya segera mengangguk dan menambahkan, "Ara adalah anakku! Tidak hanya menjadi kuat dan manis, Ara juga akan menjadi putri yang paling manis dan menggemaskan di dunia!"

Mata Kiara tampak berkaca-kaca. Dia tidak sepenuhnya memahami apa yang ayahnya katakan, tapi dia sangat senang dengan pujian yang diberikan.

"Ayah sangat baik!" Dengan wajah memerah, dia kembali mencium pipi ayahnya.

Membuat Kaisar Abadi itu meleleh, dan mulai menciumi wajah kecilnya yang menggemaskan.

"Ahahaha..." Suara tawa dan cekikikan segera menyelimuti seluruh ruangan.

Ayah dan putrinya tampak berada di dunia mereka sendiri, sama sekali tidak menyadari tatapan kompleks Aruna yang melihat keduanya.

___

Keesokan paginya, saat Arya dan dua wanita sedang sarapan di meja makan, tiba-tiba dia berkata kepada Aruna, "Kau sudah sangat menderita selama ini. Sebaiknya kau berhenti bekerja dan mulai berpikir untuk melanjutkan sekolahmu. Serahkan saja semuanya padaku!"

Aruna tampak berhenti mengunyah makanannya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya bisa menggelengkan kepalanya.

Semalam, setelah semuanya beres, keduanya sudah membicarakan tentang hutang sebesar seratus lima puluh juta yang kini ditanggung Aruna. Hutang lama dari mendiang orang tuanya yang kini di bebankan pada anak-anaknya.

Sejujurnya Aruna tidak ingin lagi membahasnya, karena sebenarnya hutang awal itu berjumlah lebih dari dua ratus lima puluh juta.

Setelah bertahun-tahun, dia berhasil melunasi setengahnya. Tapi dengan pekerjaannya sekarang, dia tidak tahu kapan dia bisa melunasinya.

Aruna pernah mencoba untuk menyerah dan menerima saran yang debkolektor sebutkan sebelumnya. Tapi saat melihat Kiara dan harapannya akan masa depan, dimana kakak laki-lakinya akan tiba-tiba kembali, dia tidak tahan untuk meninggalkan semuanya.

Sekarang, meskipun kakak laki-lakinya sudah kembali dan terlihat berbeda dengan ingatannya di masa lalu, Aruna tetap tidak bisa berhenti bekerja begitu saja.

Ada banyak hal yang harus dia lakukan! Makanan, uang sewa, dan sebagainya membutuhkan uang segera! Jika dia tidak bekerja, bagaimana dia bisa membayar semuanya?

Sekalipun Arya sudah berjanji bahwa dia akan menanggung semuanya, dia baru saja kembali, dan dia belum mulai bekerja. Keadaannya berbeda dengan lima tahun lalu. Jika Arya ingin mencari pekerjaan, dia harus terlebih dahulu menyesuaikan diri dengan kondisi sekitarnya.

Menunggu hal itu semua membutuhkan waktu, dan Aruna tidak bisa menunggunya selama itu.

Jadi dia menolak idenya untuk berhenti bekerja dan membiarkan Arya melakukan semuanya. Bukan karena egois, tapi karena Aruna tahu, bahwa hidup di zaman sekarang tidak mudah!

Sekalipun nanti Arya mendapatkan pekerjaan, Aruna tidak akan bisa begitu saja berhenti bekerja untuk menghasilkan uang!

"Aku hampir terlambat! Aku akan berangkat kerja dulu! Sekolah TK Ara, tolong kakak yang mengantarnya!" Setelah berkata, Aruna segera berdiri, mengambil tasnya, dan memakai jaketnya sebelum buru-buru berjalan keluar rumah.

Mengabaikan tatapan Arya yang tidak berdaya dan tidak bisa berkata-kata selain menghela nafas pasrah.

Gadis ini sepertinya menjadi lebih dewasa dan keras kepala!

"Ayah ayah," Kiara yang duduk di sampingnya memanggil, "Apakah ayah akan mengantarku pergi ke sekolah hari ini?"

"Tentu saja," Arya mengelus rambutnya dan dengan lembut menjawab, "mulai sekarang, ayah yang akan mengantar dan menjemput Ara ke sekolah setiap hari!"

"Hore!!" Gadis kecil itu bersorak senang, dan buru-buru menghabiskan sarapannya.

__

Pukul 7 pagi.

Arya dan Kiara tiba di depan gerbang sekolahnya.

TK Tadika Mesra, sekolah tk anak-anak yang berada di pusat kota batu, dan lumayan besar. Menjadi satu-satunya sekolah elit yang pada dasarnya hanya anak-anak kaya dan berpengaruh yang bisa sekolah di sana.

Kiara, meskipun dia bukan anak orang kaya atau berpengaruh, Aruna tetap mendaftarkannya di sana. Adik perempuannya itu, sepertinya dia tidak ingin pendidikan Kiara tertinggal atau menjadi biasa-biasa saja.

Arya setuju dengan pilihan itu. Meskipun biayanya cukup mahal, dan jaraknya cukup jauh, itu tidak masalah baginya sekarang. Meskipun dia bukan jenis orang tua yang memiliki kebebasan finansial sekarang, tak butuh waktu lama sebelum akhirnya dia akan memiliki segalanya.

Dengan semua pengalaman, kekayaan dan kekuatan yang dia miliki sekarang, uang hanyalah sekedar kertas biasa yang bisa dia dapatkan dengan mudah.

Namun, saat Arya dan Kiara berjalan masuk ke gerbang sekolah, dia menemukan bahwa gadis kecil itu selalu menundukkan kepalanya. Tampak tidak antusias dan pemalu. Tidak seperti anak-anak lainnya yang ceria dan aktif, bahkan berlarian ke sana kemari.

"Ara, akhirnya kamu datang?"

Pada saat itu, panggilan dari seorang wanita membuat Kiara mengangkat kepalaku. Dan saat gadis itu melihat seorang wanita muda, tampak berusia awal dua puluhan, terlihat cantik, lembut dan ramah, Kiara akhirnya tersenyum.

"Bu guru Yuna!"

Yuna, seorang guru taman kanak-kanak itu itu mengangguk dan tersenyum saat berjalan ke arahnya. Lalu mengelus kepalanya dengan lembut sebagai salam, dan menoleh ke arah Arya, sedikit terkejut saat menemukan ada seorang pria muda yang bersama Kiara.

Karena selama ini, dia hanya melihat jika yang mengantar dan menjemput Ara adalah seorang wanita yang beenama Aruna. Tapi sekarang berganti seorang pria yang tampaknya baru berusia dua puluh lima tahun.

Apakah pria ini ayah Kiara? Tapi sepertinya dia terlalu muda untuk memiliki seorang putri di umur dua puluh lima tahun, bukan?

Tapi dia tidak bertanya, dan hanya mengangguk pelan sebagai salam.

Arya juga mengangguk dan melihat guru wanita itu hanya untuk menemukan kejutan dan rasa penasaran di wajahnya.

"Tuan ini---"

"Bu guru, dia adalah ayahku!" Sebelum Yuna bertanya, Kiara segera memperkenalkan Arya, "ayah baru pulang kemarin, dan mulai hari ini, ayah yang akan mengantarku ke sekolah setiap hari. Akhirnya aku juga memiliki seorang ayah!"

"Haha..." Yuna tertawa kecil, dan sedikit membungkuk ke arah Kiara sambil tersenyum tipis. "Bukankah guru sudah sering bilang bahwa Ara pasti memiliki ayah? Lihat, bukankah ayahmu akhirnya pulang dan mengantarkanmu ke sekolah seperti yang lainnya?"

Kiara mengangguk setuju, dan tersenyum manis. Tampak sangat senang dan bahagia saat memegang tangan Arya.

"Ayo masuk ke kelas. Bu guru ingin berbicara dengan ayahmu."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Kejeniusan Kiara

    Tak ada pilihan, Arya mulai mengarang kebohongan bahwa hilangnya dirinya adalah setelah kecelakaan mendaki gunung lima tahun lalu, ia di selamatkan oleh penduduk setempat, dan mengalami hilang ingatan. Baru beberapa bulan ini akhirnya ia mengingat kembali siapa dirinya, dan memutuskan untuk kembali. Lalu tiba-tiba menemukan jika dia telah memiliki seorang putri yang berusia lima tahun. Sedangkan untuk Lana, Arya samar-samar dan tidak jelas hanya mengatakan jika wanita itu memiliki hal-hal penting yang harus di selesaikan, dan tidak bisa merawat Kiara. Dia juga tidak menjelaskan kenapa dan kemana Lana pergi. Saat ini, dirinya sedang mencoba untuk mencarinya. Tentu saja, saat Gavin mendengar cerita itu, dia sama sekali tidak mempercayai kebohongan tak masuk akal semacam itu. Tapi sebagai orang yang paling mengenal Arya, Gavin tahu bahwa temannya ini jarang berbohong jika bukan karena sesuatu yang serius. Dan karena Arya tidak mengatakan yang sejujurnya, Gavin tahu bahwa Arya masih m

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Reuni

    Pagi hari keesokan harinya. Arya yang telah memberikan alamat hotelnya kepada Gavin sedikit terkejut saat melihatnya datang pagi-pagi sekali. Intinya bukan pada waktu ia datang, melainkan penampilannya yang lesu dengan kelompok mata yang hitam, tampak tidak tidur semalaman. Bahkan dari balik kacamatanya, Arya bisa melihat matanya yang merah dan berair. "Ada denganmu?""Ahaha, memang apa yang terjadi padaku? Bukankah aku hanya datang ke tempatmu?" Gavin tampak sama sekali tidak peduli dengan tatapan aneh Arya, dan begitu saja masuk ke dalam. Menyaksikan hotel tempat ia tinggal, diam-diam dia mengangguk dan tampak puas, apalagi saat ia menyaksikan beberapa botol minuman dan cemilan yang telah Arya persiapan di ruang tamu. "Aku tidak menyangka bahwa orang hemat dan pelit sepertimu di masa lalu akan bisa menikmati hidup dengan baik di masa sekarang. Tampaknya lima tahun ini kau tidak hanya menghilang tiba-tiba, tapi juga telah melakukannya banyak hal. Sungguh membuatku kagum." Arya

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Gavin Rowan

    Lana Wijaya. Meskipun ingatan Arya sedikit kabur, wanita itu memang wanita dengan temperamen dan sosok yang luar biasa dalam ingatannya. Bahkan juga bertahan selama beberapa ribu tahun di dunia lain. Kini, setelah ia kembali tapi belum sempat melihat atau menemukan keberadaannya, Arya tidak tahu, seperti apa dia sekarang? Apakah wanita itu masih baik-baik saja? Ataukah sedang dalam keadaan yang membutuhkan genting dan sangat membutuhkan bantuan? Arya tidak tahu, dia hanya tahu bahwa perjalanannya kali ini adalah untuk mencari keberadaannya. Pertanyaan karyawan itu juga sekali lagi mengingatkan dirinya untuk segera mencari keberadaan Lana agar tidak menyesal dikemudian hari. "Tuan, apakah anda baik-baik saja?" Karyawan toko itu tidak bisa untuk tidak bertanya dengan khawatir saat melihat Arya tiba-tiba terdiam cukup lama, dan tampak tidak berada di tempatnya. Pertanyaan itu segera membuat Arya sedikit terkejut dan tersadar sebelum tiba-tiba tersenyum. "Tidak ada apa-apa. Aku ha

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Cemilan seharga jutaan dolar

    Gadis kecil itu juga tidak bisa menahan senyumannya dan terlihat cukup bangga dengan dirinya sendiri. Tanpa ragu-ragu ia juga mulai bertanya pada Robert, "Kakek Viona, apakah aku lebih cantik dan menggemaskan daripada Viona?" "Hehehe..."Pria tua yang tampak jauh lebih sehat dan baik daripada sebelumnya itu tiba-tiba terkekeh dan tersenyum. Tapi dia tidak menjawabnya dengan jelas selain penjelasan yang abu-abu. "Kalian berdua adalah mahkluk yang menggemaskan. Seperti seekor kupu-kupu dan bunga teratai. Sangat indah dan enak di pandang bersama-sama." "Hmp!" Kiara tampak cemberut dan tidak puas dengan jawaban itu. Mengetahui jawabannya tidak memuaskan gadis kecil itu, Robert hanya bisa terkekeh pelan dan memberikan beberapa bungkusan yang telah ia persiapkan sebelumnya. "Lihat, kakek memberikan beberapa camilan, dan permen untuk Ara. Apakah kamu suka?" "Camilan?" Gadis kecil itu segera bersemangat dan tanpa ragu-ragu mengambil bungkusan yang Robert berikan. Tanpa sedikitpun rasa

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Perubahan Kiara

    "Baiklah, ayah salah! Lain kali jika ada kesempatan, ayah akan membawa Ara dalam perjalanan, oke?" "Benarkah?" Ekspresi Kiara tampak sedikit melunak dan penuh harap saat mendengar kata-kata itu. Dengan anggukan berat dan senyum senang, Arya segera berkata, "Benar sekali. Tapi sebelum itu, Ara harus belajar dulu di sekolah dengan baik. Ketika waktu liburan tiba, ayah berjanji akan mengajak Ara jalan-jalan keluar negeri." "Sekolah?" Wajah Kiara kembali cemberut dan bahkan dengan kesal mulai berkata, "Apa bagusnya sekolah? Selain Viona, semua orang di sekolah tampak bodoh dan menyebalkan! Selain bermain dan berlarian ke sana sini dan membuat para guru kesusahan, apa bagusnya sekolah. Bahkan mereka tidak bisa membaca dan berhitung." "Hah?" Arya tiba-tiba mengubah wajahnya dan bertanya dengan serius, "Bukankah kamu masih berada di taman kanak-kanak? Apa salahnya bermain dan belajar di saat yang sama? Bisakah kau berhitung dan membaca? Bukankah itu ajaran sekolah dasar?" "Apa susahny

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Pil yang berharga

    Dua hari kemudian. Kelompok Hans, Wira dan Ryan yang telah kembali tidak bisa untuk tidak melihat kepergian mobil Arya dengan beberapa pemikiran di kepala. Khusus untuk Wira, ekspresi dan cara memandangnya benar-benar berbeda seratus delapan puluh derajat daripada di awal. Dia bahkan tidak bisa untuk tidak berbicara kepada Ryan, "Muridku, kau benar-benar tidak bisa melepaskan kesempatan ini. Dengan kekuatan dan pandangan yang Master Arya tunjukkan sebelumnya, kau benar-benar telah menemukan jackpot sebagai pendukung keluargamu. Dengan mengikuti dan melakukan apa yang Master Arya inginkan, aku yakin masa depanmu dan masa depan keluargamu akan tidak terbatas." Ryan yang berada di samping dan mendengarkan penjelasan itu mengangguk berat, dan sangat setuju dengan apa yang Wira bicarakan. Sejak awal, sejak Arya menyembuhkan penyakit kakeknya, dan semua hal yang ia lakukan di kota ini, Ryan sudah yakin dengan kekuatannya. Apalagi setelah perjalanan ini. Setelah semua kekuatan menakjub

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status