Short
Cinta yang Kutunggu Tak Berakhir Di Pernikahan

Cinta yang Kutunggu Tak Berakhir Di Pernikahan

작가:  Tiana참여
언어: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9챕터
1.8K조회수
읽기
보관함에 추가

공유:  

보고서
개요
장르
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.

Di era tahun 80-an dan tepat seminggu sebelum pernikahan, tunanganku diam-diam lolos seleksi agen rahasia tanpa memberitahuku. Dia buru-buru masuk ke tim dan hanya meninggalkan satu kalimat yang menyuruhku untuk menunggunya. Aku menuruti ucapannya dan menunggunya dengan sepenuh hati. Namun selama tiga tahun ini, semua jatah kunjungan keluarga bulanan tunanganku itu selalu diberikan pada orang lain. Bahkan saat ibuku sakit keras dan kami kekurangan uang sekalipun. Padahal, aku sudah menangis hingga hatiku terasa dicabik-cabik, hanya untuk bertemu atau meneleponnya sekali saja. Setelah menyampaikan pesanku, satpam hanya bisa memberitahuku dengan tak berdaya, "Hari kunjungan Pak Gunawan sudah dipakai, tunggu bulan depan saja." Aku pun memasang wajah murung dan bersiap untuk pergi. Namun pada detik berikutnya, sahabat masa kecil tunanganku itu malah masuk dengan semudah itu. "Pak Gunawan sudah berpesan khusus, kamu boleh langsung cari dia di kantornya. Dia baik sekali sama kamu. Meskipun kamu sudah patah hati selama setahun, dia masih khawatir suasana hatimu buruk sampai sengaja kosongkan jatah hari kunjungannya untukmu," kata satpam itu pada sahabat masa kecil tunanganku itu. Melihat aku masih ingin menerobos masuk lagi, satpam buru-buru menghalangiku. "Sudahlah, jangan berharap lagi. Pak Gunawan mana punya uang, semua uangnya sudah kasih ke sahabat masa kecilnya itu." Malam itu, ibuku bahkan tidak sempat meminum obat pereda nyeri. Semua ini salahku ... aku memang tidak berguna. Aku benar-benar tidak ingin menunggu tunanganku itu lagi. Saat dia akhirnya selesai belajar dan pulang ke kampung halaman, aku juga sudah menjadi istri orang lain.

더 보기

1화

Bab 1

Di era tahun 80-an dan tepat seminggu sebelum pernikahan, tunanganku diam-diam lolos seleksi agen rahasia tanpa memberitahuku. Dia buru-buru masuk ke tim dan hanya meninggalkan satu kalimat yang menyuruhku untuk menunggunya. Aku menuruti ucapannya dan menunggunya dengan sepenuh hati.

Namun selama tiga tahun ini, semua jatah kunjungan keluarga bulanan tunanganku itu selalu diberikan pada orang lain. Bahkan saat ibuku sakit keras dan kami kekurangan uang sekalipun. Padahal, aku sudah menangis hingga hatiku terasa dicabik-cabik, hanya untuk bertemu atau meneleponnya sekali saja.

Setelah menyampaikan pesanku, satpam hanya bisa memberitahuku dengan tak berdaya, "Hari kunjungan Pak Gunawan sudah dipakai, tunggu bulan depan saja."

Aku pun memasang wajah murung dan bersiap untuk pergi.

Namun pada detik berikutnya, sahabat masa kecil tunanganku itu malah masuk dengan semudah itu.

"Pak Gunawan sudah berpesan khusus, kamu boleh langsung cari dia di kantornya. Dia baik sekali sama kamu. Meskipun kamu sudah patah hati selama setahun, dia masih khawatir suasana hatimu buruk sampai sengaja kosongkan jatah hari kunjungannya untukmu," kata satpam itu pada sahabat masa kecil tunanganku itu.

Melihat aku masih ingin menerobos masuk lagi, satpam buru-buru menghalangiku. "Sudahlah, jangan berharap lagi. Pak Gunawan mana punya uang, semua uangnya sudah kasih ke sahabat masa kecilnya itu."

Malam itu, ibuku bahkan tidak sempat meminum obat pereda nyeri.

Semua ini salahku ... aku memang tidak berguna. Aku benar-benar tidak ingin menunggu tunanganku itu lagi. Saat dia akhirnya selesai belajar dan pulang ke kampung halaman, aku juga sudah menjadi istri orang lain.

....

Untuk menemui dokter spesialis kandungan yang sudah tua, aku sengaja pulang setelah sekian lamanya. Tak disangka, aku malah bertemu dengan Gunawan yang baru saja keluar dari unit kerja. Karena sudah terlalu lama berlalu, hari yang dulu selalu kuingat jelas itu pun sudah lama terlupakan. Aku hanya melihat Gunawan dan sahabat masa kecilnya itu dikelilingi orang-orang.

Pimpinan menepuk bahu Gunawan dengan senang hati dan berkata, "Nanti traktir kami minum di pesta pernikahanmu, ya. Kalian sudah kerja keras selama tiga tahun penelitian, cuma bisa ketemu sekali waktu hari kunjungan keluarga."

Ekspresi Gunawan sempat terlihat canggung sejenak dan matanya terus mencari sosokku.

Mina refleks bersandar ke pelukan Gunawan dan berkata, "Kak Gunawan, sudah lama nggak ketemu Kak Karina. Bahkan di hari sepenting ini pun, dia nggak datang cari kamu. Jangan-jangan dia sudah menikah."

Ekspresi Gunawan langsung menjadi muram dan segera membantah, "Nggak mungkin, jangan ngomong sembarangan."

Sementara itu, aku baru saja mendapat resep dan menunggu giliran mengambil obat sebelum pergi. Saat menoleh, tatapanku dan Gunawan langsung bertemu. Dia segera melangkah ke arahku dengan senyuman yang tersungging di wajahnya.

"Karina, aku tahu kamu nggak mungkin melupakan hari sepenting ini. Pekerjaan ini liburnya sedikit, aku bahkan nggak bisa cuti. Kamu pasti sudah menderita selama ini, ya."

Saat tatapannya melirik ke papan bertuliskan "Departemen Ginekologi" di belakangku, rasa bersalah terlintas di mata Gunawan. "Masih sakit waktu haid ya?"

Dulu, aku selalu merasa senang setiap kali mendengar perhatian Gunawan. Aku bahkan akan membantunya mencari alasan dengan bodohnya. Aku benar-benar percaya dia tidak bisa cuti dan susah payah menunggunya selama tiga tahun. Namun sekarang, aku sudah merelakan semuanya.

Aku menggeleng dan hendak menjelaskan bahwa aku datang untuk mengambil obat promil. Namun, Gunawan sudah menabrakku terlebih dulu dan menarik Mina untuk duduk. Kemudian, dia meminta dokter tua itu untuk memeriksa Mina.

Ekspresi Mina terlihat malu. "Aku cuma flu ringan, Kak Gunawan nggak perlu repot-repot. Lebih baik Kak Karina yang periksa dulu, nyeri haid itu sangat menyiksa."

Namun, Gunawan bersikeras untuk memeriksa Mina terlebih dulu. "Dia sudah terbiasa, tunggu sebentar juga nggak apa-apa."

Mendengar kalimat itu, aku sempat tertegun sejenak. Dulu, aku pernah sakit sampai hampir pingsan dan wajahku pucat pasi. Saat itu, aku memintanya mampir ke apotek untuk membelikanku obat. Namun sampai malam pun, obat itu tetap tidak kunjung terlihat.

Aku sempat mengambek cukup lama, tetapi Gunawan malah hanya bercanda dengan santai, "Kalau sudah punya anak nanti juga bakal sembuh sendiri, minum obat nggak bagus buat tubuh."

Padahal, kesibukan yang dimaksud Gunawan hari itu hanya menemani Mina berjalan-jalan.

Saat mendengar para ibu-ibu memuji sahabat masa kecilnya itu, sontak aku merasa diriku ini bagaikan sebuah lelucon. Hubungan kami pun akhirnya putus sambung.

Setelah aku bertengkar dan membuat keributan entah keberapa kalinya, Gunawan akhirnya melamarku dan putus hubungan dengan Mina. Aku tersenyum bahagia dan mengira hubungan ini masih layak untuk dipertahankan.

Namun, setelah Gunawan pergi menjalani pekerjaan agen rahasia selama tiga tahun, dia bahkan tidak rela memberikan sehari pun kunjungan keluarganya untukku. Semua hari kunjungannya diberikan pada Mina yang suasana hatinya sedang buruk karena patah hati. Sementara itu, aku dianggap tidak penting dan tidak memiliki perasaan ....

Pikiranku tersadar kembali saat dokter tua itu memanggilku dan menyerahkan obat padaku. "Minum sesuai resep ini, kamu pasti akan segera hamil. Kalian masih muda, pelan-pelan saja. Nggak apa-apa."

펼치기
다음 화 보기
다운로드

최신 챕터

더보기

독자들에게

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

댓글 없음
9 챕터
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status