MasukArya terdiam, tidak tahu bagaimana gadis kecil ini bisa terlihat senang dan bahagia, alih-alih takut akan kejadian sebelumnya.
Dia tidak yakin, tapi saat melihatnya terlihat sangat menggemaskan, dia tidak tahan untuk tidak mengambilnya, dan menggendongnya dengan senyum lebar. "Apakah ayah terlihat kuat?" Kiara di gendongannya buru-buru mengangguk, dan dengan wajah serius menjawab, "Sangat kuat! Ara sudah lama ingin menghajar orang-orang jahat itu. Tapi Arya takut, dan tidak berani melihatnya! Melihat ayah menghajar orang-orang jahat yang selama ini mengganggu mama, ayah terlihat sangat keren dan kuat!" "Oh..." Arya tersenyum senang atas pujian putrinya. Lalu mencubit pipinya, dan bertanya, "Jika begitu, apakah Ara juga ingin menjadi kuat seperti ayah?" "Apakah Ara juga bisa menjadi kuat seperti ayah?" "Tentu saja!" Arya segera mengangguk dan menambahkan, "Ara adalah anakku! Tidak hanya menjadi kuat dan manis, Ara juga akan menjadi putri yang paling manis dan menggemaskan di dunia!" Mata Kiara tampak berkaca-kaca. Dia tidak sepenuhnya memahami apa yang ayahnya katakan, tapi dia sangat senang dengan pujian yang diberikan. "Ayah sangat baik!" Dengan wajah memerah, dia kembali mencium pipi ayahnya. Membuat Kaisar Abadi itu meleleh, dan mulai menciumi wajah kecilnya yang menggemaskan. "Ahahaha..." Suara tawa dan cekikikan segera menyelimuti seluruh ruangan. Ayah dan putrinya tampak berada di dunia mereka sendiri, sama sekali tidak menyadari tatapan kompleks Aruna yang melihat keduanya. ___ Keesokan paginya, saat Arya dan dua wanita sedang sarapan di meja makan, tiba-tiba dia berkata kepada Aruna, "Kau sudah sangat menderita selama ini. Sebaiknya kau berhenti bekerja dan mulai berpikir untuk melanjutkan sekolahmu. Serahkan saja semuanya padaku!" Aruna tampak berhenti mengunyah makanannya, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Semalam, setelah semuanya beres, keduanya sudah membicarakan tentang hutang sebesar seratus lima puluh juta yang kini ditanggung Aruna. Hutang lama dari mendiang orang tuanya yang kini di bebankan pada anak-anaknya. Sejujurnya Aruna tidak ingin lagi membahasnya, karena sebenarnya hutang awal itu berjumlah lebih dari dua ratus lima puluh juta. Setelah bertahun-tahun, dia berhasil melunasi setengahnya. Tapi dengan pekerjaannya sekarang, dia tidak tahu kapan dia bisa melunasinya. Aruna pernah mencoba untuk menyerah dan menerima saran yang debkolektor sebutkan sebelumnya. Tapi saat melihat Kiara dan harapannya akan masa depan, dimana kakak laki-lakinya akan tiba-tiba kembali, dia tidak tahan untuk meninggalkan semuanya. Sekarang, meskipun kakak laki-lakinya sudah kembali dan terlihat berbeda dengan ingatannya di masa lalu, Aruna tetap tidak bisa berhenti bekerja begitu saja. Ada banyak hal yang harus dia lakukan! Makanan, uang sewa, dan sebagainya membutuhkan uang segera! Jika dia tidak bekerja, bagaimana dia bisa membayar semuanya? Sekalipun Arya sudah berjanji bahwa dia akan menanggung semuanya, dia baru saja kembali, dan dia belum mulai bekerja. Keadaannya berbeda dengan lima tahun lalu. Jika Arya ingin mencari pekerjaan, dia harus terlebih dahulu menyesuaikan diri dengan kondisi sekitarnya. Menunggu hal itu semua membutuhkan waktu, dan Aruna tidak bisa menunggunya selama itu. Jadi dia menolak idenya untuk berhenti bekerja dan membiarkan Arya melakukan semuanya. Bukan karena egois, tapi karena Aruna tahu, bahwa hidup di zaman sekarang tidak mudah! Sekalipun nanti Arya mendapatkan pekerjaan, Aruna tidak akan bisa begitu saja berhenti bekerja untuk menghasilkan uang! "Aku hampir terlambat! Aku akan berangkat kerja dulu! Sekolah TK Ara, tolong kakak yang mengantarnya!" Setelah berkata, Aruna segera berdiri, mengambil tasnya, dan memakai jaketnya sebelum buru-buru berjalan keluar rumah. Mengabaikan tatapan Arya yang tidak berdaya dan tidak bisa berkata-kata selain menghela nafas pasrah. Gadis ini sepertinya menjadi lebih dewasa dan keras kepala! "Ayah ayah," Kiara yang duduk di sampingnya memanggil, "Apakah ayah akan mengantarku pergi ke sekolah hari ini?" "Tentu saja," Arya mengelus rambutnya dan dengan lembut menjawab, "mulai sekarang, ayah yang akan mengantar dan menjemput Ara ke sekolah setiap hari!" "Hore!!" Gadis kecil itu bersorak senang, dan buru-buru menghabiskan sarapannya. __ Pukul 7 pagi. Arya dan Kiara tiba di depan gerbang sekolahnya. TK Tadika Mesra, sekolah tk anak-anak yang berada di pusat kota batu, dan lumayan besar. Menjadi satu-satunya sekolah elit yang pada dasarnya hanya anak-anak kaya dan berpengaruh yang bisa sekolah di sana. Kiara, meskipun dia bukan anak orang kaya atau berpengaruh, Aruna tetap mendaftarkannya di sana. Adik perempuannya itu, sepertinya dia tidak ingin pendidikan Kiara tertinggal atau menjadi biasa-biasa saja. Arya setuju dengan pilihan itu. Meskipun biayanya cukup mahal, dan jaraknya cukup jauh, itu tidak masalah baginya sekarang. Meskipun dia bukan jenis orang tua yang memiliki kebebasan finansial sekarang, tak butuh waktu lama sebelum akhirnya dia akan memiliki segalanya. Dengan semua pengalaman, kekayaan dan kekuatan yang dia miliki sekarang, uang hanyalah sekedar kertas biasa yang bisa dia dapatkan dengan mudah. Namun, saat Arya dan Kiara berjalan masuk ke gerbang sekolah, dia menemukan bahwa gadis kecil itu selalu menundukkan kepalanya. Tampak tidak antusias dan pemalu. Tidak seperti anak-anak lainnya yang ceria dan aktif, bahkan berlarian ke sana kemari. "Ara, akhirnya kamu datang?" Pada saat itu, panggilan dari seorang wanita membuat Kiara mengangkat kepalaku. Dan saat gadis itu melihat seorang wanita muda, tampak berusia awal dua puluhan, terlihat cantik, lembut dan ramah, Kiara akhirnya tersenyum. "Bu guru Yuna!" Yuna, seorang guru taman kanak-kanak itu itu mengangguk dan tersenyum saat berjalan ke arahnya. Lalu mengelus kepalanya dengan lembut sebagai salam, dan menoleh ke arah Arya, sedikit terkejut saat menemukan ada seorang pria muda yang bersama Kiara. Karena selama ini, dia hanya melihat jika yang mengantar dan menjemput Ara adalah seorang wanita yang beenama Aruna. Tapi sekarang berganti seorang pria yang tampaknya baru berusia dua puluh lima tahun. Apakah pria ini ayah Kiara? Tapi sepertinya dia terlalu muda untuk memiliki seorang putri di umur dua puluh lima tahun, bukan? Tapi dia tidak bertanya, dan hanya mengangguk pelan sebagai salam. Arya juga mengangguk dan melihat guru wanita itu hanya untuk menemukan kejutan dan rasa penasaran di wajahnya. "Tuan ini---" "Bu guru, dia adalah ayahku!" Sebelum Yuna bertanya, Kiara segera memperkenalkan Arya, "ayah baru pulang kemarin, dan mulai hari ini, ayah yang akan mengantarku ke sekolah setiap hari. Akhirnya aku juga memiliki seorang ayah!" "Haha..." Yuna tertawa kecil, dan sedikit membungkuk ke arah Kiara sambil tersenyum tipis. "Bukankah guru sudah sering bilang bahwa Ara pasti memiliki ayah? Lihat, bukankah ayahmu akhirnya pulang dan mengantarkanmu ke sekolah seperti yang lainnya?" Kiara mengangguk setuju, dan tersenyum manis. Tampak sangat senang dan bahagia saat memegang tangan Arya. "Ayo masuk ke kelas. Bu guru ingin berbicara dengan ayahmu."Sedangkan untuk Arya, dia masih tetap duduk di meja makan dengan ekspresi tenang dan tanpa kekhawatiran, hanya sedikit mengerutkan keningnya.Melihat beberapa moncong senapan diarahkan kepada dirinya, sebenarnya Arya sama sekali tidak khawatir, karena bagaimanapun, senjata api tidak akan bisa melukai tubuh abadinya.Arya tidak senang karena mereka tiba-tiba masuk ke dalam rumahnya secara paksa, membuat putri kecilnya menjerit ketakutan dan panik. Terlebih lagi, motif penangkapan ini sangat tidak masuk akal.Menghajar dan melakukan kekerasan terhadap tujuh orang siang tadi? Bukankah itu adalah saat dia mengalahkan orang-orang suruhan Danan?Tidak, sebenarnya itu pembelaan diri, bukan?Membela diri saat ada seseorang yang akan mencelakainya dianggap sebagai pelanggaran?! Dikategorikan sebagai kekerasan dan penganiayaan secara sepihak?Sejak kapan pembelaan diri terhadap penganiayaan dianggap sebagai kejahatan?Tapi Arya juga tahu apa yang terjadi, dan tidak bisa untuk tidak menarik sudu
"Tentu saja. Bukankah ayah memang seorang pahlawan?" Arya tersenyum dan menjawab dengan bangga. Sekalipun dia tidak bisa mengatakan dirinya sebagai seorang "pahlawan" yang sesungguhnya, dia bisa menjadi pahlawan bagi putrinya sendiri, bukan? "Benar!" Kiara mengangguk dan menjawab, "Ayah memang pahlawan yang kuat, berani dan bisa sulap! Menghilangkan orang-orang jahat itu secara ajaib!" "Jadi, apakah Ara suka sulap?" "Ya, Ara sangat suka! Ara juga ingin melihat sulap lagi. Ayah, bisakah ayah melakukan sulap lagi?" "Tentu," Arya mengangguk dan menurunkannya ke lanti. "Tapi karena hari sudah siang, kita harus makan siang dulu. Lalu mandi dan belajar." "Hmmp!" Ekspresi gadis kecil itu langsung cemberut dengan menggelembungkan kedua pipinya, tampak kesal dan tidak puas. Saat Arya melihatnya seperti itu, dia tidak bisa untuk terkekeh lucu, dan membawanya masuk ke rumah dengan berkata, "Nanti, setelah makan siang, mandi dan belajar, nanti malam ayah akan menunjukkan sulap yang hanya b
"Uhuk... uhuk..." Tak lama kemudian, pria tua yang sebelumnya tak sadarkan diri itu tiba-tiba berbatuk dan membuka matanya. "Benar-benar berhasil!" "Sungguh luar biasa!" "Hanya dengan memegang pergelangan tangan dan memejamkan mata, pemuda barusan berhasil menyembuhkan stroke tiba-tiba! Ini pasti ilmu sihir!" ... Semua orang terkejut dan berkata dengan ketidakpercayaan. Ketika pria tua itu memahami apa yang terjadi, wajahnya berubah dan dia buru-buru menoleh ke sekelilingnya. "Siapa yang menolongku barusan!?" "Dia..." Orang-orang di sana mulai melihat sekeliling, mencoba mencari keberadaan Arya, tapi sosok ayah dan putrinya telah menghilang dari pandangan semua orang. "Kakek! Dia ayah teman baruku! Namanya Arya! Dia yang menyembuhkan kakek barusan!" "Arya?" Pak tua Hale bergumam dan mulai mengingat namanya. Di saat yang bersamaan, Arya dan Kiara sudah berjalan pulang, dan gadis kecil itu selalu menatap ayahnya dengan mata berbinar sepanjang jalan. Penuh dengan kata-kata puj
Siang hari.Setelah Arya berhasil membuat kesepakatan awal dengan Evelyn, dan berbelanja beberapa bahan makanan dan hal-hal lainnya, dia kembali ke TK, bersiap-siap untuk menjemput putrinya pulang. Pukul 11 siang, anak-anak akhirnya keluar dari ruang kelas, dan berjalan keluar. Dari kejauhan, Arya melihat jika putrinya sedang berjalan dan bergandengan tangan dengan seorang gadis seusianya. Berjalan saling bahu-membahu, berbincang dan tertawa, tampak akrab sebagai seorang teman. Arya cukup senang dan tersenyum saat melihat putrinya tampak tersenyum dan ceria daripada pagi hari tadi. "Ayah!" Ketika Kiara melihat sosok Arya, dia segera berteriak dan berlari ke arahnya dengan senyum lebar. Bersamaan dengan teman wanita kecilnya, dua mahkluk kecil itu tiba-tiba di depan Arya dengan Kiara mulai memperkenalkan teman serta dirinya. "Ayah, ini Viona, temanku yang baru pindah sekolah pagi ini. Viona, ini ayahku yang aku ceritakan sebelumnya! Ayah yang kuat dan keren seperti pahlawan!" "B
Orang yang datang bukan orang lain, dia adalah Arya itu sendiri. Memasuki ruang kantor dengan hanya mengenakan kaos dan celana panjang hitam, tampak biasa tanpa menggunakan aksesori apapun, Evelyn yang melihatnya langsung tahu bahwa pria yang berusia pertengahan dua puluhan tahun ini adalah orang aneh yang sedang bermain-main.Tidak lagi melihat atau memperhatikannya, Evelyn juga segera berkata, "Segera keluar dari sini!" Arya sama sekali tidak menghiraukan perintahnya. Dia hanya mulai berjalan ke arah sofa yang ada di sana, dan mulai duduk dengan ekspresi tenang dan santai. Tidak lupa juga menuangkan kopi yang telah di persiapkan, dan meminumnya untuk dirinya sendiri. Seolah-olah dia adalah pemilik kantor itu. Ketika Evelyn melihatnya, dia benar-benar menjadi sangat marah. Diam-diam tangannya mulai membuka laci meja kantornya, dimana senjata api berupa pistol selalu tersimpan di dalamnya. "Apakah kau pemilik perusahaan ini?" Arya tidak peduli dengan apa yang wanita itu pikirkan a
Ketika hanya tersisa dua orang, Yuna akhirnya melihat ke arah Arya dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan diri. "Saya Yuna, wali kelas yang mengajar Ara. Saya mendengar bahwa sebelumnya anda menghilang, dan tidak sempat untuk menemui Ara. Melihatmu sekarang, sepertinya anda telah kembali." Arya juga mengalaminya, dan menjawab, "Itu cerita masa lalu. Mulai sekarang aku yang akan selalu mengantarnya ke sekolah. Tolong perhatikan putriku. Jika terjadi sesuatu, jangan ragu untuk menghubungiku." Di saat Yuna mendengar jawaban itu, dia sedikit memperhatikan ekspresi tulus Arya dan menemukan bahwa sepertinya rumor jika Ara tidak diinginkan oleh orang tuanya adalah rumor yang tak berdasar. Wanita itu mengangguk, berjanji dan menambahkan, "Sebelum itu, saya meminta agar Tuan Arya lebih memperhatikan Ara. Saya tidak berhak mengomentari cara anda mendidiknya, tapi saya menemukan bahwa Kiara adalah anak yang pendiam, pemalu dan sulit bergaul dengan teman-teman seumurannya. Jika bisa,






![MY CEO [Hate And Love]](https://acfs1.goodnovel.com/dist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)
