Share

Bab 1913

Penulis: Imgnmln
last update Tanggal publikasi: 2026-05-28 21:54:43

Kali ini Kaizen tidak lagi meminta Nathan mengeluarkan pedang. Karena dia sudah sadar, jika Nathan benar-benar menggunakan senjata sungguhan, dirinya mungkin bahkan tidak mampu bertahan satu serangan.

“MATILAH!” Kaizen meraung marah.

BANGG!

Aura pedang di tubuhnya langsung meledak tanpa ditahan lagi. Pedang di tangannya melesat ke langit sebelum ditebaskan lurus ke arah Nathan.

SRAAAKK!

Energi pedang besar menyerupai kilat hitam langsung membelah udara. Tekanan mengerikan itu bahkan membuat tan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1945

    Haye yang baru memasuki ruangan melangkah maju dan menghentikan Valen. “Karena ini duel resmi, mengapa kalian yang menentukan waktu sekaligus lokasi? Waktunya boleh mengikuti keinginan kalian, tetapi tempat pertarungan seharusnya ditentukan oleh pihak kami.”Mendengar itu, sudut mata Valen berkedut. Dia tahu Severian tidak akan meninggalkan kawah Gunung Arjana. Jika lokasi duel dipindahkan, kemungkinan besar pertarungan tidak akan pernah terjadi.Karena itu dia segera mencoba memancing emosi lawannya. “Apa kalian takut pergi ke kawah Gunung Arjana?”Haye hendak membalas, tetapi Nathan lebih dulu mengangkat tangan. “Sudahlah, tidak perlu membuang waktu dengan permainan seperti itu.”Ia menatap Valen dengan tenang. “Waktu dan tempat tetap mengikuti keinginan kalian.”Kemudian Nathan melambaikan tangan dengan tidak sabar. “Sekarang pergilah.”Valen langsung merasa lega. Ia khawatir Nathan berubah pikiran, sehingga segera meninggalkan vila tanpa menunda satu detik pun.Setelah utusan itu

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1944

    Di kediaman Keluarga Ryodan, Nathan duduk santai di kursi utama ruang tamu sambil menatap pria Solara berjas rapi yang duduk tidak jauh darinya. Pria itu memiliki kumis tipis dan sikap formal yang menunjukkan bahwa dirinya datang mewakili pihak tertentu.“Saya Valen, utusan resmi dari komunitas bela diri Solara.” Pria itu memperkenalkan diri dengan sopan.Nathan hanya menyandarkan tubuhnya ke kursi sebelum tersenyum tipis. “Lalu? Apa komunitas bela diri Solara akhirnya memutuskan untuk tunduk kepadaku?”Nada bicaranya terdengar santai, tetapi pertanyaan itu langsung membuat ekspresi Valen berubah sesaat. Nathan tentu tahu tujuan kedatangan orang itu bukan untuk menyerah. Namun, dia memang sengaja melemparkan kalimat tersebut untuk melihat reaksinya.Valen menarik napas dalam-dalam sebelum menggeleng. “Tidak, saya datang untuk menyampaikan undangan duel kepada Tuan Nathan.”Sambil berkata demikian, dia mengeluarkan sebuah undangan berdesain mewah dan meletakkannya di atas meja.Nathan

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1943

    Severian menyapu mereka dengan tatapan datar sebelum akhirnya menghela napas panjang. “Sudahlah.”Nada suaranya terdengar tenang, tetapi langsung membuat semua orang mengangkat kepala.“Aku akan turun tangan satu kali.”Mata seluruh orang yang hadir langsung berbinar.“Tetapi setelah urusan ini selesai, jangan datang mengganggu pengasinganku lagi.”Begitu kalimat itu berakhir, tubuh Severian perlahan terangkat dari lantai tanpa bantuan energi yang terlihat.Pemandangan tersebut langsung membuat jantung semua orang berdebar lebih cepat.Tak lama kemudian, tempat duduk yang selama ini digunakan Severian mulai bergeser ke samping.Grrrkk–!Suara gesekan batu bergema dari bawah. Seketika semburan hawa panas menerjang keluar dan membuat suhu di dalam pondok meningkat drastis.Semua orang refleks menahan napas.Di bawah tempat duduk itu ternyata terbentang lautan magma yang bergolak tanpa henti. Gelombang api berwarna merah keemasan bergerak di kedalaman kawah seperti monster raksasa yang s

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1942

    Waktu terus berlalu perlahan.Barulah setelah beberapa jam berlalu, mata Severian perlahan terbuka. Tatapannya tampak tenang, tetapi mengandung tekanan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.“Masuk.”Suaranya tidak keras, namun gema suara itu menyebar ke seluruh kawah seperti dentang lonceng raksasa.Belasan orang yang berlutut langsung merasakan tekanan berat menghilang dari tubuh mereka. Mereka segera bangkit dan berjalan memasuki pondok secara tertib. Sebagian besar dari mereka baru pertama kali bertemu langsung dengan Severian.Selama ini mereka hanya mendengar legenda tentang dirinya. Karena itulah, ketika melihat sosok yang duduk di hadapan mereka, banyak orang langsung membelalakkan mata karena terkejut.Dalam bayangan mereka, seorang pria yang telah hidup hampir dua abad seharusnya tampak renta dengan rambut memutih dan tubuh yang rapuh. Namun kenyataannya jauh berbeda.Severian tidak memiliki janggut panjang, rambutnya masih hitam pekat, kulitnya juga tampak sehat. Jika tida

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1941

    “Karena tidak lagi menemukan lawan yang sepadan, dia memilih mengasingkan diri dan menghilang dari dunia luar. Namun kali ini, seluruh komunitas bela diri Solara berniat menggabungkan kekuatan mereka untuk memintanya keluar dari pengasingan.”Setelah selesai berbicara, Haye menatap Nathan dengan serius. Dia berharap informasi tersebut setidaknya membuat Nathan sedikit lebih berhati-hati.Namun reaksi yang muncul justru sepenuhnya di luar dugaan. Mata Nathan malah bersinar penuh minat. “Jadi… di Solara masih menyimpan orang seperti itu?”Senyuman tipis muncul di wajahnya. “Kalau begitu, perjalanan ini benar-benar belum berakhir.”Bonang dan Haye awalnya mengira Nathan akan mempertimbangkan untuk kembali ke Northern setelah mendengar nama ahli terkuat Solara disebutkan. Namun kenyataannya justru sebaliknya. Alih-alih merasa waspada, Nathan malah menunjukkan ketertarikan yang semakin besar terhadap sosok misterius tersebut.Melihat ekspresi keduanya, Nathan hanya tersenyum santai. “Tidak

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1940

    Dalam beberapa hari saja, jumlah pengikutnya meningkat berkali-kali lipat. Sementara itu, kehancuran empat aula besar mengguncang seluruh dunia kultivasi Solara.Para petinggi negeri tidak lagi bisa menganggap masalah tersebut sebagai insiden biasa. Berbagai tokoh berpengaruh segera dipanggil untuk menghadiri rapat darurat, sedangkan para pemimpin komunitas bela diri berkumpul guna membahas cara menghadapi ancaman yang telah mengacak-acak fondasi kekuatan negara mereka.Bagaimanapun juga, empat aula besar selama ini merupakan simbol sekaligus benteng utama dunia kultivasi Solara. Fakta bahwa semuanya dihancurkan oleh satu orang dalam waktu sehari terasa seperti tamparan keras yang sulit diterima.Pada saat seluruh negeri berada dalam suasana tegang, Nathan justru memilih mengasingkan diri di vila milik keluarga Ryodan.Di dalam ruangan yang tenang, dia duduk bersila sambil memejamkan mata. Energi spiritual yang sangat besar berputar di dalam tubuhnya. Roh-roh spiritual yang telah dia

  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1347

    "Tentu saja, Malvin! Jika kau yang turun tangan, Nathan pasti akan mati!" sanjung Sancho."Aku berkultivasi dengan intens selama puluhan tahun di Benua Monarch ini hanya untuk mencapai tingkat ini," kata Malvin dengan dingin. "Dan bocah itu, hanya dengan mengandalkan batu mata naga, bisa mencapainy

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1360

    Dengan Inti Naga Sejati milik Malvin yang terasa dingin di dalam sakunya, Nathan berjalan dengan cepat meninggalkan pinggiran kota. Tujuannya kini hanya satu: Lembah Iblis. Ia harus menemukan tempat yang aman untuk memurnikan harta karun barunya ini. Proses itu tidak bisa dilakukan dalam semalam, d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1371

    "Kau beruntung aku tidak membunuhmu waktu itu," balas Nathan, nadanya sedingin es. "Hari ini, keberuntunganmu sudah habis."Setelah selesai berbicara, cahaya keemasan menyelimuti tinju Nathan. Ia tahu pertarungan ini tidak bisa dihindari. Kekuatan spiritualnya belum pulih sepenuhnya setelah pertaru

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
  • Kembalinya sang Dewa Perang   Bab 1318

    Tiba-tiba, Bonang menghela napas panjang. "Sayang sekali mahakarya ini sudah terlalu tua. Kekuatan langit dan bumi yang terperangkap di sini sudah mulai memudar." Matanya menatap kejauhan dengan pandangan menerawang. "Jika kita datang beberapa ribu tahun lebih awal, saat tempat ini masih berada di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-01
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status