Short
Rumah Tanpa Sosok Papa

Rumah Tanpa Sosok Papa

Oleh:  SummerTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
9Bab
2Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Setelah mengetahui bahwa suamiku, Ronaldo Marino, masih tidak bisa melupakan cinta pertamanya, aku mulai mengajari putri kami, Susan, untuk memanggilnya dengan sebutan "Om Ronaldo." Saat pergelangan kaki Susan keseleo di sekolah. Di tengah malam, Ronaldo menerima sebuah telepon dari Viera yang sedang menangis. Putrinya, Lina, mengalami mimpi buruk dan terus berteriak memanggil ayahnya. Ronaldo pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menempelkan kompres ke pergelangan kaki Susan yang bengkak dan berbisik lirih padanya, "Coba bilang, 'Selamat tinggal, Om Ronaldo'." Ronaldo berjanji akan datang ke hari olahraga di sekolah Susan. Namun kemudian Viera menelepon sambil menangis terisak-isak, mengatakan bahwa Lina tidak punya ayah untuk bisa ikut lomba lari tiga kaki bersamanya. Ronaldo pun langsung pergi begitu saja tanpa berpikir panjang. Aku hanya memberikan ponsel itu kepada Susan dan menyuruh untuk memberi tahu gurunya, "Om Ronaldo bilang dia tidak bisa datang." Setiap kali hal itu terjadi, Susan selalu merasa ragu. Susan tidak mengerti mengapa aku menyuruhnya melakukan hal tersebut. Sampai suatu hari, Ronaldo akhirnya menyadari dia telah sangat mengecewakan kami. Dia mengesampingkan semua urusan bisnis mafianya demi menghadiri resital piano Susan dan bersumpah tidak akan melewatkannya lagi. Susan berada di belakang panggung bersama anak-anak lainnya. Kemudian ponsel Ronaldo kembali berdering. Itu dari Viera. Aku tidak bisa mendengar apa yang dia katakan, tetapi aku sudah bisa menebak, mungkin kalimat bahwa Lina sedang menangis, Lina membutuhkan sosoknya, ataupun Lina sudah tidak punya ayah. Ronaldo berbalik, menghampiri kami. Tetapi sebelum Ronaldo bisa mengucapkan alasannya, suara Susan sudah terdengar dari atas panggung. "Tidak apa-apa, Om Ronaldo. Om pergi saja dan urus anak Om yang lain. Ada Mama di sini untuk menemaniku, itu sudah cukup buatku."

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Susan mengatakannya langsung ke mikrofon sehingga semua orang bisa mendengarnya. Orang tua murid lainnya pun menoleh ke arah Ronaldo. Beberapa dari mereka mulai berbisik-bisik.

Ronaldo terpaku. Aku pun ikut membeku.

Selama dua puluh delapan hari, sejak aku menyadari bahwa hati Ronaldo tidak lagi berada di keluarga ini, setiap kali Ronaldo meninggalkan kami demi Viera, aku selalu menyuruh Susan memanggil Ronaldo dengan sebutan "Om Ronaldo." Itu adalah caraku untuk mengingatkan diri sendiri dan Susan agar tidak menangisi pria yang sama sekali tidak layak.

Tetapi, Susan baru berusia tujuh tahun. Itu adalah usia di mana seorang gadis paling membutuhkan sosok ayahnya.

Setiap kali aku meminta Susan untuk menggunakan sebutan itu, Susan akan ragu-ragu untuk waktu yang cukup lama sebelum akhirnya berbisik pelan, "Om Ronaldo."

Namun hari ini, Susan justru mengatakannya dengan inisiatif sendiri. Dia bahkan mengucapkannya dengan lancar dan tanpa rasa canggung, seolah-olah dia telah berlatih ratusan kali di kepalanya.

Susan duduk di depan piano, dan mulai memainkannya. Jari-jari kecilnya lincah bergerak menemukan tuts yang tepat. Dia hanya melakukan kesalahan sekali, tetapi dia terus lanjut bermain. Ketika selesai, seluruh ruangan bertepuk tangan.

Susan berdiri, membungkuk, dan menatap ke arahku. Susan tidak menatap Ronaldo sama sekali.

Para juri mulai memberikan penghargaan. Juara ketiga ... lalu juara kedua, dan akhrnya ... juara pertama.

Susan memenangkan juara pertama. Sebuah piala emas kecil dengan hiasan berbentuk not musik di atasnya.

Susan berlari turun dari panggung dan langsung menghambur ke pelukanku. Aku mengangkat tubuh kecil Susan dan memeluknya erat. Seorang fotografer dari koran lokal meminta izin untuk mengambil foto kami, potret ibu dan anak perempuan dengan piala kemenangannya.

Susan mengangkat piala itu dan tersenyum. Aku merangkul Susan dan ikut tersenyum.

Di belakang kami, Ronaldo rupanya sudah pergi. Aku tidak terkejut. Baginya, Viera dan putrinya selalu menjadi prioritas.

Ronaldo adalah wakil bos mafia dari Keluarga Marino. Awalnya, dia memang selalu mengutamakan kami. Dia adalah suami yang baik dan sosok ayah yang selalu hadir. Tetapi ketika Viera kembali, segalanya berubah.

Viera adalah cinta pertamanya. Wanita itu kemudian menikah dengan seorang bos mafia dari wilayah lain, tetapi suaminya meninggal secara tak terduga. Dia pun harus kembali ke kampung halamannya bersama putrinya yang berusia lima tahun bernama Lina, dan wanita itu selalu mengeluh tentang sulitnya berjuang sendirian. Ronaldo merasa kasihan padanya dan mulai sering membantu mereka. Ronaldo menjadi semakin pilih kasih, hingga membuat Susan dan aku lebih sering menunggu.

Setelah suaminya meninggal, Viera selalu berperan sebagai janda yang berduka. Dia terus menangis karena Lina sudah tidak memiliki ayah lagi. Dan Ronaldo, si bodoh itu, termakan oleh tipu dayanya.

Ronaldo pergi merayakan ulang tahun Lina di Universal Studios. Ketika pulang, dia lupa meninggalkan tiket itu di sakunya. Tiga lembar tiket masuk ke Universal Studios.

Pada ulang tahun Susan yang keenam, dia berharap bisa pergi menonton film favoritnya bersama seluruh keluarga. Namun, Ronaldo malah menganggapnya kekanak-kanakan dan langsung menolaknya tanpa ragu.

Beberapa hari kemudian, Ronaldo justru pergi bersama Viera dan Lina.

Aku menemukan unggahan itu di media sosial pribadi Viera dengan keterangan: [Tempat paling ajaib di bumi ini memang paling indah kalau dinikmati bersama keluarga]. Foto itu menunjukkan gambar Ronaldo, Viera, dan Lina yang sedang tersenyum mengenakan sweter dengan warna senada. Ronaldo menggendong Lina di pundaknya seperti seorang ayah yang bangga.

Malam itu, kami bertengkar hebat. Aku bersikeras menceraikan Ronaldo dan membawa Susan. Ronaldo menyebutku tidak masuk akal. Dia bertanya bagaimana aku bisa tega membuat Susan tumbuh tanpa seorang sosok ayah. Dia bersumpah bahwa dia melakukan semua itu hanya karena merasa kasihan pada Viera. Dia berdalih bahwa Viera adalah seorang janda karena suaminya meninggal dunia, dan sudah tidak punya siapa-siapa lagi.

Aku menatap wajah Susan yang pucat dan ketakutan. Aku menggigit bibirku sangat keras sampai nyaris berdarah. Aku tahu bahwa jika aku memaksakan perceraian saat itu juga, Susan tidak akan pernah melupakan bayangan Ronaldo yang pergi. Tetapi aku juga tahu bahwa begitu seorang pria seperti Ronaldo menunjukkan prioritasnya, itu akan terus terjadi berulang kali.

Aku tidak ingin Susan menderita hanya karena rasa kasihan Ronaldo yang tidak berdasar.

Jadi, aku memilih cara lain. Aku menipu Ronaldo agar menandatangani surat perjanjian perceraian.

Tiga puluh hari adalah masa jeda sebelum keputusan cerai resmi dikeluarkan.

Jika Ronaldo kembali kepada kami dalam tiga puluh hari itu, aku akan berpura-pura tidak terjadi apa-apa demi Susan. Jika tidak, maka aku akan menggunakan waktu itu untuk membuat Susan terbiasa dengan ketidakhadiran Ronaldo.

Hari ini adalah hari ke dua puluh delapan.

Susan memanggil Ronaldo dengan sebutan "Om Ronaldo" tanpa diminta.

Aku merasakan tubuh kecil Susan gemetar di pelukanku, dan hatiku terasa seperti ditusuk oleh ribuan jarum. Bukan karena marah, tetapi karena rasa duka yang mendalam.

Saat kami sedang menyeberang jalan, Ronaldo akhirnya tersadar dari lamunannya. Dia mulai berjalan mengikuti kami, mungkin untuk bertanya mengapa Susan memanggilnya seperti itu. Kemudian ponsel Ronaldo berdering, dan terdengar suara Viera yang manis dan penuh isak tangis dari ujung telepon.

"Ronaldo, kau ada di mana? Lina terus menangis, dan bilang rindu ayahnya. Aku tidak bisa menenangkannya."

Langkah Ronaldo langsung terhenti di tempatnya. Dia menatap punggung kami yang menjauh dengan ponsel masih di tangan dan berkata, "Iya, aku segera ke sana."

Kemudian, Ronaldo mengirimiku sebuah pesan: [Kita bicara lagi nanti malam.] Suara mesin mobil terdengar meraung dan menghilang di kejauhan.

Susan menghentikan langkahnya. Susan langsung memelukku, dan air matanya membasahi bajuku.

"Ma," bisik Susan. "Bisakah kita tidak usah punya ayah lagi?"

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
9 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status