MasukSaat suasana semakin mencekam, suara Nathan tiba-tiba terdengar dengan tenang. "Meski kau sendiri yang mengawasinya..." katanya sambil menatap Banyu, "Tungku itu tetap akan meledak."Mendengar ucapan Nathan, tangan Banyu yang semula hendak menghukum para muridnya langsung terhenti di udara.Para murid Ordo Alkemia Surgawi yang sudah gemetar ketakutan pun diam membeku. Tak seorang pun berani mengangkat kepala.Banyu perlahan menoleh ke arah Nathan. Matanya menyipit tajam. "Apa maksud ucapanmu?" tanyanya dingin. "Kau sedang meragukan kemampuan alkemiaku?"Nathan menggeleng santai. "Bukan meragukan." Sudut bibirnya terangkat tipis. "Aku hanya menyampaikan fakta. Tungku alkemiamu sudah meledak, tetapi kau masih berani menyebut kemampuanmu tak tertandingi."Ucapan itu membuat wajah Banyu memerah seketika. "Itu hanya kecelakaan!" bentaknya. "Bukan berarti kemampuan alkemiaku bermasalah. Lagi pula, yang sedang kusempurnakan adalah Elixir Kekuatan tingkat enam. Apa kau tahu betapa sulitnya me
Sebagai Ketua Ordo Alkemia Surgawi, ramuan obat yang dimilikinya jauh melampaui apa pun yang dapat dihasilkan keluarga-keluarga seni bela diri di dunia luar. Harta yang dianggap langka oleh mereka belum tentu memiliki nilai sedikit pun di matanya.Nathan pun terdiam sambil mengernyit. Dalam benaknya, dia mulai menimbang satu per satu benda yang dimilikinya, berusaha menemukan sesuatu yang cukup berharga untuk membuat Banyu bersedia membuka akses ke Sumber Kehidupan Abadi.Nathan terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, "Aku bisa menukarnya dengan formula elixir.""Formula?" Banyu tampak terpana sesaat, lalu pecah dalam tawa keras. "Kau sedang bercanda?"Dia menggeleng sambil menatap Nathan dengan sorot mata meremehkan. "Apa kau lupa siapa aku? Aku adalah Ketua Ordo Alkemia Surgawi. Koleksi formula yang dimiliki ordo kami adalah yang paling lengkap dan paling unggul di seluruh dunia kultivasi."Banyu menyilangkan tangan di depan dada sebelum melanjutkan dengan nada angkuh, "Lalu kau d
"Bagaimana?" Banyu tersenyum tipis sambil melirik Nathan. "Sekarang kau masih menganggap mata air ini biasa saja?"Nathan tidak langsung menjawab. Dia kembali mencelupkan tangannya ke dalam Sumber Kehidupan Abadi, lalu memejamkan mata dan mengatur napasnya hingga perlahan menjadi tenang.Perlahan, kekuatan spiritualnya menyebar mengikuti aliran air. Kesadaran spiritualnya seakan melebur ke dalam mata air, menyusuri setiap arus yang mengalir tanpa melewatkan satu sudut pun.Beberapa saat kemudian, Nathan membuka mata. Kerutan tipis muncul di dahinya, seolah baru saja menemukan sesuatu yang mengusik pikirannya.Mahesa yang melihat perubahan ekspresi itu segera bertanya, "Nathan, ada yang kau temukan?"Nathan tersenyum tipis sambil menggeleng. "Tidak, bukan apa-apa." Dia terdiam sesaat sebelum kembali bertanya, "Tuan Mahesa, apakah Anda tahu dari mana sumber mata air ini berasal? Lalu ke mana alirannya bermuara?"Mahesa menggeleng pelan. "Airnya memang muncul dari bawah Pegunungan Langit
Setelah kesepakatan tercapai, Banyu memimpin Mahesa dan Nathan meninggalkan Ordo Alkemia Surgawi menuju lokasi Sumber Kehidupan Abadi.Mata air legendaris itu berada di kaki Pegunungan Langit Purba. Airnya memancar tanpa henti dari kedalaman pegunungan sepanjang tahu.Sejak dahulu, banyak kekuatan berebut untuk menguasainya. Pertempuran demi pertempuran pun pecah hingga tak terhitung jumlah korban yang gugur, tetapi tak satu pun berhasil menjadikan mata air itu sebagai milik pribadi.Pada akhirnya, Sembilan Pilar Agung mencapai kesepakatan. Sumber Kehidupan Abadi ditetapkan sebagai aset bersama, sementara hak pengelolaannya diberikan secara bergiliran kepada masing-masing kekuatan selama satu tahun penuh. Selama masa itu, pihak yang menjadi pengelola memiliki hak penuh atas penggunaan mata air tersebut.Dengan kecepatan mereka bertiga, perjalanan menuju kaki Pegunungan Langit Purba hanya memakan waktu kurang dari setengah jam."Sumber Kehidupan Abadi ada di depan sana." Banyu mengangk
"Dia bukan muridku." Mahesa menoleh ke arah Nathan. "Ini Saudara Nathan."Dia kemudian memperkenalkan pria tua itu. "Nathan, beliau adalah Banyu, Ketua Ordo Alkemia Surgawi."Nathan segera menangkupkan kedua tangan sebagai salam. "Salam, Tuan Banyu."Banyu Brata, ia menatap Nathan dengan sorot mata penuh rasa ingin tahu sebelum beralih kepada Mahesa. "Mahesa, bukankah agak aneh seorang seusiamu begitu akrab dengan pemuda yang bahkan belum berusia tiga puluh tahun?" tanyanya sambil mengernyit. "Jangan-jangan dia adalah pewaris dari salah satu kekuatan besar?"Dalam benaknya, hanya ada satu alasan yang dapat menjelaskan sikap Mahesa. Nathan pasti memiliki latar belakang yang luar biasa.Nathan tersenyum tipis lalu menggeleng. "Tuan, jangan terlalu memujiku. Aku hanya seorang kultivator biasa dari dunia bela diri Northern, bukan pewaris keluarga maupun murid dari kekuatan besar mana pun."Banyu tampak belum sepenuhnya percaya, tetapi dia tidak melanjutkan pembahasan itu. Dia segera menga
Mahesa tertawa kecil. "Jadi kau juga penasaran, ya?" katanya sambil mendekat. "Kalau begitu, akan kuceritakan."Dia lalu membungkuk sedikit dan membisikkan beberapa kalimat ke telinga Nathan.Sesaat setelah mendengarnya, mata Nathan langsung membelalak. "Jadi begitu..." gumamnya sambil tersenyum tipis. "Pantas saja dia langsung naik pitam ketika tadi kukatakan Levan lebih mirip anaknya daripada muridnya.""Hahaha!" Mahesa tertawa lepas. "Orang-orang di Sektor Bayangan tetaplah manusia biasa. Seberapa tinggi pun kultivasi mereka, hati mereka tetap dipenuhi urusan duniawi."***Keesokan harinya, Mahesa memimpin Nathan menuju Ordo Alkemia Surgawi.Sepanjang perjalanan, Mahesa banyak menceritakan keadaan Sektor Bayangan. Dahulu, tempat itu memiliki banyak ordo, tetapi seiring berjalannya waktu sebagian besar bergabung atau lenyap hingga akhirnya hanya tersisa Sembilan Pilar Agung yang masing-masing menguasai wilayahnya sendiri.Meski di permukaan mereka tampak hidup damai dan saling menja
Jordan menatap Nathan seperti dewa kematian, tubuhnya gemetaran karena ketakutan. Meskipun ada dua puncak penguasa Ingras yang melindunginya, Jordan sudah ketakutan saat ini. Dia sama sekali tidak menyangka Nathan memiliki kekuatan yang begitu menakutkan."A-aku .…" Jordan bergegas mundur dan tidak
Nathan sebenarnya juga merasa hal itu sulit, karena tempat itu ramai didatangi dan merupakan objek wisata. Hampir tidak mungkin menyembunyikannya dari publik."Kalau begitu, kita bicarakan lagi nanti. Untung saja aku sudah menyegel makam kuno itu dengan formasi sihir, jadi orang biasa tidak akan bi
“Bisa membantu Martial Shrine merupakan kehormatan bagi Keluarga Farhon kami,” jawab Leorio sambil membungkuk dengan rendah hati.“Semuanya, ikuti aku dan berhati-hatilah!” Ging berkata lalu menambahkan kepada Leorio. “Leorio, ikutlah di sampingku. Jika ada apa-apa, beritahulah terlebih dahulu.” M
"Bagaimana, apakah serbuk dari bunga Amarilis sudah menyebar ke seluruh pulau?" tanya Squala kepada tiga pria bertopeng dan berjubah hitam itu."Tuan Muda Ryodan, serbuk bunga itu sekarang sudah menyebar ke seluruh pulau, tapi demi tidak menimbulkan kecurigaan mereka, kami tidak banyak menyebar ser







