LOGIN"Sstt... Bapakmu sudah tidur pulas. Dia tidak akan tahu." Bara datang ke rumah mewah ayahnya hanya untuk bertahan hidup setelah ibunya meninggal. Dia siap menghadapi dinginnya sang ayah dan hinaan adik tirinya. Namun, dia sama sekali tidak siap menghadapi Marissa, ibu tirinya yang justru menggoyahkan imannya.
View MoreTas jinjing berbahan kanvas itu sudah pudar warnanya, tergeletak canggung di atas lantai marmer yang mengkilap. Bara berdiri kaku di sana, kedua tangannya saling meremas di depan perut. Dia takut bergerak, takut debu dari sepatu bututnya mengotori kemewahan yang menyilaukan mata itu.
Di hadapannya, duduk seorang pria paruh baya dengan setelan jas rapi yang sedang membaca koran. Handoko, ayahnya. Pria yang dulu meninggalkan Bara dan ibunya di kampung demi mengejar ambisi di kota. "Jadi ... ibumu sudah meninggal?" tanya Handoko tanpa menurunkan korannya. Nada bicaranya datar, seolah sedang menanyakan kabar cuaca. Bara menelan ludah, tenggorokannya tercekat. "Iya, Pak. Bulan lalu," jawabnya pelan dengan logat daerah yang masih kental. Dia ingat bagaimana ibunya meregang nyawa di atas dipan kayu yang reot, sementara ayahnya hidup di istana ini. Rasa panas menjalar di dadanya, tapi Bara buru-buru menunduk. 'Sabar, Bar. Kamu butuh tempat tinggal buat kuliah,: batinnya. Handoko akhirnya melipat korannya, menatap Bara dari ujung kaki ke ujung kepala dengan tatapan menilai yang merendahkan. "Dengar baik-baik," kata Handoko dingin. "Saya izinkan kamu tinggal di sini karena saya tidak mau orang-orang bilang saya menelantarkan darah daging sendiri. Tapi ingat posisimu. Jangan bikin malu. Jangan bertingkah kampungan. Dan jangan ganggu istri dan anak saya." "Baik, Pak," Bara mengangguk patuh. Dia memang tidak berniat mengganggu. Dia hanya ingin bertahan hidup. Saat itulah, suara hak sepatu beradu dengan lantai terdengar dari arah tangga. "Mas, ini anak itu?" Bara mendongak. Napasnya tertahan. Seorang wanita turun dari tangga dengan anggun. Kulitnya putih bersih, rambutnya tertata rapi, dan wangi parfumnya langsung memenuhi ruangan saat dia mendekat. Itu Marissa, ibu tirinya. Dia jauh lebih muda dari dugaan Bara, dan jauh lebih cantik dari wanita mana pun yang pernah Bara lihat di kampung. Di belakang Marissa, muncul seorang gadis remaja yang sibuk dengan ponselnya. Keyla. Dia hanya melirik Bara sekilas dengan tatapan jijik, lalu mendengus. "Ih, Ma. Bau matahari banget orangnya." Bara makin menunduk, merasa kecil. Namun, Marissa justru tersenyum lembut. Dia mendekati Bara, lalu dengan tangan halusnya, dia menepuk bahu Bara yang lebar dan keras karena sering mencangkul di sawah. "Sudah, Keyla. Jangan begitu," tegur Marissa lembut. Dia menatap mata Bara. "Selamat datang ya, Bara. Anggap saja rumah sendiri. Kalau butuh apa-apa, bilang sama Tante." Sentuhan itu membuat Bara gemetar. Di kampung, tidak ada wanita "berkelas" yang mau menyentuhnya. Kelembutan Marissa terasa sangat kontras dengan kekejaman ayahnya dan kesombongan Keyla. "Te-terima kasih, Bu ... eh, Tante," gagap Bara. Handoko berdiri, memutus momen itu. "Sudah, antar dia ke kamar belakang. Saya mau berangkat kerja. Bara, ingat pesan saya. Tahu diri." Ayahnya berlalu begitu saja tanpa menoleh lagi. Bara mengepalkan tangannya di samping tubuh. Dia melihat punggung ayahnya yang menjauh, lalu beralih menatap kemewahan di sekelilingnya. 'Bapak boleh sombong sekarang,' batin Bara perih. 'Aku akan jadi patung di rumah ini. Aku akan diam, aku akan menurut, sampai aku bisa berdiri sendiri dan pergi dari sini.' Marissa berjalan lebih dulu menyusuri lorong dan Bara mengekor di belakangnya dengan canggung. Gaun sutra tipis yang dipakai Marissa menempel ketat di tubuhnya yang montok. Kain itu mencetak jelas lekuk pinggang dan pinggul besarnya yang bergoyang ke kanan dan ke kiri setiap kali dia melangkah. Bara menelan ludah dan mencoba melihat ke lantai, tapi matanya nakal dan kembali melirik betis putih mulus yang mengintip dari belahan gaun itu. Marissa membuka pintu sebuah kamar kecil di bagian belakang. "Maaf ya Bar, kamarnya agak berdebu karena jarang dipakai," kata Marissa lembut sambil masuk ke dalam. Bara hanya mengangguk dan berdiri kaku di dekat pintu. Dia melihat Marissa berjalan ke arah ranjang lalu membungkuk sedikit untuk merapikan sprei yang kusut. Gerakan itu membuat kerah bajunya yang rendah melonggar lebar. Mata Bara langsung terbelalak. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat jelas belahan dada ibu tirinya itu. Payudaranya yang besar dan putih mulus terlihat begitu penuh, seolah mendesak ingin tumpah dari balik kain tipis itu. Kulit di area itu terlihat sangat halus dan kencang, beda sekali dengan kulit perempuan di kampungnya. Aduh, sadar Bar! Itu istri bapak, batin Bara berperang. Dia buru-buru memalingkan wajah ke tembok. Jantungnya berdegup kencang dan napasnya jadi agak berat. Dia merasa berdosa tapi penasaran setengah mati. "Bar? Kok malah melamun? Kamu kepanasan ya?" tanya Marissa yang tiba-tiba sudah berdiri di depannya. Bara kaget bukan main. Jarak mereka sekarang begitu dekat. Wangi parfum manis dari tubuh Marissa langsung memenuhi hidung Bara. "Eh, ti-tidak apa-apa, Tante. Cuma agak gerah sedikit," jawab Bara gugup sambil menyeka keringat di dahinya. Marissa tersenyum maklum. Tangan halusnya terulur lalu menyentuh pipi Bara. Telapak tangan itu terasa dingin dan lembut, sangat nyaman di kulit Bara yang kasar karena matahari. "Panggil Tante saja biar akrab. Kasihan kamu, pasti capek sekali ya perjalanan jauh naik bus," ucap Marissa dengan nada sayang. Sentuhan di pipi itu membuat lutut Bara lemas. Marissa lalu menurunkan tangannya dan ganti memegang kedua bahu Bara. Dia meremas pelan otot bahu Bara yang keras. "Bapakmu memang galak, tapi jangan diambil hati ya. Ada Tante di sini. Tante akan pastikan kamu betah tinggal di sini," kata Marissa sambil menatap mata Bara dalam-dalam. Posisi tangan Marissa di bahunya membuat tubuh bagian atas wanita itu makin condong ke arah Bara. Bara bisa melihat dada Marissa yang besar itu naik turun saat bernapas. Kulit putih di leher jenjangnya terlihat sangat menggoda. Pikiran Bara jadi kacau, antara haru karena dibela dan pusing melihat kemolekan tubuh di depannya. "Makasih banyak, Tante. Tante baik banget sama saya," kata Bara pelan. Dia menunduk sedikit untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah, tapi matanya malah tak sengaja jatuh lagi ke arah dada itu. Cepat-cepat dia pejamkan mata sejenak untuk mengusir pikiran kotornya. Marissa melepaskan pegangannya lalu menepuk lengan Bara pelan. "Ya sudah, kamu mandi dulu sana. Nanti Tante siapkan handuk bersih. Habis itu kita makan siang bareng, Tante sudah masak enak," ujarnya riang. Marissa pun berbalik dan berjalan keluar kamar. Bara memandangi punggung dan pinggul sintal itu yang bergerak menjauh sampai sosoknya menghilang di balik pintu. Bara menghembuskan napas panjang seolah baru saja menahan napas lama sekali. Dia membanting tubuhnya ke kasur busa yang empuk. Bayangan kulit putih dan dada mulus Tante Marissa masih menari-nari di kepalanya. "Sabar Bar, sabar," gumamnya lirih sambil memegangi dadanya yang masih deg-degan.Pukul 09.50 WIB.Bara memarkirkan mobilnya di pelataran pusat kebugaran eksklusif di kawasan Jakarta Selatan. Setelah mengganti kemejanya dengan kaus polo hitam ketat yang menonjolkan otot dada dan lengannya yang kokoh, Bara melangkah masuk ke area VIP gym.Suasana ruangan privat itu dingin oleh semburan pendingin udara, namun aroma parfum vanila manis yang khas langsung menyapa penciuman Bara saat pintu kaca terdorong.Di depan cermin besar, Sandra sedang melakukan gerakan pemanasan. Gadis itu mengenakan sport bra hitam ketat yang memperlihatkan lekuk payudaranya yang padat serta perut mulusnya yang kencang tanpa cela. Celana legging abu-abu ketat berpinggang tinggi membungkus paha dan bokongnya yang berisi.Tuk!Langkah kaki Bara membuat Sandra menoleh cepat.Wajah cantik gadis itu seketika berseri-seri. Ia menyeka sedikit keringat di leher jenjangnya dengan handuk kecil, lalu melangkah cepat menghampiri Bara dengan senyum manis yang merekah lebar."Bara! Akhirnya lo datang juga!" p
Marissa meremas kedua tangannya yang dingin di depan dada. Gaun sutra tipis yang dikenakannya bergetar halus mengikuti tarikan napasnya yang pendek. Matanya menatap Bara dengan sorot putus asa, mencari secercah kepastian dari pemuda tegap yang berdiri kokoh di depannya."Tapi Bara... kalau rentenir itu sampai datang menagih ke rumah ini..." bisik Marissa tercekat, memajukan tubuhnya hingga aroma melati menguar kuat ke hidung Bara. "Keluarga ini bisa hancur berantakan. Reputasi Keyla, hidupku... semuanya taruhannya!"Bara melangkah satu jengkal lebih dekat. Tatapan matanya yang dingin dan tajam mengunci pandangan ibu tirinya tanpa ragu sedikit pun."Bukankah itu yang Tante inginkan?" tanya Bara dengan suara rendah yang menekan. "Melihat Bapak yang selama ini menindas dan mengkhianati Tante jatuh ke titik terendahnya?"Deg!Marissa terkesiap. Bibir tipisnya terkatup rapat, tak mampu menyangkal kebenaran pahit itu."Dengarkan aku baik-baik, Tante," lanjut Bara tenang, suaranya terdengar
Bara melangkah keluar dari lobi HDK Group tepat saat langit Jakarta mulai berubah warna menjadi jingga gelap. Angin sore yang membawa debu kota menerpa wajahnya, namun Bara tak bergeming. Tanpa disadarinya, langkah kaki yang ragu-ragu mengikutinya dari belakang.Maya berjalan cepat dengan napas memburu, menyusul Bara yang baru saja tiba di area parkir basement yang agak sepi."Bara... tunggu sebentar!" panggil Maya dengan suara berbisik, takut suaranya memantul di dinding beton.Bara menghentikan langkahnya, lalu berbalik pelan. Ia menatap sekretaris pribadi ayahnya itu dengan sebelah alis terangkat. Wajah Maya tampak pucat, tetapi ada binar gugup dan sisa-sisa rasa takut yang perlahan berubah menjadi nekat."Ada apa lagi, Mbak Maya? Takut rahasia Anda bocor?" tanya Bara datar, sengaja menekan nada suaranya agar terdengar dingin.Maya menggigit bibir bawahnya. Ia melangkah mendekat, sengaja merapatkan tubuhnya hingga aroma parfum mahal bercampur keringat dingin menyeruak ke penciuman
Sandra mematung di kursinya. Bola matanya membesar, menatap Bara tanpa berkedip. Jari-jemari lentiknya yang putih meremas ujung kardigan rajutnya kuat-kuat."L-lo serius, Bar?" cicit Sandra dengan suara bergetar. "HDK Group itu perusahaan gede banget. Masa bisa bangkrut?"Bara bersandar santai ke kursi. Ia meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam itu perlahan, lalu meletakkannya kembali ke atas meja.Tuk."Kelihatannya saja megah, Sandra. Isinya sudah habis," sahut Bara datar. "Papamu cuma dijadikan tameng. Begitu ada masalah keuangan, perusahaan papamu yang bakal dikorbankan pertama kali oleh Handoko."Sandra menelan ludah.Glek.Kardigan rajut tipis yang dikenakannya sedikit melorot, memperlihatkan bahu mulusnya yang putih bersih. Dua gundukan dadanya yang padat naik-turun cepat seiring napasnya yang memburu. Aroma manis vanila dari tubuhnya menguar makin kuat saat ia memajukan badannya ke arah Bara."Tapi, Bar... Papa mana mau dengar omongan gue?" rengek Sandra manja bercampur












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ratings
reviewsMore