로그인Namun sebelum ia sempat mendekat, Velisa lebih dulu menghadangnya. "Aku yang akan menjadi lawanmu."Tatapan Velisa kini jauh lebih tajam. Setelah menyerap energi buah itu, kekuatannya meningkat pesat hingga ia tak lagi gentar menghadapi Levan.Nathan hanya melirik sekilas pertarungan mereka sebelum mengalihkan pandangan kepada dua lawan yang tersisa. "Kalau begitu tinggal kalian berdua."Ia mengangkat Pedang Aruna perlahan. "Maju bersama saja, akan langsung aku habisi semuanya."Ucapan tenang itu membuat wajah Arkhon Ignis langsung menggelap. "Kau memang mampu bertarung melampaui tingkat kekuatanmu." Ia terkekeh dingin. "Tapi baru saja memasuki tahap Puncak Sovereign sudah berani menantangku? Apa kau benar-benar mengira bisa mengalahkan seseorang yang telah mencapai Puncak Sovereign Tingkat Akhir?"Nathan menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. "Yang terlalu percaya diri justru kau."Tatapannya menembus mata Arkhon Ignis. "Kekuatanmu memang berada di Puncak Sovereign Tingkat Akhir, t
Sosok Nathan tetap melayang di langit, diselimuti aura yang terus membesar dengan kecepatan mencengangkan. Dalam beberapa saat, tekanan itu mencapai batasnya dan mengguncang seluruh ruang di sekelilingnya hingga terdengar dengungan yang memekakkan telinga.BANGG—!Ledakan energi yang jauh lebih dahsyat daripada sebelumnya meletus dari tubuh Nathan, lalu menyapu seluruh area seperti gelombang tak kasatmata.Levan, Lysander, bahkan Arkhon Ignis sontak berubah pucat. Tekanan luar biasa itu membuat napas mereka terasa berat. Lutut mereka gemetar tanpa bisa dikendalikan, seolah tubuh mereka dipaksa berlutut di hadapan sosok yang berada di langit.Sesaat kemudian, gelombang energi itu perlahan mereda.Nathan membuka matanya. Tatapannya tenang, tetapi memancarkan wibawa yang begitu agung hingga membuat siapa pun yang melihatnya merasa sedang berhadapan dengan penguasa langit yang mengawasi seluruh makhluk dari singgasananya.Arkhon Ignis menarik napas panjang sambil memaksa dirinya tetap ber
Belum sempat Levan Juventus, Lysander Aster, dan Arkhon Ignis mencerna apa yang baru saja terjadi, langit kembali berguncang.BAAANG!Sambaran petir terus berjatuhan tanpa henti dari pusaran awan hitam, silih berganti menghantam bumi hingga raungan langit tak pernah benar-benar mereda. Seluruh kawasan Kerajaan Luminus pun bergetar tanpa putus seolah berada di ambang kehancuran.Levan menatap langit dengan wajah membeku. "Ini... sudah sambaran ke berapa?" gumamnya lirih. "Apa Murka Langit ini tidak akan berakhir?"Ia pernah menerobos ke tahap Puncak Sovereign dan menghadapi Murka Langit. Para kultivator di Sektor Langit pun mengalami hal yang sama. Namun, tidak seorang pun pernah menghadapi cobaan sekejam ini.Bahkan terobosan menuju tahap yang jauh lebih tinggi pun belum tentu memanggil Murka Langit semengerikan ini.Lysander menelan ludah sebelum berkata pelan, "Yang ketujuh…"Nada suaranya dipenuhi ketidakpercayaan.KRAAAK—!Begitu sambaran ketujuh menghantam, bola pelindung yang te
Velisa menghembuskan napas panjang sebelum berkata dengan wajah masih pucat, "Buah ini terlalu kuat. Baru dua buah saja aku hampir kehilangan kendali. Kalau memaksakan satu lagi, tubuhku mungkin akan hancur dari dalam."Namun sesaat kemudian, matanya membelalak saat melihat semua buah di sisi Nathan telah habis. "Tuan Nathan... Anda benar-benar memakan semuanya?"Tatapannya dipenuhi rasa tak percaya sekaligus kagum. "Sepuluh buah... bukankah itu berarti Anda sudah mencapai tahap Puncak Sovereign?"Nathan hanya menggeleng pelan sambil tersenyum pahit. "Aku baru mencapai Sovereign Tingkat puncak Akhir. Tinggal selangkah lagi sebelum menembus Puncak Sovereign."Ia menatap telapak tangannya sendiri dengan ekspresi pasrah. "Sepuluh buah hanya memberiku kenaikan sekecil ini. Benar-benar boros."Velisa tercekat, dua buah saja sudah membuat kekuatannya melonjak drastis. Sedangkan Nathan menghabiskan sepuluh buah hanya untuk mencapai puncak Sovereign Tingkat puncak Akhir.Perbedaan kebutuhan e
Tanpa menunggu jawaban, Velisa mengembalikan tiga Buah Roh. Kini Nathan memegang sepuluh buah, sementara dirinya hanya menyisakan empat.Nathan tidak menolak lagi. "Aku tidak tahu berapa lama perlindungan pohon ini akan bertahan. Kita mulai berkultivasi sekarang juga."Usai berkata demikian, Nathan langsung memasukkan satu Buah Roh ke dalam mulutnya.Sesaat setelah ditelan, Buah Roh berubah menjadi aliran energi murni yang mengalir deras ke seluruh tubuhnya. Seluruh pori-porinya seolah terbuka bersamaan, membiarkan energi itu menempa setiap inci tubuhnya. Nathan segera mengaktifkan Teknik Kijutsu, membimbing kekuatan tersebut beredar tanpa henti sambil memejamkan mata dan memasuki kondisi kultivasi penuh.Seiring energi itu terus dimurnikan, luka-luka di tubuh Nathan pulih dengan kecepatan yang terlihat jelas. Kekuatan Spiritual di dalam tubuhnya juga meningkat pesat. Setiap kali seluruh energi satu buah habis diserap, ia segera menelan buah berikutnya tanpa jeda.Ketika Nathan telah
Nathan meraung keras sambil mengerahkan seluruh tenaganya. Meski tekanan aura lawan begitu mengerikan, matanya memerah dan sebuah pukulan penuh tenaga langsung menghantam lengan raksasa itu.Sayangnya, serangan tersebut sama sekali tidak meninggalkan bekas. Sebaliknya, tekanan aura Arkhon Ignis menindih tubuh Nathan hingga ia nyaris tak mampu bergerak. Bahkan sekadar mengangkat lengannya pun terasa sangat sulit.Lengan raksasa itu telah berada tepat di hadapannya dan hampir berhasil menangkapnya."Sudah selesai!"Pada saat itu, Velisa berteriak lantang. Buah Roh terakhir akhirnya berhasil dipetik.Begitu suara itu terdengar, pohon tersebut berguncang hebat. Kekuatan dahsyat tiba-tiba meledak dari batangnya dan langsung menghancurkan lengan raksasa yang muncul dari kehampaan.Sesaat kemudian, ranting-ranting pohon mulai bergerak, saling melilit dan mengerut hingga membentuk sebuah bola raksasa yang rapat. Lebatnya menutup seluruh bagian dalam, membungkus Nathan dan Velisa tanpa menyisa
Sancho bingung, tapi ia tidak peduli. Ini adalah kesempatan emas. Dengan raungan penuh kemenangan, ia menghantamkan seluruh kekuatannya ke dada Nathan.Nathan menyemburkan seteguk darah. Organ dalamnya terasa seperti diremukkan. Tubuhnya terlempar jauh ke belakang seperti layang-layang putus.Namun
Nama itu keluar dari bibir Irarki bukan sebagai sebuah kata, melainkan sebagai hembusan napas yang dipenuhi akan teror. Dia tidak tahu bagaimana, atau sejak kapan. Satu detik yang lalu dia sendirian dalam kekalahannya, detik berikutnya, sang malaikat maut berdiri di belakangnya.Mendengar nama itu,
Di sisinya, Hideo merapal segel dengan kecepatan tinggi. Udara di depannya terasa panas, lalu bola-bola api seukuran bola sepak mulai terbentuk, berputar-putar dengan inti yang membara dan lidah api yang menjilat-jilat.Seihun mengambil kuda-kuda, mengumpulkan energi di Dantian-nya. Dia mengucapkan
Wanita itu baru saja hendak membalas dengan sombong, ketika matanya tiba-tiba membelalak ngeri. Ia merasakan kepalanya seperti diremas oleh tangan raksasa. Sebelum ia sempat menjerit—Jepret!Kegelapan.Pria di sampingnya mengalami nasib yang sama. Keduanya ambruk ke tanah tanpa suara, dengan darah







