LOGINAlex belok kanan sambil menarik topi yang ia kenakan, tapi sialnya polisi curiga dan justru mengejar Alex. Namun, Alex tidak berlari, ia berjalan tenang dan dua polisi membuntuti Alex.
Tiba-tiba Alex berlari saat polisi itu memanggilnya. "Jangan lari!" Alex lari menaiki anak tangga di sebuah rumah susun. Alex masuk ke dalam sebuah rumah yang pintunya terbuka. Ia melangkah dan membuka tirai jendela. Di sana Alex melihat sebuah mobil van berhenti dan anak yang diikuti Alex naik mobil itu. Alex kembali keluar dan hendak turun, tapi justru Alex bertemu dua polisi tadi. "Angkat tangan!" Polisi itu mengeluarkan senjatanya dan Alex mengangkat kedua tangannya. Dengan cepat dan sigap Alex melumpuhkan dua polisi itu. Saat akan turun ternyata beberapa polisi datang menaiki anak tangga. Alex berlari di lorong dan menerobos kaca, meloncat dari lanta"Dari mana dia mendapatkan senjata? Apa dia polisi?" Benigno memasukkan semua uangnya ke dalam tas. "Cepat bergerak, bodoh! Jangan sampai orang itu menemukan kita. Kita harus cepat melarikan diri." Benigno mengumpat pada anak buahnya karena lelet bahkan hampir memukul. "Maaf, tadi aku tertembak." "Kau tidak akan mati." Menendangnya. "Cepat!" "Baik." Kembali ke ruangan berdarah. Scott meletakkan senjatanya dan melepaskan jas. Ia melangkah ke tengah mendekati Alex. Pun, Alex mengikuti Scott. Deja Vu terjadi. Hal itu mengingatkan mereka saat di bar. Mereka tidak jadi bertarung karena polisi datang. Scott mengeluarkan pisau andalannya dan menyerang Alex. Duel antara pisau beda versi dan bentuk terjadi. Keduanya sama-sama cepat dan lihai. Alex berhasil melumpuhkan Scott dengan mematahkan jempol tangan dan menekan dengan pisau serta mendorong mundur. Pisau menancap pada dada kiri Scott.
Tim yang diketuai oleh Teo terus menyisiri daerah xx. Sedangkan Alex yang turun tangan sendiri untuk melawan sang mafia. Mereka seperti berbagi tugas. Teo menggeledah sebuah tempat. Tempat di mana anak-anak disekap, tapi di sana sudah tidak ada anak-anak itu. "Tanda pengenal." "Periksa orang-orang ini," seru Teo. Teo mendekati seorang wanita yang sedang makan mie. "Kami sudah tahu semuanya. Di mana anak-anak itu?" Wanita itu hanya sekali menatap Teo tanpa berekspresi seolah wanita itu tiba-tiba menjadi linglung. "Di mana mereka?" kata Teo sekali lagi. Suara meninggi. Detektif Teo. "Aku menemukan anak-anak di loteng." Teo langsung menuju ke loteng dan menyuruh anak-anak keluar dari sana. Teo disibukkan dengan mengeksekusi anak-anak. Sedangkan Danny setelah mendengarkan ledakan, ia langsung menuju ke lokasi. "Apa yang
"Si tukang gadai? Bagaimana kau bisa sampai di sana?" Benigno mengalihkan pembicaraan. Alex merasa geram. Ia menembak Yoris dengan menggunakan alat untuk menancapkan paku tanpa dipukul oleh palu dan sudah ada empat paku yang tertancap di paha Yoris. Paku menatap tepat di paha Yoris yang dalam keadaan terikat di kursi. Yoris menjerit keras. "Aaagh ... kaak!" teriakan Yoris sungguh menyayat hati. Benigno yang mendengarkan suara rintihan itu penasaran. "Siapa itu?" "Ini kesempatanmu yang terakhir. Bawa Zea dalam waktu satu jam," jelas Alex tanpa menjawab pertanyaan Benigno "Aku tanya itu siapa, keparat!" Benigno berteriak keras sambil mengumpat. Benigno menarik napas dan menenangkan diri. "Kau tidak tahu siapa yang kau hadapi? Menyentuh sehelai rambut saja dari tubuh adikku, maka akan aku cungkil mata dan mengeluarkan isi perutnya-" SLAPT! Alex menembak lagi dan Y
Alex belok kanan sambil menarik topi yang ia kenakan, tapi sialnya polisi curiga dan justru mengejar Alex. Namun, Alex tidak berlari, ia berjalan tenang dan dua polisi membuntuti Alex. Tiba-tiba Alex berlari saat polisi itu memanggilnya. "Jangan lari!" Alex lari menaiki anak tangga di sebuah rumah susun. Alex masuk ke dalam sebuah rumah yang pintunya terbuka. Ia melangkah dan membuka tirai jendela. Di sana Alex melihat sebuah mobil van berhenti dan anak yang diikuti Alex naik mobil itu. Alex kembali keluar dan hendak turun, tapi justru Alex bertemu dua polisi tadi. "Angkat tangan!" Polisi itu mengeluarkan senjatanya dan Alex mengangkat kedua tangannya. Dengan cepat dan sigap Alex melumpuhkan dua polisi itu. Saat akan turun ternyata beberapa polisi datang menaiki anak tangga. Alex berlari di lorong dan menerobos kaca, meloncat dari lanta
"Dia menarik 8 juta. Anak kelas dua SD." Danny menatap foto Zea yang memakai topi. "Apa itu masuk akal?" "Rekening atas nama Avilia, mucikarinya Han Yura. Ini sesuai dengan pernyataannya. Danny masih penasaran dengan Alex. Walaupun badan Intelijen meminta Danny untuk berhenti, tapi Danny bersikeras tetap ingin melanjutkan kasus dan menangkap Alex. Anak-anak yang ditampung disuruh mencuri dan menarik uang dibeberapa mesin ATM. Sungguh sangat ironis sekali. Terlebih lagi, Danny baru tahu ada kelompok mafia sebesar itu di negaranya dan bisnis baru yang benar-benar laknat. *** Alex mencukur rambutnya agar terlihat sangat rapi. Setelah mencukur rambut menjadi cepak ala-ala tentara style. Alex memakai jas hitamnya kembali. Pun, setelahnya ia mengecek sebuah senapan dan perintilannya yang ditinggalkan Alan di meja. Ia melirik saku jasnya. Ponsel bergetar. "Tuan, ber
Alex terus mengendarai mobilnya sambil memegangi perut bagian kanannya. Darah terus menerus keluar dari sana sampai tangan Alex gemetaran. Ponsel bergetar dan Alex mengangkatnya. "Wah, kau membuatku kaget saja. Hei, tukang gadai, bukankah kau ada di kantor polisi?" Suara Benigno. "Kenapa kau membunuh ibunya Zea?" "Jangan salahkan kami. Sebenarnya ia menyelamatkan tiga nyawa dan kau adalah kurirnya, jadi kau yang membunuhnya." Alex hampir oleng karena kurang fokus dan mulai melemas. Mobil Alex hampir saja menabrak. "Kau melakukan hal itu juga pada Zea?" "Menurutmu? Organ bagian dalam jelek, karena belum matang, tapi kornea bisa dijual dan harganya cukup lumayan mahal. Lima tahun dipenjara itu saja permintaanku. Dia akan menunggu saat kau bebas." "Kau hanya akan hidup untuk hari esok." "Apa?" "Orang yang hidup untuk hari esok, akan dik







