MasukRolland berdiri di depan cermin retak, membalut luka di bahunya dengan tangan gemetar. Bukan karena sakit ... bagi Rolland rasa sakit sudah lama menjadi teman. Melainkan karena kemarahan yang tidak menemukan jalan keluar. Setiap balutan adalah pengingat_ bahwa ia kalah lagi. Benigno. Nama itu seperti racun yang menempel di lidahnya. Di markas sementara. Sebuah gedung kosong yang disamarkan sebagai gudang logistik, anak buah Rolland bergerak dengan langkah ragu. Tidak ada teriakan dan tidak ada tawa. Mereka tahu ritmenya berubah. Mereka tahu keberanian tanpa kekuatan hanyalah bunuh diri yang ditunda. "Laporan," kata Rolland dingin. Seorang pria maju, menunduk. "Upaya kedua kita gagal. Jalur distribusi yang kita sentuh sudah bersih dan mereka sedang menunggu." Rolland menahan napas. "Menunggu kita." "Ya." Ia mengingat malam itu, sergapan cepat, senyap, presisi.
Alex tidak tidur malam itu. Ia duduk di ruang tamu dengan lampu mati, hanya cahaya kota yang menyelinap lewat celah tirai. Ponsel tergeletak di meja—layarnya gelap, tapi terasa seperti mata yang terus mengawasi. Pesan tanpa nama itu masih terbayang. -Jika kau kembali, akan ada yang jatuh.- Siapa? Pertanyaan itu berputar, menggigit pelan. Ia tahu jawaban paling jujur ad adalah siapa saja. Di pasukan elite, keseimbangan rapuh. Kembalinya satu nama besar bisa menggeser segalanya. Jabatan, kepercayaan, bahkan nyawa. Dari kamar, Zea terbatuk kecil. Alex bangkit refleks, memastikan anak itu tidur kembali. Ia berdiri di ambang pintu, menatap wajah Zea yang tenang. Dunia ini ... rumah kecil, napas anak yang teratur terasa nyata. Terlalu nyata untuk dipertaruhkan. Pagi datang dengan ketukan yang tidak ia harapkan.
Sehari setelahnya. Alex berdiri di dapur dengan secangkir kopi yang sudah dingin. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ia menyesapnya. Pikirannya terlalu bising—lebih bising dari dentuman senjata atau teriakan perintah di medan tempur. Kembali ke pasukan elite. Kalimat itu terus berputar, menabrak dinding kepalanya. Sebagian dirinya yang terlatih, disiplin, dan tahu arti komando ingin mengangguk dan berkata ya. Namun bagian lain, yang lebih sunyi dan lelah, mengingatkan satu hal yang tidak pernah tercatat di laporan misi—harga dari sebuah keputusan. Ia menoleh ke ruang tamu. Zea tertidur di sofa, memeluk bantal, cat kuku warna-warni masih menempel di jemarinya—jejak kecil dari permainan yang tidak berbahaya. Pemandangan itu menahan Alex di tempatnya. Jika ia kembali, dunia yang ia tinggalkan tidak akan menunggunya tetap utuh. Teleponnya bergetar. Pesan dari Jo
Ledakan pertama terdengar seperti guntur yang tersesat. Di markas pasukan elite, getaran itu merambat lewat lantai beton, membuat gelas kopi bergetar tipis. Monitor-monitor taktis menyala, menampilkan gelombang aktivitas tidak wajar di wilayah pelabuhan. Suara tembakan ... terpotong, teredam jarak tapi tetap cukup jelas bagi telinga yang terlatih. TJ berdiri di tengah ruang komando, rahangnya mengeras. Rambutnya yang tersisir rapi tidak menyembunyikan ketajaman tatapannya. Ia tidak perlu laporan lengkap untuk tahu apa yang sedang terjadi. "Perang mafia," gumamnya. "Dan bukan perang kecil.' Seorang operator mendekat. "Sumber suara konsisten dengan senjata otomatis. Intensitas menurun ... lalu naik lagi. Sepertinya salah satu pihak terdesak." TJ menatap peta digital. Dua nama berkelip di kepalanya. Nama lama yang tidak pernah benar-benar mati-Benigno ... Rolland. Ia menghela napas pelan, lalu berbalik. "Panggil
Malam yang menentukan. Malam pecah sebelum tembakan pertama dilepaskan. Gudang di pinggir pelabuhan tampak tenang dari kejauhan—terlalu tenang untuk sebuah pertemuan dua raja kotoran. Lampu-lampu kapal berkelip, memantul di air hitam. Di balik kontainer baja, orang-orang Benigno sudah mengambil posisi. Mereka tidak banyak bicara. Benigno berdiri di tengah, mantel gelapnya jatuh lurus, wajahnya tanpa emosi. Ia tidak membawa senjata. Kepercayaan diri adalah pelindung terbaiknya. Ya, karena dijaga oleh para anak buahnya. "Biarkan mereka masuk," katanya singkat. "Dan tutup pintu belakang." Di sisi lain, Rolland datang dengan senyum tipis yang dipaksakan. Anak buahnya menyebar, mata waspada, jari dekat pelatuk. Ia tahu Benigno berbahaya, tapi ia juga tahu mundur terlalu cepat berarti mati perlahan "Kita bisa bicara," kata Rolland keras, melangkah ke dalam gudang. "Tidak perlu ada per
Antara senang dan sedih. Itu yang ada di pikiran Zea saat berada di rumah Alex. Namun, Zea ternyata justru malah larut dalam kesenangan karena bagi Zea, Alex bisa menjadi figur seorang ayah.Untuk sesaat Zea lupa akan ibunya yang di mana ibunya sedang kesakitan, tapi justru lebih sakit Zea yang harus melihat ibunya berguling-guling menahan rasa sakit.Zea tidur di kamar Alex dan Alex memilih tidur di sofa. Tidak ada yang bisa membuat dua orang ini pisah.Sebelumnya Zea bercerita bahwa ia suka mewarnai kuku bahkan Zea menunjukan hasil karya terbaiknya pada kukunya yang lentik."Paman, bagus tidak?" "Bagus!" jawab Alex singkat. Zea sudah terbiasa dengan ucapan singkat dari Alex bahkan ia tidak lagi protes."Aku akan membuat seni di kuku paman, tapi aku tidak membawa alatku. Aku akan melukis dengan alat seadanya," celotehnya. Alex tersenyum tipis dan mengusap rambut Zea.Alex menatap langit-langit ruang tengah. P







