LOGINIstriku seorang pramugari cantik, dan aku hanya seorang pria kampung biasa. Banyak orang iri dengan hidupku, tapi tidak ada yang tahu seberapa banyak kepahitan dan penghinaan hidup yang kujalani. Aku dan istriku dikenalkan oleh teman dekatku, dia bekerja di sebuah agen perkawinan, waktu itu dia mencariku dan mengatakan ada seorang wanita yang mencari pasangan, kriteriaku sangat memenuhi syarat ini. Syarat pernikahan sangatlah aneh, menantu pria tinggal di rumah mertua, jujur, sifat lemah lembut, dan tuli. Orang tuaku meninggal lebih cepat, dan aku mempunyai adik perempuan berusia 15 tahun, dan adikku menderita sebuah penyakit, dari dulu beban hidupku sangat berat, dan juga sifatku sangat tertutup, bahkan bisa dikatakan sangat hina, kriteria ini sangat cocok dengan diriku. Meskipun aku tidak suka berbicara namun aku tidak tuli. Temanku bilang wanita ini sangat kaya, dan akan memberikan mahar yang sangat luar biasa, ucapannya ini membuat hatuku terguncang, terlebih biaya pengobatan adikku setiap tahun membutuhkan biaya sangat besar, aku sama sekali tidak bisa membiayainya, jadi aku benar benar sangat ingin menikah dengan wanita ini. Hingga akhirnya temanku mengajukan suatu ide untukku, pihak peremouan mencari menantu yang tuli, pasti takut laki laki ini akan banyak bicara, dan dia hanya ingin mempunyai garis keturunan saja, seharusnya tidak ada rahasia lain, dia menyuruhku pura pura bisu, atau menjadi si tuli yang mengenak huruf cuman itu saja. Dia juga mengatakan selama bisa membohonginya selama tiga sampai enam bulan, nanti setelah menikah ketahuan juga tidak masalah. Aku mendengarkan suaranya , pertama kali kami bertemu di cafe dekat bandara, ketika melihat wanita itu aku sangat tercengang, aku pikir dia wanita tua dan juga jelek, tidak disangka dia seorang pramugari cantik, waktu itu dia masih mengenakan seragam pramugari, tidak usah ditanya betapa cantik dirinya. Dia hanya beberapa kali menatapku, lalu menggunak
View MoreThe bell rang, sharp and loud, echoing down the halls of Silver Crest High. Students poured out of classrooms, voices over each other, laughter bouncing off the walls. I kept my head low, clutching my books tight against my chest, hoping if I moved quickly enough, no one would notice me.
They always noticed me. “Watch it, omega.” A shoulder slammed into mine, hard enough to knock my books to the floor. Pages scattered everywhere. The boy who hit me didn’t stop, he just smirked while his friends laughed. Heat rushed to my face as I bent down to grab everything before someone stepped on it. “Pathetic,” someone muttered as they walked past. I bit the inside of my cheek and forced my hands to move faster, ignoring the sting in my shoulder. If I took too long, someone would kick my notes or tear them up just to get a laugh. That was my life…picking up what others knocked down. When I finally stood, hugging the binder to my chest, my shoulder throbbed. It would bruise, but bruises didn’t last long on me. They never did. Sometimes cuts sealed too quickly, too, like my body didn’t follow the rules. But healing fast wasn’t a gift, it was just another thing people whispered about. Another reason I didn’t belong. “Aria!” I looked up at the sound of Eli’s voice. Relief washed over me. He wove through the crowd, with his messy brown hair falling into his eyes, that lopsided smile on his face. Eli had been at my side since we were kids, the only person who didn’t treat me like garbage. “You okay?” he asked quietly, already knowing the answer. I nodded. “I’m fine.” His gaze dropped to the shoulder I was rubbing, but he didn’t push. He never did. Sometimes I wished he would, sometimes I wished someone would just see how badly I was breaking. “Come on,” he said. “Let’s get out of here before…” But he didn’t get the chance to finish. The hallway went quiet. Four figures walked in from the far end, and just like that, every head turned toward them. Aiden. Adrian. Asher. Axel. The Alpha’s sons. The quadruplets. People moved aside without being told, making a clear path like they were royalty. And in a way, they were. They ruled the school, the pack, everything. They were the kind of beautiful that burned. Dangerous. Untouchable. Aiden, always in front, sharp jaw and colder eyes. Adrian with his lazy smirk that never meant anything good. Asher scowling like he hated the air itself. And Axel, the quiet one who rarely looked at anyone, but when he did, it felt like a blade sliding between your ribs. And then their eyes landed on me. My stomach dropped. “Well, well,” Adrian drawled, his voice carrying easily down the hall. “If it isn’t the pack’s little shadow.” Laughter rippled through the crowd. Eli stepped in front of me, shoulders squared, but it didn’t matter. No one ever stood against the quadruplets for long. “What’s wrong, Aria?” Aiden’s voice was smooth, calm. Too calm. “Aren’t you going to greet your betters?” I stared at the floor, praying if I stayed quiet, they’d lose interest. But Adrian tugged my binder out of my arms and flipped it open, scattering papers all over the floor again. “Clumsy little thing, aren’t you?” My chest tightened. The whispers started up again, sharp and mocking me. “Give it back,” Eli snapped, fists curling. Adrian arched a brow. “Or what?” Asher stepped closer, glaring down at me. “Maybe she likes it. Maybe that’s the only reason she stands here…pretending she matters.” I didn’t realize I was crying until a hot tear slid down my cheek. I hated it. Hated giving them what they wanted. “Enough.” Axel’s voice cut through the tension, low and sharp. For a second, even his brothers stilled. His eyes flicked to me, unreadable, then shifted away like I wasn’t worth looking at. “We’re wasting time.” Just like that, they were gone, the crowd moving with them. The sound of their laughter lingered long after. I dropped down again, gathering my papers with shaking hands. Eli crouched beside me, jaw tight, his voice low and fierce. “One day,” he said, like a vow, “we’re getting out of here. You won’t ever have to see them again.” My throat burned, but I nodded. That promise was the only thing keeping me together, the hope that freedom was waiting for me when I finally turned eighteen. Still, somewhere deep down, something stirred. A flicker of heat under my skin, a pulse of energy that wasn’t supposed to be there. I clenched my fists and shoved it down. Not now. Not ever. Because if anyone realized what I felt in that moment, they saw that part of me that refused to break.. They’d destroy me before I ever had the chance to run.Aku sangat membenci Claudia, aku benci dengan identitasku, tetapi demi penyakit adikku yang semakin serius, aku harus menghasilkan uang dalam jumlah besar sesegera mungkin. Karena dari apa yang aku pelajari, bahwa transplantasi sumsum tulang bisa menyembuhkan anemia aplastik, tetapi ini membutuhkan biaya ratusan juta, dan aku tidak mampu membayarnya untuk saat ini. Aku membeli dan kertas, untuk menulis surat permohonan maaf kepada Claudia, didalam pesan itu aku memarahi diriku sendiri seorang pecundang, aku memohon maaf kepadanya. Aku berjanji aku tidak akan berani bermacam macam lagi kepadanya, aku juga tidak mengeluh atas pukulannya. Kedepannya jika dia menyuruhku melakukan apa, pasti akan aku lakukan. Saat malam hari ketika di pulang, dia terkejut melihatku berada disini, dia mungkin berpikir setelah mendapatkan pukulan yang kuat, aku masih berani pulang kema
Claudia mengatakan air yang dia siram kearahku adalah air bekas cucian kakinya, wanita ini benar benar apapun dilakukannya. Tapi aku tidak merasa jijik sama sekali, aku tetap saja mengeluarkan lidahku untuk meminum tetesan air dari wajahku, air ini membuat kekeringan di tenggorokanku sedikit membaik, dan membuatku sedikit bertenaga. Claudia lagi lagi menghinaku menjijikkan, lalu mengangkat gunting sambil berjalan kearahku. Aku langsung terkejut melihatnya, apa wanita ini sudah gila? Dia sudah menyiksaku seperti ini, apa dia masih ingin menambah rasa sakit ini? Saat ini dia sudah berada di sampingku, lalu dia menurunkan gunting itu, untungnya dia tidak menusukku dengan gunting itu, melainkan dia melepaskan ikatan di tubuhku. Lalu dia mengeluarkan ponselnya dan melihatkan isi ponsel itu : anggap saja ini pelajaran untukmu, kalau kamu masih berani macam macam denga
Dan setiap menyambukku, Claudia selalu menghinaku brengsek, kotor, cabul, sampah, pecundang, semua omongan kotor keluar dari mulutnya, membuat hatiku merasakan sakit seperti yang tubuhku rasakan. Saat itu aku sangat ingin memarahi dan meneriakinya, aku bukanlah orang yang tuli dan bisu, jadi aku tahu semua rahasianya dan ingin menyuruhnya untuk berhenti. Tapi ini semua aku tahan, jika aku mulai bersuara, dia pasti akan tahu kalau aku sudah menipunya, lalu dia tidak mungkin melepaskanku, bahkan dia akan langsung membunuhku. Jadi aku hanya bisa menggigit bibirku untuk menahan rasa sakit ini, aku rasa semua tubuhku memar dan kulitku terkelupas, membuat tubuhku mati rasa akan siksaan dia. Akhirnya sekitar setengah jam kemudian, Claudia tidak menyiksaku lagi, semua tubuhnya telah basah akan keringat, suspender putih yang dia kenakan sudah basah kuyub, dan dia tidak menggunakan pakaian
Ini adalah suara claudia! Aku langsung ber pura pura masih pingsan dan memicingkan mataku, lalu aku melihat Claudia sedang duduk menyandar di kasur, dengan tubuh ditutupi selimut. Aku tidak bisa melihat apa yang sedang dilakukannya, tapi aku bisa menebaknya! Tidak berapa lama ponsel Claudia berbunyi. Claudia mengangkat telefonnya, berkata : "Feli aku tidak apa, kamu tidak perlu datang kemari, kali ini aku benar benar berterima kasih padamu karena telah mengingatkanku." Lalu aku tidak tahu apa yang dikatakan Feli, Claudia lanjut berkata : "Apa yang kamu katakan benar, aku tidak menyangka Aldi berani menyakitiku. Hari ini ketika dia pulang beraninya dia memberika obat di airku. Jika aku tidak mendengar omonganmu untuk menyimpan alat setrum di bawah bantal, mungkin hari ini aku sudah jatuh di tangannya". Setelah mendengar ini aku baru sa
Tapi pada akhirnya Aldi tidak bisa menahannya, dia marah mendorong Claudia dan langsung berlari keluar rumah, karena terlalu gegabah, ketika lari keluar sempat menyenggol Feli, Claudia yang marah sampai lupa kalau dia tuli, berteriak memarahinya dari belakang " Dasar
Claudia mempunyai hobby senam aerobik, dia langsung senam di depan kaca. melihat bayangannya Aldi tidak tahan untuk berpikir, Claudia itu istriku, kenapa aku tidak bisa memilikinya? Saat ini, Claudia melihatku yang sedang mengintipnya dari cermin, m
Dia berlahan lahan menunjukkan HP padaku, dia mengetik sesuatudan dia bilang bahwa ibunya menasang CCTV di kamar, harap kerja sama. Aku yang melihat ini sedikit bingung, apa artinya ini? Dan dengan cepat claudia membuka memo berikutnya, kali ini sebuah paragraf
Istriku seorang pramugari cantik, dan aku hanya seorang pria kampung biasa. Banyak orang iri dengan hidupku, tapi tidak ada yang tahu seberapa banyak kepahitan dan penghinaan hidup yang kujalani. Aku dan istriku dikenalkan oleh teman
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore