Share

Bab 2

Auteur: Anjani
Langit tampak kelabu, hujan turun begitu saja tanpa tanda-tanda.

Suami sahabatku datang menjemputnya dengan inisiatif sendiri. "Bukannya sudah kubilang jangan datang?"

"Mana bisa begitu, Yang Mulia. Aku nggak tega membiarkan kamu kehujanan. Eh, Kak Aliyah, ikut sekalian saja, aku antar kamu pulang dulu."

Aku tersenyum sambil menggeleng. "Kalian duluan saja, aku mau duduk sebentar lagi."

Dulu, aku selalu iri melihat perhatian dan kepedulian tulus di antara mereka. Kenapa aku dan Raditya yang sama-sama sebagai suami istri, tapi selalu terasa terhalang oleh dinding tak kasatmata? Kenapa?

Jawabannya sederhana. Dia tidak cukup mencintai. Akulah yang terlalu lama menipu diri sendiri, mengira Raditya memang tidak pandai mencintai sejak lahir.

Saat hujan agak reda, aku bangkit dan keluar. Kebetulan aku melihat sebuah Audi yang tidak asing perlahan berhenti di pinggir jalan. Wanita di kursi penumpang depan mengenakan gaun panjang warna krem pucat, rambutnya sedikit bergelombang, auranya lembut dan anggun.

Raditya turun dari sisi lain mobil dan berjalan ke arah sini. Dia sepertinya hanya lewat dan ingin membeli kopi. Saat melihatku, ekspresinya tetap tenang dan hanya sedikit mengangkat alis.

Mungkin dia mengira aku akan menyapanya lebih dulu, tapi aku hanya menunduk menatap aplikasi pemesanan mobil di ponsel. Mungkin karena melamun, kakiku salah menginjak anak tangga dan terkilir.

Raditya melirikku sekilas dan mengerutkan kening tanpa berkata apa-apa. Dia masuk ke kafe tanpa memedulikanku.

Aku menahan nyeri di pergelangan kaki sambil terus menunggu mobil di pinggir jalan. Tak lama kemudian, Raditya keluar sambil membawa dua gelas kopi take away.

"Ayo. Bukannya kamu memang ingin aku mengantarmu?"

Nada bicaranya dingin dan tidak sabar. "Nggak ...."

Raditya malas berdebat, dia langsung menarikku masuk ke mobil. Lalu, dia menyodorkan salah satu gelas kopi kepadaku. Aku tidak menerimanya, jadi dia meletakkannya begitu saja di samping.

Sepanjang perjalanan, tidak ada yang berbicara. Suasana di dalam mobil terasa hening.

Zahra tiba-tiba memegangi dahinya dan berkata, "Radit, sepertinya gula darahku agak turun, kamu ada permen?"

Raditya mengambil sebatang cokelat dari kompartemen dan memberikannya pada Zahra dengan sangat alami. "Sudah berapa kali aku mengingatkanmu, tapi kamu memang nggak pernah ingat."

Zahra menerimanya, lalu tersenyum pelan. "Waktu sibuk aku jadi lupa, untung masih ada kamu."

Mereka lalu membicarakan masa lalu, orang-orang yang sama-sama mereka kenal, juga pengalaman yang pernah mereka lalui bersama. Di antara kata-kata itu, ada kekompakan di antara mereka yang tidak perlu diucapkan. Sementara aku duduk di kursi belakang, seperti pendengar yang sama sekali tidak cocok berada di sana.

Pemandangan di luar jendela mobil melesat mundur dengan cepat. Saat melewati taman pusat kota, bianglala raksasa itu berputar perlahan.

Kencan pertamaku dengan Raditya terjadi di tempat ini. Konon katanya, pasangan yang berciuman saat bianglala mencapai titik tertinggi akan bahagia seumur hidup. Waktu itu aku mencuri ciuman dari dia. Dia menatapku dengan ekspresi tercengang cukup lama.

Aku mengira, itu adalah salah satu dari sedikit kenangan manis yang kami miliki bersama. Belakangan baru kutahu, penyesalan terbesar Raditya adalah karena dia tidak pernah membawa Zahra naik bianglala itu.

Dalam kepalaku yang terasa berat, banyak potongan masa lalu berkelebat. Sebagian besar hanyalah harapanku yang sepihak dan sikap asal-asalan darinya.

Aku memejamkan mata dan tertidur sejenak. Saat membuka mata kembali, mobil sudah berhenti di depan apartemen.

Entah sejak kapan Zahra sudah turun dari mobil. Raditya melepas sabuk pengamannya, lalu menoleh menatap pergelangan kakiku yang membengkak, keningnya berkerut rapat.

"Aliyah," panggilnya dengan rendah. "Harus banget begini?"

Aku mengangkat pandangan karena tidak mengerti.

"Kalau kamu mau aku jemput, tinggal bilang saja. Memangnya harus pakai cara bodoh seperti ini untuk menarik perhatianku?"

Nada bicaranya terdengar tenang, tapi terselip rasa kesal yang sulit disembunyikan. Aku tidak tahu apa yang membuat dia kesal. Mungkin karena aku mengganggu waktu berduaan dia dengan cinta pertamanya.

"Raditya, kamu mikir kejauhan. Aku nggak pernah minta kamu mengantarku."

Dia sepertinya mengira aku sedang keras kepala, lalu mencibir. "Oh ya? Lalu dengan kondisi seperti ini, kamu mau merangkak pulang sendiri?"

"Aku bisa naik taksi." Aku menatapnya. "Raditya, aku bukan orang yang nggak bisa hidup tanpa kamu. Dulu aku terus mengejar dan menempel padamu, karena aku mencintaimu. Itu nggak berarti aku jadi orang nggak berguna tanpa kamu."

"Pergi?" Sorot mata pria itu kembali menggelap. "Aliyah, kalau kamu punya nyali, coba saja benar-benar pergi. Lihat saja apakah aku akan menoleh dan memohon kamu kembali."

Aku juga sudah tidak punya keinginan untuk berdebat panjang dengannya. Bagaimanapun juga, begitu surat perjanjian cerai itu sampai di tangannya. Dia akan tahu, kali ini aku tidak sedang membuat keributan, melainkan benar-benar serius.
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 9

    Dalton berdiri di samping melihat kami saling tarik menarik, lalu memperingatkan dengan tenang, "Pak, tolong lepaskan dia. Kalau nggak, aku akan menelepon polisi."Sikapnya protektif, tapi tetap sopan dan menahan diri. "Maaf, Kak Dalton, aku merepotkan waktumu. Tunggu sebentar, aku akan segera selesaikan ini dengannya."Dalton menatapku, lalu melirik Raditya yang keras kepala. Dengan nada masih belum sepenuhnya tenang, dia mengingatkan, "Kalau ada apa-apa, telepon aku kapan saja. Aku menunggu di sana."Dengan pengertiannya, dia memberi kami ruang untuk berbicara berdua.Melihat Dalton berjalan menjauh, aku kembali mengarahkan pandanganku ke Raditya. Amarah di matanya perlahan mereda, digantikan oleh kepanikan yang samar. Dia tampaknya tidak mengerti, kenapa kali ini semua hal benar-benar lepas dari kendalinya.Aku tiba-tiba merasa sangat lelah, sampai tidak punya tenaga lagi untuk bertengkar. Akhirnya, aku berkata dengan suara yang luar biasa tenang. Bahkan aku sendiri juga terkejut de

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 8

    Pesawat mendarat di Kota Cloud, 2000 kilometer dari sana. Ini adalah kampung halamanku, sebuah kota kecil di selatan yang hangat dan lembap.Aku menyeret koper sambil berdiri di depan pintu rumah yang terasa akrab sekaligus asing. Aku mengumpulkan keberanian sebelum akhirnya menekan bel pintu.Yang membukakan pintu adalah ibuku. Dia sempat tertegun, lalu matanya langsung memerah. "Kamu masih tahu pulang rupanya!"Mendengar suara itu, Ayah keluar dari ruang tamu. Nadanya tegas, tapi tangan yang gemetar malah membocorkan perasaannya. Aku menunduk dan berkata dengan suara tercekat, "Ayah, Ibu, maaf ...."Sejak awal mereka tidak merestui hubunganku dengan Raditya. Akulah yang bersikeras ingin menikah dan tidak mau mendengar nasihat mereka."Kamu pasti banyak menderita, ya, anak bodoh." Ibu menarik tanganku dengan penuh iba, menatapku dari atas ke bawah."Kamu kurusan. Apa selama ini kamu nggak makan dengan baik? Ibu akan masakkan iga asam manis kesukaanmu."Aku menatap rambut putih di peli

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 7

    Orang yang mengirim pesan itu segera sadar sudah salah kirim ke grup dan ingin menariknya kembali. Namun, sudah terlambat.[ Aku nggak salah lihat, 'kan? Pak Raditya dan Aliyah? ][ Tunggu, bukannya Pak Raditya selama ini paling nggak suka sama Aliyah??? ][ Sejak kapan mereka menikah, hebat banget rahasiainnya! ][ Jadi Aliyah itu sebenarnya nyonya besar perusahaan, kalau begitu Zahra itu apa? ][ Pantes saja Aliyah meledak malam ini, sampai menyiram Pak Raditya dengan anggur di depan umum .... ]Berita ini seperti ranjau darat, bahkan karyawan yang biasanya hanya mengintai pun ikut bermunculan. Pesan di grup terus bergulir dengan liar.Raditya sendiri seperti ditekan tombol jeda hingga terpaku di tempat. Kepalanya berdengung dan pikirannya kosong sama sekali.Keesokan harinya, gosip itu menyebar luas di seluruh perusahaan. Zahra memaksakan diri untuk masuk kerja. Sepanjang jalan, yang dia rasakan hanyalah tatapan menunjuk-nunjuk dan pandangan meremehkan yang sama sekali tidak ditutup

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 6

    Raditya kembali mencari Zahra. Begitu wanita itu turun dan melihatnya, wajahnya langsung dipenuhi kegembiraan dan sedikit rasa puas yang terlihat samar."Raditya, kamu datang untuk temani aku?"Raditya langsung berterus terang dengan nada datar, "Zahra, kamu sudah lihat obrolan grup perusahaan?"Zahra tertegun sejenak. "Belum, memangnya kenapa?"Tatapan Raditya yang tajam langsung mengarah padanya dengan penuh penilaian. "Bukan kamu yang sebarin berita tentang kita itu?"Di mata Zahra seketika muncul keterkejutan dan rasa terluka. Dia mundur setengah langkah, matanya langsung memerah. "Raditya, kenapa kamu berpikir seperti itu tentangku?""Aku baru saja kembali ke negara ini, aku hampir nggak punya teman di sini. Hari ini bahkan baru hari pertamaku masuk ke perusahaanmu. Mana mungkin aku bersekongkol dengan rekan kerja untuk menyebarkan rumor seperti itu? Apa untungnya bagiku?"Alis Raditya bergerak sedikit, dia menangkap celah dalam kata-katanya. "Zahra, bukannya kamu bilang tadi belu

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 5

    Dengan tubuh berlumur bekas anggur dan aura muram, Raditya mengantar Zahra kembali ke apartemennya. Zahra menenangkannya dengan lembut, "Raditya, jangan marah. Aliyah mungkin cuma salah paham. Kupikir dia juga nggak melakukannya dengan sengaja.""Aku nggak apa-apa, hanya saja aku malah merepotkanmu.""Kalian berdua jangan sampai bertengkar karena aku, ya."Pandangan Raditya tertuju ke luar jendela sambil menatap lampu neon yang melesat mundur dengan cepat. Dia menjawab singkat tanpa fokus, "Iya."Zahra terdiam sejenak, lalu dengan ragu mengulurkan tangan, ingin merapikan dasi Raditya yang sedikit berantakan. Nada suaranya makin lembut. "Melihatmu seperti ini, aku jadi merasa kasihan."Namun, Raditya refleks memiringkan badan untuk menghindar. Tangan Zahra terhenti di udara, ekspresinya tampak terluka. "Raditya, aku nggak punya maksud lain.""Aku tahu." Raditya berhenti sejenak, lalu melonggarkan dasinya sendiri dengan kesal. "Biar aku saja."Di dalam mobil, suasana terasa hening dan ca

  • Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu   Bab 4

    Malam ini ada perayaan ulang tahun perusahaan, sehingga diadakan sebuah jamuan besar. Sebelum resmi mengundurkan diri, aku tetap datang. Setidaknya bonus akhir tahun yang seharusnya kudapat tetap harus kuambil.Di hadapan semua orang, Raditya mengumumkan pemberitahuan masuk kerja Zahra di atas panggung. Dia bahkan secara khusus berpesan agar semua orang banyak membantu rekan baru.Ada yang berbisik pelan, "Ya ampun, Raditya yang terkenal dingin itu benaran ngucapin hal begini?"Aku mendengarnya dari bawah panggung dan ikut bertepuk tangan dengan sikap yang pantas. Pandangan Raditya sekilas melirik ke arahku, seolah sedang mengamati reaksiku.Detik berikutnya, Zahra yang berdiri di sampingnya tampak tidak stabil dengan sepatu hak tinggi. Raditya langsung menoleh dan menopangnya.Jamuan berlangsung setengah jalan. Aku pergi ke teras untuk menghirup udara segar, lalu mendengar suara Raditya dan temannya."Kenapa? Kamu lagi perang dingin lagi sama Aliyah?"Raditya menggoyangkan gelas anggu

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status