Share

Bab 4

Penulis: Waterverri
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-05 16:36:57

Seminggu berlalu sejak pertengkaran hebat itu. Maya dan Irwan masih tidur di kamar terpisah - Maya di kamar utama, sementara Irwan memilih tidur di sofa ruang kerjanya. Setiap pagi, mereka berpapasan di dapur seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi alamat.

"Kopi, Pak," Pak Karyo meletakkan secangkir kopi hitam di hadapan Irwan yang duduk melamun di meja makan. Maya baru saja berangkat ke kantor, meninggalkan aroma parfum Chanel yang masih mengambang di udara.

Irwan mengangguk lemah. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Pak Karyo yang dengan cekatan membereskan sisa sarapan Maya - roti yang hanya dimakan setengah, telur yang nyaris tidak disentuh. Istrinya semakin kurus sejak diagnosis itu.

Malam harinya, Irwan berbaring di sofa ruang kerja, mendengarkan suara isak tangis samar dari kamar sebelah. Suara yang sama yang menghantuinya setiap malam selama seminggu terakhir. Maya menangis, berusaha meredam suaranya dengan bantal, tapi dinding-dinding rumah mewah mereka seolah sengaja meneruskan setiap isakan ke telinga Irwan.

"Ya Allah..." Irwan memejamkan mata, tangannya gemetar menggenggam ponsel yang menampilkan pesan dari ibunya:

"Nak, tadi Mama ketemu Linda di pengajian. Udah masuk bulan kedelapan... kamu kapan ngasih Mama cucu?"

Pesan itu seperti pisau yang mengiris hatinya. Irwan membayangkan tatapan kasihan yang akan ia terima di acara keluarga berikutnya. Bisikan-bisikan di belakangnya.

"Kasihan ya, sudah enam tahun..."

"Mungkin ada yang salah dengan dia..."

Suara isakan Maya semakin jelas. Irwan bangkit dari sofa, berjalan ke arah pintu. Tangannya terangkat, hendak mengetuk, tapi tertahan. Apa yang bisa ia katakan? Bahwa ia menyesal? Bahwa ia bersedia mempertimbangkan... tidak, ia masih belum sanggup memikirkan opsi itu.

Keesokan paginya, saat Irwan turun untuk sarapan, ia mendapati Maya sudah duduk di meja makan. Tidak seperti biasanya, istrinya belum bersiap ke kantor. Masih mengenakan piyama sutra, rambut tergerai berantakan, mata sembab.

"Maya?" Irwan menarik kursi di hadapan istrinya. "Kamu... nggak ke kantor?"

Maya menggeleng pelan, jemarinya memainkan ujung piyama sutranya yang kusut. "Udah izin WFH." Suaranya serak, bekas menangis semalaman. "Yang... kita harus ngobrol."

Irwan merasakan jantungnya berdebar lebih kencang. Selama enam tahun pernikahan mereka, Maya tidak pernah absen atau terlambat ke kantor - bahkan saat sakit pun ia tetap memaksakan diri pergi. Melihatnya seperti ini, berantakan dan rapuh, membuat Irwan sadar betapa dalam luka yang ia torehkan pada istrinya.

"Aku udah mikirin ini berkali-kali," Maya melanjutkan, matanya menatap kosong cangkir kopi di hadapannya. "Soal... donor sperma."

Irwan menegang. Topik yang selama ini ia hindari akhirnya muncul juga. "Maya, kita udah bahas ini..."

"Nggak, Yang. Kita belum bener-bener ngomongin ini." Maya mengangkat wajahnya, matanya yang sembab menatap langsung ke mata Irwan. "Tiap kali aku coba bahas, kamu selalu ngeles. Atau marah. Atau ngurung diri di ruang kerja."

"Soalnya ini gila!" Irwan membentak, membuat Pak Karyo yang sedang membereskan dapur terlonjak kaget. "Kamu mau aku biarin cowok lain... ngehamilin kamu?"

"Bukan gitu," Maya mencoba menjelaskan, suaranya bergetar menahan emosi. "Ini cuma prosedur medis. Kayak... kayak transfusi darah. Kita bisa cari donor yang kita kenal, yang kita percaya. Paling nggak kita tau latar belakangnya, dan anak kita nanti nggak bakal bingung soal asal-usulnya."

"Dan menurut kamu itu bakal bikin semuanya lebih baik?" Irwan tertanya getir. "Anak yang lahir dari... dari..." ia tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Maya menunduk, air matanya mulai jatuh ke meja. "Aku nggak mau kehilangan kesempatan jadi ibu, Yang. Umurku udah 34 tahun. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah dalam isakan.

Irwan memejamkan mata, teringat kata-kata ayahnya tentang Om Hendra: "Bukan lelaki sejati". Kata-kata itu menghantuinya setiap malam, bercampur dengan suara isak tangis Maya dari kamar sebelah.

"Kita bisa adopsi aja," Irwan mencoba bernegosiasi, meski ia tahu Maya belum siap dengan opsi itu.

"Aku pengen ngerasain hamil, Yang," Maya berbisik. "Pengen ngerasain bayiku gerak di perutku. Pengen... pengen ngasih keturunan buat keluarga kita."

Dari sudut matanya, Irwan melihat Pak Karyo yang dengan canggung melanjutkan pekerjaannya, berusaha tidak mendengarkan percakapan pribadi majikannya. Namun situasi ini terlalu intim untuk diabaikan - asisten rumah tangga mereka itu pasti sudah mendengar setiap pertengkaran, setiap isak tangis yang terjadi selama berminggu-minggu terakhir.

"Aku perlu waktu," Irwan akhirnya berkata, bangkit dari kursinya. Ia tidak sanggup lagi melihat air mata Maya, tidak sanggup menghadapi kenyataan bahwa ia telah gagal sebagai suami.

"Sampe kapan?" Maya bertanya lirih. "Sampe aku keburu tua buat punya anak?"

Irwan tidak menjawab. Ia mengambil tas kerjanya dan berjalan ke pintu, meninggalkan Maya yang masih terisak di meja makan. Di belakangnya, ia bisa mendengar Pak Karyo dengan lembut menawarkan tisu pada Maya.

Sepanjang hari di kantor, Irwan tidak bisa berkonsentrasi. Setiap kali ia mencoba fokus pada pekerjaannya, bayangan Maya yang berantakan di meja makan menghantuinya. Ia membayangkan bagaimana rasanya melihat istrinya mengandung anak lelaki lain - melihat perutnya membesar, mendengarnya berbicara tentang tendangan bayi yang bukan darah dagingnya.

Proposal-proposal menumpuk di mejanya, tapi pikirannya terus kembali ke percakapan pagi tadi. Ia membuka ponselnya, ngetik pesan untuk Maya, lalu hapus lagi. Berkali-kali.

Saat matahari mulai tenggelam, Irwan akhirnya mengirim satu pesan singkat: "Aku pulang telat. Ada yang perlu kupikirin."

Irwan menyetir tanpa tujuan di jalanan Jakarta malam itu. Lampu-lampu kota yang biasanya menenangkan kini terasa mengejek. Setiap kali ia melihat pasangan di trotoar, bayangan Maya dengan donor yang mereka bicarakan memenuhi benaknya.

Mobilnya berhenti di sebuah kafe yang masih buka. Ia butuh kopi atau mungkin sesuatu yang lebih keras. Tapi tidak, ia harus tetap berpikir jernih malam ini.

"Americano, double shot," pesannya pada barista yang tampak bosan.

Duduk di sudut kafe, Irwan mengeluarkan ponselnya. Foto pernikahan mereka enam tahun lalu masih menjadi wallpaper - Maya tersenyum bahagia dalam gaun putihnya, dan ia... ia masih percaya bisa memberikan segalanya untuk wanita itu.

"Mas?" suara pelayan mengejutkannya. "Kopinya."

Irwan menyesap minuman pahit itu perlahan. Seperti kenyataan yang harus ia telan bahwa ia tidak bisa memberikan apa yang Maya inginkan. Bahwa wanita yang ia cintai mungkin harus... tidak, ia bahkan tidak sanggup membayangkannya.

Ponselnya bergetar. Maya.

"Yang," suara Maya terdengar serak. "Kamu dimana?"

"Masih perlu waktu," Irwan menjawab pendek.

"Please pulang. Kita ngomong baik-baik."

Irwan memejamkan mata. "Aku nggak bisa, Maya. Nggak sekarang."

"Sampe kapan?" suara Maya bergetar. "Sampe aku keburu tua? Sampe semua pintu ketutup?"

"Maya..."

"Aku tau ini berat," Maya melanjutkan. "Tapi coba liat dari sisiku. Aku udah 34 tahun, Yang. Tiap bulan yang lewat, tiap test pack yang negatif..." suaranya pecah.

Irwan menggenggam ponselnya lebih erat. Di seberang kafe, ia melihat seorang ayah menggendong anaknya yang tertidur. Pemandangan yang dulu membuatnya tersenyum, kini mengiris hatinya.

"Aku pulang sekarang," katanya akhirnya.

Di rumah, Maya menunggu di ruang tamu. Matanya sembab, tapi ada ketegaran dalam cara ia duduk tegak di sofa. Irwan duduk di hadapannya, jarak yang biasanya terasa intim kini seperti jurang menganga.

"Aku udah mikirin semuanya," Maya memulai. "Soal donor... kita bisa cari yang pas. Seseorang yang kita kenal, yang kita percaya. Dan prosesnya bisa dilakuin dengan... profesional."

"Profesional?" Irwan tertawa getir. "Gimana bisa profesional kalo kita minta orang lain buat..." ia tidak sanggup melanjutkan.

"Ini bukan soal... itu," Maya mencoba menjelaskan. "Ini soal bangun keluarga kita. Kasih kesempatan ke aku - ke kita buat punya anak."

"Terus gimana sama perasaanku?" suara Irwan meninggi. "Kamu pikir aku bisa tidur nyenyak bayangin istriku..." ia berhenti, menarik napas dalam. "Maya, aku sayang kamu. Tapi ini... ini terlalu berat."

Maya bangkit, berpindah untuk duduk di samping Irwan. "Aku juga sayang kamu," bisiknya. "Nggak bakal ada yang berubah. Kamu tetep suamiku, ayah dari anak-anak kita nanti."

"Ayah?" Irwan mendengus. "Ayah dari anak yang bahkan bukan darah dagingku?"

"Jadi ayah bukan cuma soal DNA," Maya menggenggam tangan Irwan. "Tapi soal siapa yang ngebesarin, ngajarin, nyayangin anak itu. Dan aku tau kamu bakal jadi ayah yang luar biasa."

Irwan menatap tangan mereka yang bertaut. Tangan yang selama enam tahun selalu menjadi tempatnya bergantung, yang selalu ia genggam di setiap kesulitan.

"Gimana kalo nanti..." Irwan menelan ludah. "Gimana kalo nanti aku nggak bisa sayang sama anak itu kayak anakku sendiri?"

Maya menggeleng. "Aku kenal kamu, Yang. Kamu punya hati yang besar. Dan anak ini... dia bakal jadi bagian dari kita berdua. Hasil dari cinta dan pengorbanan kita."

"Pengorbanan," Irwan mengulang kata itu dengan pahit. "Emang nggak ada cara lain?"

"Kita udah coba semuanya," Maya menyandarkan kepalanya di bahu Irwan. "Tiga kali program bayi tabung, puluhan dokter, macem-macem pengobatan... ini satu-satunya jalan yang tersisa."

Mereka duduk dalam diam untuk beberapa saat. Di luar, suara jangkrik memecah keheningan malam. Irwan merasakan kehangatan tubuh Maya di sampingnya, kehangatan yang selama enam tahun menjadi rumahnya.

"Kalo..." Irwan akhirnya berbicara, suaranya nyaris berbisik. "Kalo kita lakuin ini... aku punya syarat."

Maya mengangkat wajahnya, matanya berbinar dengan harapan.

"Donor harus orang yang bener-bener kita kenal. Yang karakternya udah terbukti. Dan..." ia mengeratkan genggamannya pada tangan Maya. "Aku harus ikut dalam semua keputusan. Nggak boleh ada yang disembunyiin dari aku."

Maya mengangguk cepat. "Tentu, Yang. Apapun yang bikin kamu nyaman."

"Dan satu lagi," Irwan menatap Maya lekat-lekat. "Janji sama aku... janji kalo ini nggak bakal ngubah perasaan kamu ke aku."

Air mata Maya mengalir saat ia memeluk Irwan erat. "Nggak bakal, Yang. Kamu satu-satunya suamiku, satu-satunya yang aku sayang."

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak diagnosis terakhir, mereka tidur berpelukan. Maya terlelap dengan senyum di bibirnya, sementara Irwan masih terjaga, memandangi langit-langit kamar. Ia tahu keputusannya malam ini akan mengubah hidup mereka selamanya. Ia hanya bisa berharap, cintanya pada Maya cukup kuat untuk melewati semua ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Harsa Amerta Nawasena
Betuuuul banget kak... Kan rumah tangga bukan hanya soal anak, ngapain zina
goodnovel comment avatar
وديا وتي
klu mau jadi ibu maksa cerai aja cari laki baru, otak dimana otak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 498

    Sementara keluarga besar sibuk mengerumuni box bayi, Ratih dengan efisien mengatur semua keperluan—mengganti bunga yang mulai layu, mengemas makanan yang dibawa pengunjung, memastikan Maya cukup minum. Dani bermain di sudut ruangan dengan mobil-mobilan yang dibawakan oleh adik Maya."Ratih, kamu dan keluargamu benar-benar luar biasa," ibu Maya berkomentar, tangannya menepuk pundak Ratih. "Selalu siap membantu kapan pun. Maya beruntung punya kalian."Ratih menunduk sopan. "Sudah kewajiban kami, Bu." Tangannya meraih Dani, mengajaknya kembali bermain di sudut ruangan.Malam menjelang dan pengunjung mulai berpamitan. Hanya tinggal Irwan, Maya, dan Karya di kamar itu, dengan Ratih dan Dani yang sesekali masuk untuk mengecek kebutuhan mereka. Perawat masuk membawa troli berisi perlengkapan bayi, tersenyum ramah."Waktunya ganti popok dan pemeriksaan rutin, Bu," ujarnya. "Mau saya bantu atau Ibu mau mencoba sendir

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 497

    Enam jam berlalu dalam ketegangan. Di ruang bersalin, Maya berjuang dengan seluruh kekuatan yang ia miliki. Peluh membasahi seluruh tubuhnya, rambutnya lepek menempel di dahi dan leher. Teriakan dan erangan kesakitannya bergema di ruangan itu, sesekali diselingi instruksi tegas dari dokter dan bidan."Sedikit lagi, Bu Maya. Kepalanya sudah mulai terlihat," dokter memberikan semangat.Di sampingnya, Irwan menggenggam tangannya erat, membisikkan kata-kata dukungan di antara napas Maya yang terengah. "Kamu kuat, sayang. Kamu bisa."Maya mengerahkan seluruh tenaganya untuk satu dorongan terakhir yang panjang dan menyakitkan. Suara tangisan bayi yang pertama kali memecah keheningan adalah melodi terindah yang pernah mereka dengar."Selamat, Pak, Bu. Bayi laki-laki, sehat sempurna," dokter mengumumkan dengan senyum lebar.Air mata Maya mengalir deras melihat sosok mungil berlumuran darah yang diangkat ke udar

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 496

    Sakit itu datang di tengah malam, menusuk dan menghantam hingga Maya tersentak dari tidurnya. Satu tangan meremas seprai, yang lain mencengkeram perutnya. Nafasnya terputus-putus, keringat dingin mengalir di dahi."Wan... Irwan..." Maya berbisik, suaranya tercekat. Sentuhan lembutnya di bahu Irwan begitu kontras dengan kerasnya kontraksi yang melanda tubuhnya.Irwan terbangun seketika, matanya melebar saat melihat ekspresi kesakitan Maya. Bertahun-tahun menanti momen ini membuat mereka telah mempersiapkan segalanya—tas sudah disiapkan di depan pintu, rute tercepat ke rumah sakit sudah dipelajari, semua dokumen tersusun rapi dalam map transparan."Sudah waktunya?" tanya Irwan, suaranya bergetar antara panik dan antisipasi.Maya mengangguk, giginya mengatup menahan gelombang kontraksi berikutnya.Rumah langsung berubah riuh. Irwan berteriak memanggil Ratih yang segera muncul dengan jubah tidur terka

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 495

    Senyum Ratih memudar sedikit. Dia meletakkan pisau, matanya menatap lurus ke mata Maya. "Waktu pertama kali dia begitu sama saya, saya pikir saya bakal mati."Maya mengangguk cepat, tangannya turun dan tanpa sadar mengusap perutnya yang besar. "Persis! Tapi anehnya... tubuh kita... malah...""Minta lagi," Ratih melanjutkan, suaranya bergetar. Dia menunduk, menyembunyikan kilatan air mata di sudut matanya.Maya mengulurkan tangan, hampir menyentuh tangan Ratih tapi berhenti di tengah jalan. "Dan sekarang... dengan jamu itu..."Ratih menghela napas panjang, bahunya merosot sedikit. "Kayak monster, Bu. Dia nggak bisa berhenti." Jarinya bergerak memperlihatkan bekas melingkar di pergelangan tangannya. "Lima kali, enam kali, tujuh kali... sampe saya pingsan.""Ya Tuhan," Maya menggelengkan kepalanya, matanya melebar. "Pas program kemarin, tiga jam nonstop. Aku pikir aku bakal rusak.""Tapi tetep e

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 494

    Ratih meletakkan pisaunya, jari-jarinya gemetar saat narik napas panjang. Dia natap potongan kentang di depannya seolah benda itu paling menarik sedunia."Itu..." Ratih menelan ludah, suaranya pelan. "Pak Karyo lagi... nyobain jamunya. Nyari dosis yang pas."Maya mengernyitkan kening, sedikit condong ke depan. "Jamu?"Ratih mengangguk, jari-jarinya saling bertaut di pangkuannya. "Jamu kuat, Bu. Yang... yang bikin Pak Karyo hampir... sama Bu Maya waktu itu." Kalimat terakhir hampir nggak kedengeran."Oh..." Pemahaman nyapu wajah Maya kayak ombak. Dia duduk tegak, tangannya refleks meluk perutnya yang besar. "Kenapa dia masih minum jamu itu? Bukannya udah jelas bahaya?"Ratih ngangkat wajahnya, matanya ketemu Maya untuk pertama kali sejak topik ini dimulai. Ada keteguhan di sana yang bikin kaget."Dosis yang waktu itu kebanyakan, Bu. Kita... lagi nyari dosis yang pas. Yang bikin dia... bisa ngo

  • Keperkasaan Tukang Kebon   Bab 493

    Satu bulan telah berlalu. Kehamilan Maya kini memasuki bulan terakhir, tubuhnya semakin berat dan sering terasa tidak nyaman. Sore itu, Maya menangkap sosok Ratih sendirian di beranda belakang, duduk dengan sekeranjang kentang yang sedang dikupas.Dorongan untuk bergabung dengannya muncul secara tidak terduga. Mungkin karena kesepian, mungkin karena penasaran, atau mungkin karena intuisi wanita yang menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan Ratih."Boleh aku duduk di sini?" tanya Maya, mengejutkan Ratih yang tampak tenggelam dalam pikirannya."Bu Maya! Silakan, Bu," Ratih buru-buru bergeser, memberi tempat. Tangannya yang memegang pisau pengupas terlihat gemetar sedikit.Maya duduk perlahan, menghela napas lega saat berat tubuhnya berpindah dari kaki ke kursi. "Lega banget bisa duduk. Pinggang aku sakit banget akhir-akhir ini."Ratih tersenyum kecil, "Memang gitu, Bu. Bulan terakhir paling berat. Ta

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status