MasukDalam imajinasinya, Pak Karyo menunduk, mengecup puting kecoklatan yang membengkak itu, merasakan tetesan pertama cairan manis dari payudara Bu Maya. Tubuh Bu Maya menggelinjang di bawahnya, punggungnya melengkung.
"Ahh... Mas Karyo... enak... enak banget..."
Pak Karyo menggeram, imajinasinya semakin liar. Dia membayangkan mendorong masuk ke dalam Bu Maya, merasakan kehangatan dan kelembaban yang lebih intens dari yang dia ingat selama program. Sesuatu tentang tubuh hamil Bu Maya membuatnya semakin bergairah—sensasi memiliki wanita yang membawa anaknya.
"Punya kamu... lebih gede... dari Pak Irwan..." Bu Maya mendesah dalam fantasinya, kata-kata yang membuat egonya membumbung. "Lebih keras... lebih enak... ahh..."
Fantasi itu mengalir ke adegan berikutnya. Bu Maya telah resmi menjadi miliknya. Pak Irwan pergi—atau mungkin masih di rumah tapi tak lagi memiliki kuasa, hanya menonton dari jauh seperti baya
Keheningan nyaman melingkupi mereka, berbeda dari ketegangan beberapa menit lalu. Ratih menyandarkan kepalanya di dada Karyo, mendengarkan detak jantungnya yang kini berdetak teratur."Urusan... obat kuwi, sampeyan kudu janji ora bakal ngombe tanpa aku nang cedhakmu," bisik Ratih. "Aku wedi, Mas. Aku wedi sampeyan kesurupan maneh." (Urusan... obat itu, kamu harus janji tidak akan minum tanpa aku di dekatmu. Aku takut, Mas. Aku takut kamu kesurupan lagi.)"Aku janji," Karyo mengangguk. "Tak takerne sak kuat-kuatku. Nek wis ora tahan, kowe kudu siap nulungi aku." (Aku janji. Aku akan tahan sekuat-kuatku. Kalau sudah tidak tahan, kamu harus siap tolong aku)"Iyo, Mas." Ratih mengangguk lemah, mengantuk setelah kelelahan fisik yang intens. "Kanggo Dani...""Kanggo Dani," ulang Karyo, mencium puncak kepala Ratih.Dalam keheningan yang menyelimuti kamar tamu itu, keduanya berbaring bersisian, memikirkan masa
Air mata mulai mengalir di pipinya. Jari-jarinya mencengkeram ujung daster tidurnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih."Aku ngerti... aku wis ngerti sampeyan kudu... nglakoni karo Bu Maya ning ngarep Pak Irwan," Ratih terisak pelan, suaranya tersendat-sendat. "Aku wis nerima kuwi... wis ikhlas... mergo butuh kanggo masa depane Dani... tapi iki... iki..." (Aku mengerti... aku sudah mengerti kamu harus... melakukan dengan Bu Maya di depan Pak Irwan. Aku sudah menerima itu... sudah ikhlas... karena butuh untuk masa depan Dani... tapi ini... ini...)Ratih menggelengkan kepalanya kuat-kuat, rambut panjangnya yang terurai berayun liar. Matanya sekarang memancarkan campuran rasa jijik dan pengkhianatan."Aku dudu barang, Mas! Aku dudu boneka!" suaranya mendadak meninggi, sebelum dia cepat-cepat menutup mulutnya sendiri, teringat Dani masih tidur di sampingnya. "Aku bojone sampeyan. Aku ibune anake sampeyan. Dudu... dudu...
"Gusti Allah..." Ratih akhirnya berbisik, suaranya serak dan lelah. "Iki mau... koyo ora sampeyan biasane." (Tadi... seperti bukan kamu yang biasanya.)Karyo menatap langit-langit kamar, dadanya masih naik turun cepat. "Opo maksudmu?" tanyanya, meski ia tahu persis apa yang dimaksud istrinya.Dengan usaha yang terlihat menyakitkan, Ratih membalikkan tubuhnya, meringis sedikit merasakan sensitivitas yang masih tersisa. "Aku nganti... pira mau? Lima kali? Enem?" Matanya menyipit curiga. "Sampeyan ngombe jamu, to?" (Aku sampai... berapa tadi? Lima kali? Enam? Kamu minum jamu, kan?)Karyo terdiam sejenak. "Ora," jawabnya jujur."Mboten ngapusi kulo, nggih?" (Tidak membohongi saya, kan?) tanya Ratih lagi, kali ini dengan bahasa Jawa yang lebih halus."Ora, Tih." Karyo menggeleng. "Pancen... Aku butuh ngrasakne iki. Ngrasakne nek aku isih... biso." (Memang... Aku butuh merasakan ini. Merasakan kalau aku masih
Ratih tersentak saat jari-jari Karyo menemukan kelembabannya, memainkan dengan ketepatan yang membuatnya terkesiap. "Mas—ahh!""Ssst!" Kini gantian Karyo yang memperingatkan, matanya melirik ke arah Dani yang masih tertidur. "Ora nganti Dani tangi." (Jangan sampai Dani bangun.)Tubuh Ratih melengkung saat jemari Karyo mempermainkannya, menggodanya dengan ritme yang semakin cepat hingga napasnya terputus-putus. Ratih mencengkeram seprai, matanya terpejam rapat, bibirnya digigit kuat-kuat menahan suara."Mas... Mas... aku—" bisik Ratih terputus-putus sebelum tubuhnya menegang. Gelombang pertama menghantamnya, membuatnya gemetar dan menahan jeritan dengan menggigit bantal.Karyo tersenyum puas, matanya berkilat dalam keremangan. Tanpa jeda, tanpa memberi Ratih waktu pulih, ia melanjutkan permainannya, kini menambah intensitas dan kecepatan."Isih pingin?" (Masih ingin?) tantang Karyo dengan sua
Kata-kata Ratih menghantam Karyo seperti air dingin yang menyadarkan. Dia menatap Dani, putranya yang polos, yang tidak tahu bahwa masa depannya kini bergantung pada kepatuhan ayahnya sebagai pemuas nafsu orang lain. Pipinya terasa panas, airmata yang mendesak keluar ditahannya mati-matian.Berapa harga seorang ayah? Berapa harga sebuah beasiswa? Berapa harga harga diri?"Kabeh lamunanku... racun," (Semua lamunanku... racun,) bisik Karyo, mengakui kebenaran pahit itu akhirnya.Matanya bergerak dari Dani ke Ratih, melihat istrinya dalam cahaya baru. Di tengah kehancurannya, di antara serpihan mimpi-mimpinya yang berhamburan, Ratih masih berdiri tegak—menawarkan kekuatan yang tak pernah ia sadari sebelumnya."Tapi kowe..." (Tapi kamu...) Suara Karyo tercekat, tertahan oleh gumpalan emosi di kerongkongannya. "Kowe isih nyoto, Tih. Kowe dudu lamunan." (Kamu masih nyata, Tih. Kamu bukan lamunan.)Karyo
Hari telah beranjak malam. Jam dinding menunjukkan pukul sepuluh, dan rumah mewah itu telah hening. Maya dan Irwan sudah beristirahat di kamar utama bersama Karya yang baru saja tertidur pulas setelah sesi menyusui terakhir. Hanya lampu-lampu remang yang menyala di beberapa sudut, memberikan penerangan minim yang menciptakan bayangan-bayangan panjang di sepanjang lorong.Di kamar tamu yang kini menjadi tempat tinggal keluarga Karyo, Ratih duduk di tepi ranjang dengan punggung bersandar pada bantal. Daster tidurnya yang sederhana sedikit tersingkap di bagian paha, tapi dia tidak ambil pusing—fokusnya terpaku pada layar ponsel yang ia scroll dengan ibu jari. Sesekali bibirnya mengulas senyum tipis, mungkin melihat foto-foto teman dari kampung yang menghiasi timeline media sosialnya.Di sampingnya, Dani tertidur pulas. Bocah berusia empat tahun itu berbaring menyamping dengan tangan kecilnya mengepal di dekat wajah. Napasnya teratur







