LOGINDi era tahun 80-an dan tepat seminggu sebelum pernikahan, tunanganku diam-diam lolos seleksi agen rahasia tanpa memberitahuku. Dia buru-buru masuk ke tim dan hanya meninggalkan satu kalimat yang menyuruhku untuk menunggunya. Aku menuruti ucapannya dan menunggunya dengan sepenuh hati. Namun selama tiga tahun ini, semua jatah kunjungan keluarga bulanan tunanganku itu selalu diberikan pada orang lain. Bahkan saat ibuku sakit keras dan kami kekurangan uang sekalipun. Padahal, aku sudah menangis hingga hatiku terasa dicabik-cabik, hanya untuk bertemu atau meneleponnya sekali saja. Setelah menyampaikan pesanku, satpam hanya bisa memberitahuku dengan tak berdaya, "Hari kunjungan Pak Gunawan sudah dipakai, tunggu bulan depan saja." Aku pun memasang wajah murung dan bersiap untuk pergi. Namun pada detik berikutnya, sahabat masa kecil tunanganku itu malah masuk dengan semudah itu. "Pak Gunawan sudah berpesan khusus, kamu boleh langsung cari dia di kantornya. Dia baik sekali sama kamu. Meskipun kamu sudah patah hati selama setahun, dia masih khawatir suasana hatimu buruk sampai sengaja kosongkan jatah hari kunjungannya untukmu," kata satpam itu pada sahabat masa kecil tunanganku itu. Melihat aku masih ingin menerobos masuk lagi, satpam buru-buru menghalangiku. "Sudahlah, jangan berharap lagi. Pak Gunawan mana punya uang, semua uangnya sudah kasih ke sahabat masa kecilnya itu." Malam itu, ibuku bahkan tidak sempat meminum obat pereda nyeri. Semua ini salahku ... aku memang tidak berguna. Aku benar-benar tidak ingin menunggu tunanganku itu lagi. Saat dia akhirnya selesai belajar dan pulang ke kampung halaman, aku juga sudah menjadi istri orang lain.
View More“Berhent— Ahh …”
Aruna melenguh pelan, mencoba menarik kembali kewarasannya dari sentuhan memabukkan pria asing itu. Akal sehat Aruna seperti disedot habis oleh gelas-gelas alkohol yang ia pesan tadi.
Di malam ulang tahunnya ini, ia seharusnya menghabiskan waktu dengan kekasihnya. Namun, bukan momen romantis yang ia dapatkan, melainkan pengkhianatan besar.
Tiga tahun hubungan berakhir sia-sia saat ia memergoki kekasihnya bercumbu dengan wanita lain di apartemen mereka. Dengan perasaan hancur, Aruna memilih pelarian ke sebuah kelab malam.
Kini, ia justru berakhir di sebuah kamar hotel dengan pria asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.
“Kamu yakin ingin aku berhenti?” bisik pria itu tepat di telinga Aruna. Tangannya sibuk menjelajah tiap titik nikmat wanita itu dengan gerakan yang sangat ahli.
Refleks Aruna menggelengkan kepalanya. Tubuhnya tidak bisa berbohong dengan kenikmatan yang sedang dirasakan.
“Tolong … shhh,” desah Aruna sambil memejamkan matanya rapat.
“Katakan yang jelas, Baby. Kamu ingin aku berhenti atau lanjut?” tanya pria itu lagi dengan senyum kemenangan.
Tangannya kini lebih berani meremas dada Aruna, memelintir putingnya hingga Aruna memekik rendah. Sensasi panas menjalar ke seluruh sarafnya, membuatnya kehilangan kendali.
“Aku … shh … lakukan. Tolong lakukan,” pinta Aruna akhirnya dengan suara parau.
“As you wish, Baby.”
Tanpa banyak bicara lagi, pria itu melepas seluruh pakaiannya yang tersisa. Ia memamerkan tubuh atletisnya yang kokoh di bawah cahaya temaram lampu kamar.
Ia langsung membungkam bibir ranum Aruna dengan ciuman yang menuntut dan rakus. Lidahnya bermain dengan liar, seolah ingin menandai wilayah kekuasaannya tanpa ampun.
Pria itu mengangkat kedua kaki Aruna dan melingkarkannya ke pinggangnya yang kuat. Ia menghujam Aruna dengan satu sentakan dalam yang membuat Aruna terkesiap.
“Ahh! Gavin… maksudku… ahh!” Aruna bahkan tidak tahu siapa yang ia panggil, ia hanya bisa merasakan setiap inci tubuh pria itu menyatu dengannya.
Pria itu bergerak dengan tempo yang cepat dan brutal. Ia seolah ingin menghancurkan Aruna sekaligus memberikan surga dunia yang belum pernah wanita itu rasakan sebelumnya.
Aruna sepenuhnya larut dalam tiap hentakan yang diberikan. Kuku-kukunya mencengkeram bahu kokoh pria itu, meninggalkan bekas merah yang nyata.
Dosa ini terasa begitu nikmat, membuat Aruna melupakan sejenak rasa sakit hatinya. Ia menyerahkan dirinya sepenuhnya pada pria asing yang aroma kayu cendananya kini memenuhi indra penciumannya.
Ketika pagi datang, Aruna terbangun karena cahaya yang terasa menusuk matanya dari celah gorden. Sekujur tubuhnya terasa perih dan pegal luar biasa.
“Astaga …” gumam Aruna lirih saat melihat tanda-tanda merah di sekujur tubuhnya.
Ia menoleh ke samping, namun tempat tidur itu sudah kosong. Pria semalam sudah pergi, menyisakan wangi parfum kayu cendana yang masih menempel di bantal.
Aruna bangkit dengan tertatih dan segera memakai kembali pakaiannya. Ia tidak menyesal, anggap saja ini kado ulang tahun paling liar yang pernah ia dapatkan.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ibunya telah beberapa kali menelepon.
“Ya, ada apa, Bu?” tanya Aruna begitu telepon tersambung.
“Aruna, kamu di mana? Hari ini kamu harus datang ke rumah, kita akan kedatangan tamu penting!” ujar ibunya dari seberang dengan nada antusias.
Aruna hanya bisa mengiyakan dengan suara lemas. Ia segera memacu kendaraannya pulang, mencoba menghilangkan bayangan pria semalam dari benaknya.
Sesampainya di rumah, suasana sudah sangat sibuk. Ibunya tampak mondar-mandir memastikan segalanya sempurna.
"Aruna, cepat ganti baju! Keluarga Dirgantara sudah hampir sampai!" perintah Ibunya tanpa menoleh sedikit pun.
Aruna hanya mengangguk pasrah. Ia segera mengenakan gaun paling sopan dengan kerah tinggi untuk menutupi jejak dosa semalam yang masih terlihat jelas.
Saat ia turun ke ruang tamu, pintu depan terbuka. Sosok pria jangkung dengan setelan jas hitam mahal melangkah masuk dengan sangat berwibawa.
Aruna terpaku di tempatnya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat menghirup aroma yang sangat familiar. Aroma kayu cendana.
Pria itu adalah Gavin Dirgantara. Calon tunangan Maya, adiknya sendiri.
Gavin menatap Aruna dengan kilat mata yang tajam dan misterius. Ia bersikap seolah mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, namun tatapannya seolah sedang menelanjangi Aruna di depan semua orang.
"Senang bertemu denganmu, Aruna," ucap Gavin dengan suara bariton yang berat dan tenang.
Aruna hanya bisa menjabat tangan Gavin dengan jemari yang gemetar hebat. Ia tidak menyangka pria yang menghabiskan malam panas dengannya adalah orang yang akan menjadi adik iparnya.
Selesai makan malam, Aruna menyelinap ke balkon belakang untuk mencari udara segar. Ia merasa sesak terus berada di ruangan yang sama dengan Gavin.
Namun, baru saja ia menarik napas, sebuah tangan besar menariknya dengan kasar ke sudut balkon yang paling gelap.
Punggung Aruna menabrak dinding dengan keras. Gavin sudah mengurungnya dengan kedua lengan kekarnya, tidak memberikan celah sedikit pun untuk lari.
"Lepaskan! Jangan sampai Maya melihat kita!" desis Aruna dengan suara gemetar karena takut sekaligus terangsang oleh kehadiran pria itu.
Gavin justru tersenyum miring, sebuah senyuman predator yang membuat jantung Aruna mencelos.
"Kenapa? Takut rahasia kecil kita terbongkar?" bisik Gavin rendah tepat di telinga Aruna.
Gavin meraba perut Aruna dengan telapak tangannya yang hangat, lalu perlahan merayap naik ke atas, ke arah dadanya. Aruna bergidik ngeri, namun tubuhnya justru bereaksi menyambut sentuhan itu.
"Kumohon, Gavin... jangan hancurkan pernikahan Maya," rintih Aruna dengan tatapan memohon.
Gavin justru tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat berbahaya. Ia mencengkeram dagu Aruna agar menatap langsung ke matanya yang gelap dan penuh nafsu.
"Aku tidak akan membongkarnya, Aruna. Tapi sebagai gantinya, kau harus terus melayaniku setiap kali aku menginginkannya," perintah Gavin tak terbantahkan.
Gavin merapat, membiarkan Aruna merasakan ketegangan tubuhnya di balik jas mahal itu. Ia menggigit daun telinga Aruna pelan, membuat wanita itu nyaris melenguh di rumah orang tuanya sendiri.
"Kau menyukainya semalam, bukan? Cara aku menguasaimu di atas ranjang hotel itu?" tanya Gavin provokatif.
Aruna memejamkan mata, menahan diri agar tidak menyerah pada gairah yang kembali tersulut.
"Ingat, Aruna. Mulai sekarang, kau adalah milikku secara rahasia. Jangan coba-coba lari atau menolakku," desis Gavin.
Gavin mendekatkan bibirnya ke telinga Aruna, memberikan ancaman terakhir yang membuat Aruna merasa dunianya runtuh seketika.
"Atau haruskah aku memberitahu Maya sekarang juga, bahwa kakaknya sudah mencicipi calon suaminya terlebih dahulu?"
Di ruang sidang, hakim mengajukan pertanyaan, "Jadi, maksudmu kamu sudah punya pasangan, tapi masih terlibat dengan wanita lain di belakang?"Gunawan membantah, "Aku hanya menganggap Mina sebagai adik. Kami nggak punya hubungan lain, apalagi hubungan nggak jelas. Jangan bilang begitu. Gimana perasaan Karina kalau dengar nanti?"Dia masih berpikir bisa memulai kembali.Orang-orang yang hadir langsung marah."Memangnya itu ucapan manusia?""Kamu sama sekali nggak pantas untuk Kak Karina."Gunawan tidak membantah, hanya terus menegaskan, "Kembalikan Karina padaku."Hakim merasa dia sangat keras kepala, lalu langsung menjatuhkan hukuman dua tahun penjara dan semua penghargaan dicabut. Pekerjaannya yang terhormat pun langsung hancur.Namun, Gunawan tidak peduli dan terus mengejarku. "Karina, aku sudah menanggung konsekuensinya. Kamu mau kembali padaku sekali saja?"Aku berhenti sejenak, lalu menggenggam tangan Wirya dan melangkah pergi tanpa menoleh sedikit pun.Gunawan masih ingin mengejar
Gunawan masih ingin mengejar, tetapi langsung dijatuhkan oleh satu pukulan dari Wirya. "Kalau kamu masih berani mengganggu istriku, aku pasti akan mengirimmu ke penjara!"Meski sudah diancam, Gunawan tetap datang setiap hari. Dia semakin merasa hampa.Awalnya dia sudah merencanakan pernikahan, tak disangka semuanya menjadi seperti ini. Kamar yang dulu sudah dihias kini hanya tersisa dirinya seorang.Di tengah malam yang sunyi, emosinya semakin meluap. Kenangan-kenangan manis di masa lalu bermunculan satu per satu.Saat itu, Mina belum kembali. Hanya ada mereka. Dia dan Karina pun sudah merencanakan masa depan.Karina bekerja di pabrik sebagai pegawai kecil, sedangkan dia membuka toko kecil dan berkembang perlahan. Kemudian, mereka akan punya satu atau dua anak. Keinginan yang begitu sederhana itu sebenarnya hanya tinggal selangkah lagi. Namun, justru dia sendiri yang melepaskannya.Saat itu, Mina mencarinya dan menangis. "Kami sudah putus. Atas dasar apa dia memperlakukanku seperti itu
Di bawah perawatan Wirya, aku hidup dengan sangat baik. Kondisiku sebagian besar sudah pulih.Wirya agak kesal. "Tubuhmu belum benar-benar pulih, kenapa malah konsumsi obat untuk hamil? Aku takut kamu nggak kuat."Mencintai seorang pria akan membuat seorang wanita rela melahirkan anak untuknya. Sekarang aku seperti itu. Aku sudah siap menjadi seorang ibu.Aku dan Wirya saling mengenal sejak pertemuan singkat di masa kecil. Saat itu, aku pertama kali pindah ke kota. Wirya menjadi pemanduku, membantuku beradaptasi dengan kehidupan kota.Aku tidak lagi canggung sebagai pendatang dan hidupku semakin hari semakin bahagia. Namun, Wirya harus pindah rumah. Keluarganya akan pergi ke tempat yang lebih besar. Dia bahkan tidak punya waktu untuk berpamitan.Sejak itu, aku kehilangan teman bermain lagi dan hanya berkeliaran tanpa tujuan di desa. Sampai masuk sekolah malam, aku bertemu Gunawan. Perlahan-lahan, aku melupakan Wirya.Kupikir seumur hidup kami tidak akan bertemu lagi. Tak kusangka, saat
Wirya menyelidiki dengan jelas bahwa pekerjaan Mina diperoleh dengan menggantikan orang lain, lalu melaporkannya ke pihak atas.Bukan hanya kehilangan pekerjaan, dia juga harus menanggung tanggung jawab ganti rugi. Kali ini, Mina akhirnya panik.Dia buru-buru berjongkok, memegang Gunawan. "Gunawan, gimana ini? Kamu pasti punya cara, 'kan? Relasimu luas sekali. Aku nggak bisa kehilangan pekerjaan!"Gunawan hanya terpaku, sama sekali tidak bisa keluar dari kenyataan bahwa Karina sudah menikah lagi. Lantas, bagaimana dengan dirinya? Dia telah ditinggalkan. Dadanya terasa sangat sakit.Mina mengguncangnya dengan keras. "Gunawan, cepat pikirkan cara!"Gunawan yang dulu selalu menuruti kata-katanya, kini hanya melirik dengan dingin. "Bagus kalau kamu kehilangan pekerjaan. Itu memang milik Karina. Kembalikan pekerjaan itu kepada Karina."Mina hampir tidak percaya. Dia marah sambil memukul Gunawan. "Kamu sudah berjanji padaku! Pekerjaan itu adalah hadiah ulang tahunku, gimana bisa kamu menarik
Saat melihat darah di sela kakiku, aku akhirnya benar-benar panik. "Gunawan, antar aku ke rumah sakit."Setelah meminum banyak obat yang pahit dan menjalani perawatan panjang, aku akhirnya berhasil mengandung anak ini. Aku bahkan belum sempat menyadari kehadirannya dan merasa bahagia. Aku tidak ingi
Setelah hari itu, aku beristirahat di rumah untuk memulihkan lukaku dan tidak bertemu dengan Gunawan lagi. Sampai di hari ziarah makam ibuku. Suamiku ada urusan, sehingga aku hanya pergi ke sana sendirian.Aku ingin menghindari Gunawan, tetapi dia langsung menahanku. "Aku nggak nyangka Tante sudah m
Gunawan tertegun sejenak, lalu wajahnya merona dan berkata dengan canggung, "Karina, kenapa kamu secepat itu sampai sudah mikir mau punya anak. Aku baru saja mau bilang pernikahan kita ditunda setahun. Mina lagi ada masalah, aku harus temani dia selama setahun."Mina buru-buru menjelaskan, "Kak Kari
Di era tahun 80-an dan tepat seminggu sebelum pernikahan, tunanganku diam-diam lolos seleksi agen rahasia tanpa memberitahuku. Dia buru-buru masuk ke tim dan hanya meninggalkan satu kalimat yang menyuruhku untuk menunggunya. Aku menuruti ucapannya dan menunggunya dengan sepenuh hati.Namun selama ti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.