LOGINLangit Jakarta sudah berubah jingga ketika Irwan keluar dari gedung. Hari Sabtu yang seharusnya tenang justru terasa berat dengan beban pikiran. Dia berdiri sejenak di lobi, menatap layar ponselnya. Dua panggilan tak terjawab dari Maya dan satu pesan: "Sayang, kamu pulang jam berapa? Aku ngerasa nggak enak badan nih."
Irwan langsung menelepon balik. Maya mengangkat pada dering ketiga.
"Halo?" suara Maya terdengar lemah.
"Maya? Kamu kenapa? Nggak enak badan gimana?" Irwan bertanya cepat, khawatir membuncah.
"Cuma pusing aja, sama mual dikit. Mungkin kecapekan atau masuk angin."
"Aku pulang sekarang ya? Kamu udah makan?"
"Belum... nggak nafsu. Perutku rasanya aneh banget."
"Jangan gitu, ntar kamu tambah sakit. Aku mampir beli bubur ayam dulu. Setengah jam lagi sampai."
Jalanan Jakarta pada Sabtu sore tidak sepadat hari kerja, tapi tetap saja butuh waktu untuk Irwa
"Tehnya enak sekali," Maya mengalihkan pembicaraan, memberikan jalan keluar bagi Ratih. "Bisa ajari aku cara membuatnya? Mungkin berguna kalau mualnya datang lagi."Ratih menoleh, tampak lega dengan perubahan topik. "Tentu saja, Bu. Sebenarnya simpel saja. Jahe segar diiris tipis, direbus sebentar, tambah madu dan lemon. Kalau Bu Maya mau, saya bisa siapkan dalam termos kecil setiap pagi.""Boleh," Maya mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Ratih."Omelet sayur mengepul di piring putih polos, warna kuning keemasannya kontras dengan potongan hijau sayuran yang menyembul di sana-sini. Ratih menyeka setetes keringat di dahinya dengan bahu sebelum mengangkat piring dengan kedua tangan. Langkahnya pelan dan hati-hati, matanya fokus pada makanan yang masih panas itu."Silakan, Bu," ucap Ratih, tubuhnya sedikit membungkuk saat menyajikan omelet di hadapan Maya.Dalam gerakan itu, lengan bajunya bergeser
Dua hari berlalu sejak percobaan jamu pertama. Ratih masih dalam proses pemulihan, bekas-bekas di tubuhnya perlahan memudar meski beberapa masih terlihat jelas—terutama di leher dan pergelangan tangannya. Untuk menyembunyikannya, Ratih terpaksa mengenakan pakaian berlengan panjang meski udara cukup panas.Pagi itu, Ratih sedang menyiapkan sarapan di dapur. Tangan-tangannya bergerak efisien memotong buah dan sayur, meski kadang masih terlihat sedikit kaku. Karyo sudah berangkat lebih awal untuk memeriksa kebocoran di atap gudang, meninggalkan Ratih sendiri dengan tugas-tugas dapur.Suara langkah pelan mengejutkan Ratih. Dia menoleh dan melihat Maya berdiri di ambang pintu dapur, satu tangan menopang punggung bawahnya. Kandungannya kini sudah hampir delapan bulan, membuat tubuhnya yang biasanya langsing terlihat jauh lebih berat dan tidak seimbang."Pagi, Bu," sapa Ratih sopan, berusaha bersikap normal meski jantungnya b
Satu jam kemudian, Karyo terbangun dengan kepala berdenyut. Mulutnya kering seperti kertas pasir, dan setiap otot di tubuhnya menjerit protes. Dia mengerjap beberapa kali, berusaha mengumpulkan kesadarannya yang masih tercerai-berai.Hal pertama yang dia lihat adalah Ratih, masih belum sadarkan diri di sampingnya. Tubuh telanjang istrinya dipenuhi bekas-bekas kemerahan—di leher, dada, perut, bahkan pergelangan tangannya menunjukkan bekas cengkeraman yang terlalu kuat. Jejak biru mulai terbentuk di beberapa tempat, tanda kekerasan yang tidak disengaja."Ratih?" Karyo memanggilnya pelan, menyentuh pipinya dengan lembut. Tapi Ratih tidak bergerak, hanya napasnya yang teratur menandakan dia masih hidup.Perlahan, ingatan akan apa yang terjadi merayap kembali ke kesadarannya. Jamu. Gairah yang tak terkendali. Ratih yang memohon untuk berhenti. Tapi dia tidak berhenti..."Gusti Allah..." Karyo berbisik, horror men
Karyo terus bergerak, matanya terpejam dalam dunianya sendiri.Peluh mengalir dari dahinya, menetes ke wajah Ratih yang kini semakin pucat. Setiap hentakan membuat ranjang berderit protes, suara kayu yang bergesekan bercampur dengan napas Karyo yang memburu."Mas... aku... aku nggak kuat lagi," bisik Ratih, suaranya nyaris tak terdengar.Tapi Karyo sudah terlalu jauh. Matanya hitam diliputi kabut nafsu, telinganya tuli terhadap apapun selain detak jantungnya sendiri. Kejantanannya berdenyut-denyut, lebih keras dan besar dari yang pernah dia rasakan sepanjang hidupnya. Sensasi panas menjalar dari selangkangannya, naik ke perutnya, ke dadanya, hingga ke kepalanya. Setiap sel dalam tubuhnya menjerit meminta pelepasan."Sedilit maneh... sedilit maneh..." (Sedikit lagi... sedikit lagi...) gumamnya seperti mantra, pinggulnya bergerak semakin cepat.Ratih merasakan gelombang kenikmatan terakhir melandanya, leb
Perlahan, dengan tangan yang sedikit gemetar namun terkendali, dia mulai melepaskan pakaian Ratih. Daster sederhana itu tersingkap, mengungkap kulit sawo matang yang selalu menjadi rumahnya. Tapi kini, di bawah pengaruh jamu, setiap inci kulit itu seperti peta baru yang harus dia jelajahi."Sampeyan tetep ngati-ati, yo, Mas," bisik Ratih, suaranya bergetar antara takut dan gairah. (Kamu tetap hati-hati, ya, Mas.)Karyo mengangguk, tapi matanya sudah berkabut. Dia mendorong Ratih ke ranjang, tubuhnya yang berotot menutupi tubuh mungil istrinya. Bibirnya menuruni leher Ratih, meninggalkan jejak basah dan panas. Tangannya bergerak liar, meremas dan mengeksplorasi dengan intensitas yang tidak biasa."Karyo... alon-alon..." Ratih mencoba memperingatkan, suaranya terputus saat Karyo menarik turun dasternya sepenuhnya, mengekspos dadanya yang tidak besar namun kencang. (Karyo... pelan-pelan...)Tapi Karyo sudah terlalu j
Cahaya pagi merayap masuk melalui jendela kecil kamar tamu. Karyo menatap botol kaca berisi jamu yang kemarin ia ambil dari lemarinya. Cairan pekat kemerahan itu berkilau tertimpa sinar matahari, seperti racun yang menggoda. Tangannya gemetar saat membuka tutupnya, bau tajam dan menyengat langsung menyerang hidungnya."Jamu siap," kata Karyo pelan, mengambil sendok teh dari dalam saku. "Sak sendok thok." (Cuma satu sendok saja.)Ratih duduk di tepi ranjang, tangannya meremas seprai dengan gugup. "Sampeyan yakin iki waktune pas?" (Kamu yakin ini waktunya tepat?) tanyanya, suara hampir berbisik. "Pak Irwan karo Bu Maya wis mangkat kerja tenan?" (Pak Irwan dan Bu Maya sudah berangkat kerja benar?)"Wis, aku weruh mobil loro-lorone metu gerbang," Karyo menjawab sambil menuang cairan kental itu ke sendok. "Dani yo wis diantar nang playgroup." (Sudah, aku lihat kedua mobil keluar gerbang. Dani juga sudah diantar ke playgroup.)







