LOGINBeberapa waktu kemudian. Setelah akhirnya kembali ke villa tempat tinggalnya, Arya akhirnya bisa bernapas lega saat melihat Kiara sudah tertidur, dan berhasil mengubah ingatan berdarah yang tidak seharusnya gadis kecil itu saksikan sebelumnya. Pertarungan berdarah dan kejam sebelumnya, sebenarnya Arya benar-benar tidak menyadari bahwa Grandmaster akan selemah itu. Awalnya ia berpikir bahwa dengan Jaya yang menerobos Grandmaster, ia akan bisa menahan serangan terlemah dan biasa-biasa yang ia gunakan, tapi tanpa diduga pria itu akan menjadi sangat lemah. Bukan hanya tidak bisa menahan serangan sporadisnya, tapi dia juga langsung tewas tanpa tubuh yang utuh. Grandmaster, apakah mereka memang selemah itu? Atau mungkin karena Grandmaster Jaya baru saja menerobos? Arya tidak tahu, dan hanya berharap seorang Grandmaster yang sesungguhnya tidak akan selemah itu. "Kau..." Di sisi lain, Thalya yang sejak datang ke pertemuan beladiri, dan tidak pernah berbicara sampai sekarang tiba-tiba
Mata dan mulut semua orang terbuka lebar. Tidak ada yang bisa berkata-kata saat menyaksikan energi internal Arya mulai berbentuk dan memadat di udara. Intinya bukan hanya sekedar bisa mengeluarkan atau mengendalikan energi internalnya, melainkan kepadatan dan jumlahnya yang mencengangkan. Melayang di sekitar tempat Arya berdiri, bukan hanya satu, melainkan puluhan pedang yang terbentuk dari energi internal, berwarna putih keperakan, tampak nyata dan realistis muncul di hadapan semua orang. Menciptakan dan mengendalikan energi internal sampai sejauh itu, bahkan seorang Master Gang Qi sekalipun tahu betapa sulit dan rumitnya melakukan hal semacam itu. Karena untuk bisa melakukannya, setidaknya kau harus memiliki energi internal yang melimpah, kontrol presisi, dan pengendalian yang ekstrem. Bandingkan dengan Grandmaster Jaya yang tadi hanya bisa mengeluarkannya secara acak, dan tidak bisa mengendalikannya secara bebas. Satu per satu dari mereka mulai sadar, apa yang tadi mereka angg
Beberapa seniman beladiri yang melihat tawa Master Jaya tampak merasakan gejolak di hatinya. Grandmaster!? Itu adalah impian yang selama ini mereka dambakan, tapi hampir sembilan puluh persen seniman beladiri gagal untuk mencapainya. Tapi saat ini, sosok Master Jaya sebenarnya berhasil menerobos ambang batas, dan menjadi Grandmaster di hadapan semua orang. Bahkan jika keadaannya terlihat menyedihkan, aura yang sangat kuat dan terlihat mendominasi yang secara tak sadar ia keluarkan adalah sesuatu yang membuat siapapun merasa iri. Andai saja mereka bisa menggantikan sosok Master Jaya di sana. Tidak! Di saat semua orang sedang berpikir, mereka tidak bisa untuk tidak menoleh ke arah Arya yang masih berdiri di tempatnya dengan tenang, dan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun di sana dengan mata panas. Pemuda ini, sebenarnya dia memiliki kemampuan untuk membantu seorang Master Gang Qi yang menerobos Grandmaster! Apa artinya ini? Bukankah berarti siapapun yang mengenal da
Cukup lama Master Jaya tertawa terbahak-bahak, ia akhirnya berhenti dan menatap Arya dengan tatapan seolah-olah melihat orang bodoh. Dengan ekspresi lucu, dan tampak jijik, ia berkata, "Bocah, aku tidak tahu dari mana kau berasal. Dibandingkan dengan orang lain, keberanianmu memang besar saat berani turun ke arena. Tapi, apakah kau tahu apa itu Grandmaster?" Master Jaya berhenti dan mulai memperhatikan sosok Arya dari atas kepala sampai ujung kaki selama beberapa waktu, sebelum akhirnya menggelengkan kepala. "Sebelum kau melukai dirimu sendiri, sebaiknya kau turun dan pulang ke rumah untuk melanjutkan game fantasimu." Arya tersenyum kecil, sama sekali tidak marah atau tersinggung atas penghinaan itu. Dalam diam, dia juga mulai berjongkok dan mengambil kerikil dari pecahan beton arena pertarungan itu, dan memainkannya menggunakan jari-jarinya. Merasa cukup puas dengan apa yang ia temukan, dia kembali berdiri dan menatap Master Jaya sambil tersenyum kecil. "Hmph?" Entah kenapa,
"Tidak mungkin!" Bahkan Master Adipura sendiri tercengang dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Karena saat ini, tepat di hadapannya, dia menyaksikan jika Gang Qi yang Master Jaya keluarkan bukan hanya lebih padat dan lebih kuat daripada miliknya sendiri, tapi jumlahnya juga sangat melimpah. Jika dirinya berhasil melapisi pisau khusus miliknya menggunakan Gang Qi sudah cukup mengesankan, maka Master Jaya yang tidak hanya melapisi seluruh lengannya dengan Qi, tapi juga seluruh tubuhnya, adalah tingkatan yang jauh berbeda. "Grandmaster!" Sebuah pemikiran tiba-tiba muncul di kepala Master Adipura, tapi dia kemudian buru-buru menggelengkan kepalanya dan menyangkal. "Mustahil! Auramu masih seorang Gang Qi. Tidak mungkin kau tiba-tiba menjadi seorang Grandmaster. Tapi kau memiliki jumlah Qi yang---" Adipura dan semua orang yang melihatnya di sana seketika berhenti dan mengubah ekspresi dengan ngeri dan hormat. "Jangan-jangan dia tidak jauh dari ambang batas Grandmaster?" "
Bukan hanya Master Adipura yang kini menjadi sangat serius, tapi Robert juga mulai pucat saat menyaksikannya. Terlebih saat menyaksikan jika Master Adipura juga mulai mengeluarkan aura di tubuhnya, dan menciptakan gelombang kejut di hadapan semua. "Bom." Dan dengan ledakan yang tiba-tiba terjadi, kedua sosok di atas arena tiba-tiba kabur, dan menghilang. "Bang" "Bang" ... Selain suara benturan keras tinju dengan tinju, dan kaki berhadapan dengan kaki yang terdengar, hampir tidak ada yang bisa melihat apa yang sebenarnya terjadi di atas arena. "Pertarungan ini..." Sekalipun Wira sudah berada di tingkat energi terang, dan hanya terpaut satu tingkat dari seorang Master Gangqi, dia masih tidak tahu apa yang terjadi. Dengan wajah pucat dan tatapan ngeri, dia mencoba untuk menoleh ke arah Arya untuk memeriksa, apakah pihak lain bisa melihatnya. Tapi betapa terkejutnya dia saat ia menyaksikan jika Arya tampak tidak peduli, atau bahkan kagum terhadap apa yang terjadi di arena







