Beranda / Urban / Kembalinya Kaisar Abadi / Kemarahan dan Prioritas

Share

Kemarahan dan Prioritas

Penulis: Mr. Mystery
last update Tanggal publikasi: 2026-02-05 00:32:10

"Beraninya kau?" Aruna sangat marah dan menatap keduanya dengan mata merah.

"Kenapa aku tidak berani?" Jawab seorang debkolektor dengan pandangan meremehkan dan mencibir.

Temannya bahkan mulai mulai melihat ke arah Arya dengan pandangan yang sangat meremehkan, dan terkekeh.

"Aku tidak tahu, bagaimana kau bisa memilih pria miskin dan menyedihkan seperti dia sebagai tamumu? Dibandingkan dengan Tuan Muda Danan, bukankah pria ini sama sekali tidak berguna?"

"Jika seandainya kau menerima tawaran Tuan muda Danan untuk menjadikan dirimu sebagai wanitanya, bukan hanya hutang keluargamu yang akan lunas, bahkan kau bisa hidup mewah daripada sebelumnya."

"Tidak perlu lagi hidup di kandang sapi ini untuk membesarkan anak haram, serta menyia-nyiakan hidupmu untuk gadis kecil tak berguna sepanjang waktu! Aku sudah bilang, jual saja anak---"

Sebelum pria itu selesai berbicara, tiba-tiba dia berhenti. Bukan berhenti karena keinginan, melainkan ada seseorang yang mengangkat dan menghentikannya untuk berbicara.

Arya, yang sebelumnya berjarak beberapa meter darinya kini sudah ada di depannya. Memegang lehernya dengan satu tangan, dan mengangkatnya ke udara.

Menatap pria yang baru saja mengatakan adik perempuannya sebagai jalang, dan menghina anak perempuannya sebagai anak haram, wajah Arya menjadi sangat dingin. Kedua matanya yang acuh tak acuh menatap pria di tangannya dengan pandangan dingin seolah-olah sedang melihat sebuah mayat.

"Katakan sekali lagi!"

"Ughh...."

Pria yang berbobot 80 kg dan sedang di angkat di udara layaknya karung sampah itu tampak meronta-ronta, mencoba melepaskan pergelangan tangan Arya. Namun, yang dia merasa bahwa yang menjepit lehernya bukanlah tangan manusia, namun penjepit baja.

Sekeras dan sekuat apapun dia mencoba, mustahil untuk melepaskan cengkraman di lehernya.

"Bajingan! Apa yang kau lakukan!" Teman debkolektor itu berteriak marah ke arah Arya.

Tapi Arya sama sekali tidak melihatnya, dia hanya sedikit menambahkan cengkraman di pergelangan tangannya, dan sekali lagi berkata kepada orang di depannya, "Menghina adikku dan mengutuk putriku, siapa yang memberimu keberanian untuk melakukannya?"

"Ughhh... A-a-ku.. arghh..." Pria di udara itu ingin mengatakan sesuatu, tapi cengkraman Arya menjadi lebih kuat, dan memutuskan pasokan oksigen ke otaknya. Membuatnya tersedak dengan mata melotot, dan meronta-ronta dengan wajah yang membiru.

"Bajingan! Lepaskan dia!" Salah satu debkolektor kali ini tidak hanya berteriak, tapi juga mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya.

Dengan wajah marah dan ekspresi kejam, dia menerjang ke arah Arya.

"Ahh!!" Mengakibatkan Aruna menjerit ketakutan saat melihatnya.

Tapi ekspresi wajah Arya sama sekali tidak berubah, tetap santai dan dingin, bahkan sama sekali tidak melihat ke arah pria yang menyerangnya dengan pisau. Dia hanya sedikit meliriknya dengan jijik, dan tetap di tempatnya.

Ketika pisau tajam dengan kilatan dingin itu hanya berjarak beberapa sentimeter dari pipinya, akhirnya Arya bergerak. Tangan kirinya yang bebas tampak berkelebat, dan gerakan pisau itu seketika berhenti.

"Kau?" Terkejut, wajah debkolektor itu berubah, dia ingin menarik kembali tangannya agar bisa kembali menyerang.

Namun, pergelangan tangannya di pegang erat oleh tangan Arya. Berapapun dia mencoba untuk menarik atau menggerakkannya, semua usahanya sia-sia.

"Lepas--- arghh!!!"

Jeritan memilukan yang di sertai dengan suara "klik" dari tulang yang patah tiba-tiba terdengar.

"Klik!"

"Argh!!"

Pisau di tangan debkolektor itu jatuh, dan rasa sakit hebat datang dari pergelangan tangannya yang hancur. Bahkan saat Arya melepaskannya, telapak tangannya tidak bisa lagi di gerakan dan rasakan, selain penampakannya yang hancur dan terkulai. Terlihat mengerikan dan menyeramkan.

"Sepertinya kalian berdua ingin mati!"

Tapi itu belum selesai, karena dengan suara dingin Arya yang datang, hantaman keras tiba-tiba datang, menghatam perutnya dengan keras layaknya di tabrak truk, pria yang memiliki bobot tidak kurang dari 80 kg itu terbang keluar rumah melewati pintu rumah.

Lalu menabrak tembok dengan suara "bam" keras, dan tidak lagi bergerak. Entah hidup atau mati.

"Ini..." Wajah Aruna dan debkolektor yang di cekik oleh Arya menjadi pucat saat melihatnya.

Ketakutan dan rasa horor muncul pada debkolektor yang masih menggantung di udara.

Menoleh ke arah Arya, dan menatap tatapannya yang acuh tak acuh, dingin dan tanpa emosi sama sekali, kata "kematian" seketika muncul di otaknya.

"Sekarang--"

"Ayah?" Suara kekanakan-kanakan dan terdengar malas menghentikan kata-kata Arya selanjutnya!

Dan saat dia melihat gadis kecil yang tampak terlihat masih lesu dan mengantuk menggosok-gosok matanya yang terpejam di depan pintu kamar tidur, hatinya seketika menjadi damai. Kemarahan dan niat membunuh di tubuhnya seketika menghilang.

Ekspresinya kembali melembut, tapi dia tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh ke arah Aruna yang kini sedang menatap dirinya dengan pandangan kosong.

"Bawa Ara kembali ke kamar!" Perintah Arya ini segera menyadarkan Aruna. Membuat wanita itu langsung berlari ke arah Kiara, dan menggendongnya, membawanya kembali ke dalam kamar.

Sedangkan Arya sendiri, dia kembali menatap orang yang masih gemeter ketakutan di pergelangan tangannya, dan melemparkannya ke pintu luar, layaknya melemparkan sepotong sampah.

Kemudian menghampirinya keduanya, dan menutup pintu, Arya memandang keduanya dengan tatapan mata penuh ancaman nyata.

"Kalian beruntung! Tapi ingat, jika aku melihat atau mendengar kalian berani datang mengganggu keluargaku lagi, kejadiannya tidak hanya patah tulang dan sesak nafas. Apakah kalian mengerti!"

Debkolektor yang sebelumnya di lempar oleh Arya dan sedang duduk di lantai dengan cara menundukkan itu kepalanya buru-buru mengangguk. Sangat memahaminya.

Setelah kejadian barusan, dia sudah benar-benar ketakutan dengan Arya. Jika seandainya gadis kecil yang sebelumnya dia hina tidak datang, mungkin tubuhnya sudah menjadi dingin tak bernyawa sekarang.

Dia tidak ragu bahwa Arya akan membunuhnya, karena dari sorot matanya barusan, dia bisa melihat tatapan ketidakpedulian ekstrem terhadap kehidupan dan kematian. Seolah-olah hidup manusia tidak lebih dari sekedar semut belaka.

"Jika kau paham, segera pergi dari sini!"

Tidak menunggu perintah untuk yang kedua kalinya, pria itu segera segera berdiri, lalu menyeret temannya yang masih tak sadarkan diri, dan berlari menjauh.

Tanpa sedikitpun menoleh ke belakang, dia dengan panik berlari sekencang yang dia bisa sambil menyeret temannya, seolah-olah hidupnya sedang di pertaruhkan.

___

Setelah semua, saat Arya kembali ke dalam rumah, Aruna dan Kiara sedang menunggunya di ruang tamu dengan tatapan yang berbeda.

Terkhusus untuk adik perempuannya, Arya melihat bahwa tatapannya kini menjadi rumit, antara ketakutan, keterkejutan, ketidakpercayaan dan penasaran. Bibirnya tampak bergerak-gerak saat gadis itu melihatnya, seolah ingin mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya tidak mengatakan apapun.

Arya mungkin bisa menebak apa yang sedang dia pikirkan, tapi dia tidak mengatakan apa-apa dan hanya menoleh ke arah Kiara, yang saat ini sedang menatapnya dengan mata melebar.

"Ayah keren!"

Tanpa rasa takut ataupun canggung, gadis kecil itu berteriak senang dan menghampirinya.

Sambil mengepalkan tinju kecilnya, dia mulai berceloteh, "Ayah hebat sekali! Berhasil mengalahkan pria jahat yang selama ini mengganggu Mama dan Ara! Orang-orang jahat ini terlihat menakutkan, tapi Ayah menghajarnya dengan sangat kuat! Seperti... Seperti pahlawan dalam TV. Sangat keren!"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Riskan

    Arya tidak menunggu jawaban mereka.Dia berdiri dari tempat duduknya dan berkata dengan nada ringan, "Aku tidak memaksa kalian untuk memberikan jawaban sekarang. Yang jelas, jika kalian menemukan informasi apa pun, kalian bisa memberitahuku."Arya berbalik untuk pergi, tapi Thomas tiba-tiba berdiri dan berkata, "Tuan Arya, tunggu sebentar."Thomas berjalan keluar sebentar sebelum kembali dengan sebuah kunci mobil di tangannya."Tuan Arya," kata Thomas sambil mengulurkan kunci itu, "ini adalah kunci mobil Audi R8. Ini adalah sedikit kebaikan dari keluarga kami. Semoga Tuan Arya berkenan menerimanya."Arya melirik kunci mobil itu selama beberapa saat.Audi R8, mobil sport mewah dengan harga miliaran.Bukan hadiah yang kecil.Tapi Arya tidak menolak. Dia mengambil kunci itu dan mengangguk ringan. "Terima kasih."Setelah Arya pergi, suasana di ruang tamu menjadi sangat tegang.Thomas adalah orang pertama yang membuka suara dengan wajah pucat dan penuh kekhawatiran."Ayah," katanya dengan n

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Permintaan Arya

    Ryan mengangguk berat, dan menambahkan dengan ekspresi hormat dan serius di wajahnya, "Mereka benar-benar bukan manusia! Dikatakan mereka juga bisa hidup lebih dari seratus tahun!""Seratus tahun?"Robert, Thomas, Leonard, dan Katheryn yang ada di sana mulai saling memandang dengan kengerian di kedua mata masing-masing.Sebuah senjata hidup yang susah dibunuh dan bahkan bisa hidup selama seratus tahun? Ketika mereka berempat memikirkannya, mereka tidak bisa untuk tidak buru-buru menggelengkan kepala.Itu terlalu jauh! Mereka bahkan sama sekali tidak berani memikirkannya!Hanya Arya yang masih tenang dan dengan sangat ringan mengangguk, sama sekali tidak terkejut atau terlalu banyak bereaksi.Karena dia yakin, bahwa dengan adanya Grandmaster yang setara dengan Pelatihan Qi tingkat keenam dalam namanya, pasti ada tingkatan yang lebih tinggi sampai ke Pelatihan Qi tingkat kesembilan.Hanya saja, dengan energi internal mereka yang jauh lebih lemah dan kotor daripada yang diolah oleh seora

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Seniman beladiri

    "Tuan Arya, dia adalah Ryan Hale, adik laki-laki Thomas dan putra bungsu saya." Robert pertama-tama memperkenalkan pemuda berusia dua puluh lima tahun itu kepada Arya.Lalu menunjuk wanita yang berada di sampingnya. "Sedangkan dia adalah menantuku, Katheryn, istri dari Thomas serta ibu dari Viona, anda pasti mengenalnya."Arya mengangguk kepada keduanya sebagai salam."Sepertinya aku tidak perlu memperkenalkan diri, bukan?" Sementara Leonard mulai berkata untuk dirinya sendiri, karena mereka sudah bertemu sebelumnya.Tentu saja Arya tahu tentang Leonard Forst itu sendiri, namun dia masih melihat ke arah keluarga mereka dengan sedikit antisipasi. Tujuannya datang kemari sepertinya tepat."Mari masuk ke dalam," kata Robert sebelum akhirnya bersama-sama masuk ke dalam villa.Kemudian duduk di ruang tamu, Arya yang duduk di kursi utama mulai melirik keluarga Robert selama beberapa waktu sebelum akhirnya pandangannya jatuh ke Robert itu sendiri."Aku belum mengucapkan terima kasih atas ban

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Ketidaktahuan

    "Jika begitu," Thomas menoleh ke arah putrinya dan berkata, "segera masuk ke sekolah bersama Ara, ayah akan kembali pulang.""Oke!" kata Viona mengerti dan menggandeng tangan Kiara saat mengucapkan selamat tinggal kepada Arya."Selamat tinggal ayah!"Arya mengangguk ringan dan melambaikan tangannya sebelum berbalik untuk mengikuti Thomas."Tunggu!"Di sisi lain, Gina yang merasa diabaikan segera menghentikan keduanya."Aku belum selesai denganmu!" katanya kepada Arya sebelum menoleh ke arah Thomas. "Aku tidak tahu siapa kau, tapi sebaiknya kau jangan berteman dengan orang-orang miskin sepertinya. Sangat disayangkan jika orang yang terlihat berwibawa, kaya dan sukses sepertimu berteman dengan orang hina sepertinya."Orang hina?Ketika Thomas mendengar kata-kata itu, dia tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke arah Arya dan Gina selama beberapa waktu.Dia tidak tahu siapa wanita ini, tapi dia sedikit panik saat mendengar kata-katanya, jadi dia buru-buru berkata, "Jika begitu, haruskah

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Terobosan pertama

    "Menutup mata lagi?" Gadis itu kembali cemberut dan kehilangan semangatnya saat mendengar perintah itu.Tapi sulap masih membuatnya tidak bisa untuk tidak menurutinya dan menutup matanya lagi.Kemudian mengikuti perintah Arya, gadis kecil yang sedang menutup matanya itu tiba-tiba berseru, "Ayah, ayah! Ara melihatnya!""Apa yang Ara lihat?""Gelembung! Gelembung warna-warni seperti pelangi! Ada yang warna hijau, biru, merah, kuning dan putih! Banyak gelembung mengelilingi Ara!" jawab gadis kecil itu penuh semangat.Arya tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar jawaban yang jelas-jelas menggambarkan sumber energi spiritual itu. Dan berbagai warna yang dapat Kiara lihat menandakan betapa besar bakatnya. Karena pada umumnya, seorang kultivator hanya bisa membedakan satu atau dua warna energi spiritual.Sedangkan putrinya sendiri, dia bisa membedakan lima warna yang artinya memahami lima elemen dasar hukum langit dan bumi.Tubuh Lima Elemen Bawaan, itu memang bukan sesuatu yang biasa-bi

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Mengajari sulap

    Ekspresi wajah Arya menjadi serius saat mendengar pertanyaan itu.Sambil berjongkok, Arya mulai menjelaskan semuanya lebih jelas dan rinci. "Begini, Aruna memang bukan ibu kandung yang melahirkan Ara, dia adalah adik perempuan ayah. Tapi karena Aruna yang sudah merawat Ara sejak kecil dan selalu menyayangi Ara, jadi tidak apa-apa Ara memanggilnya mama, sebagai ibu pengganti ibu kandung.""Sedangkan Tante Eve sama sekali tidak boleh dipanggil mama, karena dia tidak memiliki hubungan apa pun dengan Ara. Untuk ibu kandung Ara, orang yang melahirkan Ara, namanya adalah Lana Wijaya.""Lana Wijaya?" Kiara tiba-tiba mengingat sesuatu dan buru-buru bertanya, "Bukankah itu orang yang ayah katakan saat pertama kali bertemu dengan Ara?""Benar," akhirnya Arya bisa tersenyum dan mengangguk senang saat gadis kecil itu mulai mengerti."Lana Wijaya, itulah ibu kandung Ara yang melahirkan Ara.""Jadi Ara punya ibu?""Tentu saja Ara punya ibu!" Aruna ikut berbicara dan menambahkan, "Jika Ara tidak pun

  • Kembalinya Kaisar Abadi   Membangkitkan garis keturunan

    Di villa 01.Arya yang sedang berada di kamar mandi dan menyaksikan putrinya berendam di genangan air berwarna hijau kehitaman tampak mengerutkan keningnya."Apa barusan?"Tidak tahu apa yang terjadi, tapi Arya merasa bahwa sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Hanya saja, apa itu?"Ayah! Ayah!"Pan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-27
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Aruna dalam bahaya

    Aruna tampak bimbang dan terdiam.Karena seperti yang telah Sonya katakan, jika seandainya bar yang selama bertahun-tahun menjadi tempatnya untuk bertahan hidup ini ditutup, Aruna tidak tahu harus bagaimana lagi.Jangankan membayar hutang yang berjumlah ratusan juta, bahkan mungkin untuk bertahan h

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Teror

    Karena saat Arya mengulurkan tangannya, tubuh Doyle tiba-tiba melayang ke arah Arya, seolah-olah ada magnet yang menariknya. Bahkan jika dia menolak dan mencoba untuk bergerak atau melarikan diri, dia sama sekali tidak bisa menahan tubuhnya untuk terus terbang ke arah Arya, seolah-olah ada tangan t

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Kembalinya Kaisar Abadi   Teman lama

    Untuk saat ini, meskipun perasaan di hatinya sedikit berkurang karena telah menemui makam kedua orang tuanya, Arya tahu bahwa dia masih tidak bisa melakukan apa pun pada keluarga Wijaya.Tidak, bukannya tidak bisa, tapi Arya tidak ingin mereka menderita penderitaan yang biasa-biasa saja. Tidak sete

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status