LOGINSetelah aku menolak mendonorkan rahim untuk kakakku, sahabat masa kecilku membenciku setengah mati. Dia menjebak dan mengirimku ke ranjang sang Tuan Muda penguasa ibu kota. Kabarnya, pria itu sangat membenci wanita yang mencoba mendekatinya. Semua orang menunggu kehancuranku, namun dia justru sangat memanjakanku. Tiga tahun berlalu. Saat aku mengira diriku hamil dan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan diri, tanpa sengaja aku mendengar percakapannya dengan dokter, "Andrew, tiga tahun lalu kamu menyuruhku memindahkan rahim Evelin Dumma ke kakaknya secara diam-diam, dan sekarang kamu menyuruhku berbohong bahwa dia mandul sejak lahir. Bagaimana kamu bisa tega bersikap sekejam itu pada wanita yang mencintaimu?" "Mau bagaimana lagi, Everin memenangkan hati keluarga suaminya. Dia nggak boleh menderita kalau nggak bisa punya anak. Hanya rahim Evelin yang cocok dengannya." Suara pria yang familier itu terdengar begitu dingin hingga terasa asing. Ternyata, cinta dan rasa aman yang selama ini kuyakini hanyalah sebuah penipuan belaka. Jika memang begitu, aku akan pergi saja.
View MoreTak lama setelah pria itu keluar, suasana di luar tiba-tiba menjadi kacau, seolah terjadi peristiwa yang sangat genting. Beberapa perawat masuk dengan terburu-buru dan tanpa penjelasan langsung membantuku naik ke kursi roda."Kalian mau membawaku ke mana?""Pak Andrew sudah tidak tertolong. Dia mau bertemu Anda untuk terakhir kalinya. Nyonya, kumohon temuilah dia.""Mana mungkin?" Instingku mengatakan mereka berbohong. Seseorang yang tadi baru saja berbicara denganku, mana mungkin tiba-tiba akan mati.Perawat menjelaskan dengan sangat cepat, "Everin baru saja meninggal. Ibunya seperti sudah gila, dia membawa pisau buah dan menikam Pak Andrew berkali-kali."Di ruang gawat darurat, Andrew terbaring bersimbah darah. Darah terus mengalir dari perut bagian bawahnya, seolah tidak bisa dihentikan. Begitu aku masuk, dia langsung menatapku dan menjulurkan tangannya yang berlumuran darah.Aku tertegun sejenak, namun akhirnya tetap menyambut tangannya. Darah terus menyembur dari mulutnya saat
Terperangkap di sisi Andrew, aku merasa hidupku sudah tidak ada artinya lagi. Aku benar-benar tidak ingin bangun. Pingsan menjadi cara yang paling efektif bagiku untuk melawan kurungan pria itu.Kesadaranku seolah melayang di udara, setiap hari menyaksikan betapa dia tidak berdaya menghadapi ragaku. Wajahnya kian hari kian kuyu dan tegang. Dia hanya bisa meluapkan amarah pada dokter, berkali-kali bertanya kapan transplantasi bisa dilakukan padaku."Kita harus menunggu indikator vital pasien stabil. Melakukan operasi saat ini risikonya terlalu besar, pasien bisa saja tidak turun hidup-hidup dari meja operasi."Andrew kembali meledak marah. Dia melarang siapa pun menyebut kata "mati" atau kata-kata sial lainnya. Seolah-olah jika mereka tidak menyebutnya, maka aku tidak akan mati.Everin yang mendengarnya, justru merasa senang. "Kalau begitu biarkan dia dirawat beberapa hari lagi. Kalau kondisinya buruk, nanti malah berimbas padaku. Andrew, kamu jangan khawatir, aku pasti akan turun da
Di luar layar, aku menikmati tontonan konyol itu dengan puas. Kilian meneleponku. Suaranya terdengar agak lemah. "Ada hal lain yang kamu butuhkan? Anggap saja ini termasuk dalam paket perceraian, nggak ada biaya tambahan."Aku berpikir sejenak tentang apa yang belum selesai. "Hmm, setelah aku mati, tolong taburkan abu jenazahku ke laut. Jangan biarkan Andrew mengurungku. Aku nggak mau masuk ke pemakaman Keluarga Giovani."Sisi sana terdiam beberapa detik, lalu menjawab pelan, "Aku nggak bisa menjamin hal itu, karena ada kemungkinan aku akan mati sebelum dirimu.""Kenapa?" Orang ini aneh sekali, bagaimana mungkin dia mati mendahuluiku?"Penyakit jantung. Aku hidup hari demi hari saja." Nada bicara pria itu terdengar santai, seperti orang yang sudah pasrah pada nasib.Aku menghela napas. "Kalau begitu, bertahanlah beberapa hari lagi. Kalau suatu hari aku sudah nggak kuat, aku akan mendonorkan jantungku untukmu."Saat ini, hanya jantungku yang masih berfungsi dengan baik. Anggap saja ini
Andrew seolah tidak peduli dengan kata-kata kasarku. Dia menggenggam tanganku, mengeluarkan sebuah cincin dari saku, lalu memasangkannya erat-erat ke jari manisku. Dia berkata dengan lembut, "Bodoh, kalau kamu butuh uang, kenapa nggak minta padaku? Jangan pernah menjual barang sepenting ini lagi, ya?"Aku menahan amarah dan berusaha duduk dengan susah payah. Tanpa memedulikan tangan satunya yang masih terpasang infus, aku mencabut cincin yang dipaksakannya dan melemparnya sekuat tenaga."Andrew, aku mau cerai! Aku mau cerai, apa kamu nggak mengerti?"Darah mulai mengalir balik ke selang infus di punggung tanganku. Sebenarnya, aku sudah mati rasa terhadap rasa sakit seperti ini. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan tubuh yang penuh rasa sakit. Hingga akhirnya, pria inilah yang memberikan pukulan mematikan.Aku benar-benar merasa sangat sakit, bahkan mulai menantikan kematian. Aku mencabut paksa jarum infus dari tanganku, menatap dingin pria di depanku, dan bertanya datar, "Andrew,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.