LOGIN"Sstt... Bapakmu sudah tidur pulas. Dia tidak akan tahu." Bara datang ke rumah mewah ayahnya hanya untuk bertahan hidup setelah ibunya meninggal. Dia siap menghadapi dinginnya sang ayah dan hinaan adik tirinya. Namun, dia sama sekali tidak siap menghadapi Marissa, ibu tirinya yang justru menggoyahkan imannya.
View MoreBara menutup pintu kamar dengan napas memburu. Jantungnya masih berdetak kencang gara-gara kejadian di dapur tadi. Bayangan dada putih Tante Marissa yang terbuka lebar di depan matanya benar-benar bikin pusing.Dia menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran kotor itu lalu buru-buru melepas celana panjangnya yang basah. Bara menggantinya dengan celana pendek biasa. Baru saja dia duduk di kasur, tubuhnya langsung menggigil. Pendingin ruangan di kamar ini dingin sekali rasanya menusuk tulang. Bara mau mematikan alatnya tapi dia bingung tombolnya banyak sekali. Akhirnya Bara pasrah dan meringkuk di kasur pakai selimut tipis. Giginya sampai beradu saking dinginnya.Tiba-tiba pintu diketuk pelan dan langsung terbuka. Marissa masuk membawa botol minyak kayu putih."Bar? Kamu belum tidur kan?" tanya Marissa lembut.Marissa menutup pintu lalu berjalan mendekat. Dia langsung duduk di tepi ranjang Bara yang sempit. Kasur busa itu langsung ambles menahan berat tubuh Marissa yang montok dan padat
Sentuhan paha Marissa di bawah meja membuat darah Bara berdesir hebat. Dia tidak kuat lagi. Rasanya dia harus segera kabur ke kamar sebelum pikirannya makin kotor.Bara buru-buru memundurkan kursinya dan berdiri."Euh ... Tante, saya pamit ke kamar dulu ya. Mata saya sudah berat, mau langsung tidur," pamit Bara gugup, menghindari tatapan mata Marissa yang sayu dan menggoda itu."Lho? Buru-buru amat. Ya sudah kalau capek," jawab Marissa dengan nada sedikit kecewa.Bara berbalik badan mau melangkah pergi. Tapi baru dua langkah, langkahnya terhenti. Dia menoleh ke belakang dan melihat Marissa sedang kesulitan menumpuk piring-piring kotor bekas mereka makan, ditambah piring bekas Handoko dan Keyla. Tubuh montoknya terlihat kewalahan mengangkat tumpukan itu sendirian.Rasa kasihan dan sifat rajin Bara sebagai orang desa langsung muncul. Dia tidak tega membiarkan wanita—apalagi yang sudah baik padanya—bekerja sendirian sementara dia enak-enakan tidur."Ah, maaf Tante. Saya tidak tega lihat
Matahari sudah tenggelam sepenuhnya. Suasana rumah yang tadinya cukup tenang mendadak berubah tegang saat suara deru mesin mobil sedan hitam terdengar memasuki halaman. Handoko sudah pulang.Bara yang sejak tadi duduk diam di teras belakang buru-buru dipanggil masuk oleh asisten rumah tangga. Katanya Tuan Besar ingin bicara. Dengan langkah berat dan jantung berdegup kencang, Bara berjalan menuju ruang tengah. Dia meremas jari-jarinya yang kasar, mencoba menenangkan diri.Di sana, Handoko sudah duduk di sofa tunggal yang besar layaknya seorang raja. Wajahnya terlihat lelah namun sorot matanya tetap tajam dan mengintimidasi. Dia melonggarkan dasinya sedikit."Duduk," perintah Handoko singkat tanpa menoleh, matanya menatap lurus ke arah televisi yang menyiarkan berita bisnis.Bara duduk di sofa panjang di seberang ayahnya. Dia duduk di ujung sofa dengan punggung tegak kaku, kedua tangannya ditumpuk di atas paha. Dia merasa seperti terdakwa yang akan disidang.Tak lama kemudian, Marissa m
Setelah Marissa pergi dari kamarnya, Bara langsung mandi untuk bersiap makan siang. Bara keluar dari kamar dengan rambut yang masih agak basah. Dia berjalan pelan menuju ruang makan yang luasnya mungkin dua kali lipat rumahnya di kampung. Di sana, meja makan panjang dari kayu jati sudah penuh dengan berbagai macam lauk. Harum masakan langsung membuat perut Bara berbunyi nyaring.Marissa sudah duduk di salah satu kursi. Dia menoleh dan tersenyum lebar saat melihat Bara."Sini duduk, Bar. Keyla belum pulang sekolah dan Papamu pasti makan di kantor. Jadi kita makan berdua saja ya," ajak Marissa ramah.Bara mengangguk sopan lalu duduk di kursi yang ditunjuk Marissa. Dia merasa kecil sekali di hadapan meja sebesar ini."Mau makan pakai apa? Biar Tante ambilkan," tawar Marissa sambil berdiri dan mengambil piring Bara."Eh, tidak usah repot-repot, Tante. Saya bisa ambil sendiri," tolak Bara sungkan. Dia mau berdiri untuk mengambil sendok nasi, tapi tangan Marissa menahan lengannya pelan."Su






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.