Share

Kepergianku Membuatnya Gila
Kepergianku Membuatnya Gila
Author: Yeni

Bab 1

Author: Yeni
Setelah keluar dari ruang pemeriksaan, aku menyerbu masuk ke dalam lift, ingin pergi ke lantai paling atas untuk meminta penjelasan dari Vincent.

Begitu pintu lift tertutup, terdengar dua suara yang sangat aku kenali.

Hari ini angin bertiup kencang, aku membungkus tubuhku dengan rapat dan memakai topi, sehingga orang di sampingku tidak mengenaliku.

"Vincent, kamu sungguhan nggak takut kalau sampai Bella tahu? Untuk apa dulu kamu bersusah payah mohon agar dia kembali? Seandainya kamu menikahi Claudia lebih awal, sekarang kamu nggak perlu jenguk anak itu seperti pencuri."

Itu adalah suara Febri.

Suara Vincent terdengar dingin, "Dia nggak akan menyadarinya. Febri, jaga bicaramu. Kamu harus tahu apa yang boleh dan nggak boleh dikatakan saat bertemu Bella."

"Aku benaran nggak paham sama kamu," ucap Febri mencibir. "Claudia sudah jadi calon pengantin keluargamu sejak usia lima tahun. Waktu kecil kamu begitu sayang sama dia, tapi setelah dewasa, hatimu malah terpikat oleh Bella."

"Demi Bella, kamu mengirim Claudia pergi, lalu bersusah payah menjemputnya kembali. Sebenarnya siapa yang kamu cintai?"

Vincent terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, "Aku mencintai Bella, tapi aku juga nggak bisa lepasin Claudia. Membayangkan dia menjalani tahun-tahun yang sulit di Camorra bikin hatiku kacau balau."

"Status sudah kuberikan pada Bella, jadi biarlah anak itu buat Claudia. Seenggaknya dia punya sandaran."

Febri menghela napas, "Kalau kamu dan Bella juga punya anak, lalu bagaimana sama Claudia dan putri kalian? Dia itu adik sepupuku, aku nggak mau lihat ibu dan anak itu hidup kesepian selamanya."

Suara denting lift yang menandakan sampai di lantai teratas tiba-tiba berbunyi.

Vincent menjawab dengan datar, "Itu nggak akan terjadi."

Febri tertegun, dia tidak mengerti apakah maksudnya mereka tidak akan punya anak, atau dia tidak akan pilih kasih.

Dengan penuh tanda tanya, dia melangkah keluar mengikuti Vincent.

Namun, aku mengerti.

Maksudnya adalah kami tidak akan pernah memiliki anak.

Karena Vincent sudah lama menyiapkan racun kemandulan untukku, demi menyingkirkan ancaman bagi putrinya.

Lift terasa pengap dan panas, tetapi aku merasa seperti jatuh ke dalam lubang es, seluruh tubuhku terasa dingin.

Aku terpaku di tempat, tidak melangkah keluar. Sudah tidak ada gunanya lagi.

Baru setelah lift turun kembali ke lantai satu, aku merasa seperti orang tenggelam yang mendapatkan hirupan udara pertama, lalu aku terbatuk dengan keras.

Ponsel di saku bergetar, layarnya menyala, itu adalah pesan dari Vincent.

[Bella, besok aku akan menjemputmu di dermaga. Jangan lupa pakai jimat yang aku mintakan untukmu.]

Emosiku seketika runtuh, air mata jatuh bercucuran.

Ketua sangat sibuk, tetapi sejak kami menikah, setiap kali aku bepergian, Vincent selalu tepat waktu menungguku di dermaga.

Hari itu, dia akan memesan restoran lebih awal, membeli bunga, dan menyambut kepulanganku. Selalu begitu setiap tahun.

Teman-temannya pernah berkata kepadaku bahwa aku adalah cinta idaman yang didapatkan Vincent dengan mempertaruhkan separuh nyawanya.

Demi membawaku kembali ke negara ini, dia berani mengancam bisnis mafia luar negeri hingga beberapa kali masuk dalam daftar buruan dan hampir tewas.

Demi menahanku agar tetap tinggal, dia menggelontorkan dana yang sangat banyak untuk merekrut tim taktis tingkat atas, lalu mengembangkan perusahaan perdagangan senjata peninggalan orang tuaku hingga berjaya di Sisilia.

Setelah menikah, dia makin memanjakanku tanpa batas.

Karena hobiku membalap, dia membangun sirkuit pribadi yang mewah untukku. Setiap hari jadi pernikahan, dia memberiku mobil balap modifikasi kelas atas.

Saat aku tidak sengaja berucap rindu pada Ibu, tengah malam pun dia akan mengerahkan semua koneksinya. Sebelum fajar, dia sudah berhasil menemukan barang peninggalan ibuku.

Namun, pria yang begitu penyayang ini ternyata memiliki keluarga lain diam-diam.

Tiba-tiba aku menyadarinya.

Pantas saja Claudia lebih tahu setiap sudut rumah Vincent dibanding diriku. Pantas saja orang yang bertahun-tahun di Camorra bisa mengenali semua nama panggilan teman-temannya. Pantas saja seorang "adik angkat" bisa membuat Vincent membatalkan semua pekerjaan hanya untuk menemaninya jalan-jalan ke berbagai negara.

Tidak ada yang namanya adik angkat, jelas-jelas statusnya tunangan yang sudah dijodohkan sejak kecil.

Dan akulah orang ketiga yang menyelinap masuk.

Ponsel bergetar lagi, itu adalah foto keluarga dari Claudia yang disertai sebaris kalimat:

[Kak Bella, berhentilah menduduki posisi yang bukan milikmu. Tadinya kupikir kamu punya kesadaran diri, tapi kayaknya kamu sangat bermuka tembok. Vincent bilang anak ini sangat mirip dengannya, gimana menurutmu?]

Aku hanya melirik sekilas lalu keluar dari pesan itu.

Jika Claudia menginginkannya, ambillah.

Aku membuka daftar kontak, lalu menghubungi nomor yang hampir terlupakan itu.

"Alex, apa taruhan waktu itu ... masih berlaku?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 19

    "Balap mobil? Salju setebal ini bagaimana bisa balapan? Lagian kamu sudah hampir membeku kaku, apa benar masih punya tenaga untuk menyetir?"Hal yang dipikirkan Vincent itu adalah balap mobil.Aku sangat mencintai balap mobil, jika dia bertanding melawan Alex dan menang, apakah aku akan memberinya satu kesempatan?Vincent menatapku dengan mantap, meski seluruh tubuhnya tidak berhenti gemetar."Aku akan bertanding melawan Alex. Kalau aku menang, bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan?"Aku mengucapkan dua kata dengan tenang, "Nggak akan."Vincent tertawa mengejek diri sendiri. "Meski nggak akan, aku tetap ingin bertanding. Bella, mau nggak kamu jadi navigatorku? Anggap saja ini sebagai hadiah terakhir untukku."Aku sudah mulai agak marah, karena Alex tidak bisa balapan mobil.Namun, tidak disangka, Alex justru menjawab "baiklah" dengan tegas.Aku menatapnya dengan heran. "Jangan dipaksakan kalau nggak bisa, ini nggak akan ubah apa pun. Aku nggak akan tanggung jawab kalau terjadi sesu

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 18

    Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari samping.Vincent melihat ke arah sumber suara, lalu membuka mulutnya karena terkejut."Alex, kok kamu ada di sini?"Alex merangkul bahuku. Saat dia merasa aku tidak memberontak, dia mempererat genggamannya."Aku ini tunangannya, kenapa aku nggak boleh ada di sini?"Begitu kata-kata itu terucap, Vincent seketika merasa seperti tersambar petir, otaknya berdengung hebat sampai tidak bisa mendengar suara apa pun. "Tunangan? Mana mungkin? Bella ... kok bisa dia jadi tunanganmu?"Matanya memerah, bibirnya gemetar.Aku menarik tangan Alex dan mengangkat tautan jemari kami ke depan wajah Vincent."Kenapa nggak mungkin? Aku belum pernah nikah dan belum punya anak, apa sulit menerima kenyataan kalau aku punya tunangan?"Bibir Vincent bergumam tidak jelas, matanya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.Perkataanku seperti pisau tumpul yang menusuk jantungnya.Jakunnya naik-turun. "Nggak boleh, aku nggak izinkan. Aku mencintaimu, kamu cuma boleh jadi milikk

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 17

    Tidak peduli bagaimana Vincent berteriak memanggil dari belakang, mobil itu sama sekali tidak melambat, malah melaju makin kencang hingga cepat berubah menjadi titik hitam di kejauhan.Setelah bayangan di kaca spion benar-benar menghilang, barulah Alex perlahan menurunkan kecepatan mobil.Aku meliriknya dengan curiga. "Kenapa hari ini kamu ngebut begitu? Mau cepat-cepat renkarnasi lagi?"Alex tidak menanggapi ucapanku, malah tiba-tiba bertanya, "Kalau Vincent datang mencarimu, menangis menyesal dan minta balikan, kamu bakal setuju?"Alisku langsung mengerut, rasanya seperti mendengar sesuatu yang menjijikkan, tapi aku tetap menjawab serius, "Nggak akan, sampai mati pun nggak akan."Setiap kali mengingat apa yang pernah Vincent lakukan padaku, tubuhku terasa dingin sampai aku sering terbangun di malam hari.Alex menangkap ketegasan di mataku, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.Namun, ekspresi kecil itu tidak luput dariku. "Kok kamu tanya gitu? Kamu mimpiin dia?

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 16

    Malam itu, Alex menyisir semua hal tentang Vincent dan Claudia, lalu menyusun rencana terperinci sebelum fajar.Dia sebenarnya bisa langsung membawaku pergi, tetapi aku berkata, "Kalau begitu, dia akan terus mengejar seumur hidup."Dia pun menahan diri dan menyusun langkah demi langkah.Saat itu barulah dia tahu, fondasi Keluarga Kora jauh lebih dalam dari dugaannya.Dia berpura-pura akan menjalin pernikahan dengan Claudia untuk mengalihkan perhatian, padahal diam-diam menyiapkan orang agar bisa membawaku pergi jauh.Namun, dia tetap datang terlambat.Saat dia menemukanku, kedua kakiku rusak parah akibat kecelakaan. Aku tidak bisa melanjutkan usaha keluarga dan tidak bisa lagi mengendarai mobil kesayanganku.Saat itu aku seperti kehilangan jiwa, tatapanku kosong dan menakutkan.Syukurlah, dia menarikku kembali dari tepi kematian.Dia membawaku ke pusat rehabilitasi terbaik, menemaniku menggenggam setir lagi, menyaksikan aku perlahan menemukan cahaya.Setelah perawatan, meski aku mendap

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 15

    [Sudut Pandang Bella]Tiga tahun kemudian.Di kamp pelatihan balap mobil terbesar di Kota Calabria, sedang diadakan kompetisi balap tiga tahunan.Seluruh keluarga mafia di Atala akan berpartisipasi.Di area istirahat, beberapa pelatih berambut pirang dan bermata biru sedang mengobrol santai sambil menghadap ke arah lapangan latihan."Sudah dengar belum? Kali ini ada orang hebat dari Sisilia. Dalam tiga tahun, dia sudah menyapu bersih semua gelar juara domestik. Ini pertama kalinya dia bertanding ke luar negeri, banyak orang bertaruh dia akan menang, tapi menurutku dia biasa saja.""Pembalap dari Sisilia? Kalau begitu, nggak boleh dianggap remeh."Pelatih tinggi lainnya berdecak, "Jangan lupakan pelatih wanita yang datang dari Sisilia itu. Kudengar dalam tiga tahun dia sudah melatih lima juara wanita, benaran bikin malu kita para pelatih pria."Fransiska yang berdiri di samping mendengar percakapan itu, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu berbalik kembali ke area istirahat t

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 14

    "Febri! Ini balasan untukmu!"Claudia berpegangan di ambang jendela, menatap Febri terjepit di bawah pilar sambil tertawa nyaring penuh keputusasaan.Usai berkata demikian, dia bertumpu pada kedua tangan dan melemparkan diri keluar jendela.Saat dingin rumput membungkus tubuhnya, dia terbaring sambil tertawa hingga berlinang air mata. Dia merasakan euforia karena lolos dari maut.Sementara itu, ruangan itu bersama Febri segera dilahap api yang menjulang.Namun, baru saja bahagia, efek obat menyerang dan dia pingsan.Saat membuka mata lagi, dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dia pun mengembuskan napas lega saat mendapati dirinya masih hidup. Namun detik berikutnya, nyeri hebat bergulung dari dalam tubuhnya.Seperti ada nyeri tumpul yang berdenyut dari dalam sumsum tulang, hanya bergerak sedikit saja rasanya sakit sampai seperti mau mati.Dia memanggil dokter dengan lemah, seorang perawat segera masuk.Claudia menarik napas dalam-dalam, suaranya serak, "Sakit banget … to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status