Sistem Sign-In Harian

Sistem Sign-In Harian

last updateLast Updated : 2026-07-09
By:  KoTzUpdated just now
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
Not enough ratings
7Chapters
14views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Reyhan Pradipta hanyalah pemuda biasa yang terjebak dalam kerasnya realita. Lulus dengan nilai tinggi ternyata tidak ada artinya tanpa koneksi dan uang. Hidupnya stagnan sebagai karyawan bergaji UMR, terhimpit tagihan kos bulanan, dan selalu menjadi sasaran cibiran di lingkaran sosialnya. Di mata orang-orang, terutama mantan teman sekelasnya yang terlahir sebagai anak konglomerat seperti Reno, Reyhan hanyalah pecundang tanpa masa depan. ‡ ‡ Namun, roda nasib berputar dengan cara yang tidak pernah ia bayangkan. Sebuah suara mekanis misterius mendadak mengubah jalan hidupnya selamanya. ‡ ‡ [Ding! Sistem Sign-In berhasil diaktifkan.] ‡ ‡ Hanya dengan melakukan sign-in setiap hari, Reyhan bisa mengklaim hadiah acak dengan nilai yang tidak masuk akal. Hari pertama, sepuluh miliar rupiah mendarat mulus di rekening banknya. Hari kedua, sebuah hypercar Bugatti La Voiture Noire langka seharga hampir dua ratus miliar menunggunya di area parkir. ‡ ‡ Uang tunai tanpa batas, properti mewah, saham perusahaan raksasa, semuanya kini berada dalam genggamannya hanya dengan satu sentuhan jari. ‡ ‡ Berbekal kekayaan yang menembus nalar dan identitas baru yang terus meningkat, Reyhan melangkah keluar dari bayang-bayang kemiskinan. Orang-orang materialistis yang dulu merendahkannya kini harus menelan ludah mereka sendiri. Mantan teman yang meremehkannya, kaum elite yang sombong, hingga tokoh-tokoh besar dunia perlahan akan menyaksikan kelahiran seorang penguasa baru. ‡ ‡ Ini bukan sekadar cerita tentang orang miskin yang mendadak kaya. Ini adalah perjalanan Reyhan Pradipta menaklukkan dunia, menghancurkan kesombongan orang-orang di sekitarnya, satu sign-in setiap harinya.

View More

Chapter 1

Sistem

"Reuni? Besok? Ah, sori, aku absen dulu. Kerjaan lagi padat banget, beneran nggak bisa datang."

Reyhan Pradipta menekan tombol kirim di layar ponselnya, melepaskan pesan suara itu meluncur ke grup obrolan.

Balasan langsung masuk sedetik kemudian. "Jangan gitu, dong! Ini reuni pertama kita sejak lulus, lho. Anak-anak pada datang semua. Kamu wajib ikut. Besok jam lima sore di Hotel Nusantara. Pokoknya nggak terima alasan!"

Di lingkaran pertemanan seperti ini, orang sering terjebak dalam persaingan terselubung. Pencapaian karier dan merek mobil yang dibawa selalu menjadi tolok ukur harga diri.

Reyhan hanya bisa tersenyum masam. Acara berkedok temu kangen ini ujung-ujungnya pasti berubah menjadi ajang pamer pencapaian. Tempat semacam itu hanya panggung bagi mereka yang sudah mapan. Reyhan sadar diri, dia tidak pantas ikut campur.

Alasannya sederhana. Nasibnya mandek sejak hari kelulusan. Meski sekarang berhasil masuk ke perusahaan yang lumayan, nilai IPK tinggi rupanya tidak berarti apa-apa tanpa koneksi orang dalam. Gajinya cuma mentok di angka UMR. Memaksakan diri datang ke kontes pamer berkedok reuni itu sama saja dengan mencari malu.

Tidak ada satu pun hal dalam hidupnya yang bisa dibanggakan. Kosan masih bulanan, motor sering mogok, bahkan kemeja kerjanya jarang disetrika rapi.

"Mending aku di rumah aja maraton drama. Bodo amat sama reuni sok-sokan," batin Reyhan. Ia menghela napas, merelakan sisa-sisa gengsinya. Lagipula, rebahan sambil menonton drama jauh lebih nyaman daripada meladeni obrolan basa-basi.

"Kapan ya hidupku seberuntung CEO tajir ini."

Reyhan bergumam pelan, menatap sosok pemeran utama pria di layar ponselnya dengan tatapan kosong.

[Ding! Sistem Sign-In Harian sedang dimuat]

[Mendeteksi gelombang otak target. Tingkat kepasrahan hidup mencapai titik maksimal. Memenuhi syarat mutlak: 'Blank Slate Host', individu tanpa koneksi, tanpa aset, dan memiliki mentalitas stabil di bawah tekanan.]

[Ding! Sistem Sign-In Harian selesai dimuat]

[Host: Reyhan Pradipta

Umur: 23 tahun

Tinggi: 178 cm

Berat: 65 kg

Kepemilikan rumah: Belum ada

Kepemilikan mobil: Belum ada

Tabungan: Rp3.265.000

Keterampilan pribadi: Tidak ada]

"Apa-apaan ini?"

Reyhan tersentak. Kepalanya mendadak disusupi suara mekanis yang entah datang dari mana.

[Host, tidak perlu cemas. Saya adalah Sistem Sign-in Harian. Alasan pemilihan Anda: Sistem kosmis mendeteksi bahwa tingkat keberuntungan Anda telah ditekan hingga batas terendah selama dua puluh tiga tahun terakhir. Sistem ini hadir sebagai kompensasi takdir untuk memulihkan keseimbangan hidup Anda.]

[Sistem menilai Anda layak karena jiwa Anda terbukti murni dari keserakahan duniawi. Anda adalah kandidat paling ideal untuk mengelola dana tak terbatas tanpa merusak tatanan kewarasan. Lakukan sign-in setiap hari tepat waktu untuk mengklaim hadiah acak. Kemungkinannya tidak terbatas. Anda bisa mendapatkan properti, uang tunai, keterampilan, hingga hal-hal di luar nalar lainnya.]

Reyhan mencerna informasi itu perlahan. Penjelasan ini mengingatkannya pada genre sistem yang sering ia baca di novel online. Jalan hidup karakter-karakter dalam cerita semacam itu biasanya langsung berubah menjadi sangat mulus. Selama ini dia hanya membaca cerita klise tentang sistem, tidak disangka giliran itu jatuh padanya hari ini.

"Sistem, aku mau sign-in sekarang."

Reyhan tidak sabar melihat hadiah apa yang akan ia dapatkan di hari pertamanya.

[Ding! Proses sign-in Host dimulai. Selamat, Host! Sign-in berhasil. Anda mendapatkan hadiah sebesar sepuluh miliar Rupiah. Dana tersebut kini telah disetorkan ke rekening bank pribadi Anda. Harap verifikasi transaksi.]

"Nggak mungkin. Seriusan sepuluh miliar?"

Mata Reyhan terbelalak lebar. Detik berikutnya, ponsel di tangannya memunculkan notifikasi B-Mobile.

[B-Mobile: Sobat B-Mobile! Dana Rp10.000.000.000,00 telah masuk ke Rek. 5432xxxxxx pada 02/06/2026 21:04. Saldo akhir kamu Rp10.003.265.000,00]

Untuk memastikan matanya tidak bermasalah, ia buru-buru membuka aplikasi mobile banking dan mencoba mentransfer seratus ribu rupiah ke akun E-Cash miliknya.

Berhasil. Uang seratus ribu itu masuk ke saldo E-Cash tanpa kendala.

"Sistem, uang sepuluh miliar tiba-tiba masuk rekeningku begini, pihak bank nggak bakal curiga?" Reyhan tahu betul bagaimana ketatnya pengawasan perbankan di negaranya. Jika asal-usul uang ini diusut, sepeser pun tak akan bisa ia nikmati.

[Host harap tenang. Sistem telah mengubah protokol perbankan. Hasil pelacakan akan mendeteksi dana ini sebagai hasil investasi dan transfer yang legal secara hukum. Semakin Host berkembang, pengamanan sistem akan semakin tidak tersentuh oleh pihak mana pun. Silakan gunakan dana Anda dengan sesuka hati.]

"Gila, luar biasa."

Jaminan dari sistem sukses melepaskan beban di pundak Reyhan. Ia kini bisa menikmati status miliarder dadakannya dengan nyaman. Sambil memproses kekayaan barunya, Reyhan memutuskan untuk pergi ke luar guna memastikan uang itu benar-benar ada di dunia nyata.

**

Setengah jam kemudian, Reyhan berdiri di depan mesin ATM minimarket dekat kosannya. Begitu ia memasukkan kartu dan menekan tombol cek saldo, deretan angka nol yang berbaris panjang di layar sukses membuat kepalanya sedikit pusing.

"Mumpung sekarang aku sudah tajir, malam ini waktunya makan enak," batin Reyhan.

Reyhan keluar dari area minimarket setelah tarik tunai, memesan ojek online, dan meluncur menuju salah satu restoran elite di pusat kota yang sering dijadikan tempat berkumpul kaum konglomerat.

Harga makanan di tempat itu jelas di luar nalar Reyhan yang dulu. Rata-rata tagihan mencapai puluhan juta per meja. Tempat yang mustahil diinjak oleh karyawan bergaji UMR sepertinya. Namun malam ini, nilai puluhan juta rupiah nyaris tidak ada artinya bagi Reyhan.

Begitu masuk ke area restoran, ia memilih meja di sudut dekat jendela besar. Ia melirik buku menu dan asal menunjuk pesanan steak sirloin kobe, tanpa repot-repot memikirkan apa saus pendampingnya.

"Sepertinya masih kurang. Mbak, botol wine paling mahal di sini harganya berapa?"

Mental Orang Kaya Baru bercampur jaminan bonus harian dari sistem membuat Reyhan berani. Jika besok ia bisa mendapatkan hadiah miliaran lagi, ia tidak perlu repot-repot berhemat.

"Selamat malam, Kak. Untuk red wine termahal kami saat ini ada koleksi Romanée-Conti, dibanderol seharga delapan puluh juta Rupiah per botolnya. Kakak berminat?"

Pelayan berseragam rapi dengan postur semampai itu menjawab ramah. Biasanya, pelanggan yang datang sendiri hanya akan memesan per gelas. Reyhan langsung memesan satu botol utuh.

"Oke, pas. Saya ambil satu botol itu."

"Maaf, Kak. Kakak yakin ingin memesan satu botol penuh?" Pelayan itu tidak bisa menutupi rasa herannya.

"Santai saja, Mbak. Kalau nggak habis, nanti saya bawa pulang."

Reyhan menjawab santai tanpa repot memberi penjelasan lebih. Ia sadar penampilannya yang sederhana ini tidak meyakinkan untuk memesan minuman seharga delapan puluh juta. Tanpa peduli dengan keraguan sang pelayan, ia langsung mengeluarkan kartu debit dari dompetnya.

Pelayan itu merespons cepat dengan menyodorkan mesin EDC nirkabel. Reyhan meraih mesin tersebut, memasukkan kartunya, lalu menekan enam digit nomor sandi dengan santai.

Begitu mesin EDC memproses dan mencetak struk tanda transaksi berhasil, mata pelayan itu membulat. Awalnya ia mengira pelanggan ini hanya sekadar membual demi gengsi. Pakaian Reyhan benar-benar meneriakkan status ekonomi menengah ke bawah.

Melihat bukti pembayaran yang sah di tangannya, pelayan itu tersenyum gembira, nyaris ingin melompat. Penjualan satu botol wine semahal ini otomatis memberikannya komisi tambahan hingga jutaan rupiah.

"Ini kartunya, Kak."

Wajah pelayan itu kini berseri-seri. Senyumnya jauh lebih manis saat mengembalikan kartu debit milik Reyhan. Tanpa diminta, ia langsung membuka botol mewah tersebut, menuangkannya ke dalam gelas Reyhan dengan teknik yang sangat elegan.

Bukan sekadar menuangkan minuman, pelayan itu tetap berdiri siaga di samping meja Reyhan dan berinisiatif menjelaskan sedikit profil rasa dari anggur tersebut layaknya seorang ahli. Perlakuan istimewa itu sukses membuat ujung bibir Reyhan tertarik naik.

Pelayan wanita itu mundur selangkah setelah memastikan gelas Reyhan terisi sepertiga penuh.

Reyhan mengangkat gelas kristal tersebut. Ia menyesap cairan merah marun itu perlahan. Jujur saja, bagi lidahnya yang terbiasa dengan es teh manis warteg, rasa anggur ini dominan sepat dan asam. Namun, mengingat harga delapan puluh juta yang mengalir ke tenggorokannya, ia memaksakan diri untuk mengangguk pelan.

"Ternyata begini rasanya minuman orang kaya," batin Reyhan.

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
7 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status