Share

Bab 2

Author: Yeni
Napas di seberang telepon terhenti sejenak, lalu suara rendah Alex terdengar.

"Setengah bulan lagi, Keluarga Marino akan pindah. Aku akan menjemputmu."

Aku terdiam setengah detik, lalu terkekeh.

Aku belum sempat mengatakan apa pun, tetapi Alex sudah yakin aku akan pergi.

Kebetulan, tebakan Alex benar.

"Baik."

Dengan kemampuan Alex, setengah bulan kemudian meski Vincent membongkar seluruh dunia, tetap tidak akan bisa menemukanku.

Hari itu ponselku terus menerima pesan dari Vincent, tapi satu pun tidak aku balas.

Vincent menjadi cemas, entah dari mana dia tahu aku sudah kembali. Tengah malam, dia mendorong pintu rumah dengan keras.

Di ruang tamu, aku sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

"Bella? Kok kamu pulang lebih cepat?" Dia berlari menghampiriku. "Aku mengirim begitu banyak pesan .... "

Setelah itu dia mengulurkan tangan dan memelukku, dagunya menempel di kepalaku sambil digeser pelan. "Syukurlah kamu baik-baik saja. Aku benaran takut .… Bella, aku nggak bisa hidup tanpamu."

Cinta di mata Vincent bukanlah kepalsuan.

Aku juga tahu Vincent tulus mencintaiku. Namun, aku lebih paham, cintanya tidak hanya diberikan kepadaku seorang.

Aku melepaskan diri dari pelukannya dan berkata dengan tenang, "Transaksi ditunda. Ponsel mati, jadi aku nggak lihat pesanmu."

Vincent tersenyum, lalu mengangkat tangan untuk mengusap ujung hidungku.

"Okelah kalau memang nggak lihat, kok sampai mau nangis? Aku nggak akan nyalahin kamu."

"Lapar, 'kan?" Dia mengayunkan kunci mobil di tangannya. "Aku sudah pesan restoran yang sudah lama kamu bicarakan itu. Ayo, Putri, aku temani kamu makan sepuasnya."

Dia mengulurkan tangannya ke arahku, telapak tangan menghadap ke atas.

Pandanganku jatuh pada tangan itu, dan seketika pikiranku melayang.

Pada sore hari saat aku berusia 18 tahun, pemuda itu juga mengulurkan tangannya seperti ini, dengan senyum yang jauh lebih berani. "Ayo, Putri. Hari ini aku traktir kamu makan sepuasnya!"

Saat itu, di hatinya hanya ada aku seorang.

Aku tidak ingin menyiksa perutku sendiri, maka aku mengikutinya masuk ke restoran.

Dia tetap seperti dulu. Jelas ketua yang tidak pernah melayani siapa pun, tetapi sekarang dengan terampil menggulung lengan bajunya dan dengan teliti mengambilkan makanan untukku. Suapan pertama dari setiap hidangan selalu diberikan kepadaku.

Sampai mangkukku menumpuk seperti gunung kecil dan ponselnya tiba-tiba berdering, barulah aku tersadar.

"Angkat saja."

Aku menunduk sambil mengaduk makanan di mangkukku.

Vincent melirik ponselnya, membujukku dengan satu kalimat, lalu bangkit dan keluar untuk menjawab panggilan itu.

Saat dia kembali, matanya dipenuhi kecemasan dan rasa bersalah.

"Bella, tiba-tiba ada rapat darurat. Aku harus segera ke sana. Maaf nggak bisa temani kamu selesaikan makan ini. Besok aku akan ajukan cuti buat temani kamu dengan baik."

Aku sudah melihat nama peneleponnya sejak awal, itu adalah Claudia.

Aku pun mengangguk. "Baik, pergilah."

Setelah mendapat persetujuanku, Vincent tidak berlama-lama dan langsung meninggalkan restoran.

Melihat kursi kosong di depanku, dadaku terasa seperti ditusuk jarum, mati rasa berulang kali.

Baru saja aku menata ulang perasaanku dan hendak mengambil sendok lagi, panggilan video dari Claudia muncul.

Claudia menampilkan senyum polos khasnya.

"Kak Bella lagi makan, ya? Pantas saja, seseorang pulang hari ini dengan bau restoran tradisional di tubuhnya."

Dia menekankan kata "pulang" dengan sangat jelas. Aku menangkap provokasinya.

Wajahku mengeras. "Claudia, kamu terlalu kekanak-kanakan."

"Kamu lupa siapa yang sekarang merupakan pasangan sah? Coba tebak, kalau aku kirim rekaman chat ini ke Vincent sekarang, dia bakal pilih kamu atau aku?"

Tatapan Claudia berkilat sejenak, lalu dia kembali tersenyum. "Kak, kalau begitu jadi nggak seru. Tapi, apa kamu nggak mau tahu siapa yang sebenarnya lebih dicintai Vincent, kamu atau aku?"

Aku ragu dan tidak menutup panggilan itu.

Tidak lama kemudian, latar video bergerak dan sosok Vincent muncul di layar.

Claudia segera berbalik dan bersandar manja di pelukannya, tepat menutupi pandangan Vincent ke layar.

"Vincent, kamu masih marah karena dulu aku kabur dengan orang lain? Kalau aku nggak pergi, kamu nggak akan cari Kak Bella dan justru nikah sama aku?"

Vincent mengernyit. "Nggak ada begitu banyak seandainya."

"Aku cuma bertanya .... " Mata Claudia memerah, suaranya melemah. "Nggak ada maksud lain .... "

Setelah beberapa detik hening, aku melihat Vincent membuka mulutnya dan berkata dengan suara parau, "Iya."

Satu kata "iya" itu membuat hatiku langsung kosong.

Jadi sejak saat itu, di hatinya sudah tidak hanya ada aku.

Aku tiba-tiba teringat hari pernikahan kami.

Vincent menggenggam tanganku dan bersumpah di hadapan seluruh tamu, dengan mengatasnamakan "Ketua" yang paling dia hormati, bahwa seumur hidup dia hanya akan mencintaiku seorang.

Saat itu aku menangis tersedu-sedu, mengira aku telah menemukan cinta paling tulus di dunia.

Ternyata sumpah itu sejak awal hanyalah kebohongan.

Aku tidak pernah menjadi satu-satunya. Dulu tidak, sekarang tidak, dan kelak juga tidak akan pernah.

Aku hanyalah alat pelampiasan saat Vincent berselisih dengan Claudia. Hanya karena waktu kebersamaan yang lama, tumbuh sedikit perasaan, sehingga dia enggan melepasku.

Saat memikirkan hal ini, aku memaksakan senyum yang buruk rupa. Saat tersenyum, air mataku justru tidak berhenti jatuh.

Aku mengira setidaknya pernah, walau hanya sesaat memiliki cinta yang begitu membara. Namun ternyata, dari awal hingga akhir, aku hanyalah pencuri yang mengambil tempat orang lain.

Aku menundukkan kepala, menggenggam erat pakaian di dadaku dan berusaha agar bisa bernapas.

Namun, isak yang menyumbat tenggorokanku tidak bisa ditekan, aku hanya bisa membiarkan air mata menetes satu per satu ke meja.

Malam itu, Vincent tidak pulang.

Namun, aku menerima foto wajah tidurnya secara langsung, dikirim oleh Claudia.

Aku menatap wajah itu lama sekali. Hingga pagi tiba, hatiku terasa mati, dan akhirnya benar-benar tenang.

Aku pun mengambil ponsel dan menelepon teman pengacaraku, Sofia.

"Sofia, tolong bantu aku menyusun surat perceraian .... "

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 19

    "Balap mobil? Salju setebal ini bagaimana bisa balapan? Lagian kamu sudah hampir membeku kaku, apa benar masih punya tenaga untuk menyetir?"Hal yang dipikirkan Vincent itu adalah balap mobil.Aku sangat mencintai balap mobil, jika dia bertanding melawan Alex dan menang, apakah aku akan memberinya satu kesempatan?Vincent menatapku dengan mantap, meski seluruh tubuhnya tidak berhenti gemetar."Aku akan bertanding melawan Alex. Kalau aku menang, bisa nggak kamu kasih aku satu kesempatan?"Aku mengucapkan dua kata dengan tenang, "Nggak akan."Vincent tertawa mengejek diri sendiri. "Meski nggak akan, aku tetap ingin bertanding. Bella, mau nggak kamu jadi navigatorku? Anggap saja ini sebagai hadiah terakhir untukku."Aku sudah mulai agak marah, karena Alex tidak bisa balapan mobil.Namun, tidak disangka, Alex justru menjawab "baiklah" dengan tegas.Aku menatapnya dengan heran. "Jangan dipaksakan kalau nggak bisa, ini nggak akan ubah apa pun. Aku nggak akan tanggung jawab kalau terjadi sesu

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 18

    Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari samping.Vincent melihat ke arah sumber suara, lalu membuka mulutnya karena terkejut."Alex, kok kamu ada di sini?"Alex merangkul bahuku. Saat dia merasa aku tidak memberontak, dia mempererat genggamannya."Aku ini tunangannya, kenapa aku nggak boleh ada di sini?"Begitu kata-kata itu terucap, Vincent seketika merasa seperti tersambar petir, otaknya berdengung hebat sampai tidak bisa mendengar suara apa pun. "Tunangan? Mana mungkin? Bella ... kok bisa dia jadi tunanganmu?"Matanya memerah, bibirnya gemetar.Aku menarik tangan Alex dan mengangkat tautan jemari kami ke depan wajah Vincent."Kenapa nggak mungkin? Aku belum pernah nikah dan belum punya anak, apa sulit menerima kenyataan kalau aku punya tunangan?"Bibir Vincent bergumam tidak jelas, matanya dipenuhi dengan rasa tidak percaya.Perkataanku seperti pisau tumpul yang menusuk jantungnya.Jakunnya naik-turun. "Nggak boleh, aku nggak izinkan. Aku mencintaimu, kamu cuma boleh jadi milikk

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 17

    Tidak peduli bagaimana Vincent berteriak memanggil dari belakang, mobil itu sama sekali tidak melambat, malah melaju makin kencang hingga cepat berubah menjadi titik hitam di kejauhan.Setelah bayangan di kaca spion benar-benar menghilang, barulah Alex perlahan menurunkan kecepatan mobil.Aku meliriknya dengan curiga. "Kenapa hari ini kamu ngebut begitu? Mau cepat-cepat renkarnasi lagi?"Alex tidak menanggapi ucapanku, malah tiba-tiba bertanya, "Kalau Vincent datang mencarimu, menangis menyesal dan minta balikan, kamu bakal setuju?"Alisku langsung mengerut, rasanya seperti mendengar sesuatu yang menjijikkan, tapi aku tetap menjawab serius, "Nggak akan, sampai mati pun nggak akan."Setiap kali mengingat apa yang pernah Vincent lakukan padaku, tubuhku terasa dingin sampai aku sering terbangun di malam hari.Alex menangkap ketegasan di mataku, sudut bibirnya tanpa sadar terangkat membentuk senyum tipis.Namun, ekspresi kecil itu tidak luput dariku. "Kok kamu tanya gitu? Kamu mimpiin dia?

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 16

    Malam itu, Alex menyisir semua hal tentang Vincent dan Claudia, lalu menyusun rencana terperinci sebelum fajar.Dia sebenarnya bisa langsung membawaku pergi, tetapi aku berkata, "Kalau begitu, dia akan terus mengejar seumur hidup."Dia pun menahan diri dan menyusun langkah demi langkah.Saat itu barulah dia tahu, fondasi Keluarga Kora jauh lebih dalam dari dugaannya.Dia berpura-pura akan menjalin pernikahan dengan Claudia untuk mengalihkan perhatian, padahal diam-diam menyiapkan orang agar bisa membawaku pergi jauh.Namun, dia tetap datang terlambat.Saat dia menemukanku, kedua kakiku rusak parah akibat kecelakaan. Aku tidak bisa melanjutkan usaha keluarga dan tidak bisa lagi mengendarai mobil kesayanganku.Saat itu aku seperti kehilangan jiwa, tatapanku kosong dan menakutkan.Syukurlah, dia menarikku kembali dari tepi kematian.Dia membawaku ke pusat rehabilitasi terbaik, menemaniku menggenggam setir lagi, menyaksikan aku perlahan menemukan cahaya.Setelah perawatan, meski aku mendap

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 15

    [Sudut Pandang Bella]Tiga tahun kemudian.Di kamp pelatihan balap mobil terbesar di Kota Calabria, sedang diadakan kompetisi balap tiga tahunan.Seluruh keluarga mafia di Atala akan berpartisipasi.Di area istirahat, beberapa pelatih berambut pirang dan bermata biru sedang mengobrol santai sambil menghadap ke arah lapangan latihan."Sudah dengar belum? Kali ini ada orang hebat dari Sisilia. Dalam tiga tahun, dia sudah menyapu bersih semua gelar juara domestik. Ini pertama kalinya dia bertanding ke luar negeri, banyak orang bertaruh dia akan menang, tapi menurutku dia biasa saja.""Pembalap dari Sisilia? Kalau begitu, nggak boleh dianggap remeh."Pelatih tinggi lainnya berdecak, "Jangan lupakan pelatih wanita yang datang dari Sisilia itu. Kudengar dalam tiga tahun dia sudah melatih lima juara wanita, benaran bikin malu kita para pelatih pria."Fransiska yang berdiri di samping mendengar percakapan itu, dia tersenyum sambil menggelengkan kepala, lalu berbalik kembali ke area istirahat t

  • Kepergianku Membuatnya Gila   Bab 14

    "Febri! Ini balasan untukmu!"Claudia berpegangan di ambang jendela, menatap Febri terjepit di bawah pilar sambil tertawa nyaring penuh keputusasaan.Usai berkata demikian, dia bertumpu pada kedua tangan dan melemparkan diri keluar jendela.Saat dingin rumput membungkus tubuhnya, dia terbaring sambil tertawa hingga berlinang air mata. Dia merasakan euforia karena lolos dari maut.Sementara itu, ruangan itu bersama Febri segera dilahap api yang menjulang.Namun, baru saja bahagia, efek obat menyerang dan dia pingsan.Saat membuka mata lagi, dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit. Dia pun mengembuskan napas lega saat mendapati dirinya masih hidup. Namun detik berikutnya, nyeri hebat bergulung dari dalam tubuhnya.Seperti ada nyeri tumpul yang berdenyut dari dalam sumsum tulang, hanya bergerak sedikit saja rasanya sakit sampai seperti mau mati.Dia memanggil dokter dengan lemah, seorang perawat segera masuk.Claudia menarik napas dalam-dalam, suaranya serak, "Sakit banget … to

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status