Short
Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu

Kenangan Cinta Pertama yang Membelenggu

By:  AnjaniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Chapters
6views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Pada hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku menemukan sebuah ponsel lama di dalam brankas Raditya. Kata sandinya adalah tanggal lahir cinta pertamanya. Di dalamnya tersimpan semua kenangan manis masa lalu mereka. Sementara di album fotonya yang sekarang, bahkan tidak ada fotoku satu pun. "Aliyah, memangnya menarik mengintip privasi orang lain?" Aku menoleh menatap pria yang berdiri di luar pintu. Aku tidak bertengkar dan tidak membuat keributan. Aku hanya berkata dengan tenang, "Kita cerai saja." Raditya memformat ponsel itu tepat di hadapanku, ekspresinya dingin hingga tak terbaca emosi apa pun. "Sekarang sudah cukup?" tanyanya padaku. "Masih mau cerai?" Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Ya."

View More

Chapter 1

Bab 1

Pada hari ulang tahun pernikahan kami yang kelima, aku menemukan sebuah ponsel lama di dalam brankas Raditya. Kata sandinya adalah tanggal lahir cinta pertamanya. Di dalamnya tersimpan semua kenangan manis masa lalu mereka. Sementara di album fotonya yang sekarang, bahkan tidak ada fotoku satu pun.

"Aliyah, memangnya menarik mengintip privasi orang lain?"

Aku menoleh menatap pria yang berdiri di luar pintu. Aku tidak bertengkar dan tidak membuat keributan. Aku hanya berkata dengan tenang, "Kita cerai saja."

Raditya memformat ponsel itu tepat di hadapanku, ekspresinya dingin hingga tak terbaca emosi apa pun. "Sekarang sudah cukup?" tanyanya padaku. "Masih mau cerai?"

Aku mengangguk dengan sungguh-sungguh. "Ya."

....

"Cukup sudah, jangan bikin onar."

Raditya mengerutkan kening dengan tidak sabar. "Dengar kata-kata aku. Setelah proyek akhir tahun selesai, aku akan meluangkan waktu untuk menemanimu ke Hokkaido melihat salju, ya?"

Melihat aku lama tidak bereaksi, Raditya tersenyum tipis dengan sikap santai yang sudah menjadi kebiasaannya. Ujung jarinya mengetuk ringan dahiku. "Kali ini aku nggak bohongi kamu, sungguh."

Aku sedikit ingin tertawa. Kali ini tidak membohongiku. Jadi ternyata dia juga tahu, selama ini dia sudah sering membohongiku.

Janji pergi ke Hokkaido melihat salju sudah lama dia ucapkan, tapi selalu saja ditunda setahun demi setahun. Saat janji kencan menonton film, aku selalu menunggu di depan bioskop sendirian sampai film dimulai. Dia bilang akan menjemputku, tapi setelah aku kehujanan sampai basah kuyup, mobilnya pun tak kunjung terlihat. Hal-hal yang dijanjikan Raditya padaku, selalu saja diingkarinya.

Namun sekarang, saat mengucapkan kalimat itu, dia malah menganggapnya sebagai kemurahan hati dan hadiah.

"Nggak perlu." Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengulang dengan tegas, "Raditya, aku mau cerai."

Kali ini, sorot mata pria itu menjadi dingin, kesabarannya benar-benar habis. "Aliyah, kamu benar-benar nggak masuk akal. Mau ke Hokkaido atau nggak, terserah kamu. Aku sudah kasih kamu kesempatan. Nanti jangan datang sambil menangis, bilang aku nggak menepati janji."

Setelah berkata demikian, dia mengambil mantel di sofa dan langsung pergi. Bahkan tidak menyentuh sedikit pun makan malam di meja yang telah kusiapkan dengan teliti sesuai seleranya.

Aku tetap diam. Untuk pertama kalinya, aku tidak menahannya seperti dulu, bahkan tidak tinggal lebih lama semenit pun.

Saat Raditya sampai di pintu, langkahnya sempat terhenti. Dia menoleh dan melirikku. Aku sudah duduk sendiri dan mengambil sendok, lalu mulai makan dengan tenang.

Pintu dibanting olehnya seolah meluapkan amarah yang terpendam.

Hatiku sudah lama tidak terasa sakit, yang tersisa hanya kehampaan.

Dulu aku selalu berpikir, pria setinggi Raditya adalah tipe yang tidak akan tersentuh oleh urusan duniawi. Namun ternyata, dia juga bisa turun ke dapur demi gadis yang dia cintai. Hanya demi mendapatkan pujian dari gadis itu ... luka sayatan di tangan dan lepuh karena air panas, seolah semuanya berubah menjadi lencana cinta.

Raditya juga pernah mengucapkan kata-kata cinta yang begitu kekanak-kanakan.

[ Memasak untuk orang yang disukai, rasanya benar-benar sangat bahagia. Aku mau memasak untuk Zahra seumur hidup, bikin dia gemuk, supaya nggak ada yang merebutnya dariku. ]

Setelah membaca semua catatan itu, barulah untuk pertama kalinya aku benar-benar menyadari bahwa ternyata selama ini aku hanya sebuah lelucon.

Keesokan harinya, aku janjian dengan sahabatku yang merupakan seorang pengacara di sebuah kafe. Aku memintanya membantuku menyusun perjanjian perceraian.

"Kalian berdua ini kenapa? Kenapa sampai separah ini?" Sahabatku tampak sangat terkejut.

Dialah yang paling tahu betapa aku mencintai Raditya. Selama ini, setiap kali bertengkar, paling-paling kami hanya perang dingin untuk sementara waktu.

"Aku benar-benar capek." Aku menatap arus kendaraan di luar jendela. "Kamu tahu nggak, dia sudah pulang ke negara ini."

Hanya dengan satu kata ganti, sahabatku langsung mengerti.

Zahra.

Cinta pertama Raditya yang tak pernah bisa dia lupakan.

Nama itu seperti jarum yang menusuk hatiku. Tidak berdarah, tapi sesekali selalu membuatku nyeri.

Aku bahkan belum pernah melihatnya secara langsung, tapi keberadaannya memengaruhiku selama lima tahun penuh. Raditya bilang privasi itu penting, tapi dia pernah berbagi satu akun musik dengan Ye Zahra.

Raditya tidak suka kehidupan pribadinya terekspos, tapi media sosial lamanya penuh dengan jejak gadis itu. Pameran lukisan yang diajaknya aku datangi adalah karya pelukis favorit Zahra. Dia mengeluh menemaniku belanja itu buang-buang waktu, tapi dulu dia menemani Zahra berkeliling ke seluruh pasar barang antik kota.

Dua tahun pacaran, tiga tahun menikah, Raditya tidak pernah benar-benar menghapus Zahra dari lubuk hatinya. Sementara aku, lebih seperti teman di masa jedanya yang merupakan sebuah kebiasaan. Aku hanya pilihan kedua setelah tak ada pilihan lain.

"Oke, urusan perjanjian cerai serahkan padaku. Aku nggak akan biarin kamu dirugikan." Sahabatku berkata dengan cemas, "Tapi Aliyah, kamu benar-benar sudah mantap?"

"Dari dulu aku sudah bilang, pria ini nggak cocok untukmu. Hatinya belum benar-benar kosong, bersama dia kamu hanya menyiksa diri sendiri. Tapi kamu malah terjerumus terlalu dalam, nggak peduli seberapa pun aku menasihatimu."

Aku menunduk sambil mengaduk kopi di dalam cangkir. "Kadang, orang memang harus nabrak tembok sampai berdarah-darah dulu baru tahu caranya balik arah."
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
9 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status