เข้าสู่ระบบ“Justru karena itu,” jawab Arkhon Abyss pelan. “Semakin sulit dibuka, semakin mereka percaya bahwa di dalamnya ada sesuatu yang berharga.”Hening sejenak.“Keserakahan manusia itu sederhana. Kau hanya perlu memberi penghalang, dan mereka sendiri yang akan menghancurkannya.”Kaidar terdiam.Pelan-pelan, dia mulai mengerti.Kembali ke kerumunan, waktu terus berjalan. Menit bergeser tanpa suara, detik jatuh satu per satu seperti tetesan air di ruang kosong. Namun tak satu pun yang bergerak.Tidak ada yang cukup bodoh untuk jadi yang pertama. Tidak ada yang cukup yakin untuk mempertaruhkan nyawa.Sampai akhirnya, langkah kaki terdengar.Tap. Tap. Tap.Seorang lelaki tua melangkah keluar dari kerumunan. Janggutnya lebat, wajahnya keras, sorot matanya tajam seperti pisau yang sudah lama diasah. Gerakannya mantap, tanpa ragu, seolah keputusan itu sudah dia ambil jauh sebelum semua orang di sini datang.Kerumunan langsung bereaksi.Bisik-bisik muncul.Pandangan beralih, semua mata tertuju pad
“Omong kosong,” gumamnya pelan.Namun meskipun begitu, ia tetap tidak bisa mengabaikan semuanya. Pulau ini memang menyimpan sesuatu. Hanya saja, bukan seperti yang dibicarakan orang-orang.“Tuan Nathan,” Raze kembali angkat bicara, kali ini dengan nada lebih bersemangat, “Kita lihat langsung saja. Benar atau tidaknya akan jelas di sana.”Nathan terdiam sejenak lalu mengangguk. “Ayo.”Keputusan itu diambil tanpa ragu.Tidak lama kemudian, mereka sudah bergerak menuju bukit.***Saat tiba di sana, pemandangan yang muncul langsung membuat semua orang berhenti.Area di sekitar bukit sudah dipenuhi manusia, padat dan sesak hingga udara terasa ikut menekan. Semua mata tertuju ke satu arah. Di hadapan mereka, sebuah pintu batu kuno berdiri terbuka.Ukiran di permukaannya terlihat usang, namun masih memancarkan aura misterius yang sulit dijelaskan. Celah di pintu itu menganga gelap, seperti mulut yang siap menelan siapa pun yang masuk ke dalamnya.Tidak ada yang bergerak maju, namun tidak ada
“Tuan Nalan,” ujar Nathan akhirnya, menatap Nalan dengan serius, “Aku akan bicara jujur.”Ia berhenti sejenak, memastikan ucapannya terdengar jelas. “Kedatanganku ke Benua Monarch bukan untuk memperebutkan wilayah.”Nada suaranya tetap tenang, tapi kali ini lebih berat. “Aku datang untuk mencari cara menghentikan kebangkitan energi spiritual.”Kalimat itu membuat suasana langsung berubah.Nalan tampak terkejut, meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Ia tidak menyangka tujuan Nathan justru bertolak belakang dengan semua orang yang datang ke pulau ini. Namun setelah beberapa detik, ekspresinya kembali stabil.“Keluarga Island akan mengikuti pengaturan Tuan Nathan,” katanya tegas.Tidak ada keraguan dalam suaranya.***Waktu berlalu tanpa terasa.Hari-hari di Benua Monarch berjalan cepat, dan tanpa disadari, lebih dari sepuluh hari sudah terlewati sejak Nathan dan rombongannya tiba di sana.Selama waktu itu, suasana di pulau sempat terasa tenang, bahkan terlalu tenang untuk tempat yang
“Lalu pria tadi…” salah satu pengawal kembali bertanya, suaranya lebih pelan, “Dia bukan kultivator hitam, tapi auranya juga tidak biasa…”Rudeus tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali terangkat sedikit, seolah bayangan sosok Nathan masih tertinggal di benaknya.“Mungkin…” katanya pelan, “Dia juga berasal dari Sektor Bayangan.”Tidak ada kepastian dalam kalimat itu. Tapi cukup untuk membuat suasana di meja mereka menjadi lebih berat.“Lalu langkah kita selanjutnya?”Kali ini pertanyaannya lebih langsung.Rudeus menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. “Sembunyikan kekuatan,” ujarnya singkat. “Kita amati dulu situasinya.”Ia menatap ke arah pintu restoran yang sudah kembali sepi. “Jangan bertindak kecuali benar-benar diperlukan.”Setelah itu, ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Tangannya mengambil sumpit, mulai menyantap makanan di hadapannya seperti tidak terjadi apa-apa, meskipun pikirannya jelas tidak benar-benar berada di sana.***Di sisi lain, Nathan dan Raze sudah
Sementara itu—Grrr~Aura Nathan mulai naik perlahan.Tekanan yang dilepaskannya menyebar seperti gelombang tak terlihat, membuat beberapa orang di dalam restoran langsung mundur dengan panik. Kursi bergeser, langkah kaki tergesa, suasana berubah kacau dalam sekejap.Rudeus yang merasakannya tidak bisa menyembunyikan keterkejutan di matanya. Tekanan itu bukan sekadar kuat. Ada sesuatu yang berbeda di dalamnya.Di sisi lain, Kaidar hendak memberi perintah untuk menyerang. Namun sebelum itu terjadi, suara dingin tiba-tiba terdengar dari dalam dirinya.“Berhenti.”Suara Arkhon Abyss terdengar berat.“Jangan mulai di sini,” lanjut suara itu, kali ini jelas dipenuhi kemarahan yang tertahan. “Apa kamu lupa tujuan kita datang ke tempat ini?”Gerakan Kaidar terhenti seketika. Tangannya masih terangkat di udara, namun dia tidak jadi menurunkannya.Perintah dari Entitas dalam tubuh Kaidar langsung menghentikan semuanya. Tanpa membantah, ia melambaikan tangan dengan cepat, memberi isyarat agar k
Kelima orang itu bukan orang asing.Kaidar dan empat Ksatria Abyss di belakangnya.Begitu melihat Nathan, Kaidar juga sempat terdiam sejenak, jelas tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi secepat ini. Namun ekspresi itu hanya muncul sepersekian detik sebelum berubah menjadi senyum miring yang penuh ejekan.“Nathan,” ucapnya santai, seolah ini hanya kebetulan yang menyenangkan baginya, “Dunia memang sempit. Tidak kusangka kita bertemu lagi di tempat seperti ini.”Nathan menatapnya tanpa emosi, tapi kata-kata yang keluar langsung menusuk.“Kaidar,” balasnya datar, “Dulu kamu masih disebut tuan muda Keluarga Farhon di Moniyan. Sekarang…” ia berhenti sebentar, sudut bibirnya terangkat tipis, “Jatuh sampai rela jadi anjing orang lain. Bahkan bangkai pun mungkin masih punya harga diri dibandingkan kamu.”Ucapan itu membuat udara di sekitar langsung membeku.Sorot mata Kaidar berubah seketika. Amarahnya meledak tanpa perlu ditahan lagi.“Semua ini karena kamu!” suaranya meninggi, napasnya
“Kalian menyembah seekor monster dan menyebutnya dewa,” kata Nathan dengan nada rendah. “Kalau kau menghalangi mereka lagi, aku akan membunuhmu tanpa ragu.”Tatapannya membuat Arvana gemetar. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya.Bonang dan Abel memanfaatkan celah itu untuk kabur, meninggalkan
Beberapa hari kemudian, kabar bahwa Martial Shrine telah jatuh di bawah kendali Keluarga Zellon menyebar ke seluruh dunia bela diri Kota Moniyan.Dan seperti seorang raja yang baru menaklukkan negeri, Ryuki mengadakan p
Abel tidak bergeming. Dengan gerakan cepat, dia menangkap bilah itu dan menendang dada si penjaga hingga tubuhnya terpental dan berguling di tanah. Para penjaga lain segera menyerbu.“Cukup.”Aura Bonang meledak dengan tenang tapi mengguncang. Dalam sekejap, tekanan spiritual menekan udara; para pe
PLAK!Tiba-tiba Gottfried terangkat ke udara. Lima jari tercetak jelas di wajahnya, darah menetes di sudut bibirnya.Semua orang terpaku.“Berani sekali, bocah!” Gottfried mengamuk, auranya meledak liar. “Kau pikir kau bisa menyerangku tanpa konsekuensi?!”Ia melompat, menyalurkan seluruh kekuatan







